Hujan turun tanpa jeda malam itu, di kamar kos sempit berbau lembab, Dian terbaring sendirian, tidak ada keluarga yang menemani Dia hidup sebatang karang, hanya terdengar suara tetesan air dari atap bocor, nafasnya semakin berat. Perutnya kosong sejak kemarin Dian belum makan apapun, Dian sudah terbiasa menahan lapar, sejak kecil Dia hidup tanpa orang tua bekerja serabutan berpindah-pindah tempat tinggal. Menahan hinaan, rasa dingin sendirian, seakan dunia tidak pernah memberinya pilihan.
Namun malam ini terasa berbeda, tubuhnya terlalu lemah untuk bangkit, pandangannya mulai kabur, Dia menatap langit-langit atap yang bocor dan tersenyum tipis, "Apa memang hidupku cuma sampai disini..?"
Malam itu hujan turun semakin deras, angin menyusup dari celah jendela membawa hawa dingin yang menusuk tulang.
Nantikan kelanjutan cerita yaa🌹🌹
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Twis G, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 1
Hujan turun tanpa jeda malam itu, di kamar kos sempit berbau lembab, Dian terbaring sendirian, tidak ada keluarga yang menemani Dia hidup sebatang karang, hanya terdengar suara tetesan air dari atap bocor, nafasnya semakin berat. Perutnya kosong sejak kemarin Dian belum makan apapun, Dian sudah terbiasa menahan lapar, sejak kecil Dia hidup tanpa orang tua bekerja serabutan berpindah-pindah tempat tinggal. Menahan hinaan, rasa dingin sendirian, seakan dunia tidak pernah memberinya pilihan.
Namun malam ini terasa berbeda, tubuhnya terlalu lemah untuk bangkit, pandangannya mulai kabur, Dia menatap langit-langit atap yang bocor dan tersenyum tipis, "Apa memang hidupku cuma sampai disini..?"
Malam itu hujan turun semakin deras, angin menyusup dari celah jendela membawa hawa dingin yang menusuk tulang. Dian menutup mata ketika rasa dingin menusuk tulang, jika ada kehidupan kedua, Dian tidak meminta menjadi kaya atau meminta kekuasaan, Dian hanya ingin tidak sendirian, memilih keluarga, dan kelaparan yang menyertai.
Pandangan mulia gelap ketika rasa dingin menusuk tulang, ketika Dian membuka mata udara terasa lebih dingin, tapi ini bukan dingin di kamar kos lembab yang biasa Dian rasakan, dingin ini terasa mengigit sampai ke tulang, aroma kayu basah dan asap tipis memenuhi udara.
Dian mengerjap pelan, menatap langit-langit diatas atap bukan semen retak melainkan balok kayu kasar, suara angin berbunyi di luar membuat pintu kayu bergeser pelan
Seseorang yang tidak Dian kenal berbicara dengan suara gemetar, "Yin Yin, bangunlah jangan menakuti ibu.."
"Yin Yin?" Dian ingin bergerak tetapi tubuhnya terasa asing, terlalu kecil dan ringan, Dia mencoba membuka mata sepenuhnya, didepannya wajah seorang wanita kurus dengan mata sembab menangis di sampingnya, seorang pria bertubuh tegap berdiri tak jauh, rahangnya mengeras menahan cemas, dua anak kecil berpelukan di sudut ruangan. Di luar jendela salju turus dengan lebat, hatinya bergetar ketika melihat ini bukan kamarnya, dan nama yang di panggil itu bukan Dian tapi Yin Yin. Wanita itu menggenggam tangannya erat, "Yin Yin, Bertahanlah.."
Tiba-tiba ingatan asing menyerbu kepalanya, berburu di gunung, kelaparan yang melanda, pajak musim dingin di Dinasti Hanbei, Dian tersentak ketika kesadarannya pulih. Dian ingat sekarang jiwanya bertransmigrasi ke tubuh anak pemburu bernama Yin Yin, yang hidup di desa Shanyin.
Angin musim dingin menyapu di luar rumah kayu itu, membuat pintu berbunyi pelan,
Kita ganti nama Dian jadi Yin Yin ya biar enak bacanya, okee lanjut...
Yin Yin menarik napas panjang, menghirup udara kuat kesadaran yang datang terlalu mendadak. Dia kini hidup di Desa Shanyin, sebuah desa terpencil di kaki gunung wilayah Dinasti Hanbei, keluarganya mata pencahariannya berburu di hutan, musim dingin panjang di desa dengan pajak yang mencekik membuat masyarakat di desa itu mau tak mau harus berburu memenuhi kebutuhan sehari-hari, apalagi persediaan makanan yang hampir habis.
Tubuh yang Dian tempati masih lemah karena demam, tetapi pikirannya sudah sepenuhnya sadar, di kehidupan ini Dian tidak sendirian melainkan memiliki keluarga namun di kehidupan yang Dia miliki ini ternyata tidak datang dengan mudah.
Keesokan paginya, Yin Yin terbangun oleh suara batuk yang tertahan, cahaya pagi yang pucat menembus jendela kertas tipis, salju masih turun seolah tak menunjukkan tanda akan berhenti.
Beberapa detik Yin Yin hanya menatap balik kayu di atas kepalanya yang dijadikan atap rumah, tenyata ini nyata bukan mimpi. Batuk itu terdengar lagi, lebih keras , "Ibu.." gumamnya pelan. Yin Yin bangkit perlahan tubuhnya kurus pergelangan tangan kecil namun kini gerakannya lebih baik dibandingkan kemarin.
Di dekat tungku kecil yang hampir padam, adik pertama Yin Yin, Lin Meli Hua duduk sambil meniup bara api, wajahnya pucat bibirnya kering. Adik kedua Yin Chen sedang menyusun kayu bakar, adik bungsunya Xiao Lan memeluk lututnya, menatap kosong ke arah pintu.
Rumah itu seolah sunyi, Yin Yin memperhatikan sekeliling dengan saksama, dulu ketika masih menjadi Dian, Dia pernah hidup miskin, namun kemiskinan di dunia ini lebih kejam. Dia berjalan ke sudut dapur kecil sebuah karung gandum tergeletak di sana, hatinya terasa berat sebelum Dia membukanya. Perlahan, Yin Yin membuka penutup kainnya, hanya tersisa seperempat bagian, disampingnya ada dua potong daging kering tipis dan sedikit keras, tidak akan cukup untuk melewati musim dingin yang bahkan belum mencapai puncaknya.
"Kira-kira berapa lama persediaan makanan ini cukup?" tanyanya pelan pada Lin Meli Hua.
Lin Mei terdiam sebelum menjawab, suaranya hampir tak terdengar.
"Jika kita makan dua kali sehari, mungkin tujuh hari baru habis makanannya."
Tujuh hari, ingatan Yin Yin berputar cepat, Dia ingat sepuluh hari lagi, petugas distrik akan datang menagih pajak kulit hewan.
Ayahnya, Yin Guo Shan masih belih pulih dari luka di kakinya akibat serangan babi hutan membuatku tidak bisa masuk jauh ke dalam gunung untuk berburu besar, artinya jika mereka gagal berburu dan gagal membayar pajak rumah ini akan disita sebagai jaminan. Jika begitu mereka akan tinggal dimana nanti, Yin Yin menggenggam karung gandum itu erat, dulu sebagai Dian, Dia mati dalam keadaan lapar dan sendirian tak ada yang menemani tapi kini Dia punya keluarga, Dia tak akan membiarkan mereka bernasib sama.
"Chen," panggilnya dengar suara agak tegas. Yin Chen menoleh, sedikit terkejut biasanya kakaknya jarang berbicara setegas itu.
"Hari ini, kau tunjukkan padaku jalur hutan dekat sungai,"
Chen mengernyit, "Untuk apa? Kakak masih sakit tidak boleh kemana-mana."
Yin Yin menatap keluar jendela, gunung-gunung putih membentang tampak sunyi namun menyimpan bahaya.
"Kita tidak bisa hanya menunggu Ayah sembuh," suaranya lembut tetapi tegas.
"Aku akan ikut mencari sesuatu, apa pun yang bisa dimakan atau dijual sebelum menagih pajak itu datang."
Ibunya, Lin Mei Hua yang mendengar itu tersentak pelan, "Yin Yin, kamu belum_
"Aku sudah cukup kuat, Ibu tenang saja." Dia tersenyum tipis, senyum berbeda dari Yin Yin sebelumnya ada keyakinan didalamnya.
Di luar, angin musim dingin berdesir lebih keras, seolah meminta tekad seorang gadis kurus dari desa terpencil, namun di dalam mata Yin Yin ada sesuatu yang tidak dimiliki gadis itu sebelumnya., yaitu mengalam bertahan hidup, dan tekad untuk tidak mati kelaparan lagi seperti saat Dia masih menjadi Dian.
Bersambung....