NovelToon NovelToon
Terikat Luka, Terlahir Cinta

Terikat Luka, Terlahir Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak / CEO
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: M. ZENFOX

Erlangga Mahardika Pratama—seorang CEO muda yang dikenal dingin dan tak tersentuh—terbiasa mengendalikan segalanya dalam hidupnya. Hingga satu hari, sebuah kegagalan cinta menghancurkan pertahanannya, dan mempertemukannya dengan Zea Anindhita Kirana, gadis sederhana yang datang tanpa rencana… namun perlahan mengisi ruang kosong di hatinya.

Hubungan mereka tumbuh dalam diam—penuh tarik ulur, perbedaan dunia, dan luka yang belum sembuh. Di tengah kehangatan yang mulai tercipta, kebahagiaan itu justru direnggut oleh sebuah kebohongan kejam.

"Kadang, cinta datang bukan untuk dimulai... tapii untuk di perbaiki"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon M. ZENFOX, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hari Pertama

Setelah tinta hitam di atas kertas putih itu mengering, atmosfer di dalam ruangan luas itu mendadak berubah. Ketegangan yang tadi sempat meledak-ledak kini menyisakan kecanggungan yang berat dan menyesakkan. Erlangga Mahardika, dengan gerakan yang sangat efisien dan tenang, merapikan lembar demi lembar kertas kontrak tersebut. Ia memasukkannya ke dalam map kulit eksklusif dengan presisi seorang penguasa, lalu berdiri tegak, membetulkan letak jam tangan mewahnya sejenak.

Ia menatap Zea yang masih tampak pucat dan rapuh di ujung sofa. Gadis itu terlihat sangat kecil di tengah kemewahan apartemen ini.

"Karena semua urusan administrasi ini sudah selesai..." Erlangga menjeda kalimatnya, matanya menyapu seisi ruangan seolah sedang menginspeksi wilayah kekuasaannya. "Mulai malam ini, kamu tidak perlu pergi ke mana-mana. Kamu tidur di sini."

Zea tersentak. Kepalanya mendongak cepat, matanya yang sembap kini menyipit tajam penuh kewaspadaan. "Apa?! Maksudmu apa?"

"Hanya ada dua kamar tidur di unit ini," Erlangga menjelaskan dengan nada datar, seolah ia sedang membacakan laporan tahunan perusahaan. Ia menunjuk ke arah koridor yang diterangi lampu temaram. "Kamar utama di ujung adalah milikku. Dan satu lagi di sebelahnya adalah kamar tamu. Mulai detik ini, kamu pakai kamar tamu itu."

Zea langsung menggeleng keras. Genggamannya pada kemeja putih kebesaran yang ia pinjam dari pria itu semakin erat, hingga buku-buku jarinya memutih. "Tidak. Aku mau pulang. Aku punya kehidupan sendiri di luar sana!"

"Tidak boleh," balas Erlangga singkat, padat, dan tak terbantahkan.

"APA MAKSUDMU TIDAK BOLEH?! Kamu sudah mendapatkan tanda tanganku, apa lagi?"

Erlangga melirik jam dinding berlapis emas dengan santai. "Sudah terlalu malam bagi seorang gadis untuk berkeliaran sendirian di kota ini. Dan jangan lupa, mulai besok pagi, kamu sudah resmi mulai bekerja di sini." Ia melangkah mendekat dua langkah, membuat bayangannya yang tinggi besar menyelimuti tubuh Zea. Nada suaranya merendah, terdengar lebih berat. "Saya tidak mau kamu datang terlambat hanya karena alasan transportasi yang bodoh atau alasan kamu kesiangan di rumahmu yang jauh itu."

Zea tetap bersikeras, "Aku bisa datang pagi-pagi sekali! Aku janji tidak akan telat! Aku hanya ingin pulang ke rumahku sendiri!"

"Keputusanku mutlak, Zea. Dan kontrak itu menyebutkan bahwa kamu harus menuruti perintahku."

"Dasar diktator gila!" umpat Zea dengan suara tertahan, amarahnya sudah mencapai ubun-ubun.

Erlangga hanya menatapnya tanpa emosi yang berarti, namun ada kilatan aneh di matanya. "Tenang saja. Aku adalah pria yang memegang kata-kata. Aku tidak akan menyentuh sehelai rambutmu pun malam ini. Aku sedang tidak tertarik." Ia berhenti sejenak, lalu sudut bibirnya terangkat membentuk senyum miring yang provokatif sekaligus jahil. "Tapi kalau malam-malam lain... aku tidak bisa janji."

"ERLANGGA!" Zea berteriak geram. Darahnya berdesir panas. Tanpa pikir panjang, ia menyambar bantal sofa berbahan beludru di dekatnya dan melemparnya sekuat tenaga ke arah wajah pria itu.

Wush!

Pria itu menangkap bantal itu dengan satu tangan dengan sangat mudah, seolah ia sudah memprediksi gerakan Zea. Lalu, sesuatu yang tak terduga terjadi. Sesuatu yang membuat jantung Zea seolah berhenti berdetak selama satu detik.

Tawa kecil keluar dari bibir Erlangga. Bukan tawa mengejek yang dingin, melainkan tawa yang terdengar jujur dan lepas.

"Dasar bocah. Gampang sekali dikerjai," gumam Erlangga sambil melempar kembali bantal itu ke sofa.

Zea membeku. Amarah yang tadinya meluap-luap mendadak menguap, digantikan oleh rasa bingung yang luar biasa. Pria dingin yang baru saja menghancurkan hidupnya ini... baru saja tertawa? Dan kenapa saat tertawa, garis-garis wajahnya yang keras terlihat jauh lebih lembut? Kenapa dia terlihat sangat berbeda dari monster yang ia bayangkan semalam?

Sebelum Zea sempat mencerna gejolak aneh di dadanya, Erlangga sudah berbalik memunggunginya. Bahunya yang lebar terlihat kokoh di bawah lampu apartemen. "Masuk kamar. Istirahat. Bersihkan dirimu dan jangan berpikir untuk kabur karena keamanan di sini berlapis. Besok adalah hari pertamamu bekerja sebagai pelayan."

Tanpa menoleh lagi, Erlangga melangkah masuk ke kamarnya sendiri, menutup pintu dengan bunyi klik yang final. Zea tertinggal sendirian di ruang tamu yang luas, mematung dengan jantung yang berdetak tidak keruan. Ia buru-buru mengabaikan rasa aneh itu, meyakinkan dirinya bahwa ia membenci pria itu lebih dari apa pun di dunia ini.

Keesokan paginya.

Cahaya matahari yang hangat menyelinap masuk melalui celah tirai sutra di kamar tamu. Zea mengerang kecil, mencoba menghalau cahaya yang menusuk matanya. Ia mengerjapkan mata berkali-kali, menatap langit-langit kamar yang memiliki ukiran mewah dan lampu gantung minimalis yang mahal. Selama beberapa detik, ia merasa disorientasi, tidak tahu di mana ia berada.

Lalu, seperti sebuah bendungan yang jebol, semua memori semalam menghantam kepalanya tanpa ampun.

Kontrak tiga tahun. Apartemen mewah ini. Kesepakatan menjadi pelayan. Dan yang paling parah... Erlangga Mahardika.

Zea langsung mengerang frustrasi dan menenggelamkan wajahnya kembali ke balik bantal empuk yang harum aromaterapi. "Ya Tuhan... jadi ini bukan sekadar mimpi buruk yang akan hilang saat pagi datang?"

Ia menarik napas panjang, mencoba mengumpulkan sisa-sisa kewarasannya. Ia tidak boleh terlihat lemah di depan pria itu. "Ayo semangat, Zea... Cuma tiga tahun. Anggap saja ini kerja part time. Kamu melakukan ini demi kesembuhan Ibu. Hanya Ibu," bisiknya menyemangati diri sendiri, meski hatinya terasa sangat berat, seolah ada batu besar yang mengganjal di dadanya.

Dengan gerakan penuh kehati-hatian, Zea bangkit dari tempat tidur. Ia berjalan menuju pintu kamar dan membukanya sedikit saja. Ia mengintip keluar, melirik ke kanan dan ke kiri seperti seorang penyusup yang takut tertangkap basah oleh pemilik rumah. Ia benar-benar tidak ingin bertemu Erlangga dalam kondisi rambut berantakan dan nyawa yang belum terkumpul sepenuhnya.

Setelah merasa lorong itu cukup sunyi dan aman, ia memberanikan diri keluar. Ia berjalan berjinjit, hampir tanpa suara di atas lantai marmer yang dingin, menuju dapur. Tenggorokannya terasa sangat kering dan ia butuh air segera.

Namun, langkahnya mendadak terhenti tepat di depan meja makan kayu jati yang elegan. Di sana, di tengah meja yang kosong, tergeletak sebuah kantong plastik dari sebuah restoran ternama dan sebuah kartu akses berwarna hitam pekat dengan logo emas. Di samping benda-benda itu, terdapat secarik kertas dengan tulisan tangan yang sangat rapi namun memiliki garis-garis yang tegas.

Zea mengambil kertas itu dengan tangan yang sedikit gemetar.

'Saya sudah pergi ke kantor untuk urusan mendesak. Tadi saya sempat mengetuk pintu kamarmu beberapa kali tadi pagi, tapi sepertinya kamu tidur seperti orang mati karena tidak ada sahutan sama sekali, dan juga saya sudah membelikanmu sarapan. Habiskan semuanya, jangan ada yang tersisa, owh iya kartu hitam itu adalah akses untuk masuk ke unit ini dan gedung apartemen. Jaga baik-baik, jangan sampai hilang. Biaya pembuatannya lebih mahal dari harga ponselmu, dan jangan lupa mulai bekerja hari ini. Bersihkan semuanya tanpa kecuali. Selamat bekerja, Babuku.'

Mata Zea melebar sempurna hingga nyaris keluar dari kelopaknya. "BABU?!" teriaknya tertahan, suaranya menggema di ruangan yang sepi itu. "DASAR MANUSIA SOMBONG! MENYEBALKAN!"

Ia nyaris meremas kertas itu menjadi bola dan melemparkannya ke tempat sampah, namun tangannya terhenti tepat di atas kantong plastik. Aroma roti gandum yang dipanggang sempurna, sosis premium, dan susu cokelat hangat menyeruak keluar, menggoda indra penciumannya yang sudah lama tidak merasakan makanan mewah. Di dalamnya juga terdapat buah-buahan segar yang sudah dipotong rapi dan sebuah vitamin.

Zea terdiam sejenak. Matanya menatap makanan itu dengan pandangan yang sulit diartikan. Pria yang semalam bersikap seperti iblis itu... benar-benar meluangkan waktu untuk membelikannya sarapan sebelum pergi bekerja?

"Hmph," Zea mendengus, mencoba mempertahankan topeng kebenciannya. "Pasti dia cuma takut babu kontraknya ini pingsan kelaparan lalu pekerjaannya terbengkalai. Dia hanya menjaga asetnya agar tidak rusak."

Meski mulutnya terus mengomel dan mengeluarkan sumpah serapah untuk Erlangga, Zea tidak bisa menyembunyikan sudut birunya yang sedikit terangkat. Ia menarik kursi, duduk sendirian di meja makan yang mewah itu, dan mulai menyantap makanan yang dibelikan Erlangga. Untuk pertama kalinya sejak badai itu menghantam hidupnya, Zea merasakan sedikit kehangatan, meski ia tetap bersumpah bahwa Erlangga Mahardika adalah manusia paling menyebalkan yang pernah ia temui dalam hidupnya.

Zea menatap kartu akses hitam di samping piringnya. Ini adalah awal dari perjalanannya di dalam sangkar emas ini. Perjalanan yang ia tahu tidak akan mudah, namun setidaknya, pagi ini ia tidak kelaparan. Sambil mengunyah rotinya, ia menatap ke jendela besar yang menampilkan pemandangan kota Jakarta, bersiap untuk menghadapi apa pun yang akan diberikan Erlangga padanya hari ini.

1
ELVI NI'MAH
Bagus, aku suka happy ending, inginku ibunya langga menyukai zea
Nessa
lapor donk zea jangan diam aja
Nessa
yakin ni g tertarik kita liat aja nanti 🤭
Nessa
gimna nasib zea
Nessa
diihh sarah sombong kali
Nessa
erlangga 😤😤😤
Nessa
salut banget padamu zea, intinya bersyukur
Nessa
smngat zea
Nessa
ikut sedih 😢
Nessa
zea kenapa g minta erlangga menikahimu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!