NovelToon NovelToon
Janji Yang Terkubur

Janji Yang Terkubur

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir / Cintapertama / Tamat
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Bang Jun

Deskripsi Novel: Janji yang Terkubur

Lira Anindita terpaksa kembali ke rumah masa kecilnya yang penuh kenangan pahit, setelah menerima kabar ayahnya terbaring sakit keras. Lima tahun lalu, ia pergi dengan hati hancur—di hari yang sama ibunya meninggal secara mendadak, Lira menemukan kenyataan bahwa seluruh kehidupan keluarganya hanyalah tumpukan kebohongan. Ia diusir, dipisahkan dari orang yang paling ia cintai, dan dipaksa hidup sendirian menanggung rasa sakit serta fitnah yang menghancurkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 27: Di Tengah Arus dan Kabut

Hujan deras belum mau reda, langit masih gelap pekat seolah menolak menyingsingkan pagi. Perahu kayu kecil yang ditumpangi Lira terus dihantam arus sungai yang liar, berputar-putar terbawa air keruh yang penuh lumpur dan ranting pohon. Tubuhnya kaku kedinginan, baju basah menempel di kulit, giginya bergemeletuk tak terkendali.

Di dadanya, rasa sakit dan rasa takut bercampur menjadi satu. Bayangan rumah yang terbakar, suara teriakan Pak Harun, dan wajah orang-orang berpakaian hitam itu terus berputar di kepalanya, membuatnya sesak napas. Ia menangis dalam diam, air matanya bercampur dengan air hujan yang terus membasahi wajahnya.

Raga… Di mana kamu? Aku takut sekali… ratapnya dalam hati, satu-satunya nama yang menjadi pegangan jiwanya di tengah ketakutan yang mencekam itu.

Ia tidak tahu ke mana arus membawanya, tidak tahu apakah ia akan selamat sampai ke tempat aman, atau justru akan terbawa ke jeram yang dalam, atau bahkan bertemu lagi dengan orang-orang jahat itu. Ia hanya bisa memegang erat sisi perahu, berdoa sekuat hati agar Tuhan melindunginya, dan memberinya kesempatan untuk bertemu kembali dengan Raga.

Sekitar dua jam hanyut terbawa arus, hujan perlahan mereda, digantikan oleh kabut tebal yang turun menutupi seluruh lembah sungai. Pandangan menjadi kabur, jarak pandang hanya tinggal beberapa meter saja. Di tengah kabut itu, tiba-tiba perahu Lira tersangkut keras di tumpukan batu besar di tepi sungai, berguncang hebat sebelum akhirnya berhenti bergerak.

Lira terlempar jatuh ke atas batu licin, tangannya tergores dan berdarah, tapi ia tidak peduli. Ia segera bangkit, melihat sekeliling. Di sana, di balik kabut tipis, terlihat jalan setapak kecil yang menanjak naik ke atas bukit, dan di kejauhan samar-samar terlihat atap rumah beratap rumbia.

Dengan langkah tertatih-tatih, kaki lemas dan tubuh menggigil, Lira berjalan menuju ke arah rumah itu. Harapan kecil tumbuh di hatinya—semoga di sana ada orang baik, semoga ia bisa mendapatkan perlindungan, setidaknya untuk sekadar menghangatkan tubuh dan istirahat sejenak.

Rumah itu ternyata milik seorang nenek tua yang tinggal sendirian, jauh dari pemukiman, di pinggir hutan. Begitu melihat Lira yang pucat, basah kuyup, dan penuh goresan luka, nenek itu kaget, lalu segera menyambutnya dengan kebaikan hati yang tulus.

“Ya Tuhan… Nak, kamu dari mana? Kenapa dalam keadaan begini?” tanya nenek itu cemas, segera menarik tangan Lira masuk ke dalam rumah yang hangat dan berbau kayu kering.

“Nenek… Tolong aku… Ada orang jahat mengejarku…” bisik Lira lemah, lalu akhirnya tubuhnya lemas sepenuhnya dan jatuh pingsan di lantai ruang tengah.

Saat Lira terbaring tidak sadarkan diri di sana, Raga sedang melaju kencang menyusuri tepian sungai dengan rombongan orang-orang setianya. Wajahnya kacau, mata merah karena tidak tidur, penuh amarah dan kekhawatiran yang meluap-luap. Ia berhenti di setiap tikungan, memeriksa setiap jejak, bertanya pada setiap penduduk desa yang ia temui, mencari tanda-tanda keberadaan istrinya.

“Cari sampai ketemu! Jangan tinggalkan satu sudut pun yang tidak diperiksa! Dia pasti ada di sekitar sini!” perintah Raga dengan suara keras dan gemetar pada anak buahnya.

Setiap kali melihat tumpukan batu, atau sisa benda yang terbawa arus, jantungnya selalu berdegup kencang ketakutan, takut itu adalah milik Lira, atau lebih buruk lagi… tanda bahwa hal terburuk sudah terjadi. Rasa bersalah terus menghantam hatinya, berkali-kali menyalahkan dirinya sendiri.

Semua ini salahku… Aku yang membawanya ke sana… Aku yang membuat Pak Harun mati… Aku yang tidak bisa melindunginya…

Sementara itu, orang-orang utusan Pak Surya juga belum berhenti. Mereka menyebar ke sepanjang aliran sungai, bertanya dengan wajah mengancam, bahkan memberi uang banyak pada penduduk desa untuk mendapatkan kabar. Mereka juga tahu, selama Lira belum tertangkap, rencana mereka belum selesai, dan bahaya bagi organisasi mereka masih ada.

Siang itu, saat Lira perlahan sadar dari pingsannya, tubuhnya sudah dibersihkan, lukanya sudah diobati, dan ia sudah mengenakan baju kering milik nenek itu. Di dekatnya ada perapian kayu yang membuat tubuhnya perlahan mulai hangat kembali.

“Kamu sudah sadar, Nak?” sapa nenek itu lembut, lalu menyodorkan semangkuk sup hangat. “Minumlah ini, biar tenaga kamu kembali. Kamu pingsan cukup lama, lho.”

“Terima kasih, Nenek… Terima kasih sudah menolongku,” ucap Lira lemah, air mata kembali menggenang di matanya, kali ini karena rasa haru bertemu kebaikan di tengah penderitaannya.

“Sudah, jangan menangis. Di sini kamu aman dulu. Tidak ada orang jahat yang sampai ke tempat terpencil ini. Tapi…” Nenek itu berhenti bicara, wajahnya tampak ragu.

“Tapi apa, Nek?”

“Tadi pagi, ada sekelompok orang kasar lewat di sini. Mereka bertanya tentang seorang wanita muda, dan memberi gambar wajahmu. Mereka bilang kamu orang buronan, dan siapa pun yang menemukan harus menyerahkan kamu pada mereka.”

Jantung Lira berdegup kencang ketakutan. Mereka sudah sampai sejauh ini. Mereka benar-benar tidak akan berhenti sampai mendapatkannya.

“Nenek… Aku bukan penjahat. Mereka orang jahat, mereka yang mau menyakiti aku dan suamiku,” kata Lira cepat, takut nenek itu akan menyerahkannya.

Nenek itu tersenyum lembut, lalu menggeleng pelan.

“Aku tahu, Nak. Aku sudah tua, sudah sering melihat watak orang. Mata mereka tajam dan dingin, penuh kejahatan. Mata kamu mata orang baik, mata orang yang sedang menderita. Aku tidak akan menyerahkanmu. Tapi kamu tidak boleh lama di sini. Mereka pasti akan kembali lagi. Kamu harus pergi, sebelum mereka tahu kamu ada di sini.”

Lira mengangguk paham, rasa terima kasihnya luar biasa besar pada nenek tua yang baik hati itu.

“Terima kasih, Nenek. Aku tidak akan melupakan kebaikan ini. Tapi aku tidak tahu harus pergi ke mana.”

Nenek itu berpikir sejenak, lalu berkata:

“Ada jalan setapak di belakang rumah ini, menanjak naik ke atas bukit. Kalau kamu ikuti jalan itu sampai ujung, nanti kamu akan sampai ke desa besar di seberang pegunungan. Di sana ramai, banyak orang, dan kamu bisa mencari bantuan, atau menumpang kendaraan ke kota besar. Itu satu-satunya jalan aman untukmu sekarang.”

Sore itu, saat matahari mulai condong ke barat, Lira berpamitan pergi. Nenek itu memberinya bekal makanan, sebilah pisau kecil untuk pertahanan diri, dan menunjuk arah jalan yang harus diambil.

“Hati-hati di jalan, Nak. Semoga Tuhan melindungimu, dan semoga kamu segera bertemu dengan orang yang kamu cintai,” ucap nenek itu sambil mengusap kepala Lira dengan kasih sayang, seolah mengusap kepada cucunya sendiri.

Lira memeluk nenek itu erat, mencium tangannya dengan penuh hormat, lalu berjalan menyusuri jalan setapak itu sendirian, menembus hutan yang mulai gelap.

Jalan itu terjal, berbatu, dan penuh semak belukar. Lira berjalan dengan sisa tenaga yang ada, kaki terluka, badan lelah, tapi semangatnya tidak pernah padam. Setiap langkah yang ia ambil, ia ingat kata-kata Raga, ingat janji mereka, ingat bahwa di ujung perjalanan ini ada orang yang sedang mati-matian mencarinya.

Saat hari sudah gelap, Raga dan rombongannya sampai ke dekat rumah nenek itu. Sebelum masuk, Raga melihat jejak kaki sepatu wanita kecil di tanah basah, jejak yang seolah dikenalnya sangat baik. Jantungnya berdegup kencang, harapan yang selama ini hampir padam kembali menyala terang.

Ia segera mengetuk pintu rumah nenek itu. Begitu keluar, nenek itu menatap Raga lama-lama, lalu tersenyum tipis.

“Kamu… Kamu pasti suami wanita muda yang kemarin datang ke sini, kan?”

Mata Raga langsung berkaca-kaca, napasnya tercekat.

“Iya, Nek! Aku suaminya! Di mana dia? Apakah dia selamat? Tolong katakan padaku!” seru Raga tidak sabar.

“Dia selamat. Dia baru saja pergi beberapa jam yang lalu, lewat jalan atas bukit itu. Dia mencari jalan ke desa seberang sana. Dia orang baik, Nak. Jaga dia baik-baik,” kata nenek itu lembut.

Raga langsung jatuh berlutut di depan nenek itu, mencium tangannya dengan rasa terima kasih yang tidak terhingga.

“Terima kasih, Nek… Terima kasih sudah menyelamatkan nyawa istriku. Aku tidak akan pernah melupakan kebaikan Nenek ini seumur hidupku.”

Tanpa membuang waktu sedetik pun, Raga segera bangkit dan memberi perintah pada anak buahnya.

“Cepat! Kita naik ke atas bukit! Kita kejar dia sekarang juga! Dia tidak jauh dari sini! Kita akan ketemu dia malam ini juga!”

Raga berlari paling depan, menembus kegelapan malam, hatinya penuh rasa lega, bahagia, dan rasa rindu yang meledak-ledak. Akhirnya, setelah rasa sakit dan ketakutan yang begitu panjang, ia tahu Lira masih selamat, dan jarak di antara mereka semakin dekat, semakin dekat…

Namun di kejauhan, di jalur yang sama, sekelompok orang berpakaian hitam itu juga sudah mendengar kabar, dan sedang melaju kencang naik ke bukit, berniat mencegat Lira sebelum Raga sempat menemukannya.

Pertemuan yang ditunggu-tunggu itu, hampir saja terjadi… tapi di ambang jalan, bahaya besar kembali menanti mereka.

 

Bersambung ke Episode 28

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!