"Nikahi aku, Abang Tukang Bakso!"
Demi menyelamatkan warisan Rumah Sakit dari ibu tiri yang kejam, Dokter Airine Rubyjane nekat menikahi Nata, pria penjual bakso di depan RS-nya. Airine pikir Nata hanyalah rakyat jelata yang mudah ia kendalikan.
Namun, ia salah besar. Di balik celemek berminyak itu, suaminya adalah Arnold Dexter, Komandan Intelijen legendaris yang sedang dalam misi penyamaran mematikan.
Satu per satu musuh Airine tumbang secara misterius. Saat cinta mulai tumbuh, Airine menyadari bahwa pria yang ia anggap "miskin" itu adalah predator paling berbahaya di negara ini yang sedang mengincar rahasia gelap kakeknya.
"Aku bukan sekadar tukang bakso, Istriku. Aku adalah alasan musuhmu takut pada malam hari."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27: Pelayaran Menuju Neraka
"Jadi, kamu ingin aku percaya bahwa suamiku bisa mengemudikan kapal pesiar militer seolah-olah ini adalah gerobak bakso di hari Minggu?"
Suara Airine memecah deru angin laut yang kencang di atas geladak kapal stealth interceptor milik unit Arnold. Ia berdiri dengan kaki yang masih sedikit gemetar, tangan kirinya mencengkeram besi pembatas dek, sementara tangan kanannya menggenggam erat tas medis yang tak pernah lepas dari jangkauannya. Di bawah lampu temaram fajar, wajahnya tampak pucat namun garis rahangnya menunjukkan ketegasan yang tak terbantahkan.
Arnold, yang berdiri di balik kemudi dengan setelan taktis lengkap dan kacamata night vision yang kini tersampir di lehernya, hanya melirik sekilas. "Kapal ini lebih mudah dikendalikan daripada gerobak bakso di tanjakan, Airine. Setidaknya kapal ini tidak akan terbalik jika aku mengerem mendadak."
"Berhenti bercanda, Arnold," Airine melangkah mendekat, mengabaikan goyangan kapal yang menghantam ombak. "Kita sedang menuju koordinat yang ditemukan di dalam peti mati kosong. Kita sedang menuju ke arah pria yang seharusnya sudah mati lima tahun lalu. Bagaimana kamu bisa setenang itu?"
Arnold mematikan sistem autopilot dan memutar kemudi dengan gerakan yang presisi. "Karena di dunia intelijen, ketakutan adalah kemewahan yang tidak bisa kubeli. Jika aku panik, timku akan mati. Jika aku ragu, kamu yang akan mati. Pilih satu, Airine."
Airine terdiam, menatap hamparan laut gelap di depan mereka. "Aku seorang dokter bedah, Arnold. Aku terbiasa dengan kematian di atas meja operasi, tapi kematian itu biasanya datang karena takdir atau kegagalan medis. Bukan karena peluru penembak jitu atau bom yang dipasang oleh kakekku sendiri."
"Edward Jane bukan lagi kakekmu yang memberikan dongeng sebelum tidur, Airine," suara Arnold merendah, menjadi sedingin es. "Pria di pulau itu adalah subjek penelitian yang paling berbahaya bagi negara ini. Dia menciptakan Cobra-9 bukan untuk menyembuhkan, tapi untuk mengontrol. Dan fakta bahwa dia menggunakan ayahku sebagai kelinci percobaan... itu adalah hutang darah yang harus kubayar."
Airine tersentak. "Ayahmu? Kamu tidak pernah cerita soal ayahmu secara detail."
"Ayahku adalah salah satu subjek uji coba pertama yang gagal," Arnold mengepalkan tangannya di kemudi hingga urat-uratnya menonjol. "Kakekmu memberinya harapan akan kesembuhan dari penyakit syarafnya, tapi yang diberikannya adalah racun yang menghancurkan otaknya dalam hitungan bulan. Kakekmu adalah alasan kenapa aku tidak punya siapa-siapa lagi di dunia ini selain unitku... dan sekarang, kamu."
Airine merasakan dadanya sesak. Ia melangkah maju dan meletakkan tangannya di atas tangan Arnold yang kaku. "Maafkan aku. Aku benar-benar tidak tahu."
"Jangan minta maaf atas dosa yang tidak kamu perbuat, Airine," Arnold menatap mata istrinya, sorot matanya melembut sesaat. "Tapi kamu harus janji satu hal. Begitu kita sampai di pulau itu, jangan pernah lepaskan rompi antipelurumu. Apapun yang kamu dengar dari mulut Edward Jane nanti, jangan biarkan dia mempengaruhimu. Dia adalah ahli manipulasi."
"Aku dokter bedah, Arnold. Aku tahu cara membedah jaringan mati dari yang hidup," Airine menarik napas dalam, mencoba menenangkan debaran jantungnya. "Jika kakekku adalah kanker di dunia ini, maka aku akan menjadi pisau bedah yang membantumu mengangkatnya."
"Komandan, target terdeteksi di radar. Dua belas mil laut di depan," suara Satya terdengar melalui intercom kapal. "Ada gangguan sinyal frekuensi tinggi. Sepertinya mereka menggunakan jammer tingkat militer."
"Aktifkan protokol senyap," perintah Arnold tegas. "Matikan semua lampu navigasi. Kita masuk lewat jalur tebing sisi barat."
Arnold menoleh ke arah Airine. "Masuk ke kabin sekarang. Pakai masker oksigenmu. Jika mereka melepaskan gas syaraf saat kita mendarat, kamu punya waktu lima menit sebelum sistem filtermu habis."
"Lima menit?" Airine mengerutkan dahi. "Itu tidak cukup untuk melakukan prosedur darurat jika ada timmu yang terluka."
"Maka pastikan tidak ada yang terluka, Dokter," sahut Arnold sambil memeriksa senapan serbunya.
Saat kapal mulai melambat dan mendekati bayangan pulau karang yang menjulang tinggi, kesunyian yang mencekam menyelimuti mereka. Hanya ada suara deburan ombak yang menghantam lambung kapal. Airine duduk di dalam kabin, memeriksa peralatan medisnya sekali lagi. Ia memastikan epinephrine, atropine, dan cairan penetral kimia berada di posisi yang mudah diraih.
Tiba-tiba, sebuah guncangan hebat menghantam kapal.
BOOM!
"Ledakan di sisi kanan! Mereka menggunakan ranjau laut!" teriak Satya.
"Tahan posisi! Jangan biarkan mesin mati!" Arnold berteriak melalui radio. Ia segera berlari ke arah kabin, menarik Airine keluar tepat saat air mulai merembes masuk. "Airine! Pakai pelampungmu sekarang! Kita harus terjun!"
"Tapi tas medisku!" Airine mencoba kembali masuk ke dalam kabin yang mulai miring.
"Lupakan tasnya! Nyawamu lebih penting!" Arnold menyambar pinggang Airine, mengangkatnya dengan satu tangan.
"Tidak! Di sana ada penawar racun yang kubuat semalam di laboratorium! Jika kita kehilangan itu, kita tidak punya senjata melawan kakek!" Airine meronta, matanya berkilat penuh tekad.
Arnold menatap mata Airine sejenak, melihat keberanian yang melampaui rasa takutnya. "Sialan. Tunggu di sini, tetap rendah!"
Arnold melompat masuk ke kabin yang sudah setengah tenggelam, meraih tas perak Airine, dan kembali dalam hitungan detik tepat saat kapal itu mulai terbalik. Tanpa membuang waktu, Arnold memeluk Airine erat dan melompat ke dalam laut yang gelap dan dingin.
Di bawah air, Airine merasa paru-parunya hampir meledak, namun tangan Arnold yang kuat terus menariknya ke permukaan. Saat mereka muncul ke permukaan, mereka melihat pulau itu hanya berjarak beberapa ratus meter—dan di atas tebing, puluhan lampu sorot menyala serentak, mencari keberadaan mereka.
"Mereka sudah menunggu kita," bisik Arnold sambil membantu Airine naik ke atas sekoci karet yang diluncurkan timnya secara otomatis.
Airine terengah-engah, memeluk tas medisnya yang basah. "Setidaknya... kakek tidak akan melihatku datang dengan tangan kosong."
Arnold menyeringai tipis di tengah hujan peluru yang mulai menghujani permukaan air di sekitar mereka. "Selamat datang di rumah kakekmu, Nyonya Dexter. Mari kita selesaikan ini."
...****************...