NovelToon NovelToon
SENTUHAN PAPA MERTUA

SENTUHAN PAPA MERTUA

Status: sedang berlangsung
Genre:Rumah Tangga / Balas Dendam
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Nuna_Pena

"Pa, Papa mau apa??" Adelia terkejut saat papa mertuanya tiba-tiba mendekat dan memeluknya dari belakang. la tak pernah membayangkan, kalau setelah menikah papa mertuanya itu justru berubah dan bersikap seolah ia adalah istrinya.

Apakah Adelia mampu mengendalikan diri dari papa mertuanya?

Atau ia justru ikut terjerumus juga?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

TIGA

Langit sore berwarna jingga lembut ketika sinar matahari terakhir menembus tirai tipis ruang tamu. Udara di rumah itu terasa tenang, tapi pikiran Adelia Octavia justru berkecamuk.

Sejak pagi, pikirannya tak bisa berhenti memutar ulang kejadian aneh yang terjadi-kedatangan Bastian Erlangga, papa mertuanya, yang tiba-tiba muncul tanpa kabar dan mengucapkan niat tinggal bersama dirinya dan Lukas.

Dan bukan cuma itu. Tatapan mata Bastian, cara bicaranya yang terlalu lembut, pujiannya yang terasa pribadi... hingga sentuhan tangan di punggung tangannya yang membuat Adelia sempat kaget dan salah tingkah.

Ia mencoba mengusir pikiran itu, berusaha berpikir positif. Mungkin Papa cuma kangen keluarga. Mungkin aku cuma salah paham.

Tapi perasaan tidak nyaman itu tetap ada, menempel seperti bayangan yang tak mau hilang.

Adelia duduk di sofa ruang tamu dengan segelas teh hangat di tangan, menatap kosong ke arah taman depan. Suara burung mulai mereda, digantikan suara mesin kendaraan dari kejauhan. Lalu, beberapa detik kemudian, terdengar suara khas gerbang besi dibuka dari luar.

Pak Sukir tampak dari jendela, melambaikan tangan. Dan sesaat setelah itu, suara mobil hitam memasuki halaman rumah.

Wajah Adelia langsung berubah. Hatinya hangat seketika. "Mas Lukas pulang..." gumamnya sambil buru-buru meletakkan gelas, lalu berdiri dan merapikan rambutnya di pantulan kaca. Ia mengecek dasternya-memastikan tampilannya rapi-kemudian berjalan cepat ke arah pintu.

Benar saja, Lukas Ivander baru saja keluar dari mobil. Jasnya sedikit kusut, dan wajahnya terlihat lelah. Ada sesuatu yang berbeda dari tatapan matanya sore itu. Bukan dingin seperti biasanya, tapi lebih... tegang. Seolah pikirannya masih terjebak di tempat lain.

Adelia segera menghampiri. "Sore, Mas! Kamu capek, ya? Mau minum dulu atau mandi dulu?" ucapnya lembut, mencoba menjaga nada suaranya tetap ceria. Tangannya dengan sigap membantu Lukas melepas jas dan menggantungkannya di lengannya sendiri.

Lukas tersenyum tipis, tapi senyum itu tidak seperti biasanya. Ia hanya mengangguk, lalu menunduk sedikit dan mengecup kening istrinya.

"Makasih, sayang!" katanya pelan.

Adelia menatapnya dengan senyum kecil. "Hari ini gimana? Meeting-nya lancar?"

"Lancar," jawab Lukas pendek sambil melangkah masuk ke rumah, merangkul bahu istrinya.

Tapi, langkahnya tampak berat. Di dalam pikirannya, bayangan wajah Intan Vadella muncul lagi-mantan kekasih yang tadi siang tiba-tiba datang ke kantornya, berpakaian mencolok dan bicara seolah masa lalu mereka tak pernah berakhir.

Lukas menutup matanya sejenak, mencoba menghapus bayangan itu. Ia tak mau membiarkan kenangan lama merusak kedamaian yang telah ia bangun bersama Adelia. Ia mencintai Adelia sepenuhnya. Tapi, kenangan masa lalu punya cara aneh untuk menyelinap di antara celah pikiran yang paling kuat sekalipun.

Adelia memperhatikan suaminya dari samping.

Ada hal yang mengganggunya. Lukas memang tipe pria tenang, tapi Adelia sudah cukup mengenalnya untuk tahu-kali ini ada sesuatu yang tidak ia ceritakan. Gerakan Lukas lebih kaku, ekspresinya sedikit kosong.

"Mas," panggil Adelia pelan, "Kamu kenapa, sih? Ada masalah di kantor?"

Lukas menatapnya sekilas, lalu menggeleng. "Nggak, aku cuma capek aja. Klien dari Tokyo tadi lumayan keras kepala."

Adelia mengangguk, meski ia tahu jawaban itu tidak sepenuhnya jujur. Ia lalu berjalan ke dapur, mengambilkan air putih dingin untuk Lukas. "Kalau gitu kamu istirahat dulu, ya! Aku siapkan air hangat buat kamu mandi. Setelah itu kita makan bareng."

Lukas duduk di sofa, melepas dasi dan membuka dua kancing atas kemejanya. Ia menatap istrinya yang berjalan ke arah dapur-gerakannya lembut, sederhana, tapi penuh perhatian.

Rasa bersalah tiba-tiba muncul di dada Lukas. Ia merasa kotor hanya karena membiarkan wajah Intan mampir di pikirannya.

"Del," panggilnya saat Adelia kembali membawa air.

"Makasih, ya. Kamu selalu tahu gimana bikin aku tenang."

Adelia tersenyum. "Tentu dong, itu kan udah tugas seorang istri."

Ia duduk di samping Lukas, jarak mereka dekat, tapi di antara mereka terasa ada sesuatu yang tak kasatmata-seolah ada rahasia kecil yang menghalangi ketulusan momen itu.

Setelah beberapa menit keheningan, Adelia akhirnya bicara lagi. "Mas, tadi pagi... Papa datang ke sini."

Lukas menoleh, sedikit heran. "Papa? Pagi-pagi banget?"

"Iya," jawab Adelia, berusaha terdengar santai.

"Katanya Papa butuh tempat tinggal baru. Di rumahnya terlalu banyak kenangan sama almarhumah Mama kamu, Mas."

Lukas mengangguk pelan. "Aku tahu. Belakangan Papa memang sering bilang begitu. Dia kesepian."

"Tapi..." Adelia menatap gelas di tangannya, ragu melanjutkan. "Papa juga bilang, kalau dia mau tinggal di sini. Bersama kita."

Lukas langsung terdiam. Pandangannya menajam.

"Tinggal di sini? Papa bilang gitu?"

Adelia mengangguk, menelan ludah. "Iya, aku udah bilang nanti aku bahas sama kamu dulu."

Lukas mengusap pelipisnya, berpikir keras. "Kalau Papa sampai datang sendiri ngomong kayak gitu, berarti dia serius. Tapi... rumah ini memang cukup besar. Aku cuma khawatir kamu nanti kurang nyaman."

Adelia tersenyum samar. "Selama Papa nggak keberatan aku sibuk di rumah, aku nggak masalah, Mas."

Namun, jauh di dalam hatinya, ia tidak sepenuhnya yakin dengan kata-katanya sendiri. Bayangan tangan Bastian yang menyentuh tangannya pagi tadi muncul lagi tanpa diundang.

Lukas menarik napas panjang. "Ya udah, nanti aku telepon Papa. Kita bicarakan baik-baik."

Adelia mengangguk pelan, mencoba menenangkan diri. Ia tahu Lukas tipe pria yang rasional, tapi entah kenapa kali ini ia takut. Takut kalau kehadiran Bastian di rumah mereka nanti justru akan membawa masalah yang tidak pernah ia bayangkan.

Malam mulai turun perlahan. Lampu ruang tamu menyala, dan aroma masakan Bik Vivi mulai memenuhi udara. Lukas bangkit untuk mandi, sementara Adelia menyiapkan meja makan.

Namun, saat Lukas sudah naik ke kamar, Adelia mendengar sesuatu dari luar-bunyi mesin mobil berhenti tepat di depan gerbang.

Ia menoleh, langkahnya refleks menuju jendela.

Di balik kaca, tampak mobil hitam berhenti perlahan... dan dari dalamnya keluar sosok Bastian Erlangga dengan kemeja santai dan sebuah koper besar di tangan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!