Laki-laki hanya mencintai satu kali, sisanya hanya menjalani hidup. Ada yang mengatakan seperti itu. Damien tidak tau apakah itu benar, namun perjalanan hidupnya kali ini benar-benar diluar prediksi dan rencana.
Dia kehilangan istri dan keluarga kecilnya juga terancam pecah, namun di saat yang hampir bersamaan, ternyata semua bencana yang dia alami mengantarkan dia bertemu kembali ke sosok wanita yang dulu sangat dia idam-idamkan sepenuh jiwanya untuk menjadi pasangan hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shelly Husein, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kosong.
Bab 12
Aling melangkah dengan sedikit Ragu, saat memasuki kantor kepolisian.
Setelah menghela nafas untuk mengumpulkan keberanian, dia menghampiri meja depan khusus informasi yang ada di dalam ruangan tunggu , yang saat itu terlihat cukup ramai dengan para petugas berseragam kepolisian, orang-orang sipil seperti dia yang tersebar di tempat duduk khusus tamu, dan beberapa antrian di kolom-kolom khusus sesuai dengan kepentingan yang bersangkutan.
“Selamat pagi mbak” Aling memulai percakapan, saat sudah berdiri di depan meja yang digawangi oleh 2 petugas wanita berseragam kepolisian .
”Selamat pagi ibu, ada keperluan apa ?” jawab salah satu dari mereka.
“saya hendak melaporkan kehilangan anak saya, sejak 3 januari kemarin..” jawab Aling.
“Baik bu, nama anak ibu siapa? “
“Lidya Amira, mbak”.
“Laki atau perempuan?”
“perempuan “
“Umurnya berapa?”
“43 tahun “.
Salah satu petugas wanita yang menanyakan hal-hal tersebut tampak mencatat yang sudah dijelaskan., lalu berkata “silahkan masuk ke bagian pelaporan ya bu, di bagian kanan ruang tunggu. Ada petugas yang berjaga disana “
“baik mbak, terima kasih “ jawab Aling lalu masuk ke dalam gedung ke arah yang telah diinfokan.
Pelaporan ternyata butuh waktu hampir 1 jam, selain pemeriksaan data-data yang diperlukan, Aling juga secara tidak langsung merasa seperti diinterogasi.
Petugas kepolisian menanyakan terakhir kali kontak dengan yang dilaporkan, hubungan antara Aling dan Lidya, latar belakang Lidya yang sudah menikah, pekerjaan dan bahkan teman-teman yang mungkin diantaranya ada yang dikenal Aling, dan juga alasan Aling sendiri mengapa dia melaporkan kehilangan anaknya.
Aling mencoba untuk bersabar dan berkonsentrasi untuk menjawab semua pertanyaan yang diajukan, dan akhirnya setelah semua berkas dan lembar laporan telah diisi dengan tepat, Aling pun bertanya kepada petugas :
“Sudah bisa dimulai kah pencarian anak saya, pak ? “
“Baik Bu, kami akan memulai proses penyelidikan. Kami akan memberitahukan hasil perkembangan nya kepada ibu nanti . Untuk saat ini ibu bisa terus mencoba mencari info terakhir mengenai keberadaan anak ibu dari sumber yang lain, dari teman-teman sekantor nya, teman online nya atau yang ibu ketahui jika dari sana ada tambahan informasi, langsung hubungi kami juga .“
Aling tampak sedikit kesal sekaligus sedih.
“tapi sampai sekarang anak saya masih belum diketahui keberadaannya, pak... kami sudah mencari-cari dia di tempat yang kami ketahui, juga berusaha menghubungi teman sekantor dia. Teman online dia juga yang saya tau tidak banyak...” Aling menghentikan kalimat nya sebentar. Sang petugas masih diam mendengarkan.
Akhirnya Aling hanya berkata lebih lanjut “ yang jelas kami juga masih mencari juga , pak . Namun belum juga menemukan nya. Bagaimana jika nanti sudah terjadi sesuatu kepada dia ?? “
“Bagaimana dengan suaminya... di laporan ibu, dia sudah berkeluarga, tapi tidak bersama ibu untuk melaporkan ini hari ini .?” si petugas kembali bertanya.
” Suaminya juga sekarang sedang berkeliling mencari tahu, pak” jawab Aling pendek.
sang petugas menjawab balik, “ sekarang suami nya ada dimana? ”.
“Tadi saya menelpon nya, dia bilang baru selesai menanyakan ke RS sekeliling Bandara untuk mengecek, mungkin anak saya ada disana..”
“Kenapa dia mengunjungi RS untuk mencari anak ibu ??” tanya balik si petugas.
“Dia bilang kalau anak saya pulang ke sini dalam keadaan kaku dan nyeri tangannya..., ” jawab Aling mencoba mengingat-ingat.
“Anak saya masih menjalani pengobatan rutin untuk penyakit autoimun nya, mungkin obatnya sudah habis , penyakit nya kambuh lagi ” tambah Aling kembali.
“apakah anak ibu juga mengatakan hal itu kepada ibu, saat menghubungi ibu ?”
Aling menggelengkan kepala. “rekaman WA nya sudah saya foto dan print, saya sudah kasih juga ke bapak. Dia ga kasih tau mengenai hal itu , disitu“.
“Berarti yang tau mengenai hal itu, Cuma suaminya?”. Aling hanya mengangguk mengiyakan pertanyaan si petugas.
“nomor hape suami anak ibu juga sudah ditulis disini ya ?”, tanya si petugas sambil mengetuk berkas laporan Aling.
“sudah pak.” Jawab Aling kembali.
“Cucu ibu bagaimana, ada dimana mereka sekarang..?”
“Bersama suami anak saya”,
Sang petugas kembali mengangguk sambil meneliti kronologi kejadian lewat laporan tertulis yang dibuat.
“Jadi anak ibu tidak bisa dihubungi keberadaan nya sejak kemarin, di tanggal 3 januari. Dan ibu baru melaporkan nya hari ini. Anak ibu menurut hasil percakapan sudah berangkat di tanggal 1 januari, malam hari sekitar jam 11 malam dari Singapura menuju jakarta, kemungkinan sampai di tanggal 2 januari dini hari , waktu indonesia . Namun sejak itu keberadaan nya tidak jelas sudah sampai jakarta atau belum, sampai sekarang...begitu ya bu.“ si petugas menguraikan kronologi laporan Aling untuk memperjelas. Aling mengangguk sedikit ragu.
“Baik bu, semuanya sudah sesuai dengan keterangan laporan. Kami akan memulai penyelidikan, kita akan memberitahukan perkembangan secepatnya “ akhirnya si petugas tadi menutup pembicaraan.
Aling menghela nafas, menahan rasa kesal karena hampir tidak sabar ingin mengetahui keberadaan anaknya sekarang ini.
“kapan saya bisa mendapatkan info mengenai anak saya, pak.?? “ Aling bertanya memastikan .
“kami akan usahakan secepatnya, karena bagaimana pun penyelidikan membutuhkan proses waktu ya Bu”. Sang petugas hanya menjawab seperti itu.
Aling hanya bisa diam. Sang petugas berkata “ silahkan disimpan lembar pelaporan untuk ibu, akan kami teruskan laporan nya ke divisi yang berwenang. “ secara tidak langsung Aling merasakan kalau sesi dia sudah harus diakhiri.
Maka dia akhirnya berdiri sambil memegang berkas pelaporan sambil mengucapkan terima kasih kepada petugas yang membantu mengurus pelaporan nya, lalu berjalan pergi menyusuri bangunan untuk menuju keluar.
Diluar bangunan, sambil berjalan menuju parkiran, tanpa sadar dia meneteskan airmata tanpa bersuara.
Dia benar-benar merasa ada sesuatu hal buruk yang menimpa anak semata wayangnya, namun dia saat ini tidak tau harus melakukan apalagi untuk mengetahui kondisi sang anak.