Tujuh belas tahun hidup sederhana, Haena mendadak mendapati dirinya adalah putri kandung yang tertukar dari Keluarga Dirgantara, dinasti konglomerat terkaya. Namun, kepulangannya ke istana megah itu justru disambut dingin oleh sang ibu, Nyonya Rosalind, serta intrik busuk dari Vanya, anak angkat yang takut posisinya tergusur.
Bukannya tumbang oleh intimidasi dunia elite, gadis jenius bermental baja ini justru menarik perhatian Kaelen Arkananta, pewaris tunggal yang terkenal dingin dan tak tersentuh. Bersama Kaelen, Haena tidak hanya menemukan cinta sejati, tetapi juga mulai membongkar konspirasi gelap masa lalu yang sengaja membuangnya saat bayi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Haena_Llulia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14 Konspirasi Hukum di Ibu Kota
Deru baling-baling dari dua helikopter siluman Arkananta Group yang dipimpin oleh Gavin perlahan menjauh membawa Tuan Agharna, Vanya, beserta sisa-sisa tentara bayaran internasional mereka dalam kondisi terikat borgol taktis tak berdaya. Lautan Selat yang semula mencekam akibat badai elektromagnetik kini kembali tenang di bawah pendaran sinar bulan. Namun, di dalam ruang kemudi utama kapal logistik Dirgantara Corp, ketegangan baru justru mendadak merayap naik, jauh lebih dingin dan tak kasatmata dibandingkan moncong senjata penyerang.
Pak Baskara berdiri dengan wajah pucat pasi di samping meja konsol utama. Gawai satelit di genggamannya masih tersambung dengan saluran internasional privat milik Tuan Bramasta yang berada di Jenewa, Swiss. Suara penguasa lama Dirgantara Corp itu terdengar bergetar hebat menembus pengeras suara, dipenuhi kombinasi antara amarah, kepanikan, dan rasa bersalah yang amat dalam.
"Haena... Papa baru saja menerima pemberitahuan resmi dari Pengadilan Negeri Jakarta Pusat," suara Tuan Bramasta terdengar parau.
"Faksi hukum rahasia yang masih setia pada Nyonya Rosalind di ibu kota telah meluncurkan serangan balik. Mereka memanfaatkan absennya Papa dari tanah air untuk mengajukan gugatan pembatalan keabsahan hak waris lima puluh satu persen saham yang kamu tandatangani kemarin!"
Haena tetap berdiri tenang di posisinya. Kemeja sutra putih murninya yang sedikit bernoda oli tidak mengurangi sedikit pun keanggunan dan aura kepemimpinannya yang mutlak. Dari balik kacamata dengan bingkai transparan yang dikenakannya, sepasang mata jernihnya menyipit tajam. Jari telunjuk tangan kirinya mulai mengetuk pelan tahi lalat kecil di bawah dagunya dengan ritme yang teratur sebuah gestur refleks yang menandakan sirkuit otaknya yang jenius sedang melakukan komputasi taktis berskala makro.
"Atas dasar hukum apa mereka bisa menggugat dokumen yang sudah disahkan oleh kementerian dan disaksikan oleh seluruh dewan komisaris, Papa?" tanya Haena, suaranya terdengar sangat jernih, dingin, dan stabil tanpa ada setitik pun riak kepanikan.
Tuan Bramasta mengembuskan napas berat di seberang telepon.
"Mereka menyerang titik terlemah kita, Haena. Mereka memalsukan rekam medis Ibu Aminah dari rumah sakit jiwa swasta yang terafiliasi dengan jaringan lama Nyonya Rosalind. Dokumen itu menyatakan bahwa Ibu Aminah telah menderita gangguan jiwa kronis sejak sepuluh tahun lalu, yang berarti seluruh kesaksian dan dokumen adopsi legal yang dia serahkan untuk membuktikan identitasmu sebagai putri kandungku dianggap cacat hukum oleh pengadilan!"
Deg.
Mendengar nama wanita tua yang telah merawatnya dengan peluh dan air mata di kedai soto itu dilecehkan secara hukum, sorot mata Haena seketika mendingin hingga mencapai titik beku. Aura pembunuh yang pekat mendadak memancar dari tubuhnya, membuat atmosfer di dalam ruang kemudi terasa begitu mencekam.
"Tidak hanya itu," sambung Pak Baskara dengan suara rendah sembari menunjukkan layar tablet digitalnya kepada Haena.
"Nyonya Rosalind, melalui tim pengacara bayarannya, telah menyebarkan dokumen palsu ini ke seluruh jaringan media massa dan otoritas bursa efek. Pagi ini di Jakarta, sentimen publik mulai berbalik. Mereka menuduh Anda memanfaatkan seorang wanita tua yang sakit jiwa untuk merebut takhta Dirgantara Corp. Saham perusahaan kita di lantai bursa baru saja anjlok delapan persen dalam waktu satu jam sejak pasar dibuka."
Kaelen Arkananta yang sejak tadi menyimak pembicaraan dengan tangan bersilang di dada langsung melangkah maju. Sepasang mata elangnya berkilat penuh murka yang teramat masif. Pemuda penguasa sekolah yang juga pewaris tunggal Arkananta Group itu meletakkan gelas minumannya dengan hentakan keras di atas meja marmer.
"Nyonya Rosalind benar-benar bosan hidup," desis Kaelen, suara baritonnya yang berat terdengar sangat berbahaya dan sedingin es. Dia menatap lekat-lekat ke arah Haena, melangkah mendekat hingga jarak di antara mereka kian mengikis.
"Haena, aku bisa memerintahkan tim siber Clarissa untuk meretas seluruh server rumah sakit jiwa swasta itu dalam waktu lima belas menit dan menghapus data palsu mereka dari pusat data nasional. Aku juga bisa mengerahkan pengaruh Arkananta Group untuk membekukan pergerakan seluruh pengacara Nyonya Rosalind sebelum mereka sempat menginjakkan kaki di ruang sidang."
Haena mendongak, menatap langsung ke dalam manik mata elang Kaelen. Di tengah badai konspirasi yang mampu menghancurkan mental siapa saja, mental baja sang pewaris sejati justru kian mengeras bagaikan berlian. Dia membetulkan letak kacamata transparannya dengan gerakan yang sangat elegan.
"Jangan lakukan itu, Kaelen," potong Haena dengan nada tegas namun tenang.
"Jika kita menghapus data itu secara ilegal menggunakan peretasan siber, faksi Nyonya Rosalind akan menggunakan narasi bahwa kita sedang mencoba menyembunyikan kebenaran menggunakan kekuasaan Arkananta. Itu justru akan memperburuk sentimen publik di bursa efek."
Kaelen menyipitkan matanya, mencoba membaca rencana di balik ketenangan misterius gadis di hadapannya.
"Lalu, apa rencana komputasi taktis yang ada di dalam otak jeniusmu sekarang, Tuan Putri?"
Haena menarik sudut bibirnya tipis, membentuk seulas senyuman sinis yang teramat menawan namun mematikan.
"Nyonya Rosalind mengira dia telah menyusun bidak skakmat yang sempurna dengan menyerang kondisi kesehatan Ibu Aminah. Dia lupa bahwa aku adalah seorang mahasiswi hukum yang menghabiskan seluruh malamku untuk mempelajari setiap celah regulasi domestik dan hukum kedokteran forensik. Kita tidak akan menghindar dari gugatan ini, Pak Baskara. Katakan pada pengadilan Jakarta bahwa kita menerima tantangan sidang darurat mereka besok pagi."
Haena berbalik menatap Clarissa yang sudah menyelesaikan pemulihan sistem satelit kapal.
"Clarissa, hubungi Gavin yang sedang membawa Vanya dan Tuan Agharna di helikopter. Katakan padanya untuk tidak menjebloskan mereka ke penjara militer terlebih dahulu. Bawa mereka berdua langsung ke markas rahasia kita di Jakarta. Mereka adalah saksi kunci yang akan kuhadirkan di ruang sidang untuk menghancurkan Nyonya Rosalind secara publik."
"Baik, Nona Haena!" jawab Clarissa dengan nada patuh yang teramat dalam, jemarinya langsung bergerak cepat mengeksekusi perintah terenkripsi tersebut.
Keesokan paginya, suasana di depan Gedung Pengadilan Negeri Jakarta Pusat tampak sangat kacau dan padat. Ratusan wartawan dari berbagai media massa nasional dan internasional telah berkumpul membentuk barikade manusia dengan kamera dan mikrofon yang siap membidik siapa saja yang melangkah masuk. Kasus gugatan pembatalan hak waris Dirgantara Corp telah menjadi tajuk utama di seluruh penjuru negeri.
Sebuah mobil sedan mewah antipeluru berwarna hitam pekat membelah kerumunan jurnalis dan berhenti tepat di depan tangga utama gedung pengadilan.
Pintu mobil terbuka.
Haena melangkah keluar dengan keanggunan mutlak yang sanggup membungkam kebisingan di sekitarnya seketika. Dia mengenakan setelan blazer formal desainer berwarna hitam pekat yang dipadukan dengan kemeja sutra putih murni, memperlihatkan siluet tubuhnya yang tinggi dengan hourglass figure yang sangat berkelas. Riasan wajahnya yang mengadopsi tren Douyin glass skin membuat kulitnya tampak berkilau sehat di bawah jepretan lampu kilat kamera, sementara tahi lalat kecil di bawah dagunya memberikan kesan ketegasan seorang diktator muda yang tak terbantahkan.
Di samping kirinya, Kaelen Arkananta berjalan mendampingi dengan aura dominan yang begitu kuat, bertindak sebagai pelindung sekaligus sekutu bayangan yang paling setia. Di belakang mereka, Pak Baskara berjalan dengan tegap sembari membawa tas kerja kulit berisi tumpukan dokumen rahasia yang akan menjadi senjata pemungkas mereka.
"Nona Haena! Apakah benar Ibu Aminah mengalami gangguan jiwa kronis?!" teriakan salah seorang wartawan menggema dari barisan depan.
"Bagaimana tanggapan Anda mengenai tuduhan manipulasi hak waris?!"
Haena tidak menghentikan langkah kakinya sedikit pun. Dia terus berjalan menaiki anak tangga dengan pandangan mata yang lurus ke depan, dingin, dan tak tersentuh oleh segala provokasi murah media.
Di dalam ruang sidang utama yang megah dan ber-AC dingin, Nyonya Rosalind sudah duduk di kursi penggugat bersama jajaran pengacara senior terbaik berpakaian mahal yang disewanya menggunakan sisa dana pasar gelap. Ketika melihat kehadiran Haena, Nyonya Rosalind langsung menegakkan punggungnya, wajahnya yang penuh riasan tebal memancarkan senyuman kemenangan yang sangat sinis dan penuh kemenangan semu.
"Kamu datang juga, jalang kecil," desis Nyonya Rosalind dengan suara rendah saat Haena berjalan melewati mejanya menuju kursi tergugat.
"Nikmati sisa-sisa menit terakhirmu sebagai direktur utama, karena setelah hakim membaca rekam medis wanita tua bangka itu... kamu akan kembali merangkak ke selokan tempatmu berasal!"
Haena duduk di kursinya dengan sangat tenang, membetulkan letak kacamata transparannya sebelum menatap langsung ke arah Nyonya Rosalind dengan pandangan yang penuh rasa jijik dan dingin.
"Nyonya Rosalind, nikmatilah senyumanmu selagi kamu masih bisa menggerakkan otot wajahmu, karena setelah sidang ini usai... pintu penjara wanita sektor selatan sudah menunggumu."
TOK! TOK! TOK!
Hakim ketua mengetuk palu sidang dengan keras, menandakan persidangan darurat resmi dibuka.
"Pihak penggugat, silakan sampaikan argumen dan bukti utama Anda terkait tuntutan pembatalan keabsahan dokumen hak waris saudari Haena Dirgantara," perintah hakim ketua dengan nada berwibawa.
Pengacara utama Nyonya Rosalind langsung berdiri dengan penuh percaya diri, meletakkan sebuah berkas tebal berlogo rumah sakit jiwa swasta di atas meja hakim.
"Yang Mulia, kami memiliki bukti rekam medis otentik yang ditandatangani oleh tiga dokter spesialis kejiwaan utama. Dokumen ini membuktikan secara mutlak bahwa Ibu Aminah, wanita yang mengadopsi dan menyerahkan bukti identitas saudari Haena, telah didiagnosis menderita skizofrenia kronis dan distorsi memori sejak sepuluh tahun lalu. Berdasarkan Pasal 1330 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, seseorang yang berada di bawah pengampuan karena gangguan jiwa tidak memiliki kecakapan hukum untuk melakukan tindakan hukum apa pun. Oleh karena itu, seluruh dokumen adopsi dan kesaksian pertalian darah yang dia berikan kepada Tuan Bramasta adalah cacat hukum dan harus dibatalkan demi hukum!"
Bisik-bisik langsung bergemuruh di bangku penonton sidang. Para wartawan di barisan belakang mulai mengetik berita dengan cepat di gawai mereka, mengira bahwa posisi Haena telah benar-benar terpojok di ujung tanduk.
Nyonya Rosalind hampir saja tertawa terbahak-bahak melihat situasi tersebut.
Namun, Haena tetap duduk dengan posisi tegak yang sangat anggun. Jari telunjuknya mengetuk pelan tahi lalat di bawah dagunya untuk terakhir kali sebelum dia berdiri dari kursinya. Dari balik kacamata transparannya, sorot mata jeniusnya memancarkan kilatan kalkulasi hukum yang mematikan.
"Yang Mulia Hakim yang terhormat," suara Haena yang jernih, tegas, dan sarat akan otoritas mutlak bergema di seluruh ruang sidang, seketika membungkam seluruh kegaduhan yang ada.
"Saya tidak akan membantah dokumen rekam medis yang diajukan oleh pihak penggugat. Karena bagi saya, dokumen itu memang sangat otentik... otentik sebagai sebuah bukti kejahatan pemalsuan data medis dan konspirasi korporat berskala internasional."
Haena menoleh ke arah Pak Baskara, memberi isyarat kecil yang sangat halus.
"Pak Baskara, tolong hadirkan saksi kunci pertama kita ke dalam ruang sidang."
Pintu besar ruang sidang terbuka perlahan. Dua petugas keamanan pengadilan melangkah masuk, mengawal dua sosok yang mengenakan pakaian tahanan oranye dengan kepala tertunduk dalam-dalam karena malu dan takut yang teramat sangat.
Begitu melihat kedua sosok tersebut, senyuman kemenangan di wajah Nyonya Rosalind seketika runtuh total, digantikan oleh ekspresi ketakutan yang luar biasa masif hingga wajahnya pucat pasi bagaikan mayat.
Kedua saksi itu adalah Vanya dan Tuan Agharna.
(Cliffhanger)
"Saat Vanya dan Tuan Agharna berjalan menuju kursi saksi di bawah kawalan ketat Gavin, pintu belakang ruang sidang mendadak terbuka kembali untuk kedua kalinya. Clarissa melangkah masuk sembari mendorong sebuah kursi roda medis modern yang membawa Ibu Aminah dalam kondisi sadar sepenuhnya, didampingi oleh Kepala Ikatan Dokter Forensik Nasional yang membawa hasil pemindaian otak digital terbaru yang siap membongkar siapa dalang sebenarnya di balik pembuatan rekam medis palsu tersebut dalam hitungan detik."