Niatnya mencari kontrakan murah.
Yang didapat justru desa yang dipenuhi hantu.
Endric belum sempat beradaptasi, sudah diajak berbicara oleh pocong. Ia juga belum sempat kabur, tetapi jalan di desa itu terus berputar tanpa arah. Belum sempat bersantai, namanya malah sudah masuk dalam daftar tumbal.
Di desa itu, aturan hidupnya sederhana, jangan pernah keluar malam, jangan menjawab saat dipanggil, dan jangan bersikap terlalu akrab dengan warga karena belum tentu mereka manusia.
Untungnya, Endric memiliki “teman”. Sayangnya, temannya adalah pocong.
Sekarang pilihannya hanya dua, kabur, yang hampir pasti gagal, atau bertahan sambil berpura-pura waras di desa paling tidak normal yang pernah ia temui.
Dan yang jadi masalahnya, besok malam adalah gilirannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Na-Hyun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Calon Tumbal
Keesokan harinya.
Endric terbangun dengan posisi masih berdiri di depan jendela. Lehernya pegal, matanya kering, dan kepalanya terasa berat seperti habis minum semalaman. Tubuhnya kaku, seolah semalaman tidak benar-benar beristirahat.
Cahaya pagi masuk dari celah tirai, menyinari lantai kayu yang tampak biasa saja. Tidak ada pocong dan tidak ada pohon gelap yang terasa menyeramkan. Semuanya terlihat normal, terlalu normal dibandingkan apa yang ia alami semalam.
“Mimpi?” gumamnya pelan.
Ia mengusap wajahnya kasar, mencoba mengusir sisa rasa tidak nyaman, lalu menoleh ke luar sekali lagi. Halaman tampak tenang, bahkan terlalu tenang untuk ukuran desa. Tidak ada suara ayam, tidak ada orang lewat, hanya angin kecil yang menggerakkan daun.
Endric menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri.
“Oke. Fix. Gue kecapekan,” katanya, berusaha meyakinkan dirinya sendiri meskipun pikirannya belum sepenuhnya percaya.
Ia berbalik dan berjalan ke kamar mandi kecil di belakang. Airnya dingin, tetapi cukup menyegarkan. Sensasi air di kulitnya membantu mengusir sisa kantuk, tetapi tidak dengan bayangan yang terus muncul di kepalanya.
Setiap kali ia menutup mata, kain putih itu muncul lagi. Dan suara itu kembali terngiang di kepalanya.
“Cok, lo ngapain bengong gitu?”
Endric langsung membuka mata. Napasnya tersendat.
“Anjir,” desisnya.
Ia mempercepat mandi, gerakannya jadi lebih kasar dari biasanya. Perasaan tidak nyaman itu semakin jelas, tidak lagi bisa dianggap sekadar mimpi. Ia lalu keluar dengan langkah agak terburu-buru.
Ia butuh sesuatu yang normal, orang, suara, atau apa saja selain kesunyian aneh ini. Beberapa menit kemudian, Endric sudah berdiri di depan rumah.
Matahari mulai naik, tetapi suasana masih terasa datar. Tidak ada aktivitas yang berarti. Hanya beberapa pintu rumah yang terbuka, tetapi tidak terlihat siapa pun di dalamnya.
“Sepi amat, sih,” gumamnya.
Ia memutuskan berjalan menyusuri jalanan ke arah yang tadi ia lewati. Baru beberapa langkah, seseorang muncul dari samping rumah. Seorang ibu dengan senyum lebar, muncul begitu saja tanpa suara langkah.
“Lho, mas baru ya?” tanyanya.
Endric agak kaget, tetapi langsung mengangguk.
“Iya, Bu. Baru semalam.”
“Wah, betah ya nanti di sini,” katanya cepat.
“Iya, semoga.”
Ibu itu mendekat sedikit. Tatapannya terasa terlalu fokus, seolah sedang menilai sesuatu.
“Sendirian, mas?”
“Iya.”
Ibu itu mengangguk pelan, lalu tersenyum lagi. Senyumnya tidak berubah, tetap lebar dan aneh.
“Bagus.”
Endric mengernyit.
“Bagus, Bu?”
“Iya. Lebih tenang.”
Nada suaranya datar, tetapi senyumnya tidak berkurang sedikit pun. Endric hanya mengangguk kecil, meskipun perasaannya semakin tidak nyaman.
“Kalau butuh apa-apa, bilang saja ya.”
“Iya, Bu. Terima kasih.”
Ibu itu lalu pergi begitu saja, masuk ke rumahnya tanpa menoleh lagi. Gerakannya cepat, seperti sudah selesai dengan urusannya.
Endric berdiri sebentar, menatap pintu rumah yang sudah tertutup.
“Orang sini kenapa pada aneh, ya,” gumamnya.
Ia melanjutkan perjalanan. Semakin jauh ia berjalan, semakin terasa janggal. Rumah-rumah ada, tetapi seperti tidak berpenghuni. Pintu dan jendela terbuka, tetapi tidak ada suara aktivitas. Seperti desa yang sedang menahan napas.
Namun, setiap kali Endric berhenti dan melihat lebih lama, ia merasa ada yang memperhatikannya dari dalam rumah. Sekilas, cepat, lalu hilang begitu saja.
“Perasaan doang,” katanya, mencoba santai, meskipun langkahnya sedikit melambat.
Ia terus berjalan hingga akhirnya jalan itu bercabang. Ke kiri, jalan tampak lebih sempit dan masuk ke area pepohonan. Ke kanan, jalan terlihat lebih terbuka.
Endric memilih kanan.
“Cari jalan keluar dulu,” gumamnya.
Ia berjalan lebih cepat. Beberapa menit berlalu. Sepuluh menit, lima belas menit. Jalan itu tidak berubah. Tetap jalan tanah yang sama dengan pemandangan yang terasa berulang.
Endric mulai mengerutkan kening. Rasa tidak nyaman berubah menjadi waspada.
“Ini... tadi gue lewat sini, kan?”
Ia berhenti, lalu menoleh ke belakang. Jantungnya langsung berdegup kencang.
Rumahnya ada di sana, beberapa meter di belakangnya. Persis seperti saat ia berangkat tadi.
Endric menatap kosong. Otaknya seperti berhenti sesaat.
“Hah?”
Ia menoleh ke depan lagi. Jalan itu masih memanjang. Ia menoleh ke belakang lagi. Rumah itu masih di sana.
“Gak mungkin,” katanya pelan.
Ia berjalan lagi ke depan, lebih cepat, hampir setengah berlari. Namun, setelah beberapa menit, langkahnya melambat dengan sendirinya.
Rumah itu muncul lagi di belakangnya. Persis sama.
Endric langsung berhenti. Napasnya mulai tidak teratur.
“Ini... ini apaan, cok!”
Ia memutar badan cepat, lalu berjalan ke arah sebaliknya. Kali ini ia tidak berhenti. Langkahnya cepat, hampir panik.
Lima menit. Sepuluh menit. Keringat mulai muncul di pelipisnya. Dadanya naik turun lebih cepat.
Lalu rumah itu muncul lagi di depannya.
Endric benar-benar berhenti. Ia menatap rumah itu lama, mencoba mencari perbedaan sekecil apa pun.
“Gue muter,” bisiknya.
Tidak ada jalan keluar. Tidak ada perubahan. Hanya satu titik yang terus kembali.
Tiba-tiba terdengar suara dari samping.
“Baru nyoba kabur, ya?”
Endric langsung menoleh. Di bawah pohon, sosok itu berdiri lagi. Kain putih, kepala miring.
Gandhul.
Endric menghela napas panjang. Entah kenapa, kali ini ia tidak sekaget semalam.
“Gue gak kaget lagi,” katanya datar.
“Bagus. Adaptasi lo cepat,” jawab Gandhul santai.
Endric menatapnya kesal. Rahangnya sedikit mengeras.
“Ini apaan, Ndhul? Jalan muter?”
“Bukan muter. Itu dikunci,” jawab Gandhul.
“Dikunci siapa?”
Gandhul mengangkat bahu.
“Desanya.”
Endric mendecak pelan. Ia menggeleng, tidak percaya.
“Desa apaan bisa ngunci jalan?”
“Desa yang ini lah.”
Endric berjalan mendekat dan berhenti beberapa meter dari Gandhul. Tatapannya tajam, mencari kepastian.
“Lo serius?”
“Serius banget, rek. Gue juga dulu nyoba kabur. Hasilnya ya gitu,” kata Gandhul sambil melompat kecil mendekati batang pohon.
Endric mengusap wajahnya, frustrasi.
“Oke... berarti gue beneran kejebak di sini?”
“Selamat,” kata Gandhul singkat.
Endric tertawa kecil. Tawa itu terdengar kering dan dipaksakan.
“Lucu banget.”
Gandhul diam sebentar, lalu berkata pelan,
“Lo takut, ya?”
“Gak.”
“Bohong.”
“Gue cuma kesel.”
“Takut sama kesel bedanya tipis, rek.”
Endric tidak menjawab. Ia menatap tanah sebentar, lalu kembali menatap Gandhul.
“Kenapa harus gue?” tanyanya.
Gandhul tidak langsung menjawab. Ia melompat sekali, lalu berhenti lebih dekat.
“Karena lo datang.”
“Itu jawaban paling gak berguna yang pernah gue denger.”
Gandhul terkekeh pelan.
“Ya emang gitu.”
Endric menghela napas panjang. Dadanya terasa sesak.
“Semua orang di desa ini tahu?”
Gandhul mengangguk pelan.
“Tahu.”
“Dan mereka santai aja?”
“Ya mereka sudah terbiasa.”
Endric menatapnya tajam. Nada suaranya berubah lebih serius.
“Biasa sama orang yang kejebak di sini?”
Gandhul tidak menjawab. Ia hanya menatap Endric dari balik kainnya.
Beberapa detik berlalu.
“Bukan. Biasa sama yang hilang,” katanya pelan.
Endric merasakan sesuatu menusuk di dadanya. Kata itu terasa berat.
“Hilang?”
Gandhul mengangguk kecil.
“Kadang ada orang yang datang. Kadang gak lama, terus... ya hilang aja.”
Endric mundur satu langkah. Napasnya tertahan.
“Maksudnya mati?”
Gandhul mengangkat bahu.
“Versi manusia sih gitu.”
Endric terdiam. Angin lewat pelan di antara mereka. Suasana mendadak terasa lebih berat.
“Dan lo?” tanya Endric.
“Gue?” Gandhul tertawa kecil. “Ya lo lihat sendiri.”
Endric menatap kain putih itu, tubuh yang terbungkus dan tidak lagi utuh sebagai manusia. Ia menelan ludah.
“Lo juga korban?”
Gandhul diam lebih lama dari sebelumnya. Kali ini, ia tidak langsung menjawab.
“Iya,” jawabnya pelan.
Endric tidak tahu harus berkata apa. Untuk pertama kalinya sejak bertemu Gandhul, ia tidak merasa lucu. Hanya merasa tidak nyaman.
“Dengar ya, rek,” lanjut Gandhul. “Kalau lo masih mau selamat, jangan terlalu banyak tanya.”
Endric mengangkat alis.
“Kenapa?”
Gandhul menoleh ke arah rumah-rumah di kejauhan.
“Karena mereka ndak suka.”
Endric ikut menoleh. Beberapa rumah terlihat dengan pintu terbuka. Dan kali ini, ada orang yang berdiri di ambang pintu, menatap ke arah mereka.
Diam.
Tidak bergerak.
Endric merasakan tengkuknya dingin.
“Mereka lihat kita?” bisiknya.
Gandhul tertawa kecil.
“Gue ndak tahu mereka lihat gue atau ndak.”
“Kalau gue?”
“Lo jelas kelihatan lah.”
Endric memundurkan langkahnya pelan. Orang-orang itu masih berdiri tanpa ekspresi, hanya menatap.
“Gue harus balik,” kata Endric cepat.
“Iya, balik saja. Biar ndak mencurigakan,” jawab Gandhul santai.
“Mencurigakan apaan, cok.”
“Lo masih baru. Belum masuk hitungan.”
Endric berhenti. Dadanya kembali terasa tidak enak.
“Hitungan apa?”
Gandhul tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap Endric lebih dalam.
“Daftar.”
Endric merasakan jantungnya berdetak lebih keras.
“Daftar apa?”
Gandhul tersenyum tipis. Untuk pertama kalinya, senyum itu tidak terasa santai.
“Yang bakal dipanggil.”