Dunia di mata Shen Yu terbagi menjadi dua: realitas yang membosankan dan dunia fiksi yang ia cintai. Di usianya yang baru menginjak 23 tahun, sebagian besar waktunya dihabiskan dengan hidung menempel pada halaman buku atau layar ponsel.
Ia bukan sekadar membaca—ia hidup di dalamnya.
Setiap kali menyelesaikan sebuah bab, imajinasinya tidak pernah berhenti berpikir. Ia sering membayangkan betapa indahnya jika bisa melangkah melewati batas kertas, menjadi tokoh utama yang mengalami petualangan epik, romansa yang mendebarkan, atau bahkan nasib tragis yang penuh drama.
Apa pun juga bentuknya, asalkan lebih berwarna daripada hidupnya yang datar ini.
"Ah, andai saja aku benar-benar bisa masuk ke dalam cerita..." gumamnya pelan sambil menyimpan novel yang baru saja selesai dibaca ke dalam tas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mooi Xyujin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
26
Suasana di ujung kapal itu sangat hangat dan akrab, penuh tawa dan obrolan santai yang membuat hati terasa hangat seperti teh panas di pagi hari.
"Ayo habiskan saja semuanya, jangan disisakan," ucap Shen Yu sambil menepuk perutnya yang sudah kenyang dan puas.
Aroma masakan Shen Yu yang kaya rempah dan gurih itu ternyata sangat kuat dan wangi, menyebar jauh hingga ke area dapur kapal dan dek penumpang.
Beberapa awak kapal dan pekerja yang lewat pun menahan langkah, menelan ludah tanpa sadar, dan diam-diam melirik ke arah mereka dengan mata penuh rasa penasaran dan ngiler.
'Wah... bau apa itu? Enak sekali baunya sampai bikin perut keroncongan,' bisik seorang pelaut muda sambil menepuk perutnya yang lapar.
'Lihat itu Tuan Kapten dan Dong Ma makan apa? Mereka kelihatan senang sekali dan makannya lahap sekali!'
Meskipun sangat ingin tahu dan ingin mencicipi, tidak ada satu pun yang berani mendekat atau bertanya. Status sosial dan wibawa Kapten Wang terlalu tinggi, dan penampilan Shen Yu yang seperti tuan muda juga membuat mereka segan.
Jadi mereka hanya bisa mengintip dari jauh dan membayangkan rasanya yang pasti luar biasa.
Setelah perut kenyang dan hati senang, mereka duduk bersantai sambil minum teh hangat yang menyegarkan.
Kapten Wang bercerita banyak tentang ombak laut yang kadang ganas kadang lembut, serta berita-berita baru dari kota pelabuhan lain yang jarang diketahui orang kota. Shen Yu mendengarkan dengan penuh antusias, kadang mengajukan pertanyaan yang membuat mereka semua tertawa.
Namun, waktu tidak bisa ditahan selamanya. Suara lonceng kapal mulai berbunyi dengan nada yang jelas – tanda persiapan keberangkatan sudah dekat.
Ting... Ting... Ting...
"Sudah waktunya kami bersiap berlayar, Shen Yu," ucap Kapten Wang sambil berdiri dan menepuk bahu pemuda itu dengan lembut."Terima kasih banyak atas kunjungan dan hidangan istimewanya hari ini. Kami tidak akan melupakannya sampai kapan pun."
"Sama-sama, Tuan Kapten. Hati-hati diperjalanan," jawab Shen Yu ramah dengan senyum hangat.
Shen Yu pun berpamitan dan berjalan turun dari kapal dengan langkah ringan. Dong Ma mengantarnya sampai ke tangga naik turun, tidak mau sampai kehilangan pandangan pemuda itu begitu saja.
"Jangan lupa sering-sering main ke sini, Shen Yu! Kalau kau butuh apa-apa, bilang saja ya! Kami akan bantu dengan senang hati!" seru Dong Ma dengan suara lantang.
"Pasti! Sampai jumpa lagi!"
Shen Yu berjalan menyusuri jalanan dermaga yang mulai sedikit lengang karena banyak kapal yang baru saja berangkat meninggalkan dermaga. Ia tidak mau berjalan kaki satu jam lagi yang melelahkan.
Matanya mencari-cari sekeliling, dan akhirnya ia melihat sebuah kereta kuda umum yang sedang berhenti menunggu penumpang sebelum kembali menuju pusat kota.
"Nah, itu dia!" serunya pelan dengan senyum lega.
Shen Yu segera berjalan mendekat dan menaiki kereta itu. Ia memilih duduk di tempat yang nyaman di pojok dalam, bersandar santai sambil memejamkan mata sebentar karena rasa kantuk yang mulai datang.
"Perjalanan pulang... istirahat sebentar sampai rumah. Mungkin berkebun di halaman atau baca buku saja nanti," gumamnya santai dengan hati yang rileks.
Perjalanan pulang terasa singkat karena Shen Yu sempat tertidur lelap di dalam kereta. Saat ia melangkah turun dan berjalan menuju gerbang rumahnya, matahari sudah berada tepat di atas kepala menandakan waktu sudah siang bolong.
Udara terasa cukup panas dan gerah karena sinar matahari yang terik.
Shen Yu membuka pintu gerbang kayu besar itu dan masuk ke halaman rumahnya yang luas dan teduh berkat pohon-pohon pinus tua yang rindang di sana.
"Fuh... panas sekali hari ini," gumamnya sambil merapikan rambutnya yang sedikit berantakan tertiup angin sepoi-sepoi.
Ia tidak langsung masuk ke dalam rumah.
Shen Yu berjalan menuju sumur tua yang ada di halaman belakang – airnya selalu jernih dan segar meskipun cuaca panas. Ia mengambil gayung kayu yang sudah ada di sana dan menyendok air dingin yang menyegarkan.
Cess...!
Dengan nikmat, ia membasuh wajahnya dan mencuci tangannya sampai bersih. Air dingin itu langsung menghilangkan rasa lengket dan lelah akibat perjalanan jauh. Setelah itu ia mencuci kedua kakinya sampai bersih dari debu jalanan yang menempel.
"Ah... segarnya!" serunya pelan sambil menghela napas panjang yang lega.
Sekarang tubuhnya bersih, pikirannya tenang, dan perutnya masih terasa nyaman karena kenyang. Shen Yu berjalan masuk ke dalam rumah, menutup pintu utama dengan pelan namun mantap. Suara pintu yang menutup itu seolah menjadi tanda yang hangat:
'Selamat Datang Kembali ke Istana Kecilku.'
Shen Yu berjalan santai melewati ruang tamu yang kini sudah terisi perabotan kayu yang memberikan kesan hangat dan alami, lalu menaiki tangga kayu yang kokoh menuju lantai dua.
"Oke, urusan sosial selesai. Sekarang waktunya me time," bisiknya senang dengan wajah yang penuh kedamaian.
Ia berencana untuk bersantai di ruang belajarnya yang menghadap jendela, mungkin menulis beberapa catatan, atau sekadar berbaring di kasur sambil menikmati suasana rumah yang sunyi dan damai ini.
Malam harinya, suasana di sekitar gedung pegadaian milik keluarga Zhao terasa jauh lebih mencekam daripada biasanya. Biasanya tempat ini sudah tutup dan sepi menjelang malam, tapi malam ini lampu-lampu dinyalakan terang benderang, namun udaranya terasa dingin dan berat seperti akan hujan badai.
Di ruang tamu utama, berdiri sosok tinggi besar yang memancarkan aura kekuasaan yang menakutkan – dia adalah Li Huangfu.
Sementara itu, Tuan Zhao – pemilik pegadaian yang biasanya berwibawa dan lincah – kini berdiri dengan wajah pucat pasi, keringat dingin mengalir di pelipisnya meskipun udara malam cukup sejuk.
Ia sungguh tak berdaya. Mau tak mau, ia harus menyambut tamu istimewa ini dengan hormat setinggi langit. Bagaimanapun, Li Huangfu adalah putra dari keluarga bangsawan paling berpengaruh di kota itu – menyinggungnya sama saja dengan menggali kuburan sendiri.
"Tuan Muda Li, silakan duduk... silakan minum teh hangat," ucap Tuan Zhao terbata-bata, tangannya gemetar saat menuangkan air ke dalam cangkir keramik.
Li Huangfu duduk dengan santai namun gagah di kursi utama yang paling mewah. Wajahnya datar tanpa ekspresi, matanya tajam mengamati seluruh ruangan seolah sedang mencari jejak sesuatu yang tersembunyi.
Sebenarnya, alasan utama Li Huangfu datang berkunjung malam-malam begini bukan karena ingin melihat barang-barang mewah atau menagih hutang. Dia masih penasaran – bahkan obsesif – dan tidak bisa melupakan sosok misterius itu sama sekali.
"Aku cuma mampir sebentar, melihat-lihat saja," ucap Li Huangfu pelan, suaranya rendah namun terdengar sangat menekan seperti badai yang akan datang.
Matanya lalu menatap tajam lurus ke arah Tuan Zhao, membuat pria tua itu merasa seperti sedang ditindas oleh batu besar.
"Tuan Zhao... aku harap kau jujur padaku. Benarkah kau sama sekali tidak tahu siapa identitas asli orang itu? Benarkah kau tidak pernah melihat wajah aslinya?" tanyanya perlahan, nadanya penuh selidik yang membuat orang tidak berani berbohong.
Li Huangfu benar-benar ingin memastikan. Apakah Tuan Zhao benar-benar tidak tahu apa-apa, atau dia cuma pandai berpura-pura untuk melindungi orang itu?
Tuan Zhao menelan ludah dengan susah payah. Jantungnya berdegup kencang seolah mau lepas dari dada.
'Ya Tuhan... kenapa dia masih keras kepala sekali?' batinnya panik. 'Aku sudah bilang berkali-kali aku tidak tahu, masa tidak percaya?'
"Sungguh, Tuan Muda Li," jawab Tuan Zhao dengan suara bergetar, membungkuk dalam-dalam hingga hampir menyentuh tanah."Demi nyawa saya dan keselamatan keluarga saya, saya bersumpah! Saya benar-benar tidak pernah melihat wajah aslinya. Dia selalu pakai topeng dan sangat menjaga jarak. Saya pun heran dan penasaran sama seperti Tuan..."
Li Huangfu mendengus pelan mendengar jawaban itu. Wajahnya semakin gelap, alisnya mengerut karena rasa frustrasi yang membanjiri dirinya.
'Jadi dia benar-benar hilang tanpa jejak...' pikirnya dengan hati yang penuh rasa tidak puas. 'Orang yang punya barang sehebat itu, punya kekuatan ajaib, dan kaya raya... tapi mau bersembunyi di mana di kota sekecil ini?'
Rasa obsesinya terhadap "Tuan Misterius" itu semakin hari semakin besar, bahkan mengalahkan kegembiraannya saat berhasil membeli Permata Matahari.
"Baiklah... kalau begitu kau tidak perlu takut," ucap Li Huangfu dingin sambil berdiri dan berjalan mondar-mandir di ruangan itu.
"Tapi ingat pesanku. Kalau suatu hari nanti orang itu muncul lagi atau kau mendapat kabar apa pun tentang dia... LAPORKAN PADAKU SEKARANG JUGA! Jangan berani-berani menyembunyikannya lagi, kalau tidak kau tahu akibatnya!"
"Si... siap Tuan! Pasti saya lapor! Pasti!" jawab Tuan Zhao cepat seperti burung beo, lega setengah mati karena tidak dimarahi habis-habisan malam ini.
Li Huangfu benar-benar tidak akan berhenti sampai ia bertemu langsung dengan orang berjubah merah itu lagi – itu adalah janji yang dia buat untuk dirinya sendiri.
Waktu berlalu dengan cepat, beberapa bulan pun terlewati. Kehidupan Shen Yu berjalan sangat tenang dan nyaman di rumah barunya, jauh dari keramaian dan teka-teki yang mengganggu.
Ia sering berkebun di halaman belakang, membaca buku di ruang belajarnya, atau terkadang membuat barang baru dari supermarket ajaibnya untuk persiapan masa depan.
Namun, suasana tenang di Ibu Kota kembali terganggu oleh sebuah berita besar yang mengguncang seluruh penjuru kota!
"PENGUMUMAN RESMI! LELANG BESAR AKAN SEGERA DILAKSANAKAN!"
Papan pengumuman berwarna merah emas dengan tulisan emas mencolok dipasang di setiap sudut jalan raya. Dan kali ini, yang menjadi tuan rumah acara bergengsi itu bukan sembarang orang, melainkan Bao Qing Tang – salah satu rumah lelang paling tua, paling sah, dan paling terpercaya di seluruh negeri.
Tapi yang membuat orang-orang heboh bukan cuma karena namanya Bao Qing Tang. Yang membuat seluruh kota gempar dan berdesir adalah tulisan kecil di bawahnya yang tidak bisa diabaikan:
"BARANG MILIK: TUAN SHEN (PEMILIK PERMATA MATAHARI)"
Berita itu menyebar lebih cepat daripada kilat menyambar langit malam!
"APA BENAR?! TUAN SHEN ITU MUNCUL LAGI?!"
"DIA AKAN MELELANG BARANG BARU LAGI?!"
Di kedai teh yang ramai, di pasar yang sibuk, hingga di halaman istana para bangsawan, semua orang membicarakan hal ini dengan mata berbinar-binar penuh antusiasme.
Mereka tidak akan pernah melupakan kejadian beberapa bulan lalu – satu bola kristal ajaib yang dijual dengan harga 20.000 tael emas oleh sosok misterius. Dan sekarang... pemilik legendaris itu kembali!
"Katanya sih kali ini barangnya cuma dua biji saja!" bisik seorang pedagang kepada temannya dengan suara penuh kegembiraan.
"Cuma dua? Wah, makin langka itu! Pasti barangnya lebih hebat dari yang sebelumnya!"
"Siapa pun yang punya uang pasti akan datang! Ini kesempatan emas buat punya benda langka yang sama punya Tuan Misterius!"
Dan tentu saja, berita ini sampai juga ke telinga orang yang paling menantikannya di seluruh kota.
Di kediaman megah Keluarga Li yang terletak di pusat kota...
Seorang pelayan masuk dengan napas terengah-engah, tubuhnya sedikit gemetar karena tergesa-gesa melapor pada tuannya yang sedang duduk diam memandangi Permata Matahari yang terpajang di mejanya.
"Tuan Muda Li! Berita besar! Bao Qing Tang akan mengadakan lelang! Dan barang yang akan dilelang... itu milik Tuan Shen!"
BUK!
Secangkir teh di tangan Li Huangfu terhempas ke meja kayu karena gerakan tangannya yang tiba-tiba kaku. Cairan teh berwarna cokelat muda menyebar ke atas meja, tapi dia sama sekali tidak peduli.
Wajahnya yang biasanya datar dan dingin seketika berubah total! Matanya membelalak lebar, dan ada kilatan api yang menyala-nyala di dalamnya seperti bara api yang lama terkubur kini menyala kembali.
"Kau katakan dia muncul lagi?!" suaranya bergetar hebat, campuran antara kaget, sedikit marah, tapi lebih dari itu... rasa senang yang luar biasa!
Selama berbulan-bulan ini ia gelisah, menyuruh anak buahnya mencari ke mana-mana hingga pelosok kota, dan hampir putus asa mengira orang itu sudah meninggalkan kota untuk selamanya.
Ternyata... dia masih ada di sini!
"Bagus! Bagus sekali!" Li Huangfu berdiri tegak dengan cepat, aura yang mengerikan namun penuh semangat keluar dari tubuhnya."Akhirnya kau menampakkan batang hidungmu juga, Tuan Rubah!"
"Siapkan pakaian terbaikku! Dan siapkan uang... siapkan semua yang kita punya!" perintahnya keras pada pengawal yang berdiri di belakangnya. "Kali ini aku tidak akan membiarkan dia hilang lagi! Aku akan datang, aku akan beli apa pun yang dia jual dengan harga apapun, dan kali ini... AKU PASTI AKAN BERTEMU DENGANNYA WAJAH KE WAJAH!"
Li Huangfu tersenyum lebar, senyum yang penuh obsesi dan kegilaan yang sudah lama tidak muncul di wajahnya.
"Tunggu aku... Kali ini kau tidak bisa lari dariku lagi!"