NovelToon NovelToon
Amore, Indigo, & Vendetta

Amore, Indigo, & Vendetta

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Mafia / Mata Batin
Popularitas:966
Nilai: 5
Nama Author: Ry_chan04

Di jantung kota Sisilia yang kelam, Kaivan Vittorio, sang "Re Re Nero" (Raja Hitam) yang memimpin sindikat mafia paling ditakuti di Italia, hidup dalam bayang-bayang dendam masa lalu. Ia dingin, kejam, dan tidak percaya pada hal tak kasat mata. Namun, wibawanya runtuh seketika saat ia bertemu Gendis, gadis asal Indonesia yang sedang bepergian ala backpacker ke Italia.
​Gendis bukan gadis biasa; dia adalah indigo "semprul" yang hobi memarahi hantu penunggu kastil Kaivan karena berisik saat ia sedang makan mi instan. Pertemuan mereka dimulai dari salah paham maut: Gendis mengira Kaivan adalah cosplayer "om-om galak" dan menawari jasa pembersihan aura karena melihat ribuan arwah korban Kaivan sedang mengantre minta maaf. Di balik komedi situasi yang absurd, ada benang merah dendam yang ternyata menyatukan masa lalu keluarga mereka. Kaivan yang terbiasa memegang senjata, kini harus belajar memegang kemenyan dan sabar menghadapi tingkah ajaib Gendis.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ry_chan04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Investigasi Berhantu di Gudang Senjata

Setelah badai sumpah serapah bahasa Jawa mereda di lereng Gunung Etna, Kaivan memutuskan bahwa sudah waktunya mereka berhenti bersembunyi. Untuk menghancurkan Moretti, ia butuh sesuatu yang lebih dari sekadar senapan runduk; ia butuh data manifes pengiriman ilegal yang disembunyikan di sebuah lokasi legendaris klan Vittorio: Gudang Sektor 7.

​Gudang ini bukan gudang biasa. Terletak di bawah sebuah pabrik pengalengan zaitun tua di pinggiran Palermo, Sektor 7 adalah labirin beton yang dibangun pada masa Perang Dunia II. Namun, ada satu masalah besar yang membuat para pengawal Kaivan enggan masuk ke sana sendirian. Tempat itu dijuluki "Gudang Terkutuk". Selama sepuluh tahun terakhir, setiap penjaga yang ditempatkan di sana selalu mengundurkan diri dalam waktu satu minggu karena mengalami gangguan mental, atau yang lebih buruk, menghilang secara misterius.

​"Jadi, Kakak mau saya ke sana cuma buat cari tumpukan kertas?" tanya Gendis sambil memakai jaket bomber kebanggaannya di dalam mobil yang melaju menuju Palermo.

​Kaivan memeriksa magasin pistolnya. "Bukan sekadar kertas, Gendis. Itu adalah dokumen asli yang membuktikan keterlibatan Moretti dalam perdagangan manusia antar-benua. Jika aku memegang itu, aku tidak perlu membunuhnya sendiri—seluruh aliansi mafia akan berbalik melawannya."

​"Ya tapi kenapa harus saya yang ikut? Kan ada Bang Marco?" Gendis melirik Marco yang sedang menyetir dengan wajah yang tampak sepuluh tahun lebih tua sejak mengenal Gendis.

​"Marco tidak bisa melihat apa yang menghalangi jalan di sana, Gendis. Sektor 7 bukan hanya dilindungi oleh kode digital, tapi oleh 'sesuatu' yang membuat teknologi kita sering mati mendadak," jawab Kaivan dengan nada serius.

Mereka sampai di sebuah gedung tua yang tampak merana. Aroma fermentasi zaitun yang asam menyengat hidung. Kaivan memimpin jalan menuju sebuah lift barang yang tersembunyi di balik tumpukan tong kayu.

​Begitu pintu besi lift terbuka di lantai bawah tanah, Gendis langsung menutup hidungnya.

​"Aduh, Kak! Ini baunya... bau bangkai campur kabel kebakar!" Gendis memegang lengan Kaivan erat. Matanya mulai berkunang-kunang karena frekuensi gaib di tempat itu sangat kacau. "Kak, mending kita pulang aja yuk? Di sini auranya nggak bener. Ini bukan cuma satu atau dua setan, ini mah pusat grosir hantu!"

​Kaivan menyalakan senter taktis yang terpasang di senjatanya. Cahaya putih membelah kegelapan, menampakkan lorong-lorong beton yang panjang dan lembap. "Tetap di belakangku, Gendis. Marco, jaga barisan belakang."

​"Siap, Tuan," bisik Marco, tangannya gemetar memegang senter.

​Baru sepuluh meter mereka melangkah, suara tawa anak kecil bergema dari arah lorong yang gelap.

​Hihihi... Hihihi...

​Marco langsung berbalik, menodongkan senjatanya ke arah kegelapan. "Siapa itu?! Keluar!"

​"Bang Marco, percuma ditodong pakai pistol," celetuk Gendis dengan wajah pucat. "Itu bukan anak kecil beneran. Itu hantu 'Tangan Panjang' yang lagi gelantungan di pipa langit-langit tepat di atas kepala Abang. Dia lagi nyoba mainin rambut Abang."

​Marco refleks meraba kepalanya dan merasakan sesuatu yang dingin dan berlendir menyentuh jemarinya. Ia berteriak tertahan dan melompat ke samping Kaivan. "Tuan, saya lebih baik menghadapi pasukan Moretti sendirian daripada harus di sini!"

​"Diam, Marco!" bentak Kaivan, meski ia sendiri merasa hawa dingin yang tidak wajar menyentuh tengkuknya. "Gendis, ke mana arah ruang arsip?"

​Gendis memejamkan mata sejenak, mencoba memfokuskan mata batinnya di tengah gangguan frekuensi yang menyakitkan telinga gaibnya. "Lurus, Kak... tapi hati-hati. Di depan ada 'Satpam' yang nggak suka sama cahaya."

​Benar saja, begitu mereka mendekati sebuah pintu besi besar, lampu senter mereka mulai berkedip-kedip dan akhirnya mati total. Kegelapan mutlak menelan mereka.

​"Senter mati! Tuan, sistem cadangan tidak berfungsi!" seru Marco panik.

​Di tengah kegelapan itu, Kaivan merasakan tangan kecil Gendis menggenggam telapak tangannya. "Jangan takut, Kak. Sini, pegang tangan saya. Saya pinjemin 'mata' lagi."

​Kembali terjadi sensasi aliran listrik itu. Melalui sentuhan Gendis, dunia yang gelap bagi Kaivan tiba-tiba berubah menjadi monokrom abu-abu yang terang. Ia bisa melihat bentuk lorong, debu yang beterbangan, dan... sesosok bayangan raksasa tanpa wajah yang berdiri tepat di depan pintu arsip. Sosok itu tingginya mencapai langit-langit, dengan tangan yang menyerupai akar pohon tua yang merambat.

​"Itu Satpamnya, Kak," bisik Gendis di samping telinga Kaivan. "Dia dulu penjaga gudang ini yang tewas kejepit pintu lift pas perang. Dia pikir kita mau nyuri jatah makanannya."

​Kaivan menatap sosok mengerikan itu. Jika ia tidak bersama Gendis, ia pasti sudah menembak membabi buta ke arah udara kosong. "Apa yang dia inginkan agar dia menyingkir?"

​Gendis mendengarkan sesuatu. "Dia bilang... dia laper. Dia pengen sesuatu yang manis. Dia kangen sama cokelat."

​Kaivan meraba saku jasnya. Ia selalu membawa sebatang cokelat hitam pahit untuk menambah energi saat lembur. "Apakah ini cukup?"

​"Coba aja, Kak. Tapi jangan dilempar, nanti dia marah dikira dikasih umpan."

​Kaivan melangkah maju—sebuah aksi keberanian yang luar biasa mengingat ia sedang berhadapan dengan entitas yang tingginya tiga meter. Dengan tangan yang stabil, ia mengulurkan cokelat itu ke arah udara yang tampak kosong bagi mata normal, namun terlihat sebagai tangan hitam besar di "mata" pinjaman Gendis.

​Bayangan itu perlahan mendekat. Hawa dingin yang luar biasa membuat napas Kaivan beruap. Tangan bayangan itu menyentuh cokelat tersebut, dan secara ajaib, cokelat itu menghilang dari tangan Kaivan.

​"Dia suka, Kak! Tuh, dia lagi duduk di pojokan sambil ngemil," lapor Gendis lega. "Dia bilang, silakan masuk, tapi jangan berisik karena 'teman-temannya' di dalam lagi tidur."

Pintu besi itu terbuka dengan derit yang memilukan telinga. Di dalamnya, ribuan rak besi menjulang tinggi, berisi kotak-kotak dokumen yang tertutup debu tebal selama puluhan tahun.

​"Gendis, bantu aku mencari label 'Progetto Moretti 1998'," kata Kaivan sambil mulai membongkar rak.

​Gendis berjalan di antara rak-rak itu, namun perhatiannya teralih ke sebuah meja tua di pojok ruangan. Di atas meja itu, ada sebuah foto tua yang sudah menguning.

​"Kak, sini deh..." panggil Gendis pelan.

​Kaivan mendekat. "Ada apa? Kita tidak punya banyak waktu."

​"Foto ini..." Gendis menyentuh bingkai foto itu. Seketika, ia tersentak. Kepalanya berdenyut hebat. Ia melihat bayangan masa lalu yang terputar cepat di otaknya seperti film rusak.

​Suara ledakan... bau bensin... tangisan seorang wanita... dan wajah seorang pria muda yang sangat mirip dengan Kaivan sedang memegang kunci perak.

​"Gendis? Kau kenapa?" Kaivan memegang bahu Gendis yang mulai gemetar.

​"Kak... dokumennya nggak di rak. Dokumennya ada di balik dinding palsu di bawah meja ini," ucap Gendis dengan suara yang terdengar bukan seperti suaranya sendiri—lebih berat dan berwibawa. "Dan... ada pesan dari ibumu, Kak."

​Kaivan membeku. "Ibu?"

​"Dia bilang... 'Maafkan Ibu, Kaivan. Kuncinya selalu ada di kalung yang kau pakai'."

​Kaivan secara refleks memegang kalung perak berbentuk peluru yang selalu ia kenakan sejak kecil. Ia selalu mengira itu hanya kenang-kenangan biasa. Ia melepas kalung itu, dan ternyata bagian bawah peluru itu bisa diputar, menampakkan sebuah kunci kecil yang sangat rumit.

​"Marco! Bantu aku geser meja ini!" perintah Kaivan.

​Mereka menggeser meja berat itu dan menemukan sebuah brankas kuno yang tertanam di lantai beton. Kaivan memasukkan kunci dari kalungnya.

​KLIK.

​Brankas itu terbuka. Di dalamnya terdapat sebuah map merah tebal. Saat Kaivan membukanya, matanya berkilat. Itu bukan hanya dokumen Moretti, tapi juga daftar nama-nama pejabat tinggi yang selama ini menjadi mata-mata di dalam klan Vittorio.

​"Kita mendapatkannya," gumam Kaivan.

​Namun, keberhasilan mereka memicu sesuatu yang lain. Gudang itu tiba-tiba bergetar. Suara jeritan ribuan arwah mulai terdengar dari dinding-dinding beton.

​"KAK! KITA HARUS PERGI! ARWAH-ARWAH YANG TADI TIDUR PADA BANGUN KARENA BRANKASNYA DIBUKA!" teriak Gendis panik. "MEREKA PIKIR KITA MAU NYURI JIWA MEREKA!"

​Kegelapan di dalam gudang itu mulai memadat, membentuk pusaran hitam yang mengerikan. Marco sudah tidak tahan lagi; ia mulai menembakkan senjatanya ke arah bayangan-bayangan yang merayap di dinding.

​"Jangan nembak, Bang Marco! Malah makin marah mereka!" Gendis meraba tasnya. "Kak, pegang tangan saya yang satu lagi! Bang Marco, pegang pundak saya! Kita harus lari pakai jalur 'cepat'!"

​"Jalur cepat apa?!" tanya Kaivan di tengah kebisingan gaib.

​"Lari aja terus ke arah tembok itu! Jangan merem! Percaya sama saya!"

​Kaivan, sang rasionalis yang kini sudah pasrah pada kegilaan dunianya, menggenggam tangan Gendis erat-erat. Marco memegang pundak Gendis sambil menangis pelan (ia akan menyangkal ini nanti). Mereka berlari kencang ke arah tembok beton buntu di ujung lorong.

​"GENDIS, ITU TEMBOK!" teriak Kaivan.

​"TABRAK AJA, KAK! BISMILLAH!"

​Tepat sebelum mereka menghantam beton, Gendis menghentakkan kakinya ke lantai sambil mengucapkan mantra bahasa Jawa yang terdengar seperti: "Woyo-woyo, setan minggir, aku arep lewat!"

​WUUUUSSSHHH!

​Sensasi dingin yang luar biasa menerjang tubuh mereka, seolah-olah mereka baru saja melewati air es. Detik berikutnya, mereka terjatuh di atas rumput yang basah oleh embun.

​Kaivan membuka matanya. Mereka berada di luar pabrik pengalengan zaitun. Langit Palermo sudah mulai menampakkan warna fajar yang kemerahan.

​"Kita... kita selamat?" tanya Marco sambil meraba-raba wajahnya, memastikan semua bagian tubuhnya masih ada.

​Kaivan berdiri, merapikan jasnya yang kini benar-benar berdebu. Ia menatap map merah di tangannya, lalu menatap Gendis yang tergeletak lemas di rumput sambil mengatur napas.

​"Gendis," panggil Kaivan lembut.

​Gendis menoleh, rambutnya berantakan dan ada noda debu di pipinya. "Apa, Kak? Jangan bilang mau masuk lagi ya, saya mogok kerja kalau gitu."

​Kaivan berlutut di sampingnya, lalu menggunakan ibu jarinya untuk menghapus debu di pipi Gendis. "Kau adalah keajaiban yang tidak pernah kuinginkan, tapi sangat kubutuhkan."

​Gendis tersenyum tipis, meski wajahnya masih pucat. "Keajaiban mah nggak butuh cokelat hitam, Kak. Keajaiban butuhnya tidur tiga hari sama makan bakso urat."

​Kaivan terkekeh. Ia membantu Gendis berdiri. "Ayo pulang. Aku akan menyuruh koki membuatkan apapun yang kau inginkan. Dan Marco..."

​"Ya, Tuan?" Marco berdiri dengan sikap sempurna, meski kakinya masih sedikit gemetar.

​"Lupakan soal kau menangis di dalam tadi. Anggap itu hanya efek samping dari gas bocor di gudang."

​"Terima kasih, Tuan. Anda sangat murah hati," jawab Marco lega.

​Saat mereka masuk ke dalam mobil, Gendis tiba-tiba menepuk bahu Kaivan. "Eh, Kak. Ada titipan salam lagi dari Satpam tadi."

​"Apa?"

​"Katanya, makasih cokelatnya. Lain kali kalau ke sana lagi, bawain yang isinya kacang mede ya. Dia bosen yang pahit terus, katanya hidup dia udah pahit pas jadi hantu."

​Kaivan hanya bisa menggelengkan kepala sambil menyandarkan punggungnya di kursi mobil. Investigasi berhantu itu telah memberinya senjata untuk menghancurkan musuhnya, namun di saat yang sama, ia merasa jiwanya yang dingin mulai mencair. Gudang rahasia itu bukan lagi tempat yang terkutuk baginya; itu adalah tempat di mana ia akhirnya menemukan kunci untuk masa lalunya—dan mungkin, kunci untuk masa depannya bersama gadis indigo semprul ini.

​"Gendis?"

​"Nyam?" Gendis sudah mulai mengunyah biskuit yang ia temukan di dasbor mobil.

​"Jangan pernah lepaskan tanganmu dariku. Di gudang manapun kita berada nanti."

​Gendis tersedak sedikit, lalu menoleh ke arah jendela untuk menyembunyikan wajahnya yang mendadak merah padam. "Dih... Mafia kok nge-gombal pagi-pagi. Inget Kak, hantu-hantu di sepanjang jalan ini lagi pada nontonin kita lho!"

​Kaivan tersenyum lebar, menatap lurus ke depan. Perang melawan Moretti akan segera dimulai, namun untuk pertama kalinya, sang Raja Mafia merasa ia sudah memenangkan pertempuran yang paling penting: pertempuran melawan kesepian dalam dirinya sendiri.

1
Julia thaleb
lanjut Thor.
aku like banget
Julia thaleb
Thor..
seribu jempol
aku like...
Farida 18: makasih beb
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!