Dikhianati oleh orang-orang yang paling ia percaya, sang kaisar kehilangan segalanya—takhta, kekuasaan, bahkan nyawanya sendiri.
Namun kematian bukanlah akhir.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ikyar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 4
Yang Chen kemudian merapikan tumpukan jerami itu. Dia menyebarkan jerami lebih merata, membuatnya terlihat alami, seolah-olah tumpukan itu terjadi karena angin atau tendangan kaki, bukan buatan tangan manusia.
Setelah selesai, dia tidak kembali ke tempat tidurnya semula. Dia memutuskan untuk bersandar di dinding kayu di sebelah tumpukan jerami itu. Dari posisi ini, dia bisa mengawasi pintu masuk dan sekaligus 'menjaga' kuburan rahasia Kasim Liu.
Tepat saat dia menyandarkan punggungnya ke dinding yang dingin...
Teng... Teng... Teng...
Suara lonceng besar dari kejauhan bergema. Tiga kali.
Itu adalah Lonceng Chen Shi (Pukul 07.00 - 09.00 pagi). Tanda dimulainya aktivitas resmi di istana. Para pelayan akan mulai membersihkan halaman, para prajurit akan berganti shift jaga, dan dapur akan mulai sibuk menyiapkan sarapan untuk para bangsawan.
Yang Chen menajamkan telinganya. Insting berburunya aktif.
Di kejauhan, dia bisa mendengar suara sapu lidi yang digesekkan ke tanah berbatu. Srek... srek... srek... Suara itu teratur dan monoton. Ada suara tawa samar dari beberapa wanita—mungkin pelayan cuci yang sedang menuju sungai.
Lalu, langkah kaki yang lebih dekat.
Bukan satu orang. Dua orang.
Langkah kaki itu cepat dan ringan. Bukan prajurit berbaju besi. Pelayan.
Mereka mendekat ke arah area kandang kuda dan gudang belakang.
"...kau yakin si Gendut Liu ada di sini?" sebuah suara pria muda terdengar. Nadanya kesal.
"Entahlah," jawab suara kedua, juga pria. "Dia bilang semalam mau mengurus 'sampah' di gudang belakang. Tapi sampai sekarang dia belum melapor ke Kepala Kasim Wang. Kalau dia bolos lagi, kita yang kena marah."
Jantung Yang Chen berhenti berdetak sesaat.
Mereka mencari Kasim Liu.
Ini terlalu cepat. Dia mengira kehilangan Kasim Liu baru akan disadari nanti siang atau sore. Ternyata disiplin di istana ini lebih ketat dari dugaannya, atau Kasim Liu memang sedang ditunggu untuk tugas penting.
Yang Chen melihat ke sekelilingnya dengan cepat. Tidak ada senjata. Pecahan mangkuk semalam sudah dia kubur di bawah lumpur. Di tangannya hanya ada jerami.
Jika dua orang ini masuk dan memeriksa dengan teliti...
Yang Chen memejamkan mata. Dia menarik napas dalam, mengubah aura dan ekspresi wajahnya secara drastis.
Tatapan tajam dan dingin sang Kaisar Tirani lenyap seketika. Otot-otot wajahnya dikendurkan. Mulutnya dibuka sedikit, membiarkan air liur menetes. Matanya dibuat sayu, setengah terpejam, dan tidak fokus. Tubuhnya dibiarkan terkulai lemas, seolah-olah tulang punggungnya telah dicabut.
Dia berubah menjadi Zhao Wei sepenuhnya. Pangeran idiot yang sekarat.
Langkah kaki itu berhenti tepat di depan pintu gubuk yang masih tertutup rapat (karena semalam Yang Chen tidak punya tenaga untuk menutupnya, anginlah yang menutupnya sedikit).
"Baunya busuk sekali di sini," suara pertama mengeluh. "Kau saja yang masuk."
"Tidak mau, kau saja. Kau yang kalah taruhan tadi," tolak suara kedua.
Perdebatan kecil terjadi di depan pintu. Ini memberi Yang Chen waktu beberapa detik lagi untuk mengatur napasnya agar terdengar putus-putus dan lemah. Hhh... hhh... Suara rale (bunyi napas basah) yang dibuat-buat keluar dari tenggorokannya.
Braak!
Pintu didorong kasar. Cahaya matahari membanjiri ruangan yang suram itu.
Dua sosok pelayan muda berdiri di ambang pintu, siluet mereka hitam menantang cahaya. Mereka menutup hidung mereka dengan lengan baju.
"Oi! Liu! Kau di dalam?" teriak salah satu dari mereka.
Mata mereka menyapu ruangan.
Mereka melihat lantai yang becek dan berlumpur (tanda hujan semalam). Mereka melihat tumpukan jerami. Dan akhirnya, mata mereka tertuju pada sosok kurus kering yang bersandar lemah di pojok ruangan, wajahnya pucat pasi seperti kertas mayat, dengan mata yang menatap kosong ke arah lututnya sendiri.
"Hanya ada si Sampah," gumam pelayan itu. Dia melangkah masuk satu langkah, matanya memicing, memindai sekeliling mencari sosok gemuk rekannya.
"Liu!" panggilnya lagi, kali ini lebih keras.
Tidak ada jawaban. Tentu saja.
Pelayan itu menatap Yang Chen dengan jijik. "Hei, Sampah! Kau lihat Kasim Liu? Pria gemuk, bau bawang?"
Yang Chen tidak menjawab langsung. Dia membiarkan kepalanya terkulai ke samping, seolah lehernya tidak kuat menahan beban kepala. Lalu dia batuk. Batuk yang kering dan menyedihkan.
"Uhuk... air... uhuk..." cicitnya pelan. Sangat pelan, hampir tak terdengar.
Pelayan itu mendengus. "Cih. Dia sekarat sungguhan rupanya. Percuma tanya padanya, otaknya sudah diawetkan demam."
"Sudah kubilang kan?" sahut temannya yang masih berdiri di luar, enggan masuk ke gubuk kotor itu. "Liu pasti ketiduran di gudang anggur atau dia menyelinap ke desa bawah untuk berjudi lagi. Ayo cari di tempat lain. Berada di sini lama-lama bisa membuat kita ketularan sialnya si Sampah ini."
Pelayan yang di dalam masih ragu sejenak. Matanya menyapu lantai sekali lagi. Tatapannya melewati area bekas seretan darah yang sudah ditutupi lumpur.
Jantung Yang Chen berdetak tenang di permukaan, tapi di dalamnya, dia siap. Jika pelayan ini maju dua langkah lagi dan melihat bercak aneh itu, Yang Chen akan memaksakan diri menggunakan sisa tenaga terakhirnya untuk menyerang selangkangannya. Gigit lehernya jika perlu.
Satu detik. Dua detik. Tiga detik yang menyiksa.
"Ya, kau benar," kata pelayan itu akhirnya, berbalik badan. "Liu si babi itu pasti sedang mabuk di suatu tempat. Ayo pergi."
Dia melangkah keluar.
Brak.
Pintu dibanting lagi, meninggalkan Yang Chen kembali dalam keremangan.
Suara langkah kaki mereka menjauh, diiringi omelan tentang betapa malasnya Kasim Liu.
Yang Chen tetap dalam posisi aktingnya selama lima menit penuh. Dia tidak bergerak satu milimeter pun. Dia menunggu sampai suara langkah kaki itu benar-benar hilang ditelan kebisingan istana yang mulai bangun.
Barulah dia menghembuskan napas panjang yang gemetar.
"Hampir..." bisiknya.
Keringat dingin mengucur deras di punggungnya. Ancaman tadi nyata. Tubuh ini terlalu lemah untuk pertarungan terbuka. Kebohongan dan penyamaran adalah satu-satunya perisainya saat ini.
Tapi kejadian ini memberinya satu informasi penting: Kasim Liu adalah penjudi dan pemabuk.
Ini adalah alibi yang sempurna. Orang akan mengira dia kabur karena hutang atau mabuk, bukan dibunuh oleh pangeran lumpuh. Waktu ditemukannya mayat bisa diundur lebih lama lagi.
Namun, Yang Chen sadar dia tidak bisa terus bersembunyi di sini. Rasa lapar kembali menyerang, kali ini lebih ganas. Roti sisa semalam sudah habis dibakar oleh stres barusan. Dan tenggorokannya terasa seperti padang pasir.
Dia butuh air. Dan dia butuh rencana untuk keluar dari kandang ini sebelum orang berikutnya datang—orang yang mungkin tidak sebodoh dua pelayan tadi.
Dia menatap kakinya. "Ayo bekerja sama, kaki rongsokan. Kita harus berjalan hari ini."