Clarissa wanita cantik yang sangat ceria, berumur 22 tahun, ia adalah anak perempuan yang kuat dan mandiri.
Ibunya memperlakukannya dengan buruk, ibunya lebih menyayangi anak laki-lakinya. Bahkan ibunya lebih menyayangi menantu perempuannya di banding Clarissa.
Tantangan hidupnya tidak sampai di sana,
Clarissa jatuh cinta pada Zayn Austin, cinta pada pandang pertama.
Namun pria yang Clarissa sukai selalu berwajah datar dan bersikap dingin. Tapi itu semua tidak meredupkan semangat Clarissa untuk mengejar cintanya.
Akankah Clarissa mampu meluluhkan hati Zayn?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Queen Fitria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 01
Clarissa dan Zayn Austin
Sore hari
Ibukota sebagai pusat metropolitan, di cirikan oleh Intensitas aktivitas yang tinggi, padatnya kendaraan dan mobilitas penduduk yang tiada henti.
Seperti biasa, Clarissa berlari-lari kecil dan berdesakan dengan sekumpulan orang-orang yang juga baru pulang kerja, untuk menaiki sebuah transportasi umum. Wajahnya terlihat kusut entah beban apa yang ia dapat saat di tempat kerjanya.
Clarissa Azani umur dua puluh dua tahun tinggi badan 162, ia bekerja di sebuah caffe sebagai barista, wajahnya yang cantik dan tutur bahasanya yang tertata, membuat ia di sukai banyak orang. Bentuk tubuhnya yang ideal membuatnya nampak sempurna.
Kemacetan di jalan sudah biasa terjadi, pemandangan itu sudah tak asing lagi baginya, Clarissa sudah berdamai dengan hidupnya, bahkan kebisingan ibukota masih kalah jauh dengan isi kepalanya yang begitu brisik.
Akhirnya Clarissa sampai di depan pintu dengan tentengan yang sudah biasa ia bawa, saat pulang kerja Clarissa akan selalu membawa sesuatu untuk orang rumah.
Clarissa menghembuskan nafas panjang, lalu perlahan membuka pintu.
"Baru pulang kamu Sa? " suara ibu langsung terdengar bahkan sebelum Clarissa benar-benar masuk kedalam rumah.
Clarissa langsung tersenyum dan mengangguk, "Ia Bu, di jalan sangat macet," ujar Clarissa yang menyodorkan kantung plastik untuk ibunya.
Ibu Mulan menerima kantung plastik tersebut dengan wajah masamnya, Clarissa tidak peduli meski wajah ibunya terlihat masam, Clarissa ingin cepat membersihkan diri, tubuhnya sudah lelah seharian kerja.
Jam menunjukkan pukul 19:20, Clarissa baru saja selesai mandi, perutnya sudah bergemuruh, ia tidak membuang waktu segera menuju dapur, saat membuka tudung saji di sana, hanya ada empat potong goreng tempe.
Melihat itu Clarissa menghela napas, dan memilih berjalan ke depan untuk mengambil sebungkus ketoprak yang ia beli tadi di jalan.
"Bu-" ucapnya langsung terhenti saat melihat bungkusan ketoprak itu benar-benar hanya tinggal bungkusnya saja yang tergeletak di sana.
Semua orang langsung menatap Clarissa, begitu juga abangnya, "Kenapa Sa? kok bengong? "
Clarissa hanya tersenyum tipis, ternyata ketoprak yang ia beli tadi sudah ludes hanya tinggal bungkusnya saja, satu bungkus di makan ibu se bungkusnya di makan Aditya adik dari Clarissa. Lalu dua bungkusnya lagi di makan abang dan kakak iparnya yang sedang hamil, sedangkan Ara sang keponakan yang berusia empat tahun entah kemana, mungkin sudah tidur.
"Bapak mana Bu? " ujar Clarissa mengalihkan.
"Bapak mu lagi di kamar, mungkin kecapean," ujar Ibu Mulan.
"Bapak sudah makan Bu? yang lain sudah makan belum? " ujar Clarissa sambil menatap saudaranya.
"Sudah...tinggal kamu yang belum makan. Tapi jangan di habiskan semua, kakak ipar mu kalo malam suka cari makanan lagi," ujar Bu Mulan tersenyum pada Diana sang menantu. Diana tertawa kecil menanggapinya.
"Ia Bu, " jawab Clarissa dengan senyum pahit, semenjak abang dan kakak iparnya tinggal di sini Clarissa merasa jengah tinggal di sini. Rasanya Clarissa ingin ngontrak saja.
Clarissa membaringkan dirinya di ranjang. Tiba-tiba saja tubuhnya terasa sakit, ia berbaring tanpa makan dulu, perkataan ibunya untuk menyisakan makanan untuk sang kakak ipar, entah kenapa tiba-tiba membuatnya jadi kenyang.
Clarissa menatap langit-langit kamarnya, dan mencari kenyamanan di kasurnya, namun kasurnya berbeda dari biasanya.
Clarissa yang merasa lelah, terpaksa bangun dari kasurnya yang di rasa tidak nyaman itu, ia pun memperhatikan dan memang benar kasur itu sudah berbeda tidak selebar sebelumya.
"Gak mungkin! " ujar Clarissa menggeleng kepalanya, namun saat ia menyibak seprei, ternyata benar, kasur itu bukanlah kasurnya.
Lalu di mana kasur empuk yang sudah setahun ini menemaninya, kenapa jadi kasur yang sudah usang begini pikir Clarissa.
Dengan terpaksa Clarissa menyeret kakinya keluar dari kamar, kebetulan ia langsung bertemu dengan ibunya, "Bu, kasur ku kok beda? " tanya Clarissa menatap ibunya berharap jawabnya tidak mengecewakannya lagi.
"Oh itu, Ibu belum memberitahumu ya," ujar bu Mulan dengan santai, lalu kembali berkata, "Itu loh kakak iparmu kan lagi hamil, jadi butuh kasur yang empuk dan gede, kebetulankan punya mu gede dan masih bagus, Jadi abangmu ambil."
"Tapikan Bu, itu kasur ku, kok main ambil saja?" protes Clarissa, menekan rasa kesal.
"Sama abang sendiri kok perhitungan? " ujar Bu Mulan lalu pergi meninggalkan Clarissa begitu saja.
Ingin rasanya Clarissa bertanya pada abangnya yang sudah lancang membawa kasurnya. Tapi Clarissa merasa malas.
"Sabar-sabar... " lirihnya sambil mengusap dada.
Tubuhnya terasa lemas jadi ia kembali masuk ke kamarnya, dengan terpaksa melemparkan diri ke atas kasur usang itu, yang terasa sedikit kasar saat tubuhnya berbaring di sana.
Clarissa menatap langit-langit kamarnya, berharap pagi segera datang, tak terasa mata pun terpejam.