Di Oakhaven, cinta adalah racun paling murni, dan aku baru saja meminumnya hingga tetes terakhir."
Dulu, aku adalah mesin pembunuh bagi pemerintah. Kini, aku adalah Marie Vance—seorang putri bangsawan yang dibuang untuk dijadikan boneka. Di kota yang selalu menangis di bawah hujan neon ini, aku terikat kontrak darah dengan Julius Vance, monster yang menguasai aliran Nectar di jantung kota. Dia menginginkan kemampuanku untuk mengungkap konspirasi, sementara aku menginginkan kepala setiap orang yang menghancurkan hidupku. Namun, di antara ranjang yang dingin dan pengkhianatan yang mematikan, aku menyadari satu hal: kami berdua adalah predator yang saling memangsa, hingga tak ada lagi yang tersisa kecuali dendam yang manis... dan cawan hitam yang siap menampung darah kami.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Neef, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cermin Retak di Ruang Antara
*"Kau pikir dengan memecahkan cermin-cermin ini, kau bisa menghapus dosa yang sudah terukir di jiwamu, Julius? Kau hanya akan membagi satu dosa menjadi seribu kepingan yang siap mengiris hatimu sampai tak bersisa."*
Suaraku menggema di ruang hampa yang tak bertepi. Cermin-cermin raksasa yang melayang di sekeliling kami memantulkan ribuan versi diriku dan Julius. Di satu cermin, aku melihat diriku sebagai Marie Vance yang berlumuran darah di malam pernikahan yang dipaksakan. Di cermin lain, aku melihat Julius sedang mencekik ayahku demi mendapatkan kunci rahasia Oakhaven. Refleksi itu bukan sekadar bayangan; mereka hidup, mereka bergerak, dan mereka menertawakan ketidakberdayaan kami.
Julius berdiri di sampingku, napasnya berat. Dia memegang pergelangan tangannya sendiri, mencoba menahan emosi yang meluap. *"Diamlah, Marie. Jangan dengarkan bisikan dari kaca-kaca terkutuk ini. Mereka hanya ingin memecah fokus kita."*
Entitas berjubah perak itu masih berdiri di sana, di kejauhan yang tak terukur. Dia tidak menyerang; dia hanya mengamati, seperti seorang kolektor yang sedang menanti spesimennya membusuk. *"Kalian berdua adalah anomali yang paling menarik,"* suaranya merambat di sepanjang dinding ruang hampa ini. *"Dua jiwa yang saling mencintai sekaligus saling membenci melintasi ribuan tahun hanya untuk berakhir di sini, di ruang di mana tidak ada masa depan, hanya ada masa lalu yang berulang."*
*"Siapa kau sebenarnya?!"* teriakku, mengarahkan tangan ke arahnya. Sihir murni di dunia ini sangat tipis, sulit digenggam, namun aku memaksanya keluar dari pori-pori jiwaku.
*"Aku adalah Akuntan Takdir,"* jawab entitas itu tenang. *"Aku memastikan bahwa setiap tindakan memiliki konsekuensi. Marie Vance, kau telah melanggar aturan alam semesta dengan memutus siklus. Julius, kau telah menentang kodratmu sebagai pengabdi kegelapan. Dan sekarang, kalian harus membayarnya."*
Tiba-tiba, cermin-cermin di sekitar kami mulai retak. Bukan retak biasa, melainkan pecah menjadi serpihan cahaya yang terbang ke arah kami, tajam seperti pisau belati. Julius dengan cepat menarikku ke belakang tubuhnya, menciptakan perisai dari sisa-sisa energi bayangan yang dia miliki.
*TING! TING! TING!*
Suara pecahan kaca yang menghantam perisainya terdengar seperti musik kematian. Setiap benturan membuat perisai Julius semakin melemah. Dia batuk darah, dan aku bisa melihat kulitnya mulai memucat.
*"Julius, hentikan! Jangan gunakan energi itu, kau akan mati!"*
*"Jika aku harus mati di sini agar kau bisa melihat jalan keluar, maka biarlah,"* jawabnya dingin, namun tangannya yang mencengkeram bahuku bergetar hebat. *"Aku sudah lelah, Marie. Aku lelah berlari. Tapi aku tidak akan membiarkanmu menjadi korban dari entitas gila ini."*
*"Tidak ada yang perlu menjadi korban!"* aku melepaskan pegangannya. Aku melangkah maju, keluar dari balik perisai Julius. Aku tidak takut pada cermin-cermin itu lagi. Jika ini adalah ruang antara, jika ini adalah tempat di mana masa lalu berkuasa, maka aku harus menggunakan masa lalu itu sebagai senjata.
Aku menatap cermin yang paling besar—cermin di mana aku melihat Marie Vance sedang memegang cawan sihir yang retak. Aku menatap diriku sendiri di dalam cermin itu, menatap mata Marie yang penuh kesedihan.
*"Kau menderita karena kau patuh,"* bisikku pada bayanganku sendiri. *"Kau menderita karena kau mengira kau tidak punya pilihan selain tunduk pada kontrak yang mereka buat untukmu."*
Aku mengangkat tanganku dan menyentuh permukaan kaca cermin itu. Alih-alih memecahkannya, tanganku justru menembusnya, masuk ke dalam dunia bayangan itu. Aku bisa merasakan dinginnya cawan sihir di dalam cermin tersebut. Aku menariknya keluar.
Julius terbelalak. *"Marie, apa yang kau lakukan?!"*
*"Aku mengambil kembali apa yang memang milikku,"* kataku tegas.
Cawan sihir itu, yang kini berwujud energi murni yang padat, berdenyut di tanganku. Itu adalah sumber kekuatan Marie Vance—bukan kontraknya, melainkan *kehendaknya*. Dengan cawan ini, aku tidak lagi membutuhkan sihir dari dunia ini. Aku memiliki cadangan energi yang telah tertanam di jiwaku sejak pertama kali aku terbangun di dunia ini.
Entitas berjubah perak itu untuk pertama kalinya tampak gelisah. *"Itu tidak mungkin. Tidak ada yang bisa membawa energi dari satu siklus ke siklus berikutnya!"*
*"Kau salah,"* kataku sambil mengarahkan cawan itu ke arah entitas tersebut. *"Kau menganggap kami adalah pion yang bisa kau atur. Tapi kau lupa bahwa pion, jika sampai di ujung papan, bisa menjadi apa pun yang dia inginkan."*
Aku melepaskan gelombang energi dari cawan itu. Bukan ledakan, melainkan gelombang kebenaran. Ruang hampa ini mulai berguncang. Cermin-cermin yang memantulkan dosa-dosa kami mulai retak karena mereka tidak bisa menahan intensitas kebenaran yang kulepaskan. Bayangan-bayangan di dalam cermin itu menghilang, digantikan oleh pemandangan yang seharusnya ada di dunia nyata—dunia sihir murni yang luas dan tak terjamah.
Entitas berjubah perak itu mencoba untuk menutup celah, namun serpihan-serpihan kaca yang tadinya hendak membunuh kami, kini berbalik arah. Mereka menyerang sang Akuntan Takdir, merobek jubah peraknya dan memperlihatkan bentuk aslinya—sebuah lubang hitam yang tak berbentuk.
*"Kalian akan menyesal!"* jerit entitas itu sebelum dia tersedot ke dalam lubang hitamnya sendiri. *"Keseimbangan tidak akan membiarkan kalian tenang! Setiap dunia yang kalian injak akan menjadi saksi atas pelanggaran ini!"*
Ruang antara dimensi itu runtuh. Kami jatuh ke dalam jurang cahaya yang menyilaukan. Aku menggenggam tangan Julius erat-erat, takut bahwa jika aku melepaskannya, dia akan tersesat di dalam kehampaan yang tak berujung.
*"Jangan lepaskan,"* bisikku.
*"Tidak akan pernah,"* jawabnya.
Saat cahaya itu memudar, kami tidak jatuh ke tanah. Kami mendarat di atas hamparan air yang tenang, seperti cermin yang memantulkan langit yang penuh dengan bintang-bintang sihir. Kita berada di 'Dunia Antara' yang sesungguhnya—sebuah tempat di mana sihir murni belum tersentuh oleh tangan siapapun.
Namun, kedamaian itu hanya bertahan sedetik. Di cakrawala, aku melihat sesuatu yang membuat bulu kudukku berdiri. Bukan menara, bukan kota, melainkan ribuan kapal terbang yang terbuat dari logam murni, bergerak dengan kecepatan yang mustahil. Mereka menuju ke arah wilayah sihir murni yang kami tempati sekarang.
*"Siapa mereka?"* bisik Julius, berdiri di sampingku di atas permukaan air.
*"Bukan Dewan Langit. Bukan Penjaga Keseimbangan,"* kataku, menyadari sesuatu yang sangat mengerikan. *"Mereka adalah penghuni asli dunia ini. Dan sepertinya... mereka menganggap kehadiran kita di sini sebagai ancaman."*
Salah satu kapal utama itu menembakkan suar cahaya ke arah kami. Suar itu bukan serangan, melainkan tanda. Sebuah tanda bahwa kita telah ditemukan.
Julius menatap kapal-kapal itu, lalu menatapku. *"Kita baru saja keluar dari satu perang, dan sekarang kita berada di tengah invasi yang jauh lebih besar."*
Aku menatap cakrawala, merasakan sihir di udara yang mulai bergejolak. Aku punya cawan sihir, dan Julius punya tekad untuk bertahan hidup. Kami tidak lagi menjadi pion, tapi kami juga belum menjadi penguasa nasib kami sendiri.
*"Setidaknya,"* kataku sambil mempersiapkan diri, *"kali ini kita memiliki kapal untuk dilawan."*
Tiba-tiba, permukaan air di bawah kami mulai retak. Sesuatu yang sangat besar bergerak dari bawah air, sesuatu yang tampaknya telah tertidur selama ribuan tahun dan kini terbangun oleh kehadiran kami. Itu bukan kapal, bukan juga monster, melainkan sebuah pulau yang bergerak. Dan di atas pulau itu, aku melihat sosok yang sangat familiar—seorang wanita berjubah putih dengan mata tertutup kain hitam.
Dia memegang tongkat yang memancarkan cahaya biru, cahaya yang sama dengan yang kulihat saat pertama kali aku terbangun di dunia sihir ini.
*"Selamat datang di tempat di mana takdir kalian akhirnya akan bertemu dengan batasnya,"* suaranya terdengar di dalam kepalaku. *"Aku adalah penjaga gerbang terakhir. Jika kalian ingin melanjutkan cerita kalian di dunia ini, kalian harus membuktikan bahwa kalian bukan hanya penyihir yang lari dari masa lalu, tapi penyihir yang bisa membangun masa depan."*
Pulau itu melayang naik, menantang kapal-kapal logam yang datang dari langit. Kami berada tepat di antara dua kekuatan besar.
*"Marie,"* Julius memegang tanganku. *"Apapun yang terjadi, jangan lepaskan tanganku."*
Aku mengangguk, siap untuk babak baru dalam hidup kami.
Di atas sana, kapal-kapal logam mulai menurunkan pasukan mereka—bukan manusia, bukan robot, melainkan makhluk-makhluk yang terbuat dari energi murni yang dikendalikan secara paksa. Perang ini akan jauh lebih brutal daripada perang mana pun yang pernah kami lalui di Oakhaven.
Dan saat musuh pertama mendarat di atas pulau yang bergerak itu, aku melihat sesuatu yang membuat jantungku berhenti.
Di antara barisan pasukan musuh, ada seorang pria yang mengenakan pakaian yang persis sama dengan pria bertopeng burung hantu di Episode 18. Tapi dia tidak memakai topeng. Wajahnya terbuka, menunjukkan luka parut di sepanjang pipinya.
*"Ayah?"* bisikku.
Dia tidak mengenaliku. Dia menatapku seperti menatap target yang harus dimusnahkan.
Tiba-tiba, dia mengangkat pedangnya dan memimpin pasukan untuk menyerang pulau kami. Aku terdiam. Bagaimana mungkin dia ada di sini? Bagaimana mungkin dia menjadi bagian dari pasukan yang ingin memusnahkan sihir murni?
*"Ini bukan ayahmu,"* suara Julius memecah lamunanku. *"Lihat matanya, Marie. Dia adalah boneka. Dia hanyalah cangkang yang dikendalikan oleh sesuatu yang lebih besar."*
Aku menatap pria itu, melihat sosok yang dulu pernah kupanggil 'ayah', kini menjadi alat pembunuh yang tak bernyawa. Kemarahan yang sempat mereda, kini kembali membara.
*Jika aku harus membunuhmu untuk membebaskan jiwamu, maka akan kulakukan, Ayah.*
Aku maju ke depan, memegang cawan sihir di satu tangan, dan memanggil energi murni dari pulau di bawah kakiku. Perang di dunia baru ini telah dimulai. Dan kali ini, tidak ada lagi pengulangan. Hanya ada hidup atau mati.
Tepat saat pedang pria itu hampir mencapai leherku, dunia di sekitar kami berhenti. Semuanya membeku—pasukan logam, kapal di langit, bahkan tetesan air di udara. Sebuah suara muncul dari kehampaan.
*"Pilihanmu, Marie. Apakah kau akan membunuh cangkang ayahmu, atau kau akan membiarkan Julius mati di tangan pasukan itu karena kau ragu?"*
Itu suara sang Akuntan Takdir yang tadi kami kalahkan. Dia belum mati. Dia sedang menonton, sedang tertawa di balik layar.
Aku menatap pria itu, menatap Julius yang terdiam kaku di belakangku, dan menatap pasukan yang siap menghancurkan segalanya.
*Pilihan yang kejam,* batinku.
Aku tidak menjawab suara itu. Aku memejamkan mata, memusatkan seluruh sisa energi di dalam cawan sihirku bukan ke arah pedang, bukan ke arah pasukan, melainkan ke arah *waktu*.
*Jika kau ingin bermain dengan waktu, mari kita lihat siapa yang lebih cepat,* bisikku.
Aku menghentakkan kaki ke pulau, melepaskan gelombang energi yang merobek ruang dan waktu di sekitar kami. Semuanya pecah, terdistorsi, dan kami terlempar ke lokasi yang sama sekali berbeda—sebuah gurun pasir yang tidak memiliki batas, di mana di tengah-tengah gurun itu terdapat sebuah perpustakaan raksasa yang melayang.
Kami jatuh ke lantai perpustakaan dengan keras. Julius mengerang, mencoba bangkit.
*"Di mana kita?"* tanyanya, suaranya lemah.
Aku melihat ke sekeliling. Ribuan buku tua, ribuan catatan tentang setiap siklus hidup yang pernah kami jalani. Ini bukan hanya perpustakaan. Ini adalah arsip dari setiap pengulangan yang pernah terjadi.
Dan di depan kami, duduk seorang pria tua yang sedang menulis di sebuah meja panjang. Dia menoleh, menatap kami dengan mata yang sangat lelah.
*"Kalian datang lebih awal dari yang seharusnya,"* katanya. *"Seharusnya kalian masih berada di pulau itu, terperangkap dalam pilihan yang mustahil."*
Aku berjalan mendekatinya, memegang cawan sihirku dengan erat. *"Siapa kau? Dan berapa banyak lagi kejutan yang kau siapkan untuk kami?"*
Pria itu tersenyum, senyum yang sama dengan pria bertopeng burung hantu, senyum yang sama dengan sosok ayahku.
*"Namaku adalah Kronos. Dan aku adalah alasan kenapa kalian tidak bisa berhenti dari cerita ini."*
Dia menutup bukunya, dan ruangan itu mulai bergetar.