Arumi tidak pernah menyangka hidupnya akan berakhir sebagai "jaminan" utang. Dipaksa menikah dengan seorang rentenir tua yang kejam demi melunasi hutang keluarganya, Arumi nekat melakukan aksi gila .
Dalam keputusasaan di tengah taman kota matanya tertuju pada sosok pria tampan yang sedang sibuk mengipasi tusukan bakso. Tanpa pikir panjang, Arumi menarik tangan Elang, sang penjual bakso bakar, dan mengakuinya sebagai calon suami di hadapan Ayahnya
Siapa sangka, Elang yang terlihat sederhana dengan apron hitamnya itu menyanggupi tantangan Arumi. Namun, di balik aroma asap arang dan bumbu kacang, ada rahasia besar yang disimpan Elang. Apakah pernikahan Dadakan ini akan membawa kebahagian ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjay22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sendiri di tempat baru
Sementara itu ,Dikamar kontrakan milik Elang,Arumi duduk di kursi depan kontakan sendiri, menunggu si pemilik rumah,karena terlalu lama ia memutuskan masuk kedalam rumah ia masih berdiri mematung sejenak di depan pintu kamar nomor tujuh itu. Rasanya Napas agak sesak, bukan karena udara malam yang dingin, melainkan karena kenyataan yang baru saja menghantamnya,Arumi merasa terpuruk dan kini berada di sebuah tempat asing, di bawah perlindungan pria yang baru beberapa jam lalu menjadi suaminya.
"Kenapa malam ini serem banget sih ,mas Elang tega banget meninggalkan aku sendiri disini,gimana nanti kalau aku di colong sama hantu tampan."Arumi mengedarkan pandangannya keseluruhan jejeran rumah yang terlihat sepi hanya lampu luar yang menyala." Arumi ingin masuk kerumah,tapi dia ragu,ia ingin menunggu elang terlebih dahulu,tapi Angin malam dan suara hewan malam,membuat bulu kuduknya meremang
"Kenapa Mas Elang lama sekali ,mana sudah malam ,aku takut sendirian ,lebih baik aku masuk duluan ,dari pada aku melihat Kunti yang lagi terbang." Gumam Arumi dengan bergidik .
Arumi memang tergolong perempuan tangguh ,tapi soal hal - hal yang berbau mistis ia terlalu penakut .suara binatang malam semakin menambah suasana mencekam
Perlahan, ia mendorong pintu kayu yang sudah tidak terkunci itu.
"Assalamualaikum?" ucap salam Arumi pelan, saat melangkah masuk. Sudah menjadi kebiasaannya untuk selalu mengucapkan salam sebelum memasuki ruangan, meski ia tahu tidak ada siapa pun di dalam sana.
Suara salamnya hanya memantul di dinding ruangan yang sunyi.
"Waalaikumsalam," Arumi menjawab sendiri, sembari menutup pintu di belakangnya .
Ia berdiri di ruang tamu kecil yang juga merangkap sebagai ruang tengah.
"Ternyata cukup luas juga," gumam Arumi sambil menyapu pandangan ke sekeliling.
Matanya berbinar saat menemukan fakta bahwa kontrakan itu memiliki dua kamar tidur yang terpisah."Alhamdulillah! ternyata ada dua kamar. Jadi aku tidak harus berbagi ranjang dengannya," ucap lirih Arumi dengan perasaan lega yang luar biasa.Jujur saja, meski Elang telah sah menjadi suaminya,ia masih merasa sangat asing. Pernikahan mereka yang secepat kilat membuat batin Arumi belum siap untuk keintiman fisik apa pun. Adanya kamar terpisah ini adalah anugerah terbesar malam ini.
Langkah Arumi membawanya ke depan salah satu pintu yang sedikit terbuka.ia mengintip ke dalam. Itu pasti kamar pribadi Elang.
"Ternyata dia orang yang sangat rapi," bisiknya kagum. Barang-barang di dalamnya tersusun dengan apik. Di sudut kamar, ia melihat sebuah laptop tergeletak di meja kecil. "Wih, dia punya laptop juga? Ternyata tukang bakso bakar ini cukup modern dan melek teknologi," pikir Arumi , ia sedikit terkejut dengan fakta kecil itu.
Arumi sadar kalau apa yang ia lakukan Tidak sopan mengintip lebih jauh kekamar pribadi pemilik rumah,walaupun ia sudah sah menjadi istri tapi mereka masih asing . Arumi menutup kembali pintu kamar itu perlahan dan memilih untuk duduk di kursi kayu panjang yang ada di ruang tamu.
Sembari menunggu Elang kembali, bayang-bayang kejadian tadi sore kembali menghantui pikirannya
"Ya Allah, terima kasih Engkau telah mengirimkannya sebagai penyelamatku," bisikku lirih. Air mata mulai menggenang kembali. Aku masih tidak percaya bahwa aku nyaris menjadi barang dagangan ayahku sendiri untuk Juragan Dirga."ucapnya lirih
"Ayah ... kenapa Ayah begitu tega?" Isak Arumi mulai pecah. Sakit sekali rasanya disisihkan oleh ayah kandungnya sendiri hanya demi kepentingan istrinya dan anak turinya. Ayah lebih memilih memenuhi ambisi mereka daripada melindungi kebahagiaanku." Air matanya kembali luruh.
Arumi tidak bisa membayangkan ,Jika saja ia sampai menikah dengan pak Dirga, dia tahu hidupnya tidak akan menemukan kedamaian. Pria itu adalah definisi neraka di dunia; kasar, gemar berjudi, dan sering melakukan kekerasan pada istri-istrinya yang jumlahnya entah berapa.
Arumi teringat peringatan mendiang ibuku dulu: (“Jangan pernah memakan harta haram, Nak, karena itu akan menjadi api di akhirat.”)pak Dirga kaya dari hasil riba dan judi. Arumi tidak pernah menginginkan itu,ia lebih baik hidup sederhana bersama penjual bakso daripada bergelimang harta namun penuh noda.
"Ibu ... seandainya Ibu masih ada," rintih Arumi sambil memeluk lutut. "Lima tahun sejak Ibu pergi, duniaku runtuh. Aku harus berjuang sendiri untuk kuliah sambil bekerja, tanpa bantuan sepeser pun dari Ayah yang seluruh perhatiannya tersedot untuk keluarga barunya. Rumah peninggalan Ibu yang selama ini aku pertahankan dengan sekuat tenaga, kini harus kutinggalkan." Kembali ia menangis
"Aku merasa sangat bersalah karena gagal menjaga rumah itu dari wanita ular itu. Namun, aku berjanji, suatu saat nanti, jika aku sudah kuat dan mandiri, aku akan kembali untuk mengambil hak milik Ibu,
Ibu, jangan khawatir. Arumi akan kuat seperti pesan Ibu sebelum pergi. Sekarang ada Mas Elang bersamaku. Walaupun aku belum mengenalnya, aku yakin dia orang baik. Doakan Arumi ya, Bu ..." Arumi kembali ter Isak.
Cukup lama Arumi tenggelam dalam kesedihan hingga ia tidak sadar bahwa Elang belum juga kembali. "Kenapa dia lama sekali, ya? Mas Elang bilang hanya sebentar, tapi ini sudah terasa seperti satu jam. Apa dia berubah pikiran dan meninggalkanku?" kecemasan mulai menyelinap di hati Arumi
Rasa bosan, capek, dan sedih bercampur menjadi satu.,dia merasa lebih nyaman berada didalam rumah ,dia tidak lagi memperdulikan suara hewan malam ,Arumi melirik kamar kedua yang kulihat tadi. Kamar itu tampak penuh barang -barang ,seperti gudang yang belum dibersihkan. Arumi merasa lelah tapi ia tidak tahu harus tidur di mana Karena hanya ada satu kamar yang sudah tersedia tempat tidur ,Arumi merasa tidak enak masuk ke kamar Elang , ia memutuskan untuk berbaring di kursi panjang ruang tamu.
"Kruuukk... kruuukk..."
Tiba-tiba perutnya berbunyi nyaring. Suara yang memecah keheningan malam dan membuatnya meringis.
"Aduh, perih sekali,sial kenapa aku tadi tidak sempat makan ," gumam Arumi sambil memegangi perut. Ia baru ingat, terakhir dia makan adalah jam dua belas siang tadi. Itu pun hanya sedikit karena beban kerja yang menumpuk. Bakso bakar yang dia beli dari Elang tadi sore pun tertinggal di rumah Ayahnya karena keributan itu.
Untuk menahan rasa lapar Arumi hanya bisa memejamkan mata, mencoba menahan rasa lapar yang kian menyiksa. Di tengah sunyinya kontrakan ini, rasa lapar itu terasa dua kali lipat lebih menyakitkan.
"Mas Elang ke mana sih? Tega sekali membiarkan aku kelaparan begini," keluh Arumi dengan suara kecil dan hanya bisa terdengar olehnya
Tak lama kemudian, terdengar suara ketukan di pintu.
"Assalamualaikum!"
Itu suara Mas Elang. Suara yang kini terasa seperti melodi penyelamat. Arumi segera bangkit dengan sisa tenaga yang ada dan membuka pintu.
"Waalaikumsalam, Mas," jawab Arumi berbinar