Balas dendam adalah hidangan paling nikmat, tapi juga yang paling memabukkan.
Lima tahun lalu, Zara dijual, dihina, dan diinjak harga dirinya oleh kerabat sendiri. Diselamatkan sekaligus ditempa oleh Garda, ia berubah menjadi Zevana Ardhani—wanita cerdas, berkuasa, dingin, dan mematikan yang hidupnya hanya punya satu tujuan: Balas Dendam.
Namun segalanya goyah saat Arka hadir. Pemuda tulus dan polos—anak musuh terbesarnya—mencintainya tanpa syarat, perlahan mencairkan hati beku yang ia bangun bertahun-tahun.
Di tengah pusaran kebencian yang memberi kepuasan sesaat layaknya efek dopamin… Zevana dihadapkan pada pilihan terberat yaitu antara terus memburu kehancuran, atau berani berhenti demi cinta yang menawarkan kesembuhan sejati?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Key Kastara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rasa yang Menyebalkan
Mendengar hal itu Arka mengangguk setuju mengingat dirinya juga menaruh benci pada para koruptor yang menjajah karyawannya sendiri itu. Ia tak tahu bahwa Zevana membenci mereka karena hal lain.
Klap!
Zevana menutup pintu mobil dengan sedikit keras, lalu Arka yang malam itu memang menjadi sopir baginya, dengan kikuk memasuki mobil di kursi depan. Ia beberapa kali mencuri pandang ke arah kaca depan untuk memastikan ekspresi Zevana, sebelum akhirnya membawa mobil dengan laju sedang meninggalkan lokasi gedung pesta penghargaan itu.
"Hah...." Zevana mendesah panjang beberapa kali, lalu menutup kedua netranya seolah ia baru saja pulang dari tempat yang begitu menyesakkan.
"Sialan. Makin dipikir makin menjengkelkan. Pokoknya, aku harus menemukan bukti yang terkait dengan kematian Ayah dan Bunda supaya bisa menghukum para biadab itu dengan harga yang layak," batinnya menerawang jauh.
Dadanya begitu sesak membayangkan masa kecilnya yang indah bersama keluarga harmonis harus tiba-tiba hancur lebur begitu saja oleh keserakahan paman dan bibinya sendiri.
"Tunggu. Tunggu aja kalian. Wajah kalian gak akan pernah lagi bisa tersenyum seperti itu setelah mendapat hukuman nanti," gumamnya tanpa sadar.
Diam-diam Arka melihat Zevana sedang menggumamkan sesuatu dengan ekspresi penuh beban dan mata terpejam.
Di perjalanan, Arka menepikan mobil tepat di depan sebuah market place.
"Tunggu sebentar ya Bu, saya beli dulu minum," ucap Arka sembari menoleh ke arah Zevana.
Tanpa menjawab dengan suara, Zevana hanya mengangguk dengan mata tertutup. Cukup lama Arka di dalam market, hingga Zevana pun mengintipnya dari balik kaca mobil. Terlihat dari jendela market, Arka sedang dilayani oleh seorang kasir perempuan yang tersenyum ramah sembari menawarkan segala benda diskon kepada pria tinggi berhidung mancung itu.
"Hah...." Tanpa sadar Zevana menggelengkan kepalanya lalu menghela nafas lemah.
Tak lama kemudian Arka kembali menuju mobil. "Maaf lama ya Bu, agak antri," ucap Arka sembari menyodorkan sekaleng minuman kopi dingin.
"Saya gak tahu selera Ibu kopi jenis apa, tapi menurut saya ini enak, dan less sugar," imbuh Arka malu-malu.
Zevana menyunggingkan senyum tipis lalu meraih minuman itu.
"Pak Arka tuh jangan terlalu ramah sama perempuan bisa gak? Orang-orang bisa salah faham loh," kekeh Zevana sembari membuka kaleng minuman kopi itu lalu menegaknya seolah ia memang kehausan sedari tadi.
"Saya ngga ramah kok," jawab Arka sembari memalingkan wajahnya, telinganya memerah saat melihat Zevana menyeka sudut bibirnya yang basah oleh kopi.
"Polos dan naif itu beda tipis. Kalo sikap Pak Arka transparan ke lawan jenis, bisa-bisa perempuan itu kegeeran dengan sikapmu itu. Saya kasih tahu ini sebagai atasan. Soalnya banyak karyawan kantor yang naksir Pak Arka kan? Jangan sampe karyawan saya yang lain terganggu karena hal itu," terang Zevana.
Mendengar penuturan Zevana sebagai atasannya, Arka mengangguk patuh lalu kembali memutar kemudi dan melajukan lagi mobil. Perjalanan terasa lama, entah mungkin karena Arka yang membawa mobil terlalu lamban, atau suasana yang tiba-tiba canggung. Namun ketika mereka tiba di depan gerbang rumah Zevana, Arka langsung turun dan membukakan pintu untuk Zevana.
"Se-sebentar Bu," gagap Arka sembari menahan Zevana yang hendak turun dari mobil.
Arka pun mengambil bag belanjaannya lalu bertekuk lutut di bawah Zevana.
"Permisi ya. Saya lihat kaki Ibu terluka. Sepertinya heelsnya baru ya. Seharusnya Ibu pakai bantalan khusus di belakang dan bawah pijakan kakinya," ucap Arka sembari membuka heels hitam Zevana lalu memakaikan plester luka di punggung kakinya.
Slup!
Sepasang sandal blus dipasangkan oleh Arka ke kaki mungil Zevana yang keduanya terluka oleh gesekan heels. Melihat tindakan Arka, Zevana memalingkan wajah.
"Anda ini benar-benar. Hah ... Padahal gak usah repot-repot. Toh di rumah juga heelsnya pasti dibuka," ucap Zevana sembari menaikkan poninya yang baru saja menutupi wajahnya saat menunduk.
"Ibu saya dulu juga suka pakai heels begini. Kalau dipaksakan itu bisa menebalkan kulit area yang sering terluka, dan katanya itu sakit sekali," ujar Arka yang lalu bangkit sembari menyodorkan tangannya menawarkan diri untuk memapah Zevana.
"Saya bisa sendiri. Gapapa," tolak Zevana sembari bangkit lalu menepis tawaran Arka.
"Maaf tapi jangan lakukan hal-hal konyol seperti ini lagi. Ini sangat mengganggu," tekan Zevana tanpa menoleh, lalu melengos pergi setelah menutup gerbang rumahnya agak kasar.
***
Zevana menatap langit-langit kamarnya yang seperti berputar tak karuan. Malam itu ia sulit tidur, berkali-kali ia duduk lalu berbaring lagi dan berguling-guling di ranjangnya tanpa bisa memejamkan matanya sama sekali.
Semua kejadian hari itu membuatnya merasa penuh hingga isi kepalanya hampir meluap.
Pikirannya begitu sibuk oleh rencana menjatuhkan Reno, Hardi, dan Susi, lalu oleh ingatan kepergian Ayah Bundanya yang menjadi alasan dendam terberatnya, hingga oleh perasaan remehnya terhadap Arka yang sulit dijelaskan.
"Menyebalkan sekali, dia lebih menyebalkan dibanding Bani," monolognya pada akhirnya.