Pernikahan memang idealnya lahir dari persiapan, cinta, dan harapan yang matang. Tapi hidup kadang berjalan di luar rencana bahkan lewat jalan yang tak pernah kita bayangkan sama sekali.
Ketika pernikahan terjadi secara mendadak karena sebuah insiden, rasa bahagia dan sakral itu bercampur dengan kaget, takut, bahkan kebingungan.
Apakah pernikahan dadakan bisa membawa kebahagiaan??
Apakah pernikahan tanpa cinta dan saling mengenal lakan berjalan mudah?
yuk ikuti ceritanya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R²_Chair, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
AA 1
"SAH...! "
Satu kata yang buat aku merasa dunia ku hancur seketika.
Masa muda ku..
Cita-cita ku...
Hancur hanya dalam waktu hitungan jam saja.
Semua hal yang akan aku lakukan dalam jangka pendek hingga jangka panjang sudah aku tulis rapi dalam buku diary ku.Namun semuanya lenyap hanya karena tragedi yang sama sekali tidak pernah aku bayangkan.
Aku Alyana Zahra Navares Abraham Alghiffari harus merelakan masa mudaku demi mengabdi sebagai seorang istri di usiaku yang baru menginjak 17tahun.
Aku terpaksa menikah dengan laki-laki yang tak aku kenal, bahkan namanya pun aku tak tahu. Karena kecerobohan laki-laki itu sehingga menghancurkan semuanya. Bahkan aku tak tau siapa dia dan bagaimana orang itu.
Semua asing.
Air mata ku bahkan sudah tak mampu lagi keluar saking lelahnya menangis.Menangisi nasib ku yang begitu buruk.
Padahal ribuan mimpi aku rangkai dengan indah, tapi ternyata Allah punya rencana lain. Semua mimpi dan cita seolah lenyap di telan cahaya gelap.
Apakah ini sebuah Takdir ?
Ya, tentu saja. Aku yang di besarkan di lingkungan yang begitu agamis sudah faham akan hal ini. Segala sesuatu yang terjadi pada kita memanglah sudah tertulis semuanya di Lauhul Mahfudz, tak ada yang bisa merubah takdir jika itu sudah menjadi kehendak Allah SWT.
Apakah aku menerima?
Tentu saja tidak,
Aku gadis yang baru beranjak dewasa tentunya jiwa muda dan child ku langsung keluar, aku menangis sejadi-jadinya. Merasa marwah ku sebagai seorang perempuan hancur dalam sekejap,namun aku juga tidak ingin menikah dengan laki-laki yang bahkan nama dan wajahnya pun baru aku lihat.
Namun aku hanyalah gadis kecil yang hidup di bawah aturan agama. Aku harus patuh pada aturan agama dan juga aturan keluargaku, terutama keluarga Ayahku.
Aku tak kuasa menolak saat keputusan Buya dan Ayah tak bisa lagi di bantah, bahkan Ibun dan Umma pun hanya bisa ikut menangis.
"Keputusan Ayah sudah bulat, malam ini juga kalian harus melakukan ijab kabul. " Putus Ayah, walau dengan luka yang menganga namun ini jalan yang terbaik.
"Ayah.. " Lirih Alyana, kedua pasang mata saling menatap.
Namun Alfath langsung mengalihkan pandangannya, hatinya tak kuasa melihat sang putri kecil yang kini sudah beranjak dewasa menangis.
Hampir 17 tahun ia jaga bak sebuah guci yang rentan rentak.Hanya dalam hitungan jam ia harus merelakan sang putri cantiknya ia lepas untuk menjadi makmum seseorang.
Bukan hanya Ayah, tapi juga Baba. Gus Ilham Al Ghiffari yang tak lain adalah kakek ku yang sudah ku anggap Ayah kedua ku.
Beliau bahkan sejak tadi lebih banyak diam, namun melihat sorot matanya bisa aku rasakan Baba sama seperti Ayah.Sama-sama terluka...
Aku yang sejak lahir selalu di manja oleh para pahlawanku..Ayah,Baba dan Papi, nyatanya sekarang malah mengecewakan mereka.
Bukan aku tak dekat dengan ibun dan Umi, namun ketiga laki-laki itulah yang tak pernah menolak setiap keinginanku.
Apapun yang aku minta, selama tidak melanggar aturan mereka sudah pasti akan mereka beri.
Dan sekarang semuanya seolah runtuh dan berubah. Aku telah menjadi makmum orang lain, tanggung jawab oranglain.
Semuanya tak lagi sama,dan aku tak ingin itu...
Aku bahkan tak sanggup menatap laki-laki di depan sana yang sejak tadi menatapku tajam.
Semua terjadi begitu saja, bahkan bukan karena ku..tapi kenapa laki-laki yang kini sah menjadi imamku, melihatku seolah semua salah ku.
Kalau harus memilih, aku pun tidak ingin semua ini terjadi. Aku masih ingin bebas, belajar di pondok Baba ini, masih ingin bermain bersama teman dan juga sepupu ku.
Aku masih ingin menjadi putri kecil Ayah, Baba dan Papi.Aku tidak ingin semuanya berubah.
Aku selalu di istimewakan oleh mereka, tak pernah sekalipun mereka memarahi atau menghakimi ku. Tapi dia, yang sejak beberapa waktu lalu menjadi suami ku seperti ingin menguliti ku. Bahkan tak ada satu kalimat permintaan maaf pun yang keluar dari mulutnya padaku.
Arka Putra Maheswari
Nama laki-laki yang kini menatap benci padaku itu,apakah akan menjadi sebuah ujian atau kah musibah untuk ku.
Aku tau dia pun tidak bisa menerima pernikahan mendadak ini, tapi tidak seharusnya juga dia menatap benci padaku. Toh semua ini juga salahnya.
Kalau saja dia tidak sembarangan masuk toilet, mungkin ini tidak akan terjadi. Aku disini yang merasa di rugikan tapi kenapa dia yang membenciku.
Jika mengingat itu kembali, rasanya aku ingin mencakar wajahnya.Marwahku sebagai seorang perempuan merasa di rendahkan.
Tapi mau bagaimana lagi, nasi sudah berubah menjadi bubur.Sesuatu hal yang memang tak bisa kita putar ulang. Dan ketika kita yakini bahwa segala sesuatu terjadi atas kehendak Allah, hati jadi lebih tenang dalam menerima..
Dan aku sedang berusaha..
Bukan berarti aku pasrah, tapi belajar menerima tanpa menyalahkan diri berlebihan. Kadang yang terasa pahit hari ini, justru jadi jalan menuju kebaikan yang belum kita pahami sekarang.
Aku ingat dengan kata yang pernah Baba ucapkan saat mengisi kajian malam,
"Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia baik bagimu."
Aku tidak membenci takdir Allah, tapi aku hanya manusia biasa yang bisa kecewa dan juga marah.
Aku kecewa dengan keadaan dan aku marah pada laki-laki itu.Namun lagi-lagi kata Baba membuatku hanya bisa diam dan menerima semuanya.
"Yang sudah terjadi, kita ambil hikmahnya.Yang belum terjadi, kita hadapi dengan doa dan usaha."
Dan hari ini menjadi salah satu hari yang kelam untuk ku.Suasana pondok yang mendadak gelap saat semua itu terjadi.Matahari pun ikut sendu, seolah enggan bersinar,dan burung-burung terdiam dalam muram.
Angin berhembus pelan, membawa kabar duka yang tak terucap,sementara waktu seakan berhenti,membiarkan hati larut dalam sunyi yang paling dalam.
Aku masih berharap semua ini adalah mimpi,mimpi panjang yang akan usai saat fajar menyapa.Aku ingin terbangun dan mendapati semuanya baik-baik saja,tak ada pernikahan,tak ada laki-laki itu,tanpa luka dan tanpa sesak di dada.
Namun kenyataan perlahan menepuk bahu,mengajarkanku bahwa tidak semua doa dijawab dengan keajaiban,sebagian dijawab dengan kekuatan untuk bertahan.
Ayah...
Ibun...
Percayalah aku masih ingin menjadi Alyana kecil yang selalu Ayah dan Ibun manja.
"Bun.. " Bisik Alyana terdengar lirih.
Alisya yang duduk di sisi Alyana tersenyum ketir melihat putri satu-satunya harus mengalami hal yang tak pernah di bayangkan.
Mata Alisya tak jauh berbeda dengan Alyana, terlihat sembab. "Mbak Aya... " Panggilnya.
"Maafin Aya udah kecewain ibun dan ayah"
Alisya mengusap pelan puncak kepala sang putri kecil. "Mbak Aya sama sekali tidak mengecewakan ibu dan Ayah, justru Ibun bangga karena kaka bisa dengan lapang dada menerima takdir ini. Semua ini sudah kehendak Allah.
"Ibun.. " Tangisnya kembali pecah, ada rasa yang tak bisa lagi di gambarkan.
Begitupun Alisya, semua rasa bercampur menjadi satu. Namun ia yakin, Allah SWT pasti sudah menyiapkan kado terindah untuk anaknya kelak.
Dan sekarang cukup berserah diri dan berprasangka baik kepada Allah,yakin bahwa di depan sana Allah sudah menyiapkan kebaikan maka Allah akan memperlakukan kita sesuai prasangka baik itu.
...“***Aku sesuai dengan prasangka hamba-Ku kepada-Ku***.”...
...(***HR. Bukhari dan Muslim***)...
...🌻...
Apa yg dilakukan Arka setelah menikah,bahkan dia malu kalau bertemu teman teman nya bahwa dia sdh menikah.Laki kaki model gini buang aja' ditempat sampah gak berharga.
semangat
semoga mereka bisa menyelesaikan masalah dengan baik.