"Dulu aku hanyalah pemuda biasa tanpa bakat, tanpa kekuatan, dan tanpa tujuan. Dunia terasa abu-abu sampai akhirnya aku bertemu dengannya—cahaya yang menerangi hidupku dan mengajarkanku arti cinta."
Namaku Li Yao. Aku tidak memiliki bakat kultivasi, namun cintaku padanya membuatku rela membelah langit dan bumi demi menjadi kuat. Bersamanya, aku merasakan kebahagiaan yang tak terlukiskan, hingga sebuah malam kelam mengubah segalanya.
Mata keparat merenggut nyawanya di hadapanku. Aku tak berdaya. Aku hanya bisa menangis melihat darahnya menetes. Saat napas terakhirnya berhembus, sebuah sumpah setan terucap:
"Aku akan membasmi mereka semua. Walau harus menjadi iblis, walau harus menyeberangi lautan darah, dendam ini akan kubayar lunas!"
Kini, dunia tidak lagi memiliki Li Yao yang lembut. Yang tersisa hanyalah Pendekar Berhati Es, seorang pembunuh dingin yang pedangnya selalu basah oleh darah musuh. Setiap tebasan adalah doa dendam, setiap nyawa yang melayang adalah persembahan unt
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ichsan Ramadhan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 2 Mimpi Memegang Pedang, Realita Hanya Bisa Memegang Cangkul
Matahari telah bergeser ke barat, memancarkan cahaya keemasan yang memantul di permukaan air sawah. Namun, keindahan alam itu sama sekali tidak bisa menghangatkan hati Li Yao. Sejak hasil ujian bakat diumumkan, dunia seakan berubah menjadi abu-abu. Kata-kata "Tidak punya akar roh" terus bergema di telinganya seperti kutukan abadi.
Kini, ia kembali ke rutinitas yang sama. Kakinya telanjang terbenam dalam lumpur yang dingin dan lengket. Tangannya yang kasar dan mulai timbul kapalan itu erat menggenggam gagang cangkul kayu.
Cek... cek... cek...
Suara besi cangkul membelah tanah terdengar berirama, namun setiap ayunan terasa begitu berat. Seolah-olah beban seluruh dunia berada di bahunya.
"Hei, Li Yao! Masih saja melamun?"
Sebuah batu kecil dilempar ke arahnya, mengenai punggung kaki. Li Yao menoleh dan melihat tiga pemuda desa yang lebih besar darinya sedang bersandar di pematang sawah sambil tertawa mengejek. Mereka adalah orang-orang yang juga gagal dalam ujian, namun tampaknya lebih bisa menerima nasib daripada Li Yao.
"Apa yang kau harapkan, hah?" seru pemuda yang tertinggi, bernama Da Wei. "Batu ujian sudah bicara. Kau itu sampah kultivasi! Mending lupakan saja mimpi gila itu dan fokus mencangkul seperti kita!"
Li Yao menghentikan gerakannya. Ia menyeka keringat yang menetes di dahi dengan punggung lengan bajunya yang kotor. Matanya menatap tajam, meski suaranya terdengar lemas.
"Aku hanya ingin menjadi kuat, Da Wei. Apa salahnya bermimpi?"
"Haha! Salahnya? Salahnya adalah kau membuang waktu!" sahut Da Wei sambil meludah ke samping. "Lihat tanganmu! Itu tangan petani, bukan tangan pendekar! Pendekar itu tangannya halus, memegang pedang yang berkilauan. Sedangkan tanganmu? Penuh tanah dan kotoran!"
Pemuda di sebelahnya menimpali, "Benar itu. Orang seperti kita lahir untuk menginjak lumpur, bukan menginjak awan. Pulanglah, rawat sawahmu, nanti besar kau menikah, punya anak, dan mati tua di sini. Itu nasib kita."
Kata-kata itu seperti pisau yang menikam jantung Li Yao. Ia menunduk, menatap cangkul di tangannya. Gagang kayunya sudah halus karena sering dipegang, terasa sangat akrab, namun juga sangat menyakitkan.
Ia membayangkan... andai saja benda ini adalah sebuah pedang. Sebuah pedang baja yang tajam, yang bisa membelah angin, yang bisa membuatnya terbang, yang bisa membuat orang lain menghormatinya.
'Pedang...' batinnya bergetar. 'Aku ingin sekali merasakan dingnya besi baja, merasakan beratnya senjata sejati, bukan beratnya kayu lusuh ini.'
"Li Yao..." suara lembut memanggil namanya dari jarak agak jauh.
Itu adalah Ibu Li Yao, seorang wanita paruh baya yang wajahnya penuh kerutan karena bekerja keras. Ia membawa sekeranjang makanan dan air minum. Tiga pemuda tadi langsung terdiam dan pamit undur diri dengan malas.
Li Yao segera berjalan ke tepi sawah dan duduk bersila di atas batang pisang yang kering. Ibunya menuangkan air ke dalam mangkuk bambu dan menyodorkannya.
"Minumlah, Nak. Jangan terlalu dipikirkan kata orang," kata ibunya lembut, matanya penuh kasih sayang namun juga terselip kesedihan.
Li Yao meneguk air itu dengan lahap. "Bu... apakah anak ibu sangat tidak berguna? Semua orang bilang aku tidak punya bakat. Bahkan batu pun menolak aku."
Ibunya mengelus rambut anaknya yang kusut dan berkeringat. "Siapa bilang tidak berguna? Lihatlah sawah ini. Berkat tanganmu, tanah ini bisa menumbuhkan padi yang melimpah. Bagi Ibu, tanganmu adalah tangan yang paling berharga di dunia."
"Tapi Bu..." Li Yao menahan air matanya. "Aku ingin memegang pedang. Aku ingin terbang seperti mereka. Aku tidak ingin seumur hidup hanya memegang cangkul."
Ibunya menghela napas panjang, menatap jauh ke arah gunung tempat sekte-sekte agung berada.
"Anakku, mimpi itu indah, tapi realita itu nyata. Cangkul di tanganmu bisa memberimu makan, bisa menghidupkan kita. Pedang di tangan orang lain mungkin terlihat gagah, tapi seringkali juga membawa darah dan air mata."
Wanita itu mengambil tangan kasar anaknya, lalu meletakkannya kembali di atas gagang cangkul.
"Jangan malu memegang cangkul. Yang memalukan itu jika punya tangan tapi tidak mau bekerja. Siapa tahu... Tuhan punya rencana lain untukmu. Mungkin jalanmu bukanlah jalan yang terang benderang di puncak gunung, tapi jalan yang tenang di sini, di tengah tanah air sendiri."
Li Yao menggenggam cangkul itu kembali. Kali ini rasanya berbeda. Ada rasa pasrah, namun juga ada rasa dendam pada takdir. Ia menatap bayangannya sendiri yang terpantul di genangan air sawah. Seorang pemuda desa, berpakaian compang-camping, bermegah menjadi dewa, namun nyatanya hanya bisa menjadi cacing tanah.
"Mungkin kalian benar..." bisik Li Yao pelan, lebih terdengar seperti memaksa dirinya untuk percaya. "Aku hanyalah pemuda desa. Cangkul ini adalah takdirku."
Namun, di sudut hatinya yang terdalam, api itu belum padam sepenuhnya. Setiap kali ia mengayunkan cangkulnya, ia membayangkan itu adalah tebasan pedang.
'Tunggu aku...' batinnya berjanji pada dirinya sendiri. 'Walau sekarang aku hanya memegang cangkul, suatu hari nanti... aku pasti akan memegang pedang yang bisa menembus langit!'
Malam mulai turun, menyelimuti desa dengan kesunyian. Li Yao masih bekerja, membiarkan rasa lelah dan sakit hati melupakan sejenak kenyataan bahwa ia adalah seorang yang tanpa bakat.