Araya Lin dipaksa menjadi pengantin
pengganti bagi kakak tirinya. la dinikahkan dengan Arkanza Aditama, seorang CEO miliarder yang dirumorkan kejam, dingin, dan cacat akibat sebuah kecelakaan tragis. Keluarga Araya tertawa, mengira mereka telah membuang anak tak berguna ke dalam 'neraka'.
Namun, di malam pertama pernikahan mereka, Araya terkejut saat melihat pria jangkung dengan tatapan setajam elang berdiri sempurna di hadapannya-tidak cacat sedikit pun. Di sisi lain, Arkanza mengira ia hanya menikahi gadis udik yang bisa ia kendalikan. la tidak tahu bahwa istri kecilnya yang terlihat lugu ini adalah "Z", seorang peretas jenius misterius yang selama ini dicari-cari oleh perusahaannya sendiri.
Ketika dua pembohong ulung terjebak dalam satu atap, akankah pernikahan kontrak ini berakhir dengan pertumpahan darah, atau justru memicu romansa yang tak terhentikan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Orang_Cuman_Cerita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 21: Hujan Peluru di Balik Bayangan
Suara derap langkah kaki berat terdengar samar dari lantai atas, diikuti suara pintu kayu perpustakaan yang didobrak paksa. Debu-debu berjatuhan dari langit-langit ruang bawah tanah beton itu, menandakan bahwa pasukan bayaran telah berhasil menembus perimeter pertama mansion Aditama.
Arkanza menarik pistol Glock 19 dari balik jasnya dengan gerakan sangat tenang—terlalu tenang untuk seseorang yang sedang dikepung. Ia menarik tuas kokang, matanya mengunci pintu masuk tangga spiral.
"Berapa banyak peluru yang kau punya?" bisik Araya, suaranya bergetar namun matanya menatap tajam.
"Tiga belas," jawab Arkanza datar. "Cukup untuk membuka jalan sampai ke garasi darurat di sayap barat. Tetaplah di belakangku."
"Tiga belas peluru melawan pasukan bersenjata laras panjang adalah bunuh diri, Arkanza," Araya mendecak kesal. Ia mengeluarkan ponsel hitam legamnya. Jemarinya mulai menari di atas layar sentuh dengan kecepatan penuh. "Kau lupa siapa yang sedang kau lindungi? Aku menguasai sistem rumah ini."
Arkanza menoleh, seulas senyum miring yang penuh kebanggaan tercetak di bibirnya. "Apa rencanamu, Hacker?"
"Aku akan mematikan seluruh sumber listrik di mansion utama dalam tiga detik. Mereka menggunakan kacamata night vision standar militer. Jika aku menyalakan sistem strobe light (lampu kilat) darurat secara tiba-tiba setelah pemadaman, retina mereka akan terbakar sesaat." Araya menatap Arkanza. "Saat mereka buta, itu kesempatanmu."
"Tiga... dua... satu. Eksekusi."
Klik.
Seluruh mansion Aditama tenggelam dalam kegelapan total. Suara teriakan panik dan makian dalam bahasa asing terdengar dari pasukan bayaran di atas sana.
"Turun ke bawah! Target ada di ruang bawah tanah!" teriak salah satu komandan bayaran.
Tepat saat langkah pertama mereka menyentuh tangga spiral, Araya mengeksekusi baris kode kedua. Seluruh lampu darurat LED di sepanjang tangga menyala dengan kedipan yang sangat cepat dan menyilaukan.
"ARGHH! Mataku!"
Dalam kekacauan visual itu, Arkanza bergerak layaknya bayangan pencabut nyawa. Ia melesat menaiki tangga, melepaskan tiga tembakan presisi yang melumpuhkan tiga orang terdepan tanpa membunuh mereka—Arkanza mengincar lutut dan bahu. Ia merampas satu senapan serbu dari musuh yang tumbang dan melemparkannya ke belakang.
"Jalan, Araya!" teriak Arkanza.
Araya berlari menyusul, melompati tubuh-tubuh yang mengerang di tangga. Begitu mereka sampai di perpustakaan, peluru beterbangan menghancurkan rak-rak kayu jati dan buku-buku antik bernilai miliaran rupiah. Kertas-kertas berhamburan di udara bagaikan salju yang menyedihkan.
Arkanza menarik Araya berlindung di balik meja marmer raksasa. Desingan peluru terdengar mengerikan di telinga Araya.
"Leon tidak ada di sini?" tanya Araya sambil menutupi telinganya.
"Dia sedang mengamankan kakekku di jalur evakuasi utara. Kita harus berjuang sendiri," balas Arkanza sambil membalas tembakan, menumbangkan dua penembak jitu di balkon lantai dua.
Araya menatap ponselnya. Ada satu protokol pertahanan terakhir yang ditambahkan Leon dulu: Sistem Gas Air Mata internal untuk skenario terburuk.
"Tahan napasmu, Arkanza!" Araya menekan tombol Enter.
Dari ventilasi pendingin ruangan, asap putih pekat menyembur keluar dengan deras. Pasukan bayaran yang tidak siap mulai terbatuk-batuk hebat, kehilangan fokus tembakan mereka.
Menggunakan kekacauan itu, Arkanza menggenggam tangan Araya dengan erat. "Lari!"
Mereka berlari menembus asap, melewati lorong-lorong gelap mansion yang sudah sangat mereka kenal. Pintu garasi darurat akhirnya terlihat. Di sana, sebuah SUV lapis baja anti-peluru berwarna hitam legam sudah menanti.
Arkanza mendorong Araya masuk ke kursi penumpang sebelum melompat ke kursi kemudi. Tepat saat mesin menyala dengan raungan buas, pintu garasi diledakkan dari luar. Pasukan bayaran memborbardir mobil itu dengan tembakan, namun peluru-peluru tersebut hanya meninggalkan goresan dangkal di kaca dan bodi anti-peluru.
Arkanza menginjak pedal gas dalam-dalam. SUV itu menerjang maju, menabrak sisa-sisa pintu garasi yang hancur, dan melesat membelah hujan badai yang baru saja turun mengguyur Jakarta.
Di dalam kabin mobil yang kini sunyi dari suara tembakan, Araya bersandar dengan napas memburu. Tangannya masih gemetar menggenggam ponsel hitamnya. Arkanza menoleh sekilas, mengulurkan tangan kanannya untuk menggenggam tangan Araya yang sedingin es.
"Mulai malam ini," suara Arkanza terdengar serak dan berat, "tidak ada lagi tempat persembunyian. Hanya ada kita berdua melawan mereka."
Araya menatap tautan tangan mereka, lalu beralih menatap wajah Arkanza. Untuk pertama kalinya, tidak ada lagi tembok kecurigaan di antara mereka. Sang CEO kejam dan sang Hacker buronan kini resmi mengikat takdir yang sama.