Adrian Alfarezel adalah CEO yang menderita germaphobia ringan dan sangat gila keteraturan. Hidupnya yang membosankan berubah total saat ia bertemu Zevanya (Zeva), seorang gadis pengantar paket yang hobi motoran, bicaranya ceplas-ceplos, dan tidak takut pada siapa pun—termasuk Adrian.
Pertemuan mereka dimulai dari insiden "helm melayang" yang mengenai mobil mewah Adrian, berlanjut ke skema "pacar kontrak" untuk menghindari perjodohan kolot kakek Adrian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ry_chan04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pesta Berakhir, Realita Dimulai
Gema tepuk tangan di ballroom Hotel Alfarezel Grand perlahan memudar, meninggalkan sunyi yang mendengung di telinga Zeva saat pintu limusin hitam itu tertutup rapat dengan suara thud yang solid. Cahaya lampu kota Jakarta yang berwarna-warni melintas di jendela mobil yang gelap, seperti coretan cat di atas kanvas hitam. Di dalam kabin yang kedap suara dan beraroma kulit mahal itu, Zeva merasa seolah-olah baru saja keluar dari medan perang.
Ia menghela napas panjang, sebuah napas yang telah ia tahan sejak melangkah ke podium tadi. Dengan gerakan yang tidak lagi elegan, ia melepas sepatu hak tinggi sepuluh sentimeter yang telah menyiksanya selama berjam-jam.
"Gue rasa gue baru aja lari maraton nanjak gunung pake baju pengantin," gumam Zeva sambil memijat pergelangan kakinya yang memerah. "Adrian, kalau besok lu nyuruh gue pake ginian lagi, gue bakal mogok makan sebulan."
Adrian, yang duduk di sampingnya, melepaskan kancing kerah kemejanya dan melonggarkan dasi sutranya. Keangkuhan yang tadi ia tunjukkan di depan media menguap, menyisakan gurat kelelahan yang nyata di wajahnya. Namun, saat ia menoleh ke arah Zeva, sorot matanya melembut—sebuah ekspresi yang hanya ia simpan untuk gadis barbar di sampingnya ini.
"Kau melakukannya dengan sangat baik, Zeva. Lebih baik dari yang aku bayangkan," ujar Adrian tulus. Suaranya rendah dan serak, menciptakan resonansi yang aneh di dada Zeva.
Zeva menatap Adrian melalui keremangan cahaya di dalam mobil. "Lu juga, Adrian. Gue nggak nyangka lu bakal seberani itu. Pas lu bilang 'integritasku adalah melindungimu', gue hampir mikir lu itu pahlawan di film-film aksi. Tapi abis itu gue inget, lu cuma bos robot yang kebetulan pinter ngomong."
Adrian tersenyum tipis—senyuman yang benar-benar sampai ke matanya. "Aku serius dengan setiap kata yang kuucapkan tadi. Dan soal saham... saham bisa naik lagi. Tapi kepercayaan orang yang aku... lindungi, itu tidak bisa dibeli."
Mobil terus melaju menembus malam. Zeva menatap cincin yang melingkar di jarinya. Berlian itu berkilau tertimpa lampu jalan yang masuk lewat sela-sela kaca. "Tapi Adrian, lu sadar nggak? Sekarang seluruh dunia tahu siapa gue. Gue bukan lagi Zeva si tukang paket yang bisa makan bakso di pinggir jalan dengan tenang. Gue sekarang adalah 'tunangan Adrian Alfarezel'. Itu beban, Bos."
Adrian mengulurkan tangannya, ragu sejenak, sebelum akhirnya menggenggam tangan Zeva. "Aku tahu. Itu sebabnya aku tidak akan membiarkanmu menghadapinya sendirian. Kita sudah melangkah sejauh ini. Kontrak ini... sudah berubah, bukan?"
Zeva tidak menjawab. Ia hanya menyandarkan kepalanya di sandaran kursi yang empuk, menutup matanya sejenak. Realita baru saja dimulai, dan ia tahu, kehidupan di balik menara kaca tidak sesederhana yang ia bayangkan.
Sesampainya di apartemen, suasana terasa sangat berbeda. Jika biasanya apartemen itu terasa seperti galeri seni yang dingin dan tidak berpenghuni, malam ini ada sisa-sisa kehangatan dari adrenalin yang mereka bawa. Zeva berjalan bertelanjang kaki di atas marmer dingin, menenteng sepatunya, sementara Adrian mengikuti di belakang.
"Gue butuh minum. Gue ngerasa kayak abis nelen gurun Sahara gara-gara kebanyakan senyum palsu tadi," ujar Zeva sambil menuju dapur.
Ia menuangkan air dingin ke gelas besar dan meminumnya hingga tandas dalam sekali teguk. Beberapa tetes air jatuh ke gaun putih gadingnya yang mahal, tapi ia tidak peduli. Adrian berdiri di ambang dapur, mengamati Zeva dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Kenapa lu ngeliatin gue kayak gitu? Ada cabai nyelip di gigi gue?" tanya Zeva ketus untuk menutupi kecanggungannya.
"Tidak," jawab Adrian pelan. Ia melangkah maju, masuk ke area dapur yang biasanya hanya digunakan oleh pelayan atau mesin kopi otomatis. "Aku hanya berpikir... betapa anehnya takdir. Beberapa minggu lalu kau menabrak mobilku, dan malam ini, kau menyelamatkan martabat keluargaku."
Zeva meletakkan gelasnya. "Gue nggak nyelamatin siapa-siapa, Adrian. Gue cuma nggak suka liat Clarissa merasa menang dengan cara kotor. Gue orang jalanan, dan di jalanan, kita nggak main tusuk belakang pake video-video sampah kayak gitu."
Adrian berdiri sangat dekat sekarang. Aroma parfum kayu cendananya bercampur dengan sisa-sisa wangi mawar dari ballroom tadi. "Kakek memberikanmu kunci jurnal Nenek, bukan?"
Zeva tertegun. "Iya. Kok lu tahu?"
"Karena Kakek tidak pernah memberikan kunci itu pada siapa pun sebelumnya. Bahkan pada Ibuku. Dia melihat sesuatu darimu yang tidak dimiliki orang lain di keluarga ini. Dia melihat sebuah... rumah."
Zeva tertawa hambar, meski matanya mulai berkaca-kaca. "Rumah? Gue ini berantakan, Adrian. Gue berisik, gue nggak tahu cara pake garpu yang bener, dan gue lebih suka bau oli daripada bau parfum mahal ini. Lu beneran mau bawa 'kekacauan' kayak gue ke dalem hidup lu yang rapi?"
Adrian tidak menjawab dengan kata-kata. Ia meraih tangan Zeva, mengangkatnya, dan mencium punggung tangan gadis itu—tepat di atas cincin berlian yang melingkar. Sentuhan bibirnya dingin namun membakar kulit Zeva.
"Kekacauanmu adalah satu-satunya hal yang membuatku merasa nyata, Zeva. Aku sudah terlalu lama hidup dalam keheningan yang mahal. Aku tidak ingin kembali ke sana."
Malam itu, mereka tidak bisa langsung tidur. Adrian duduk di ruang kerjanya, memantau pergerakan berita di media sosial bersama Siska melalui panggilan video. Zeva, yang sudah berganti pakaian dengan kaos oblong dan celana pendek favoritnya, duduk di lantai di samping meja kerja Adrian, pura-pura membaca majalah bisnis yang sebenarnya ia gunakan untuk menutupi wajahnya yang masih memerah.
"Pak Adrian," suara Siska terdengar dari speaker laptop. "Sentimen publik mulai berubah. Pidato Bapak tadi sore menjadi viral. Banyak orang yang justru memuji keberanian Anda membela Nona Zevanya. Tapi..."
"Tapi apa, Siska?" tanya Adrian dengan nada otoriter yang kembali muncul.
"Pihak Clarissa tidak diam. Mereka mulai menggali lebih dalam soal katering Mpok Leha. Ada beberapa akun anonim yang menyebarkan fitnah bahwa katering itu menggunakan bahan makanan tidak layak. Ini serangan sistematis, Pak."
Zeva langsung menurunkan majalahnya. "Apa?! Bahan nggak layak?! Mpok Leha itu kalau beli daging paling subuh biar dapet yang paling seger! Enak aja mereka ngomong gitu!"
Adrian memberi isyarat agar Zeva tenang. "Siska, kirim tim audit internal kita ke warung Mpok Leha besok pagi. Berikan mereka sertifikasi standar Alfarezel. Jika ada yang berani menyentuh bisnis keluarganya, kita akan tuntut mereka atas pencemaran nama baik. Dan pastikan Clarissa tahu, setiap serangan yang dia buat akan berbalik dua kali lipat padanya."
Setelah panggilan berakhir, Adrian menghela napas. Ia melihat Zeva yang tampak sangat gelisah.
"Mereka nggak bakal berenti, kan, Adrian?" tanya Zeva lirih.
"Tidak. Di dunia ini, kelemahan adalah komoditas. Dan mereka menganggapmu sebagai kelemahanku," jawab Adrian. Ia turun dari kursinya, ikut duduk di lantai di samping Zeva. Seorang CEO triliunan rupiah, duduk lesehan di atas karpet Persia seharga mobil mewah.
Zeva menatapnya heran. "Lu ngapain duduk di bawah? Nanti jas lu kotor."
"Jas ini bisa dicuci. Tapi momen ini tidak bisa diulang," ujar Adrian. "Zeva, aku minta maaf karena menyeretmu ke dalam lumpur ini. Aku pikir aku bisa menjagamu hanya dengan uang dan pengaruh, tapi ternyata musuhku lebih rendah dari yang kukira."
Zeva menyandarkan kepalanya di bahu Adrian. "Gue nggak takut lumpur, Adrian. Gue lahir di lumpur. Gue cuma takut... kalau nanti lu sadar bahwa beban ini terlalu berat buat lu. Lu punya segalanya, lu nggak butuh drama kayak gini."
Adrian merangkul bahu Zeva, menariknya lebih dekat. "Kau salah satu hal yang tidak bisa kubeli dengan uang, Zevanya. Dan justru itulah yang membuatmu sangat berharga. Mari kita buat kesepakatan baru. Bukan kontrak, tapi janji."
"Janji apa?"
"Jangan pernah pergi tanpa izin dariku. Dan aku tidak akan pernah membiarkan dunia menyakitimu lagi."
Zeva tersenyum, senyuman yang penuh dengan kepasrahan sekaligus kekuatan. "Oke, Bos. Tapi kalau lu langgar janji, gue bakal pretelin mesin Rolls-Royce lu sampe jadi baut doang."
"Deal," jawab Adrian dengan tawa kecil.
Keesokan paginya, realita benar-benar menghantam. Telepon apartemen tidak berhenti berdering. Di luar gedung, segerombolan wartawan sudah berjaga. Siska datang pukul tujuh pagi dengan wajah yang tampak kurang tidur, membawa tumpukan dokumen dan pakaian baru untuk Zeva.
"Nona Zeva, hari ini Anda tidak bisa keluar lewat lobi depan," ujar Siska tegas. "Kita akan menggunakan jalur logistik. Dan Pak Adrian sudah mengatur jadwal Anda. Mulai hari ini, Anda akan memiliki tim keamanan pribadi."
Zeva melongo. "Tim keamanan? Gue mau belanja sayur ke pasar, bukan mau perang, Siska!"
"Bagi kami, pasar adalah zona merah sekarang, Nona," jawab Siska tanpa senyum.
Adrian muncul dari kamar, sudah rapi dengan kemeja birunya. "Ikuti saja apa kata Siska, Zeva. Ini demi keamananmu. Dan satu lagi, aku ingin kau ikut ke kantor hari ini. Ada sesuatu yang harus kita tunjukkan pada dewan direksi."
Zeva menghela napas. "Oke, oke. Gue ikut. Tapi gue nggak mau pake baju yang ribet lagi ya!"
Perjalanan ke kantor adalah sebuah misi rahasia. Mereka menggunakan mobil van biasa yang sering digunakan untuk pengiriman barang agar tidak menarik perhatian. Zeva duduk di kursi belakang bersama Adrian, merasa aneh dengan semua kerahasiaan ini.
"Rasanya kayak jadi buronan," bisik Zeva.
"Inilah harga dari sebuah mahkota, Zeva," sahut Adrian pelan.
Di kantor Alfarezel Group, suasana tampak mencekam. Para karyawan berbisik-bisik saat melihat Zeva masuk melalui lift privat. Di ruang rapat besar, para pemegang saham sudah menunggu dengan wajah-wajah kaku. Mereka ingin penjelasan soal "skandal" semalam.
Adrian melangkah masuk dengan penuh percaya diri, menggandeng tangan Zeva. Ia tidak memberikan ruang bagi siapa pun untuk bertanya terlebih dahulu.
"Selamat pagi semuanya," buka Adrian. "Saya tahu kalian di sini untuk membahas volatilitas saham pagi ini akibat berita pertunangan saya. Tapi saya di sini untuk menunjukkan pada kalian satu hal: Alfarezel Group tidak akan runtuh hanya karena seorang wanita yang memiliki integritas."
Ia menyalakan layar besar yang menampilkan rencana proyek CSR (Corporate Social Responsibility) terbaru. "Saya memperkenalkan Nona Zevanya bukan hanya sebagai pasangan saya, tapi sebagai wajah baru dari Yayasan Alfarezel. Dia yang akan memimpin transformasi pasar-pasar tradisional yang kita kelola. Mengapa? Karena dia adalah satu-satunya orang di ruangan ini yang benar-benar tahu apa yang dibutuhkan oleh orang-orang di sana."
Para direktur terdiam. Ini adalah langkah catur yang jenius. Adrian mengubah skandal menjadi sebuah strategi branding yang kuat. Zeva, yang awalnya merasa takut, tiba-tiba merasa memiliki tujuan. Ia berdiri di samping Adrian, menatap para pria berjas itu dengan tatapan berani yang biasa ia gunakan saat menawar harga onderdil motor.
"Saya mungkin nggak punya gelar MBA kayak Bapak-Bapak," ujar Zeva lantang. "Tapi saya tahu gimana cara bikin satu pasar jadi makmur tanpa harus nindas pedagang kecil. Dan kalau Bapak-Bapak keberatan, silakan cek laporan keuangan saya tiga bulan lagi. Kalau nggak untung, saya sendiri yang bakal mundur."
Tepuk tangan pelan terdengar dari sudut ruangan. Ternyata itu adalah Kakek Wijaya yang masuk tanpa suara. "Aku suka semangatnya. Teruskan, Adrian. Wanita ini memang punya api yang kita butuhkan."
Sore harinya, setelah rapat yang melelahkan, Adrian dan Zeva duduk di balkon kantor yang menghadap ke arah monas. Angin sepoi-sepoi memainkan rambut Zeva.
"Lu beneran kasih gue tanggung jawab segede itu, Adrian?" tanya Zeva.
"Aku percaya padamu, Zeva. Lebih dari aku percaya pada diriku sendiri saat ini," jawab Adrian.
Zeva menatap tangannya yang kini mengenakan cincin berlian, namun di sela kuku-kukunya masih ada sedikit noda hitam—sisa-sisa pekerjaan mekaniknya yang tidak bisa hilang sepenuhnya. Ia menyadari bahwa ia tidak perlu berubah menjadi orang lain. Ia hanya perlu menjadi Zeva yang lebih kuat untuk berdiri di samping Adrian.
Pesta memang sudah berakhir, dan lampu-lampu ballroom sudah dipadamkan. Namun, api di antara mereka baru saja tersulut. Dan di tengah intrik keluarga, serangan media, dan bayang-bayang masa lalu yang mulai muncul, Adrian dan Zeva tahu bahwa ini bukan lagi soal kontrak.
Ini adalah soal bertahan hidup—bersama.
"Siap untuk hari esok?" tanya Adrian.
Zeva tersenyum, sebuah senyuman nakal yang penuh tantangan. "Besok? Besok gue mau bawa motor bebek gue ke kantor ini. Biar semua direktur lu tahu kalau bos mereka punya tunangan yang bisa benerin knalpot bocor."
Adrian tertawa lepas, sebuah suara yang kini menjadi musik favorit Zeva. "Lakukanlah, Zevanya. Lakukanlah."
tapi kok bisa si kakek gak tau kalo zeva adlh anak dari sahabat nya
aksi zevanya sungguh di luar nurul dan di luar prdiksi bmkg🤣🤣🤣
semngat kak tokoh cwek nya kuat badas gak menye menye , aku suka kk author mantan