NovelToon NovelToon
Target Di Balik Gerobak Penyamaran Sang Komandan

Target Di Balik Gerobak Penyamaran Sang Komandan

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Nikah Kontrak / Dokter / Identitas Tersembunyi
Popularitas:7.9k
Nilai: 5
Nama Author: Ariska Kamisa

​"Nikahi aku, Abang Tukang Bakso!"
​Demi menyelamatkan warisan Rumah Sakit dari ibu tiri yang kejam, Dokter Airine Rubyjane nekat menikahi Nata, pria penjual bakso di depan RS-nya. Airine pikir Nata hanyalah rakyat jelata yang mudah ia kendalikan.
​Namun, ia salah besar. Di balik celemek berminyak itu, suaminya adalah Arnold Dexter, Komandan Intelijen legendaris yang sedang dalam misi penyamaran mematikan.
​Satu per satu musuh Airine tumbang secara misterius. Saat cinta mulai tumbuh, Airine menyadari bahwa pria yang ia anggap "miskin" itu adalah predator paling berbahaya di negara ini yang sedang mengincar rahasia gelap kakeknya.
​"Aku bukan sekadar tukang bakso, Istriku. Aku adalah alasan musuhmu takut pada malam hari."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12: Runtuhnya Dinasti Rubyjane

​"Matikan! Cepat matikan rekaman sialan itu! Siapa yang berani meretas sistem ruangan ini?!"

​Suara Tuan Rubyjane melengking tinggi, memecah kesunyian yang mencekam di ruang rapat direksi. Wajahnya yang biasanya angkuh kini tampak pucat pasi, matanya melotot ke arah layar besar yang masih memutar rekaman suara pengakuan Reo dan Shena. Seluruh anggota dewan direksi dan pemegang saham terpaku di kursi masing-masing, menatap Tuan Rubyjane dengan pandangan yang penuh penghinaan dan kecurigaan.

​"Papa, ini fitnah! Airine, kamu pasti menyewa orang untuk memalsukan suara ini, kan?!" teriak Shena sambil mencoba meraih kabel proyektor, namun tangannya gemetar hebat.

​Airine berdiri tegak di tengah ruangan, dagunya terangkat tinggi. "Memalsukan suara? Nyonya Shena, teknologi forensik suara di kepolisian sangat canggih sekarang. Jika Anda merasa itu bukan suara Anda, silakan buktikan di depan penyidik nanti."

​"Jaga mulutmu, Airine!" Tuan Rubyjane menggebrak meja hingga cangkir kopi di depannya terguling. "Aku ini ayahmu! Beraninya kamu mempermalukanku di depan para rekan bisnisku?!"

​"Seorang ayah tidak akan membiarkan istrinya dibunuh demi harta, Yah," balas Airine dengan suara yang tenang namun menusuk. "Dan seorang ayah tidak akan bersekongkol dengan selingkuhan untuk menjebak putrinya sendiri ke dalam rumah sakit jiwa."

​Di ambang pintu, Nata bersandar pada kusen kayu dengan santai. Ia melipat tangan di dada, memperhatikan drama keluarga itu dengan tatapan dingin yang tersembunyi di balik wajah "Bang Nata"-nya.

​"Maaf mengganggu momen mengharukannya, Tuan-Tuan yang terhormat," sela Nata, suaranya berat dan mengintimidasi meskipun ia hanya mengenakan jaket kulit lusuh. "Tapi saya rasa, daripada sibuk berteriak, lebih baik Anda semua melihat ke arah pintu masuk sekarang."

​Tepat setelah Nata bicara, pintu ganda ruang rapat terbuka lebar. Enam orang pria berseragam kepolisian lengkap dengan lencana Satuan Reserse Kriminal masuk ke dalam ruangan. Di belakang mereka, Reo tampak berjalan gontai dengan tangan terborgol dan wajah yang memar di beberapa bagian.

​"Tuan Rubyjane, Nyonya Shena, Anda berdua kami jemput untuk dimintai keterangan terkait dugaan pembunuhan berencana terhadap Nyonya Rubyjane senior dan keterlibatan dalam sindikat obat-obatan terlarang," ucap sang Komandan Polisi dengan tegas.

​Shena jatuh terduduk di lantai, kakinya lemas. "Tidak... ini tidak mungkin. Reo, kenapa kamu ada di sini?!"

​Reo tidak berani menatap siapa pun. Ia hanya menunduk dalam, bibirnya pecah. "Mereka punya semuanya, Shena. Rekaman itu... mereka punya rekaman asli dari ponselku."

​Tuan Rubyjane menatap Airine dengan penuh kebencian. "Kamu... kamu benar-benar ingin menghancurkan ayahmu sendiri?"

​Airine menatap ayahnya tanpa rasa takut. "Aku tidak menghancurkanmu, Yah. Kamu menghancurkan dirimu sendiri saat kamu membiarkan ambisimu mengalahkan rasa kemanusiaanmu. Polisi juga sudah menyita seluruh dokumen di gudang farmasi sektor C yang kamu sembunyikan."

​Saat polisi mulai menggiring Tuan Rubyjane dan Shena keluar, suasana ruangan menjadi kacau. Para direksi mulai berbisik-bisik panik. Namun, Airine segera mengambil alih kendali.

​"Hadirin sekalian, harap tenang," suara Airine bergema lewat pelantang suara. "Sesuai dengan surat wasiat Kakek yang sah, dengan tertangkapnya Tuan Rubyjane atas tindak kriminal, maka hak kelola penuh RS Medika Utama dan seluruh anak perusahaan farmasi resmi jatuh ke tangan saya sebagai ahli waris sah yang sudah menikah."

​Airine menoleh ke arah Nata, memberinya kode rahasia yang hanya mereka berdua yang tahu. Nata hanya memberikan senyum miring, lalu berjalan mendekati meja direksi.

​"Jangan lupa, Dok," bisik Nata saat ia sudah berdiri di samping Airine. "Jabatan direktur itu berat. Kamu butuh seseorang untuk menjaga punggungmu."

​"Aku tahu," jawab Airine pelan. Ia lalu kembali menatap para direksi. "Saya akan menunjuk tim audit independen hari ini juga. Dan untuk sementara, sistem keamanan rumah sakit akan diambil alih oleh pihak yang saya tunjuk secara pribadi."

​Setelah rapat dibubarkan dan ruangan mulai sepi, Airine terduduk lemas di kursi direktur yang baru saja ia ambil alih. Kepalanya terasa berdenyut. Ia merasa menang, tapi hatinya masih terasa kosong.

​Nata berjalan mendekat, meletakkan tangannya di bahu Airine. "Kamu melakukannya dengan baik, Airine."

​"Bagaimana kamu bisa mendatangkan polisi secepat itu, Nata? Dan bagaimana mereka bisa mendapatkan bukti dokumen di gudang? Kamu bilang kamu hanya 'mengamankan' ponsel Reo," tanya Airine, rasa curiganya kembali mencuat.

​Nata mengangkat bahu, berpura-pura memeriksa kuku jarinya. "Oh, itu... teman-temanku di pangkalan ternyata punya kenalan polisi yang sering makan bakso di sana. Aku cuma bilang ada keributan besar, mereka langsung datang. Kebetulan sekali, kan?"

​Airine memutar kursinya, menatap Nata lekat-lekat. "Nata, berhentilah bicara soal pangkalan bakso. Tidak ada tukang bakso yang bisa mengatur waktu polisi sepresisi itu. Dan caramu berdiri di sana... kamu tidak terlihat seperti pengawal, kamu terlihat seperti jenderal yang sedang memantau medan perang."

​Nata tertawa pelan, mencoba mencairkan suasana. "Mungkin karena aku terlalu sering memimpin antrean bakso yang panjang, Dok. Jadi auranya terbawa."

​"Jangan bercanda!" Airine berdiri, mendekati Nata hingga wajah mereka hanya berjarak beberapa senti. "Siapa kamu sebenarnya? Semalam kamu menggunakan pistol seperti seorang ahli. Hari ini kamu menjatuhkan dinasti ayahku dalam waktu kurang dari tiga puluh menit. Apa kamu benar-benar 'Nata' si tukang bakso?"

​Nata terdiam. Ia menatap mata Airine yang penuh selidik. Untuk sekejap, ia ingin sekali mengatakan, "Aku Arnold Dexter, komandan intelijen yang dikirim untuk melindungi perusahaan ini dari sindikat narkoba." Tapi ia tahu, jika ia bicara sekarang, nyawa Airine akan berada dalam bahaya yang lebih besar dari sebelumnya karena sindikat Tuan Shen masih berkeliaran.

​"Aku adalah pria yang menandatangani buku nikahmu pagi tadi, Airine," jawab Nata dengan nada yang sangat serius. "Aku adalah suamimu. Bukankah itu identitas yang paling penting untukmu sekarang?"

​Airine merasa lidahnya kelu. Jawaban Nata tidak menjelaskan apa-apa, tapi entah kenapa, itu membuatnya merasa aman.

​"Sekarang," lanjut Nata sambil menarik tangan Airine. "Ayo kita pergi dari sini. Bau orang-orang jahat ini membuatku mual. Aku lapar, dan aku belum sarapan bakso buatanku sendiri hari ini."

​Airine tersenyum tipis, meski kecurigaannya belum sepenuhnya hilang. Saat mereka berjalan keluar dari gedung, Nata secara diam-diam menyentuh jam tangannya lagi.

​"Lapor. Target utama sudah diamankan. Operasi pembersihan tahap satu selesai. Siapkan pengawalan bayangan untuk Direktur Airine 24/7. Tuan Shen masih menjadi ancaman level merah. Dan pastikan identitas 'Nata' tidak bocor ke pihak kepolisian lokal," perintah Arnold lewat pemikiran yang terenkripsi.

​Di luar gedung, matahari bersinar sangat terik, seolah menandai awal dari babak baru dalam hidup Airine Rubyjane. Ia tidak tahu bahwa pria yang menggenggam tangannya saat ini adalah orang paling berbahaya di negara ini, yang sedang menjadikan dirinya sebagai umpan untuk memancing hiu yang lebih besar.

...****************...

1
Abinaya Albab
beneran ini perang terakhir? duhhhh capek gk sih mereka baru mau bernafas lega ada lagi
Abinaya Albab: blm lagi bikin bakso urat ya Thor 😂🤭
total 2 replies
Abinaya Albab
baru ini aku baca novel yg tegangnya tak beesudahan... lanjut
Ariska Kamisa: terimakasih banyak kak 🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
umie chaby_ba
kakek jahat ga
aditya rian
sekalian updatenya banyak dong soalnya jadi penasaran banget
aditya rian
keren arnold
aditya rian
jangan marah dong... di awal jug udh bilang
hidagede1
ke inget nya sama jendral andika🤭
Ariska Kamisa: eehh??? 🤭🤭🤭
total 1 replies
umie chaby_ba
yah... thor.. ayo sih update nya yang banyak sekalian... aku ga sabaran
aditya rian: Airine mulai jeniusnya nih
total 2 replies
umie chaby_ba
ampe airine bingung manggilnya dua nama padahal satu orang 🤭🤭🫣
umie chaby_ba
waduh... judulnya aja bikin takutt... apakah... airine tidak terima dibohongi?
umie chaby_ba
hayoloh . ga bisa ngelak lagi nol
umie chaby_ba
Arnold udah demen banget nih
umie chaby_ba
bisa aja anjayy
umie chaby_ba
hayoloh....
umie chaby_ba
udah nge spill Mulu padahal Nata de Coco... tak mungkin Abang bakso seberani itu.. mikir dong airine...
Ariska Kamisa: aaa.. kaka niu bisa aja ceplosannya jadi mata de coco🤣🤣🤣
total 1 replies
umie chaby_ba
tuan Shen musuh sapa sih lu🫣
umie chaby_ba
udah komandan... cucu jenderal pula....👍
umie chaby_ba
secara komandan cuyyy....
umie chaby_ba
Arnold Dexter 😍
umie chaby_ba
tuan Shen ini.. jangan jangan orang terdekat 🫣
Ariska Kamisa: lanjut ikutin terus yaa biar tahu
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!