Nyangka nggak kalau temen mu sendiri bisa jadi setan yang sesungguhnya di dunia nyata?
Ini yang dialami Badai, lelaki 23 tahun ini dijual ke mantan pacarnya sendiri sama temennya, si Sajen!
Weh kok bisa? Ini sih temen laknatullah beneran ya kan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dfe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Guardian Angel
Pagi ini terasa hambar, sungguh membosankan bagi seseorang yang tak bisa diam seperti Badai. Biasanya, jam segini dia sudah berkutat dengan peralatan bengkel, melayani pelanggan sambil bercanda di Badai Garage. Sekarang, dia malah harus tersiksa dalam kebosanan akibat cedera fisiknya. Ah, ini semua gara-garansi Arang yang katanya seputih tepung serbaguna itu. Emosi Dai muncul kembali ketika mengingat apa yang Arang lakukan padanya.
"Tunggu gue sembuh, gue bakal bikin lo membayar apa yang udah lo lakuin sama gue. Boti setan!" desis Dai tak didengar siapapun.
Waktu berjalan lambat menurutnya, apalagi tak ada Kilau, Sajen, maupun Senja di sana. Ketiganya sibuk dengan urusan pekerjaan dan sekolah masing-masing. Semakin suntuk lah Dai sekarang. Mau main HP pun malas, karena dia bukan tipe orang yang suka scrolling media sosial atau sekadar chatting tanpa tujuan jelas.
"Buk, nanti kalau dokternya datang, bilang aja aku sudah sembuh ya. Kita pulang aja, Buk," usul Dai, yang memang tak betah dikekang seperti ini.
Ambar melirik anaknya sekilas, lalu mengambil potongan buah dari nakas. Satu per satu, potongan buah itu ia berikan pada Dai tanpa banyak bicara. Seolah mengerti ibunya tak suka membahas soal pulang, Dai pun diam dan menerima suapan buah dari Ambar tanpa protes.
"Kamu sama Kilau ada hubungan khusus ya, Dai?" tanya Ambar, mencoba mengusir kebosanan anaknya.
"Nggak yang khusus-khusus banget, Buk. Cuma dimintai tolong aja kok," jawab Dai sekenanya.
"Maksudnya gimana, Dai? Ibu perhatikan kalian berdua sangat dekat."
"Ya, gitu deh, Buk.".
Ambar memahami betul keengganan putranya membahas hubungannya dengan Kilau, memilih untuk tidak menyinggung topik sensitif itu.
Dan benar saja, ketika dokter melakukan kunjungan pagi untuk memeriksa perkembangan Badai dan memantau kondisinya secara menyeluruh, Dai langsung merengek dengan nada dibuat-buat, seolah berharap permintaannya akan dikabulkan tanpa perlawanan.
"Kondisi kaki Mas Badai masih memerlukan banyak pemulihan, luka di tangan juga belum sepenuhnya menutup, dan lebam di dada masih terasa nyeri jika ditekan. Mengapa Mas Badai ingin segera pulang padahal belum waktunya?" tanya dokter dengan senyum yang menyimpan kesabaran tanpa batas. Dalam hati, dia menghela napas, menyadari bahwa pekerjaannya sehari-hari memang tak lepas dari menghadapi pasien-pasien keras kepala seperti Dai. Dokter tahu, membujuk pasien seperti ini membutuhkan kesabaran ekstra tinggi.
"Kan bisa berobat jalan gitu dok.." masih berusaha membujuk dokter agar mengabulkan keinginannya untuk pulang.
"Lo maksa banget buat pulang mau ngapain gue tanya?" Suara Kilau yang tiba-tiba terdengar membuat Dai terkejut dan langsung menoleh ke arah pintu. Kilau berdiri di ambang pintu dengan ekspresi datar. Lalu berjalan anggun ke arah Dai.
"Ya kan gue bosen di sini, Ki." Dai mengeluh jujur.
Kilau mendesah pelan, seakan seluruh energi nya telah terkuras habis padahal masih pagi. Saat ini dia tampil rapi dengan pakaian formal, mungkin dia baru saja dari kantor, atau dari apartemennya. Entahlah.. Kilau mengabaikan rengekan Dai, dia mengalihkan perhatian sepenuhnya pada dokter.
"Dokter, bagaimana kondisi Dai saat ini? Apakah dengan keadaannya yang seperti ini, dia benar-benar sudah boleh pulang dan menjalani rawat jalan?" Kilau lebih memilih untuk mendapatkan jawaban yang pasti dari ahlinya, mengabaikan ocehan Dai yang hanya ingin didengar. Ada kekhawatiran yang tersembunyi di balik nada bicaranya yang tenang.
"Begini, Nona Kilau," dokter memulai dengan nada serius, menatap Kilau dan kemudian beralih ke Dai yang tampak tidak sabar, "Mas Badai baru tiga hari di sini, dan kondisinya masih memerlukan pemantauan ketat. Luka di tangan memang sudah kami tangani dengan jahitan, tapi masih sangat rentan infeksi. Kami perlu memastikan tidak ada komplikasi yang muncul."
Dokter melanjutkan, "Lebam di dada juga masih terasa sakit, dan itu menandakan ada memar yang cukup dalam. Kami perlu memastikan tidak ada cedera internal yang terlewat. Tapi yang paling penting, kaki Mas Badai. Patah tulangnya cukup serius, dan butuh waktu untuk penyembuhan awal. Dalam tiga hari ini, kami fokus untuk menstabilkan kondisinya dan memastikan tulangnya berada pada posisi yang tepat."
Dokter menghela napas, lalu menatap Dai dengan tatapan penuh pengertian. "Mas Badai, saya mengerti Anda merasa tidak nyaman berada di rumah sakit. Tapi, demi keselamatan dan kesembuhan Anda, saya sangat menyarankan Anda untuk tetap di sini. Kami akan memberikan obat pereda nyeri, memantau kondisi luka, dan memastikan kaki Anda mendapatkan perawatan yang optimal. Pulang terlalu cepat hanya akan memperburuk keadaan. Kami akan melakukan yang terbaik untuk membuat Anda senyaman mungkin di sini."
"Lo denger itu, Dai? Jangan ngeyel jadi orang!" omel Kilau menatap kesal pada Badai. Ambar yang ada di sana hanya diam sesekali tersenyum melihat anaknya tak berani memprotes lagi.
"Kok lo pagi-pagi udah ke sini, nggak kerja Ki?" tanya Dai yang udah ditinggal dokter dan ibunya. Ambar izin pulang untuk mengambil pakaian ganti dan juga keperluan lain yang mungkin dibutuhkan ketika menginap di rumah sakit.
"Kerja." jawab Kilau singkat.
Suasana hati Dai sedang nggak baik, ditambah kedatangan Kilau yang justru pamer tampang cuek gitu, ya udah makin gabut aja dia.
"Dai.."
"Hmm."
"Gue udah ngurus kasus kecelakaan lo. Gue bakal usahain Arang bisa diproses secara hukum." sepertinya kabar itu tak membuat Dai bersemangat.
"Dai, lo denger gue kan?" karena tak mendapat jawaban dari ucapannya, Kilau bertanya dengan nada agak tinggi.
"Denger. Lo berharap gue ngomong apa, Ki?"
"Lo kenapa sih?!"
"Kenapa emangnya?"
Hanya tiga detik, Kilau diam tak bersuara. Dai juga demikian. Lalu Kilau memilih menutup laptopnya, memasukkan ke dalam tas lalu pergi meninggalkan Dai dengan suasana hati makin hancur lebur.
"Sial." dengus Dai saat dia tahu sudah membuat Kilau kesal.
Arga kemudian masuk ke dalam ruang rawat Dai, tampangnya tak jauh beda dengan atasannya. Mode spaneng, datar dan dingin.
"Anda harus tahu, demi mengusut kasus kecelakaan yang menimpa anda, nona Kilau sampai berseteru dengan orang tuanya. Adiwiyata Grup merupakan perusahaan raksasa, dan Arang Wijaya merupakan pewaris dari perusahaan tersebut. Apa anda tahu sekeras apa usaha nona Kilau mencari keadilan untuk anda?"
Arga menatap Dai lurus. Tidak ada nada bercanda seperti biasanya. Wajah pria itu serius, bahkan cenderung lelah. Dai yang bersandar di ranjang rumah sakit mengernyit kecil. "Kilau nggak pernah cerita apa-apa."
"Karena dia tak ingin membuat anda khawatir." Arga menarik napas pelan.
"Kemarin setelah tahu anda ditabrak oleh Arang Wijaya, nona Kilau langsung meminta saya mengumpulkan semua bukti dan saksi. Tapi pihak Arang Wijaya langsung mendatangi kantor nona Kilau dengan membawa pengacara, surat damai, dan kompensasi. Mereka pikir masalah ini bisa selesai pakai uang."
Tatapan Dai perlahan berubah dingin. Tapi dia tetap diam mendengarkan cerita Arga.
"Nona Kilau jelas menolak semuanya." Sudut bibir Arga bergerak tipis, tapi senyumnya hambar.
"Dia bilang.. Kalau anda sampai kenapa-kenapa, dia pastikan Arang akan masuk penjara dalam waktu yang sangat lama. Mau Adiwiyata beli satu negara juga dia tak peduli."
Suasana ruangan itu mendadak sunyi. Dai tidak langsung menjawab. Ada sesuatu yang terasa berat menekan dadanya. Ternyata Kilau melakukan banyak hal untuknya.
"Hal itu memicu keributan besar di rumah utama. Papanya nona Kilau marah besar karena kerja sama bisnis mereka hampir final. Rencana pertunangan Arang Wijaya dan nona Kilau juga tinggal diumumkan ke publik."
"Dan apa anda tahu, nona Kilau datang sendiri ke kantor polisi. Mencari bukti rekaman CCTV, Mengejar saksi. Bahkan sempat hujan-hujanan hanya untuk menemui tukang parkir yang melihat kejadian yang menimpa anda siang itu.” Rahang Arga mengeras. "Nona juga berkali-kali bertengkar dengan papanya karena terus menolak mencabut laporan."
Dai menatap kosong ke depan. Di kepalanya muncul wajah Kilau yang biasa cerewet, keras kepala, suka marah karena hal kecil. Sulit membayangkan perempuan itu berdiri sendirian melawan keluarganya sendiri.
"Yang paling parah itu semalam," Arga sengaja menjeda ucapannya sebentar sebelum melanjutkan, "nona Kilau sempat ditampar papanya karena dia tetap bersikeras menyeret Arang ke penjara. Papanya bilang dia mempermalukan keluarga."
Dada Dai terasa sesak. Tangannya terkepal, rasanya seperti pecundang yang bersembunyi di bawah kekuasaan wanita. Itu memalukan! Dai tak suka menjadi selemah ini.
Dia bisa membayangkan bagaimana kacaunya rumah mewah itu saat Kilau berdiri sendirian menghadapi semua orang, sementara dirinya bahkan tidak tahu apa-apa.
"Kenapa dia sampai segitunya...?" suara Dai terdengar serak.
Arga tersenyum kecil, kali ini bukan sinis, melainkan penuh pengertian. "Karena buat nona Kilau, anda bukan orang biasa."
Tatapan Dai perlahan terangkat. Arga berdiri dari kursinya lalu merapikan lengan jasnya. "Saya sudah lama jadi asisten pribadi nona Kilau. Saya tahu mana hubungan yang cuma numpang lewat dan mana yang benar-benar bikin seseorang rela hancur."
Ia berjalan pelan menuju pintu, lalu berhenti sejenak.
"Dan nona Kilau..." Arga menoleh ke arah Dai sekali lagi, "dia rela kehilangan semuanya demi anda."
Setelah pintu tertutup, ruangan kembali sunyi. Namun kali ini sunyi nya terasa berbeda. Lebih sesak, lebih berat. Karena Dai sadar... di luar sana ada seseorang yang sedang berperang sendirian demi dirinya.
tapi nanti, stlh kamu tau siapa dia sbnrnya, pasti kamu bakal gencar agar mreka cepet² meresmikan hubungannya kan?! 😏
bisa diandelin buat jadi pasangan😚