NovelToon NovelToon
Gadis Kesayangan Langit

Gadis Kesayangan Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / CEO / Mengubah Takdir
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Ceriwis07

Gladys Chandra Wiguna atau biasa dipanggil Gadis adalah mahasiswi berbakat dari fakultas bergengsi Kota A. Wajah cantik dan sosok mungilnya menyembunyikan jiwa pemberani yang kuat.

Malam itu, saat ia pulang dari cafe, seorang pria memaksanya masuk mobil. Di dalamnya menanti Langit Mahesa seorang bisnis man yang memiliki perusahaan raksasa di kota A. Pria yang sudah memiliki istri, Bella Safira. Akankah Gadis kembali ke kehidupannya yang tenang? Ataukah cinta tak terduga tumbuh di antara mereka, menggoyahkan semua yang ada?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ceriwis07, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kehilangan

Kuliah hari ini resmi usai. Matahari sudah mulai condong ke barat, menyisakan cahaya keemasan yang menandakan sore telah tiba. Waktunya bagi Gadis untuk pulang ke rumahnya.

Seperti biasa, ia diantar jemput dengan protokol keamanan yang ketat. Didampingi oleh supir pribadi dan dua orang bodyguard berbadan tegap yang selalu siap siaga di sisinya.

Di dalam hati Gadis, masih tersimpan rasa takut dan penyesalan yang mendalam atas kejadian tempo lalu. Ia sadar betul, kelalaiannya dulu pernah membuat Langit panik setengah mati, membuat pria itu cemas luar biasa, dan bahkan nyaris membahayakan nyawanya sendiri. Oleh karena itu, hari ini ia berjanji pada diri sendiri untuk lebih waspada.

Baru saja mobil mewah itu meluncur keluar dari gerbang kampus dan memasuki jalan raya, tiba-tiba supir mengerutkan keningnya.

Dari kaca spion tengah, ia melihat sebuah mobil yang sejak tadi berada tidak jauh di belakang mereka.

"Nyonya..." ucap supir dengan nada hati-hati namun serius. "Sepertinya ada mobil yang membuntuti kita dari tadi."

Gadis yang sedang asyik melihat ke luar jendela langsung menoleh, wajahnya berubah sedikit pucat.

"Ada yang mengikuti kita?" tanyanya cepat, napasnya sedikit tercekat mengingat trauma masa lalu.

Supir hanya mengangguk mantap, matanya fokus menatap jalanan dan pantulan di kaca.

"Segera hubungi Tuan Langit! Lapor situasi sekarang!" perintah salah satu bodyguard yang duduk di depan.

Kedua pengawal itu langsung bertindak cepat. Satu mencoba menghubungi melalui Charlie sebagai koordinator, dan satu lagi menelpon nomor pribadi sang bos secara langsung. Mereka harus memastikan Langit tahu posisi wanitanya sedang dalam bahaya.

Namun sayang... usaha mereka sia-sia.

"Tut... Tut... Tut..."

Panggilan itu hanya berbunyi panjang tanpa ada yang mengangkat sama sekali.

"Tidak ada jawaban, Pak." ucap Bodyguard 1 dengan nada kesal dan cemas.

Melihat situasi yang semakin mencekam, Gadis pun tidak tinggal diam. Ia segera merogoh sakunya, mengambil ponsel sendiri, dan menekan nomor favoritnya.

"Langit... tolong angkat..." batinnya berdoa.

Tapi hasilnya sama persis. Sama seperti yang dikatakan oleh pengawalnya, panggilan itu terus berputar tanpa jawaban. Langit benar-benar tidak mengangkat teleponnya saat ini juga.

Jantung Gadis berdegup kencang, ketakutan mulai merayap lagi ke dalam tulang rusuknya.

Situasi semakin genting. Mobil yang membuntuti itu tidak lagi hanya mengikuti dari jauh, tapi mulai mendekat dan berusaha memepet sisi mobil Gadis dengan sengaja.

Bahkan mereka sesekali mencoba menyenggol bumper belakang seolah ingin menabrakkan atau memojokkan mobil mereka ke pinggir jalan.

Wajah Gadis yang tadinya sudah pucat, kini semakin pucat pasi. Bibirnya terkatup rapat, kedua tangannya saling mencengkeram kuat di pangkuan hingga buku-buku jarinya memutih. Jantungnya berdegup kencang bagai mau copot, bayangan kejadian tempo lalu yang mengerikan kembali terbayang jelas di pelupuk matanya.

"Nyonya... tarik napas panjang, tenang..." ucap si supir dengan suara berat dan tenang, meski tangannya memegang setir dengan sangat waspada.

Ia mencoba menenangkan gadis di kursi belakang yang sedang ketakutan setengah mati.

"Kita pasti akan selamat, Nyonya. Percaya sama saya. Di luar sana, mata-mata Tuan Langit itu banyak sekali, tersebar di mana-mana."

Supir itu melirik kaca spion sekilas.

"Jadi kalau pun kita yang tidak bisa menghubungi beliau sekarang, pasti ada yang lain yang sudah melapor. Tuan Langit pasti sudah tahu posisi kita sekarang. Dia akan datang, Nyonya. Dia pasti datang," tegasnya meyakinkan, berusaha menanamkan rasa aman di hati Gadis.

Mendengar ucapan supir itu, perlahan-lahan rasa panik di hati Gadis mulai mereda. Ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan detak jantungnya yang berpacu kencang.

Ya... benar. Gadis percaya sepenuhnya.

Ia yakin pada kekuatan dan kekuasaan pria yang dicintainya itu. Ia yakin bahwa Langit tidak akan pernah membiarkan dirinya, Ratu-nya, berada dalam bahaya atau terluka sedikitpun.

Di mana pun Langit berada, apa pun yang sedang ia lakukan, pria itu pasti akan tahu. Dan ia pasti akan datang. Selalu.

Dengan keyakinan itu, Gadis mencoba menenangkan dirinya. Matanya terpejam sebentar, berdoa dalam hati, dan siap menghadapi apa pun yang terjadi, karena ia tahu... perlindungan terbesar sedang mengawasi mereka dari jauh.

"Aku percaya..." bisik Gadis pelan namun tegas. "Langit pasti akan datang menyelamatkanku."

Melihat taktik pertama gagal, kini dua mobil pengejar itu mulai bergerak serentak. Mereka mencoba mendekat dari kiri dan kanan secara bersamaan, berusaha menjepit dan menabrakkan mobil Gadis agar oleng atau keluar jalur.

Tapi mereka salah besar....

Mereka sama sekali tidak tahu bahwa supir yang duduk di balik kemudi itu bukan supir biasa atau sembarangan. Ini adalah orang pilihan Langit yang keahliannya sudah diuji darah dan keringat.

Pria itu dulunya adalah pemenang ajang balap di sirkuit. Refleksnya luar biasa cepat, dan teknik mengemudinya sangat profesional. Bahkan seni drifting pun ia kuasai dengan sangat mahir.

Kalau saja supir yang membawa Gadis hari ini adalah orang biasa, mungkin mereka sudah berhasil digasak dan ditangkap sedari tadi.

Namun tidak dengan dia....

Dengan tenang namun penuh gaya, supir itu memutar setir dengan lincah. Saat jalanan mulai menanjak curam atau berkelok tajam, ia justru tidak mengurangi kecepatan sedikitpun. Gas tetap diinjak dalam, mobil melaju kencang bagai peluru menembus jalanan.

Di kursi belakang, Gadis benar-benar dibuat kaget setengah mati. Tubuhnya terhempas ke kiri dan kanan mengikuti manuver tajam mobil itu. Jantungnya seakan mau copot dan melompat keluar dari mulut, campuran antara rasa takut dan adrenalin yang memuncak.

DORRR!!!

Suara ledakan keras memecah udara.

Sebuah peluru tajam melesat cepat dan tepat mengenai sasaran, menembus ban belakang mobil dengan akurasi mematikan.

Seketika itu juga, keseimbangan mobil hilang total. Kendaraan mewah yang tadinya melaju kencang itu langsung oleng, terpelanting ke pinggir jalan, dan terbalik beberapa kali dengan keras.

Brukk!

Benturan dahsyat terjadi di setiap kali tubuh besi itu berguling.

Di dalam kabin yang kacau balau, Bodyguard 1 bertindak secepat kilat. Ia langsung melompat dan bergeser ke kursi tengah, menimpa dan melindungi tubuh mungil Gadis dengan badan besarnya. Ia memeluk erat Gadis sekuat tenaga, menahan setiap hempasan dan benturan keras agar tidak sampai mengenai wanita itu. Meski posisinya terlihat aneh dan sangat dekat, tapi baginya itu tidak penting. Yang terpenting nyawa Nyonya selamat.

Setelah beberapa kali berguling, mobil itu akhirnya berhenti dalam posisi terbalik. Suasana hening sejenak, penuh debu dan asap.

BUUUUMMMMMM!!!

Ledakan besar terjadi! Tangki bahan bakar mobil itu meledak dengan sangat kencang hingga api berkobar besar memakan seluruh bodi kendaraan.

Di tempat yang jauh, di dalam sebuah ruangan yang gelap dan mewah, Bella duduk bersandar dengan anggun namun tatapan matanya penuh dengan kegelapan.

"Bagaimana? Apa semuanya sudah beres?" tanyanya santai pada anak buah yang baru saja melapor.

Pria itu mengangguk mantap dengan wajah puas.

"Sudah beres sepenuhnya, Nona. Mobilnya hancur dan meledak berkeping-keping. Kemungkinan besar semua yang ada di dalamnya sudah mati terbakar. Kami tidak melihat ada satu pun yang berhasil melarikan diri," lapor anak buah itu meyakinkan.

Mendengar kalimat itu...

"Hahahahaha... Hahahahaha!!!"

Bella tertawa terbahak-bahak dengan sangat keras dan lepas. Suara tawanya menggema di seluruh ruangan, penuh kemenangan dan kebahagiaan yang jahat.

Wajahnya berseri-seri melihat mimpi buruknya akhirnya menjadi kenyataan.

"Bagus... sangat bagus!" ucapnya sambil mengusap sudut matanya yang terasa basah karena tertawa.

Akhirnya! Penghalang terbesar di antara dirinya dan Langit sudah lenyap selamanya. Gadis, wanita yang paling dibenci dan dicemburui itu, kini pastinya sudah menjadi abu.

"Sekarang tidak ada lagi yang bisa menghalangiku," batin Bella bergelimang rasa senang. "Langit akan kembali menjadi milikku. Harta dan cintanya akan jatuh ke tanganku! Akulah wanita yang sesungguhnya!"

*****

Di lantai tertinggi gedung perkantoran, suasana ruangan kerja terasa membeku dan mencekam.

Wajah Langit pucat pasi, darah seakan berhenti mengalir di tubuhnya. Tangannya gemetar hebat saat jari-jarinya menahan layar ponsel yang menampilkan rekaman video yang dikirim oleh mata-mata pengawalnya.

Di video itu, ia melihat dengan jelas bagaimana mobil yang ditumpangi Gadis ditembak, oleng, terbalik, hingga akhirnya meledak menjadi bola api raksasa.

Rasa sakit dan amarah yang luar biasa seketika menghancurkan pertahanan dirinya. Rahangnya mengeras, gigi-giginya gemerutuk menahan ledakan emosi yang tak tertahan. Tangannya mengepal sangat kuat hingga urat-urat biru menonjol di lengannya.

"Charlie!!" teriak Langit dengan suara parau dan serak. "Cari pelakunya! Cari sampai dapat!"

Tanpa menunggu jawaban, Langit memejamkan matanya rapat-rapat. Di dalam hati, ia berdoa sekuat tenaga, memohon pada Tuhan untuk melakukan keajaiban demi nyawa wanita yang paling ia cintai itu. Pasukan dan anak buah terbaiknya sudah ia kerahkan meluncur ke TKP secepat kilat.

Namun harapan itu perlahan runtuh....

Ia kembali menatap layar, memutar ulang video itu berkali-kali, berharap ada satu frame yang menunjukkan ada yang berhasil keluar. Tapi sayang, tidak ada satu pun sosok yang terlihat keluar dari kandang besi itu sebelum api melahapnya habis.

Tiba-tiba ponselnya bergetar lagi di atas meja.

Tanpa melihat nama pemanggil, dengan kasar ia mengangkatnya.

"Tuan..." terdengar suara anak buahnya di seberang sana, terdengar ragu dan takut.

"Katakan!" bentak Langit, suaranya menggelegar bak petir yang siap menyambar siapa saja.

"Maaf Tuan... semuanya hangus..." jawab suara itu semakin lirih dan putus asa. "Mobilnya terbakar habis... keempatnya... semuanya hangus Tuan."

Kalimat itu bagaikan duri tajam yang menusuk tepat ke jantung sang Raja.

BRAAKKKK!!!

Dengan sekuat tenaga, Langit membanting ponselnya ke lantai marmer. Benda itu terpental jauh, hancur berkeping-keping tak bersisa.

Ia mengusap kasar wajahnya dengan telapak tangan, mencoba menahan gejolak rasa sakit yang luar biasa. Dan di saat itulah, setitik air mata hangat nyaris lolos dari sudut matanya, sesuatu yang sangat jarang dan bahkan mungkin belum pernah terjadi sebelumnya.

Langit menarik napas panjang yang terdengar sangat berat, lalu mendongakkan kepalanya ke langit-langit, menatap ke atas seolah berbicara langsung pada Pencipta.

"Tuhan... bisakah Kau buat keajaiban untukku?" bisiknya pelan, penuh keputusasaan dan harapan yang tinggal seujung kuku.

1
Erna Riyanto
Anin dulu pacar langit... berarti langit sdh tua dong seumuran bahkan mungkin lebih tua dr Anin(ibunya gladis)
Ceriwis07: Benar sekali 🤭
total 1 replies
anggita
like iklan👍☝
Ceriwis07: Terimakasih sudah mampir 😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!