NovelToon NovelToon
Eternal Memory [ Ingatan Abadi ]

Eternal Memory [ Ingatan Abadi ]

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Reinkarnasi / Epik Petualangan
Popularitas:593
Nilai: 5
Nama Author: muhammad rivaldi

Chapter 1 - 20 = Prologue Arc ( Arc Pembuka )

Chapter 21 - 30 = Daily Life in Thunder Division ( Arc Kehidupan Sehari-hari di Divisi Petir )

Chapter 30 - ? = Seven Divisi Tournament Arc ( Arc Turnamen Tujuh Divisi )

Di masa lalu yang jauh, dua sahabat—Dongfang dan Yuwen Feng—berdiri di puncak dunia kultivasi sebagai yang terkuat. Namun takdir memisahkan mereka. Dikhianati oleh jalan yang berbeda, Yuwen Feng jatuh ke dalam kegelapan dan bersumpah menghancurkan dunia, sementara Dongfang terpaksa menyegelnya demi menghentikan kehancuran—dengan harapan suatu hari sahabatnya akan bertobat.

Bertahun-tahun kemudian, seorang anak bernama Long Chen terus dihantui mimpi tentang masa lalu yang tidak ia pahami. Hidup damainya di Desa Daun Maple berubah menjadi tragedi ketika desanya dihancurkan oleh sosok misterius dari aliran kegelapan. Dalam sekejap, ia kehilangan segalanya—keluarga, rumah, dan masa kecilnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon muhammad rivaldi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 1 - Sisa Janji di Langit yang Runtuh

Langit di atas mereka tidak lagi utuh Melainkan retakan demi retakan menjalar seperti kaca yang dipukul dari dalam, memancarkan kilatan energi liar yang menyambar tanpa arah. Setiap kilatan membawa tekanan mengerikan, cukup untuk membuat ruang bergetar dan runtuh sedikit demi sedikit, seolah realitas itu sendiri sudah berada di ambang kehancuran.

Di tengah kehampaan yang dipenuhi puing-puing dunia yang telah hancur, dua sosok berdiri saling berhadapan. Tanah di bawah kaki mereka sudah tidak berbentuk dan hanya sisa-sisa batuan melayang, pecahan ruang yang terdistorsi, dan energi yang masih berputar ganas akibat benturan kekuatan sebelumnya.

Dongfang berdiri tegak di atas pecahan tanah yang melayang, tubuhnya lurus seperti pilar yang tak tergoyahkan meski dunia di sekelilingnya telah runtuh. Di tangannya, pedang itu bergetar halus bukan karena kelemahan, melainkan karena resonansi kekuatan yang terus mengalir di dalamnya. Cahaya lembut memancar dari bilahnya, tenang… namun begitu dalam, seolah menyimpan lautan energi yang siap meledak kapan saja.

Sorot mata Dongfang tetap jernih. Tidak ada keraguan, tidak ada kegelisahan. Hanya ketenangan yang lahir dari keyakinan dan tekad yang telah ditempa oleh kehilangan.

Di hadapannya, Yuwen Feng berdiri dalam bayangan yang terus bergerak.

Aura kelam menyelimuti tubuhnya, berdenyut seperti makhluk hidup yang bernapas. Setiap denyutan membawa gelombang energi liar yang merusak ruang di sekitarnya, membuat retakan-retakan kecil muncul dan lenyap tanpa henti. Kegelapan itu tidak diam ia merayap, berputar, bahkan sesekali membentuk siluet samar seolah ada sesuatu yang hidup di dalamnya.

Mata Yuwen Feng memancarkan cahaya dingin yang penuh kebencian. Tidak lagi ada jejak sosok yang dulu yang tersisa hanyalah kehendak yang telah terdistorsi oleh amarah dan dendam.

“Feng… kembalilah ke jalan yang benar,” suara Dongfang terdengar rendah namun mantap, mengalir tenang di tengah kehancuran yang mengelilingi mereka. Tatapannya tidak goyah sedikit pun saat ia menatap sosok di hadapannya, seolah masih melihat bayangan masa lalu di balik kegelapan yang kini menyelimuti.

Ia menarik napas perlahan, lalu melanjutkan dengan nada yang lebih dalam, “Kita seharusnya berjalan di aliran yang sama… seperti dulu. Tidak perlu ada pertarungan seperti ini.”

Untuk sesaat, kehampaan di antara mereka terasa semakin sunyi.

Namun keheningan itu pecah oleh tawa pelan.

Yuwen Feng tertawa, suaranya rendah dan bergetar, tetapi tidak ada lagi kehangatan di dalamnya. Tawa itu terdengar asing ,dingin,dan retak, seolah berasal dari seseorang yang telah lama kehilangan dirinya sendiri. Aura kelam di sekelilingnya ikut berdenyut, mengikuti irama tawanya yang semakin dalam.

“Kau mengatakannya seolah-olah kaulah yang benar,” ucapnya perlahan, namun setiap kata terasa berat, dipenuhi ejekan yang tajam.

Matanya menyala dengan cahaya merah gelap, amarah yang terpendam kini tidak lagi tertahan. Ia menatap Dongfang tanpa sedikit pun keraguan, hanya kebencian yang tersisa.

“Padahal… kaulah yang membuatku kehilangan segalanya.”

Tanpa peringatan, aura hitam di sekeliling Yuwen Feng meledak keluar seperti badai yang tak lagi bisa dibendung. Kegelapan itu berputar membentuk pusaran raksasa, melahap setiap sisa cahaya yang berani mendekat, seolah seluruh kehampaan tunduk pada kehendaknya. Ruang di sekitarnya terdistorsi, tertarik ke dalam pusaran itu, menciptakan tekanan mengerikan yang membuat bahkan pecahan dunia di bawah kaki mereka bergetar hebat.

Energi kelam itu tidak lagi sekadar aura , ia seperti makhluk hidup yang lapar, mengamuk, dan siap menelan apa pun yang ada di hadapannya.

“Aku akan menghancurkan dunia ini…” suara Yuwen Feng bergema dari dalam pusaran, dalam dan berat, seakan berasal dari jurang tanpa dasar. Setiap katanya membawa getaran yang mengguncang kehampaan.

“…dan hanya menyisakan diriku sebagai penguasa.”

Tatapannya menembus kegelapan, lurus mengunci Dongfang. Tidak ada lagi keraguan, tidak ada sisa kemanusiaan , yang tersisa hanyalah kehendak mutlak untuk menghancurkan.

“Dan orang pertama yang akan kubunuh… adalah kau, Dongfang.”

Keheningan tiba-tiba menyelimuti segalanya, begitu pekat hingga seolah waktu itu sendiri ikut berhenti. Di antara mereka, hanya angin energi yang berdesir pelan, membawa sisa-sisa tekanan dari dua kekuatan yang saling berhadapan, berputar tanpa arah di kehampaan yang telah hancur.

Dongfang tidak segera bergerak. Ia hanya menatap Yuwen Feng dalam diam, seolah memberi kesempatan terakhir bagi sesuatu yang mungkin sudah lama hilang. Namun pada akhirnya, tak ada jawaban selain kegelapan yang terus mengamuk di hadapannya.

Perlahan, ia mengangkat pedangnya.

Gerakan itu tenang, tanpa ragu sedikit pun, namun justru di situlah terasa ketegasan yang tak tergoyahkan. Cahaya lembut dari bilah pedangnya kembali bersinar, kali ini lebih dalam dan lebih dingin.

“Jadi… itu pilihanmu.”

Suaranya tetap rendah, tetapi kini tidak lagi membawa harapan. Yang tersisa hanyalah kepastian.

Tatapannya berubah.

Sosok sahabat yang dulu berdiri di hadapannya seakan telah lenyap, digantikan oleh seorang kultivator yang telah mengambil keputusan tanpa jalan kembali. Tidak ada lagi keraguan, tidak ada lagi keinginan untuk menahan diri.

“Kalau begitu… tidak ada jalan lain selain ini.”

Begitu kata-kata itu jatuh, keseimbangan yang rapuh di antara mereka akhirnya hancur.

Dalam sekejap berikutnya, dunia berguncang.

Keduanya menghilang dari tempat mereka berdiri, hanya menyisakan ledakan energi yang langsung merobek kehampaan. Teknik pedang Dongfang melesat seperti kilat, membawa cahaya tajam yang membelah ruang, sementara kekuatan gelap Yuwen Feng mengamuk seperti badai tak berujung, menelan segala yang dilewatinya.

Cahaya dan bayangan bertabrakan dengan dahsyat.

Setiap benturan menghasilkan gelombang kehancuran yang menyapu segala arah, meretakkan langit yang sudah rapuh dan menghancurkan sisa-sisa dunia yang masih bertahan. Suara dentuman bergema tanpa henti, seperti langit dan bumi sedang dihancurkan berulang kali dalam satu tarikan napas.

Ruang terbelah.

Energi liar berputar tak terkendali, menciptakan pusaran-pusaran kehancuran yang saling bertabrakan, sementara bayangan dan cahaya saling melahap tanpa memberi celah sedikit pun.

Namun yang paling mengejutkan bukanlah kekuatan Dongfang, melainkan cara ia menggunakannya. Ia tidak terpaku pada satu aliran teknik seperti kebanyakan kultivator, melainkan berpindah dari satu aliran ke aliran lain dengan begitu halus seolah semua itu berasal dari satu sumber yang sama. Setiap perubahan terjadi tanpa celah, tanpa jeda, seakan hukum pertarungan itu sendiri tunduk pada pemahamannya.

Pedangnya bergerak seperti air, mengalir tanpa bentuk pasti, sulit ditebak dan mustahil ditahan. Dalam sekejap berikutnya, gerakannya berubah menjadi secepat petir, menyambar dengan kekuatan yang menghancurkan sebelum lawan sempat bereaksi. Lalu tanpa peringatan, tekanannya berubah lagi menjadi seberat gunung, kokoh dan tak tergoyahkan, memaksa siapa pun yang menghadapinya merasakan beban yang tak terhindarkan.

Perubahan yang konstan itu membuat ruang di sekitar mereka terus bergetar, seolah tidak mampu mengikuti ritme kekuatan yang terus berganti tanpa henti.

Mata Yuwen Feng melebar, ekspresinya yang sebelumnya dipenuhi keyakinan kini mulai retak oleh keterkejutan yang tak bisa disembunyikan.

“Ini… tidak mungkin…” suaranya terdengar berat, dipenuhi ketidakpercayaan yang mulai menggerogoti keyakinannya sendiri.

Tubuhnya bergetar saat ia mencoba menahan serangan berikutnya, namun sudah terlambat. Teknik terakhir Dongfang datang tanpa celah, menembus pertahanannya yang mulai goyah, menghancurkan lapisan demi lapisan energi gelap yang selama ini ia andalkan.

Ledakan dahsyat pun terjadi.

Beberapa saat setelah ledakan itu mereda, kehampaan yang sebelumnya dipenuhi benturan energi kini kembali sunyi, menyisakan sisa-sisa kekuatan yang masih bergetar lemah di udara. Di antara puing-puing yang melayang tak beraturan, Yuwen Feng terjatuh tersungkur di atas pecahan tanah, tubuhnya dipenuhi luka dan napasnya berantakan, naik turun tanpa irama yang jelas seolah setiap tarikan udara terasa begitu berat.

Darah mengalir dari sudut bibirnya, sementara aura kelam yang sebelumnya mengamuk kini melemah, berdenyut tidak stabil seperti api yang hampir padam. Matanya menatap kosong ke depan, namun di dalamnya tersimpan keterkejutan yang belum sepenuhnya ia terima.

“Aku… kalah, ya…?” suaranya serak, hampir tak terdengar, seolah kata-kata itu sendiri sulit ia akui.

Perlahan, ia mengangkat pandangannya ke arah Dongfang, tatapannya bergetar di antara rasa tidak percaya dan sisa-sisa kesadaran yang masih bertahan. “Jadi selama ini… kau menyembunyikan semua itu? Kau… bisa menggunakan teknik dari berbagai aliran… sekaligus?” lanjutnya dengan napas tersendat, nada suaranya dipenuhi campuran kekaguman pahit dan penyesalan yang terlambat.

Dongfang tidak menjawab.

Ia hanya berjalan perlahan mendekat, langkahnya tenang namun membawa tekanan yang tak terlihat. Setiap pijakan terasa berat, seolah keputusan yang ia bawa jauh lebih besar daripada sekadar akhir sebuah pertarungan. Cahaya pedangnya meredup, namun tetap tajam saat ia mengangkatnya dan mengarahkan ujung bilah itu tepat ke leher Yuwen Feng.

Jarak di antara mereka kini begitu dekat, hanya dipisahkan oleh satu garis tipis antara hidup dan mati.

Hening kembali menyelimuti.

Yuwen Feng menatap ujung pedang itu sejenak, lalu tersenyum tipis. Senyum itu tidak lagi dipenuhi kegilaan seperti sebelumnya, melainkan kelelahan dan kepahitan yang dalam, seolah ia akhirnya menerima sesuatu yang sejak lama ia tolak.

“Kau menunggu apa lagi?” ucapnya pelan, suaranya lebih tenang meski tetap lemah. Ia memejamkan mata sejenak sebelum membukanya kembali, menatap Dongfang untuk terakhir kalinya. “Kalau memang ini akhirnya, lakukan saja. Bunuh aku… sebelum kau mulai menyesalinya."

Namun tangan Dongfang tidak bergerak. Ujung pedang yang telah berhenti tepat di leher Yuwen Feng hanya bergetar tipis, seolah beban yang ia tanggung jauh lebih berat daripada sekadar mengeksekusi lawan. Tatapannya yang semula teguh kini mulai goyah, dan untuk pertama kalinya sejak pertarungan itu dimulai, keraguan muncul di dalam dirinya.

Bayangan masa lalu melintas begitu saja, tanpa bisa ia tahan. Kenangan saat mereka masih berdiri berdampingan, berlatih di bawah langit yang sama, saling mengejar dan tertawa tanpa beban, serta janji-janji yang pernah mereka ucapkan tentang jalan yang akan mereka tempuh bersama. Semua itu terasa begitu dekat, namun pada saat yang sama… sudah sangat jauh.

Perlahan, pedang di tangan Dongfang mulai turun.

Aura yang menyelimutinya ikut meredup, seakan keputusan yang ia ambil bukanlah kemenangan, melainkan sesuatu yang jauh lebih menyakitkan. Ia menunduk sedikit, suaranya keluar rendah dan tertahan, “Aku… tidak bisa melakukan ini. Setelah semua yang terjadi… aku masih tidak bisa mengakhiri hidupmu begitu saja. Lalu… apa yang harus kulakukan denganmu, Feng…?”

Yuwen Feng terdiam. Tidak ada ejekan, tidak ada tawa pahit seperti sebelumnya. Ia hanya menatap Dongfang dalam diam, seolah mencoba memahami keputusan yang baru saja diambil oleh orang yang dulu ia anggap sebagai sahabat.

Tanpa berkata apa-apa lagi, Dongfang menggerakkan tangannya dan mengeluarkan sebuah gulungan dari dalam ruang penyimpanannya.

Gulungan itu hitam legam, begitu pekat hingga seolah menelan cahaya di sekitarnya, sementara di permukaannya terukir kaligrafi emas yang berkilau halus, bergerak perlahan seperti sesuatu yang hidup. Aura kuno terpancar darinya, berat dan menekan, membuat ruang di sekitarnya seolah ikut menunduk dalam keheningan.

“Di dalam gulungan ini,” ujar Dongfang pelan, suaranya kembali stabil meski masih dipenuhi beban emosi, “kau tidak akan menua, dan tubuhmu akan tetap terjaga.”

Tatapannya meredup, menyimpan kesedihan yang tak bisa ia sembunyikan.

“Namun jiwamu akan terus berada dalam dimensi hampa, menghadapi penderitaan yang tak akan berhenti… sampai suatu hari kau benar-benar memahami kesalahanmu.”

Seketika gulungan di tangan Dongfang terbuka dengan sendirinya, dan dalam satu tarikan napas, kekuatan tak kasatmata meledak keluar darinya. Energi itu tidak berbentuk, namun tekanannya begitu nyata, melingkupi tubuh Yuwen Feng dan menariknya dengan paksa, seolah dimensi di dalam gulungan itu telah membuka mulutnya untuk menelan mangsanya.

Yuwen Feng berusaha melawan. Aura kelamnya kembali bergejolak, mencoba menahan tarikan tersebut, namun dalam kondisi terluka parah, semua itu tidak lagi cukup. Tubuhnya perlahan terangkat dari tanah, terseret menuju gulungan hitam yang memancarkan cahaya emas berkilau seperti mata yang mengawasi.

“DONGFAAAANG!!” teriaknya, suaranya penuh amarah, penolakan, sekaligus sesuatu yang tak terucapkan.

Namun teriakan itu segera terputus.

Tubuhnya terserap sepenuhnya ke dalam gulungan, menghilang tanpa sisa, seakan tidak pernah ada di dunia ini. Dalam sekejap berikutnya, gulungan itu menutup kembali dengan sendirinya, dan seluruh energi yang tadi mengamuk langsung lenyap, menyisakan kehampaan yang sunyi.

Dunia kembali hening.

Dongfang berdiri sendirian di tengah kehancuran, tubuhnya dipenuhi luka dan napasnya berat, sementara darah perlahan menetes dari ujung pedang yang masih ia genggam. Tidak ada kemenangan di wajahnya, tidak ada kelegaan, hanya kelelahan yang dalam dan kesunyian yang menekan.

Dengan langkah berat, ia mulai berjalan menjauh dari medan pertarungan, melewati puing-puing dunia yang telah hancur, menuju sebuah tempat tersembunyi yang tidak dapat dijangkau oleh manusia biasa. Tempat itu sunyi dan terisolasi, seolah terpisah dari hukum dunia, dan di sanalah ia menyimpan gulungan hitam tersebut, menguburnya dalam batas yang hanya ia sendiri pahami.

“Hanya aku yang boleh mengetahui tempat ini,” ucapnya pelan, seakan berbicara pada dirinya sendiri, memastikan bahwa rahasia itu tidak akan pernah jatuh ke tangan siapa pun.

Setelah semuanya selesai, Dongfang berdiri di tepi lautan luas yang tak berujung. Angin berhembus pelan, membawa aroma asin yang menyatu dengan kesunyian, sementara ombak bergerak tenang seolah dunia tidak pernah menyaksikan kehancuran yang baru saja terjadi.

Matanya menatap cakrawala yang jauh, dalam dan kosong.

“Jika takdir masih memberiku kesempatan untuk bereinkarnasi…” bisiknya lirih, suaranya hampir tenggelam oleh suara ombak yang perlahan menghantam pantai.

Tanpa ragu, tubuhnya melangkah maju.

“Aku akan menemukannya lagi… di masa depan.”

Dan dalam satu langkah terakhir, tubuhnya jatuh ke dalam laut.

Air segera menelan segalanya, menutup jejak keberadaannya, sementara gelombang kembali tenang seolah tidak pernah terjadi apa-apa.

Dongfang pun menghilang.

End Chapter 1

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!