Di daratan Huanjiang, Dinasti Wuji Chao memerintah dengan tangan besi. Chen Fengyin lahir di desa yang damai, hingga sebuah pembantaian menghancurkan segalanya ketika dia masih kecil – menyisakan dia sebagai satu-satunya yang tersisa.
Ditemukan oleh seorang ahli bela diri kuno, dia menghabiskan tahun-tahun untuk melatih diri dan menguasai kekuatan elemen alam yang jarang orang bisa miliki. Namun ketika masa lalunya kembali mencari dia, pertempuran yang dahsyat membuatnya harus membangkitkan kekuatan legendaris yang hanya diberikan kepada orang terpilih.
Meskipun berhasil mengusir musuh, tubuhnya tak mampu menahannya. Tapi takdir tidak mengizinkannya pergi begitu saja – dia bangun kembali dengan tubuh baru di desa yang jauh, membawa kekuatan yang sama namun harus belajar mengendalikannya lagi.
Bersama teman baru yang setia dan kelompok perlawanan yang tersembunyi, Fengyin berkelana selama bertahun-tahun
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Kurniawan Wawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 1 Shenying Shu di Bawah Senja
Senja di Kampung Awan Kasih bukan sekadar waktu. Ia adalah pernapasan —pernapasan terakhir siang yang panas sebelum malam menghembuskan embun dingin dari lereng-lereng gunung. Di saat itulah Shenying Shu, Pohon Roh Cemara yang berdiri tegak di tengah desa selama tujuh generasi, melepaskan bayangan terpanjangnya. Bayangan yang menjulur seperti jari-jari raksasa, merangkul setiap atap genting, setiap jalan setapak, setiap wajah yang pulang dari sawah.
Chen Fengyin, yang baru genap empat tahun tiga bulan, sedang berlari-lari di antara akar-akar pohon yang menonjol ke permukaan tanah. Kakinya yang kecil—masih terbungkus sandal kayu buatan ibunya—melompat dari satu akar ke akar lainnya dengan lincah. Di tangannya, sebatang ranting cemara yang patah berfungsi sebagai pedang kayu, mengayun-ayunkan dengan serius yang lucu bagi siapa pun yang melihatnya.
"Ha! Ha! Take this, monster jahat!"
Serangannya mengenai batang pohon dengan bunyi tuk yang nyaring. Sekelompok burung gereja beterbangan dari dahan-dahan tinggi, menciptakan hujan daun kering yang berjatuhan di atas kepala anak laki-laki itu.
"Fengyin! Jangan ganggu Pohon Roh!"
Suara itu datang dari arah utara. Fengyin menoleh, wajahnya yang bulat dan berpipi tembem berseri-seri melihat sosok ayahnya berjalan mendekat. Chen Lianzhou, Kepala Desa Kampung Awan Kasih, masih mengenakan pakaian kerja sawahnya—celana pendek kain kasar dan baju tanpa lengan yang memperlihatkan lengan kekar berotot hasil bertahun-tahun mencangkul. Di bahunya, sekeranjang besar sayuran segar yang baru dipanen.
"Tapi Ayah, aku sedang melatih Wǔshù!" Fengyin berlari menghampiri, ranting kayu masih teracung dengan bangga. "Nanti aku akan jadi Dàshī yang menguasai empat elemen! Aku akan melindungi desa dari... dari..."
Dia berhenti, mata cokelatnya yang besar berkedip-kedip mencoba mengingat ancaman yang pernah didengarnya dari cerita-cerita di pasar.
"Dari pajak yang tinggi?" Chen Lianzhou tersenyum, meletakkan keranjang di bawah salah satu akar Shenying Shu. Dia berjongkok, meratakan tinggi dengan putranya, dan dengan lembut merapikan rambut Fengyin yang berantakan oleh angin sore.
"Bukan!" Fengyin menggelengkan kepala dengan antusias. "Dari Naga Hitam! Yang bisa terbang dan menyemburkan api! Kakek di pasar bilang, Naga Hitam itu mata merahnya seperti lentera, dan giginya sepanjang pedang!"
Chen Lianzhou tertawa terbahak-bahak, suaranya bergema di lembah. Tapi di matanya, Fengyin melihat sesuatu yang lain—sekilas bayangan yang berkelebat begitu cepat sehingga anak itu tidak yakin apakah itu benar-benar ada. Ketegangan? Khawatir? Sesuatu yang tidak bisa diartikan oleh pikiran yang masih polos.
"Naga Hitam hanya ada di dongeng, Sayangku," kata Chen Lianzhou akhirnya, mengangkat Fengyin ke dalam pelukannya. "Tapi melindungi desa... itu memang pekerjaan keluarga kita. Suatu hari, Ayah akan menceritakan padamu bagaimana kakek buyutmu membangun Kampung Awan Kasih ini. Bagaimana dia menanam Shenying Shu dengan tangannya sendiri."
Fengyin menatap ke atas, ke arah dahan-dahan yang menjulang tinggi hingga menghilang di antara awan-awan merah jingga. Pohon itu begitu besar sehingga cabang-cabangnya saja seukuran pohon normal. Kulit kayunya berwarna perak keabu-abuan, mengkilap aneh di bawah sinar matahari yang meredup, seolah-olah terbuat dari logam bukan tumbuhan. Konon, di malam hari, ketika angin bertiup dari arah timur, daun-daun cemara itu berdesir membentuk nada-nada seperti guzheng —seperti ada roh yang tinggal di dalamnya, menyanyikan lagu-lagu kuno yang hanya bisa didengar oleh mereka yang memiliki telinga peka.
"Roh Cemara itu benar-benar ada, Ayah?" tanya Fengyin dengan suara berbisik, seolah takut didengar oleh makhluk lain.
Chen Lianzhou terdiam sejenak. Angin sore mulai bertiup, membawa aroma bunga osmanthus dari kebun tetangga. Di kejauhan, suara genderang petik dari altar desa mengabarkan bahwa matahari akan segera tenggelam—waktu bagi setiap keluarga untuk berkumpul di meja makan.
"Roh itu ada di mana-mana, Fengyin," jawabnya pelan. "Di tanah yang kita injak. Di air yang kita minum. Di udara yang kita hirup. Shenying Shu hanya... wujudnya yang paling mudah kita lihat. Paling mudah kita rasakan."
Dia menurunkan Fengyin ke tanah, lalu mengambil keranjang sayur dengan satu tangan dan menggenggam tangan putranya dengan tangan lainnya.
"Ayo. Ibumu pasti sudah menyiapkan mántóu . Dan kakekmu—ya, kakekmu yang sebenarnya, bukan kakek penjual dongeng di pasar—ingin melihatmu menyelesaikan latihan kaligrafi hari ini."
Fengyin mengerucutkan bibir. "Tapi aku lebih suka latihan pedang..."
"Kaligrafi juga adalah Wǔshù," tegas Chen Lianzhou, tapi matanya berbinar geli. "Itu adalah Wǔshù untuk pikiran. Dan pikiran yang kuat lebih penting daripada otot yang kuat. Ingat itu."
Mereka berjalan menyusuri jalan setapak utama desa, yang berbatu-batu dan sedikit berlubang karena sering dilalui kereta sapi pengangkut hasil panen. Kampung Awan Kasih tidak besar—hanya sekitar seratus rumah, semuanya dibangun dengan gaya tradisional: dinding tanah liat yang dilapisi plester putih, atap genting melengkung berwarna abu-abu gelap, dan tiap-tiap halaman selalu memiliki satu pohon buah atau bunga.
Tapi keindahannya terletak pada posisi . Desa ini berada di lekukan lembah yang dilindungi oleh tiga sisi pegunungan, dengan sungai jernih mengalir melengkung di sisi keempat seperti pelukan. Di musim semi, kabut pagi turun dari puncak-puncak gunung dan menggenang di antara rumah-rumah, menciptakan pemandangan seperti negeri dewa-dewa. Di musim panas, angin dari celah-celah gunung membawa sejuk yang menyelamatkan dari terik matahari. Dan di musim gugur seperti sekarang—musim panen—seluruh lembah berubah menjadi lautan emas dari sawah-sawah padi yang matang.
Fengyin melambatkan langkahnya ketika mereka melewati rumah Wang Bo, teman sebayanya yang sedang duduk di teras, menatap dengan iri. Wang Bo mengangkat tangan, dan Fengyin mengangkat tangan balik, tapi dia tidak bisa berhenti—ayahnya terus menariknya dengan genggaman yang lembut namun tak terbantahkan.
"Ayah," tanya Fengyin tiba-tiba, "kenapa kita harus membayar banyak beras ke orang-orang dari istana? Kakek bilang, dulu kita tidak perlu begitu."
Chen Lianzhou berhenti berjalan. Untuk pertama kalinya, Fengyin merasakan genggaman ayahnya menjadi kaku.
"Siapa yang mengatakan itu padamu?"
"Kakek. Waktu aku tidur di pangkuannya minggu lalu. Dia bilang... dia bilap Dinasti Wuji Chao itu rakus. Mereka mengambil beras kita, mengambil sutra kita, mengambil anak-anak muda kita untuk jadi prajurit. Dan kalau kita protes..." Fengyin meniru gerakan menggorok leher yang pernah dilihatnya dari pertunjukan boneka di pasar.
Chen Lianzhou berjongkok lagi, kali ini dengan ekspresi yang sangat serius. Dia memegang bahu Fengyin dengan kedua tangan, memastikan mata mereka bertemu pada level yang sama.
"Dengar, Fengyin. Kakekmu... dia mengalami banyak hal buruk di masa lalunya. Hal-hal yang membuatnya tidak percaya pada pemerintah. Tapi itu adalah cerita untuk orang dewasa. Untukmu, yang perlu kamu ingat adalah: Kepala Desa kita—ya, Ayah—sedang berbicara dengan Kepala Desa lainnya. Lima Desa kita sedang berbicara dengan para pejabat. Semuanya akan baik-baik saja. Kamu tidak perlu takut."
Tapi Fengyin tidak bodoh. Bahkan pada usianya, dia bisa merasakan ketegangan di suara ayahnya, melihat kerutan di dahi yang biasanya rileks. Sesuatu sedang tidak beres. Sesuatu yang bahkan Shenying Shu dengan bayangan pelindungnya tidak bisa cegah.
"Baik, Ayah," jawabnya akhirnya, karena itu adalah jawaban yang diharapkan.
Mereka melanjutkan perjalanan. Rumah keluarga Chen terletak di ujung utara desa, sedikit terpisah dari yang lain—sebagai rumah kepala desa, itu memiliki halaman yang lebih besar dan sebuah paviliun kecil untuk menerima tamu. Di depan pintu, seorang wanita paruh baya sedang menyapu dedaunan kering. Liu Meihua, ibu Fengyin, mengenakan pakaian sederhana warna biru pudar, rambutnya diikat rapi dalam sanggul rendah. Wajahnya tidak cantik menurut standar kota besar—terlalu banyak bintik hitam dari bekerja di bawah matahari, terlalu banyak garis halus di sudut mata—butuh ketika dia tersenyum, seluruh dunia sepertinya menjadi lebih terang.
"Akhirnya!" serunya, meletakkan sapu lidi. "Aku sudah memanaskan mántóu tiga kali! Fengyin, cuci tanganmu sekarang—dan jangan menggunakan air dari genangan, gunakan air sumur yang bersih!"
Fengyin mengerahkan senyum paling manisnya—senyum yang selalu berhasil menghindarkan hukuman. "Ibu, hari ini aku melawan monster di bawah Shenying Shu! Aku butuh energi banyak untuk bertarung lagi besok!"
Liu Meihua menghela napas dengan dramatis, tapi sudah tertawa. "Monster di bawah Shenying Shu hanyalah bayanganmu sendiri, anak kecil. Aku melihatmu dari jendela dapur. Sekarang, masuk! Kakek sudah menunggu di ruang belajar."
Ruang belajar adalah bagian paling kecil dari rumah—hanya empat setengah zhang persegi, dengan satu meja rendah, dua bantal duduk, dan dinding yang dipenuhi gulungan kaligrafi. Di sana, duduk Chen Yuanming, ayah Chen Lianzhou, kakek Fengyin. Pria berusia tujuh puluh tahun dengan rambut putih seputih salju dan janggut panjang yang diikat dengan pita sutra biru. Matanya—sama cokelatnya dengan Fengyin—masih tajam, masih penuh dengan api yang anehnya tidak pernah redup meski tubuhnya sudah membungkuk dan tangannya gemetar saat memegang kuas.
"Terlambat," kata Kakek Yuanming tanpa basa-basi. "Satu mántóu dikurangi dari makan malammu."
"Tapi Kakek, aku sedang melatih Wǔshù—"
"Kaligrafi adalah Wǔshù," potong Kakek Yuanming, dan Fengyin terkejut mendengar kalimat yang sama dari ayahnya. "Duduk. Pegang kuas. Lupakan tentang bayangan dan monster. Hari ini, kita akan menulis karakter 'Nai'—keberanian."
Fengyin mendengkus tapi patuh. Dia berlutut di bantal, mengambil kuas dari tempatnya, dan mencelupkannya ke dalam tinta. Kakek Yuanming mengawasi dengan mata yang tajam, sesekali mengoreksi posisi jari-jari Fengyin yang terlalu kaku atau terlalu longgar.
"Keberanian bukan berarti tidak takut," kata Kakek Yuanming sambil Fengyin mencoba menggambar garis pertama. Tinta itu berlebihan, membuat coretan yang berantakan. "Keberanian adalah melakukan yang benar meski kamu takut. Mengerti?"
"Mengerti, Kakek."
"Tulis lagi."
Mereka melanjutkan dalam hening yang nyaman, hanya dipecah oleh desiran angin malam yang mulai masuk melalui celah jendela. Dari ruang makan, Fengyin bisa mendengar suara ibunya yang bersiap-siap, suara ayahnya yang berbicara pelan dengan seseorang—mungkin Paman Zhou dari desa sebelah—dan aroma mántóu yang menggoda.
Tiba-tiba, Kakek Yuanming berbicara lagi, suaranya lebih rendah, hampir seperti bisikan.
"Fengyin. Apa yang Ayahmu katakan tentang pajak?"
Fengyin mengangkat kepala, terkejut. "Dia bilang... dia bilang semuanya akan baik-baik saja. Bahwa Ayah sedang berbicara dengan Kepala Desa lainnya."
Kakek Yuanming mengangguk perlahan. "Itu benar. Ayahmu sedang berbicara. Lima Desa sedang berbicara. Tapi..." Dia berhenti, matanya menatap ke luar jendela, ke arah Shenying Shu yang kini hanya terlihat sebagai siluet gelap melawan langit ungu. "Terkadang, bicara tidak cukup. Terkadang, orang-orang yang berkuasa hanya mengerti bahasa satu: kekuatan."
"Kekuatan seperti Dàshī, Kakek?"
"Ya. Seperti Dàshī." Kakek Yuanming tersenyum, tapi senyum itu tidak sampai ke matanya. "Tapi itu adalah cerita untuk lain waktu. Sekarang, fokus pada karaktermu. Lihat—garis vertikalmu tidak tegak. Seperti punggung orang yang tidak punya tulang punggung."
Fengyin tertawa kecil dan mencoba lagi. Kali ini, karakter 'Nai' yang dia tulis lebih baik—masih jauh dari sempurna, tapi sudah bisa dibaca. Kakek Yuanming mengangguk puas.
"Bagus. Sekarang, tulis sepuluh kali lagi. Sementara itu, aku akan memeriksa apakah ibumu menyembunyikan niúròu untukku di dapur."
Kakek Yuanming bangkit dengan susah payah, menggunakan tongkat kayu sebagai penopang. Di ambang pintu, dia berhenti dan menoleh, wajahnya terbentuk oleh cahaya lentera yang berkedip-kedip.
"Fengyin. Ingat ini: Shenying Shu tidak hanya pohon. Itu adalah saksi . Saksi dari setiap tetes keringat yang kita tuangkan untuk membangun desa ini. Saksi dari setiap janji yang kita buat. Dan suatu hari... mungkin saksi dari keberanianmu."
Lalu dia pergi, meninggalkan Fengyin sendirian dengan tinta, kertas, dan bayangan-bayangan yang mulai menjalar di dinding saat lentera meredup.
Anak laki-laki itu menatap karakter 'Nai' yang baru saja ditulisnya. Keberanian. Dia tidak benar-benar mengerti apa artinya, tidak sepenuhnya. Tapi dia tahu satu hal: dia ingin menjadi seperti Shenying Shu. Tegak. Kuat. Melindungi.
Di luar, angin mulai bertiup lebih kencang. Daun-daun cemara berdesir, dan untuk sejenak—hanya sejenak—Fengyin bisa bersumpah dia mendengar suara seperti guzheng , menyanyikan nada-nada yang belum pernah didengarnya sebelumnya. Nada-nada yang terdengar... muram. Seperti peringatan.
Tapi dia masih terlalu muda untuk mengerti peringatan. Terlalu muda untuk tahu bahwa di balik pegunungan, di istana marmer yang menjulang tinggi di timur, seorang Kaisar sedang meminum ramuan kekekalan yang dicampur dengan darah rakyatnya yang menderita. Terlalu muda untuk tahu bahwa Xie Wuyou, pemimpin Sekte Naga Hitam, sudah membuka gulungan berisi nama-nama Lima Desa yang berani menolak pajak.
Malam itu, Fengyin tertidur di pangkuan ibunya, setelah makan mántóu dan sayur tumis yang hangat. Dia bermimpi tentang dirinya yang terbang, mengendalikan angin seperti Dàshī legendaris, melawan Naga Hitam yang mata merahnya seperti lentera.
Dia tidak bermimpi tentang api. Tidak bermimpi tentang darah. Tidak bermimpi tentang Shenying Shu yang akhirnya menurunkan bayangannya untuk terakhir kalinya, menutupi desa yang hancur dalam pelukan terakhir yang dingin.
Tapi itu adalah mimpi untuk masa depan. Untuk malam ini, di bawah senja yang merah dan ungu, Kampung Awan Kasih masih ada. Masih utuh. Masih penuh dengan suara tawa, aroma mántóu , dan janji-janji yang belum diingkari.
Dan di suatu tempat di antara akar-akar pohon suci, seekor burung kecil berwarna biru—yang tidak seharusnya ada di musim gugur—sedang mematuk-matuk tanah, mencari makanan yang tidak akan pernah dia temukan. Seekor burung yang, jika ada yang memperhatikan, akan dianggap sebagai pertanda. Pertanda bahwa sesuatu yang besar, sesuatu yang kuno, sesuatu yang tidur dalam ribuan tahun...
...sedang mulai terbangun.
...( Bersambung... )...