NovelToon NovelToon
Always His

Always His

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Penyesalan Suami / Mengubah Takdir
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Daena

Catherina Lawrence (24 tahun) mengira pernikahannya dengan Adrian Mettond, senior di kampusnya dulu, adalah pelabuhan tenang setelah badai masa lalu yang kelam. Namun, belum genap satu tahun berjalan, kenyataan pahit menghantamnya. Adrian ternyata tidak siap menjadi ayah bagi putra mereka, Liam, dan sang ibu mertua terus memperlakukannya layaknya orang asing yang tak diinginkan.

Di tengah dinginnya sikap Adrian, Catherina dihantui oleh bayang-bayang Everest Cavanaught—mantan kekasih sekaligus "pangeran berandalan" dari masa Lalunya. Hubungan Empat tahun itu berakhir karena keegoisan Catherina, meninggalkan luka yang belum sembuh. Ironisnya, semakin Liam tumbuh, wajah sang bayi justru semakin menyerupai Everest, bukan Adrian.

Terjebak dalam rumah tangga yang hampa dan penuh tuntutan, Catherina mulai mempertanyakan segalanya.

Apakah Adrian benar-benar mencintainya?
.
.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#29

Pagi setelah malam ulang tahun ke tujuh belas itu terasa berbeda. Cahaya matahari yang masuk melalui jendela kantin SMA Internasional tempat mereka bersekolah tampak terlalu terang bagi Angelina. Kepalanya sedikit pening karena kurang tidur, sisa dari tangis sunyi yang ia sembunyikan di balik punggung Liam semalam.

Kantin sedang berada di puncak keramaiannya. Aroma waffle hangat, kopi, dan riuh rendah suara siswa kelas dua belas memenuhi udara. Di sebuah meja pojok yang biasanya menjadi kekuasaan Liam, suasana terasa mencekam meski dibalut dalam senyum kepalsuan.

"Makan yang banyak, Angel. Kita akan ujian sejarah di jam kedua nanti. Aku tidak mau kau pingsan hanya karena kurang asupan gula," ucap Liam dengan nada protektif yang kental.

Tangan kiri Liam bergerak santai, bermain dengan ujung rambut pirang madu milik Angelina yang dibiarkan tergerai. Gerakan itu sangat alami, sebuah kebiasaan bertahun-tahun yang tidak bisa dihentikan begitu saja. Namun, mata tajam Liam—mata milik seorang Cavanaugh—saat ini sedang menatap lurus ke arah gadis yang duduk di depannya.

Clarissa.

Clarissa tersenyum, senyum manis yang sempurna, namun binar matanya tidak bisa berbohong. Ada kilat ketidaksukaan yang tertangkap oleh insting Liam.

Clarissa baru saja resmi menjadi kekasih Liam semalam, dan melihat kekasihnya masih begitu intim dengan "adik" masa kecilnya membuat ego Clarissa bergejolak. Namun, Clarissa cukup pintar. Ia tahu siapa Liam. Ia tahu bahwa menyerang Angelina secara terang-terangan sama saja dengan menggali lubang kubur untuk hubungan mereka yang baru seumur jagung.

"Angelina kan sudah besar, Liam. Dia pasti tahu kapasitas perutnya sendiri," sahut Clarissa lembut, meski nada suaranya sedikit tajam di ujung.

Angelina hanya bisa menunduk, menusuk-nusuk salad buahnya dengan garpu. Wajahnya merona merah karena malu dan sesak. Kencan pertama macam apa ini? batinnya.

Clarissa meminta kencan pertama yang santai di kantin sebelum ujian dimulai, tapi kenapa ia harus dilibatkan? Menjadi "nyamuk" di antara sepasang kekasih yang baru saja merasakan manisnya bibir satu sama lain adalah siksaan tingkat tinggi bagi Angelina.

"Dia memang sudah besar, tapi otaknya sering kali melambat jika perutnya kosong," goda Liam lagi, masih tidak melepaskan tangannya dari rambut Angelina.

Clarissa merasa udara di sekitarnya semakin panas. Dengan gerakan yang sengaja diperhalus, ia meraih tangan kanan Liam yang berada di atas meja. Ia menautkan jemari mereka, memberikan elusan perlahan di sana—sebuah klaim kepemilikan yang nyata. Ia ingin Liam fokus padanya, ingin Liam menyadari bahwa hari ini, dialah pemegang takhta di hati pemuda itu.

"Oh ya, Liam... kau sudah baca pesan dariku pagi tadi? Tentang gaun yang akan kupakai di pesta akhir semester?" tanya Clarissa, mencoba mengalihkan seluruh atensi Liam.

"Sudah. Merah cocok untukmu, Clarissa," jawab Liam singkat.

Tiba-tiba, Angelina tersedak potongan apel. Sedikit saus salad menempel di sudut bibirnya. Sebelum Angelina sempat meraih tisu, tangan Liam yang tadi bermain di rambutnya sudah bergerak lebih cepat. Dengan jempolnya, Liam mengusap sudut bibir Angelina dengan sangat telaten.

"Kau ini, makan saja tidak bisa benar," bisik Liam.

Dan di situlah keheningan yang mematikan tercipta. Liam tidak meraih tisu. Alih-alih membersihkan jempolnya ke kain, ia justru memasukkan jempolnya sendiri ke dalam mulutnya, memakan sisa saus salad dari bibir Angelina seolah itu adalah hal paling wajar di dunia.

Deg.

Jantung Angelina serasa merosot ke perut. Ia membeku. Clarissa yang melihat hal itu merasa dadanya seperti meledak. Itu bukan lagi sekadar perhatian seorang kakak; itu adalah keintiman yang melampaui batas kewajaran persahabatan.

"Liam!" Clarissa bersuara, suaranya naik satu oktav. "Itu... itu kotor."

Liam menoleh ke arah Clarissa, ekspresinya datar, tanpa rasa bersalah sedikit pun. "Kotor? Dia Angelina. Tidak ada yang kotor dari dirinya. Kami sudah berbagi piring dan gelas sejak kami masih memakai baju bayi, Clarissa. Kau tidak perlu sekaget itu."

Clarissa memaksakan tawa kecil yang terdengar hambar. "Bukan begitu, maksudku... sekarang kan kau sudah punya pacar. Mungkin kau harus mulai menjaga jarak sedikit, demi menghormati perasaanku? Dan juga demi Angelina, agar orang tidak salah paham."

Angelina merasa ingin menghilang dari muka bumi saat itu juga. Ia segera beranjak dari kursi, tangannya gemetar.

"Aku... aku harus ke perpustakaan. Ada buku yang lupa kukembalikan," bohong Angelina. Ia bahkan tidak berani menatap Liam.

"Angel, tunggu. Ujiannya baru mulai tiga puluh menit lagi," Liam hendak berdiri mengikuti, namun tangan Clarissa menahan lengannya dengan sangat kuat.

"Biarkan dia, Liam. Dia mungkin butuh waktu sendiri untuk belajar. Kau bilang kau mau membantuku merangkum materi sejarah, kan?" Clarissa menatap Liam dengan tatapan memohon yang manipulatif.

Liam terdiam, menatap punggung Angelina yang menjauh dengan langkah terburu-buru. Ada rasa tidak nyaman yang merayapi hatinya, sebuah firasat bahwa tindakannya tadi telah melukai sesuatu yang rapuh. Namun di sisi lain, Clarissa adalah kekasihnya. Wanita yang memberikan rasa "stroberi" yang masih membekas di ingatannya.

"Baiklah," ucap Liam akhirnya, kembali duduk. Namun pikirannya tidak lagi di sana.

Sementara itu, di lorong sekolah yang sepi, Angelina bersandar di dinding, mencoba mengatur napasnya yang sesak. Usapan jempol Liam di bibirnya tadi masih terasa hangat, namun rasa sakit di hatinya jauh lebih mendominasi. Ia menyadari satu hal yang menakutkan: Clarissa mulai menyadari perasaannya, dan Clarissa tidak akan tinggal diam.

Di kejauhan, ia melihat Liam dan Clarissa masih duduk bersama di kantin. Liam tampak mendengarkan Clarissa berbicara, namun sesekali mata pemuda itu mencuri pandang ke arah pintu keluar kantin—mencari sosoknya.

Angelina memejamkan mata. Kau harus sadar diri, Angel, bisiknya pada diri sendiri. Dia sudah milik orang lain. Usapan di bibir itu hanya kebiasaan, bukan cinta. Baginya, kau hanya adik yang ceroboh.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!