Dulu, ia adalah Thalia Alexandria—artis papan atas yang hidup dalam sorotan, dipuja dan dielu-elukan oleh jutaan penggemar. Namun, satu malam mengubah segalanya ketika ia ditemukan tak bernyawa di apartemennya sendiri. Saat membuka mata, dunia yang ia kenal telah lenyap. Ia bukan lagi sang bintang gemerlap, melainkan Thalia Anderson—gadis culun, pemalu, dan dipandang rendah oleh keluarganya sendiri. Lebih mengejutkan lagi, ia telah terikat pernikahan dengan Aiden Hugo Maverick, CEO muda yang dingin, kejam, dan sama sekali tidak mencintainya.
Dihina oleh ibu tiri, disakiti saudara tiri, dan dipermalukan di lingkungan kampus, hidup barunya terasa seperti neraka. Namun, mereka semua tak menyadari satu hal—di balik penampilan polos itu, tersembunyi jiwa seorang ratu panggung yang tak mudah ditaklukkan. Dengan tekad membara, Thalia berjanji akan membalikkan keadaan. Termasuk menaklukkan hati sang CEO yang dingin.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eireyynezkim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
15
Pagi itu, Aiden duduk di kursi kerjanya, menatap layar laptop dengan ekspresi dingin. Di depannya, Lucas berdiri dengan postur tegap, menyodorkan sebuah berkas tipis. "Tuan, ini informasi terbaru tentang Nyonya," ucapnya dengan nada datar.
Aiden mengangkat alis, lalu mengambil berkas itu. Tatapannya menyipit ketika membaca logo besar di halaman pertama. Gotta Entertainment. Lebih tepatnya, divisi Gotta Labels.
"Dia... masuk ke sini?" gumamnya pelan.
"Ya, Tuan. Kontrak awal sudah ditandatangani pagi tadi. Dia akan debut sebagai penyanyi di bawah label mereka," jawab Lucas.
Aiden menutup berkas perlahan, jari-jarinya mengetuk meja. "Wanita itu... dulunya pendiam, bahkan menghindari sorotan. Sekarang tiba-tiba ingin debut? Jadi penyanyi?" Matanya menatap kosong sejenak, lalu tatapannya berubah curiga. Apa yang dia rencanakan? pikirnya.
Lucas hanya diam. Ia tahu Tuan-nya tidak suka dipotong saat sedang berpikir.
Di kediaman Maverick, suasana sama sekali berbeda. Thalia duduk di lantai ruang keluarga, menemani Liam membangun menara dari balok-balok kayu. Bocah itu tertawa puas setiap kali menara itu roboh, lalu merengek minta dibangun lagi.
Sambil menata balok, pandangan Thalia sempat melirik ke meja kopi. Sebuah majalah bisnis terbuka di sana, halaman utamanya menampilkan artikel tentang perkembangan Gotta Labels. Judul besar di atasnya menarik perhatiannya. Ia meraih majalah itu dan mulai membaca.
Kalimat demi kalimat membuatnya membeku. Di halaman kedua, tercantum diagram kepemilikan saham. Nama terbesar di urutan teratas-Keluarga Maverick.
Thalia meletakkan majalah itu pelan, matanya membesar. Astaga... berarti aku... masuk ke perusahaan suamiku sendiri?! pikirnya. Dia menghela napas dalam hati. Dunia ini ternyata lebih sempit dari yang ia kira.
Di tempat lain, Aiden melangkah masuk ke restoran privat di pusat kota. Di dalam, tiga pria sudah duduk menunggunya di meja bundar yang menghadap ke jendela besar.
"Kai," Aiden menyapa pria berambut hitam dengan setelan abu-abu rapi. Kai adalah CEO perusahaan tekstil terbesar di negara ini, pewaris generasi kedua yang dikenal dingin dalam bisnis, tapi santai saat bersama teman-temannya.
"Xavier," ucapnya pada pria berkacamata tipis yang duduk di sebelah Kai. Xavier adalah CEO perusahaan farmasi raksasa di Negara B, menguasai pasar obat-obatan dan rumah sakit swasta. Penampilannya kalem, tapi otaknya tajam seperti pisau bedah.
Terakhir, Aiden menatap pria berwajah rupawan dengan senyum santai. "Vano."
Vano membalas dengan anggukan dan senyum lebar. Dia adalah aktor papan atas dengan segudang penghargaan, wajahnya menghiasi poster film, iklan, dan majalah di seluruh negeri. Meski terkenal, Vano berasal dari keluarga bisnis besar-ayahnya adalah salah satu pemegang saham di Gotta Labels.
"Aiden, akhirnya kau datang juga," ujar Vano sambil menuangkan anggur ke gelas Aiden. "Kami hampir bertaruh kau akan membatalkan pertemuan ini."
Kai terkekeh. "Kalau dia batal, pasti karena tenggelam di kantor. Dia memang lelaki pekerja keras, bukan?"
Aiden hanya mengangkat alis tipis. "Lebih baik sibuk bekerja daripada sibuk jadi bahan gosip," balasnya datar.
Percakapan mengalir, membahas proyek masing-masing. Vano bercerita tentang syuting film terbarunya di luar negeri. Xavier menyebutkan rencana ekspansi rumah sakit ke wilayah baru. Kai membicarakan kolaborasi tekstil dengan brand internasional.
Lalu, Vano menyandarkan tubuhnya, menatap Aiden dengan tatapan yang dibuat-buat santai.
"Ngomong-ngomong, kau tahu kabar terbaru? Lilya sudah kembali ke Negara B."
Aiden berhenti mengangkat gelas. "Lilya?"
suaranya nyaris tanpa intonasi.
Kai mengangguk pelan. "Dia tinggal di Negara N selama hampir tiga tahun, kan? Sekarang dia pulang. Dan kabarnya... dia akan ikut menghadiri perayaan tahunan Gotta Entertainment bulan depan."
Xavier tersenyum tipis. "Kebetulan sekali."
Aiden menatap anggurnya, tak berkata apa-apa. Teman-temannya tak pernah tahu bahwa ia sudah menikah. Mereka hanya mengira ia masih pria lajang dengan reputasi dingin dan tak tersentuh.
Sementara itu, di rumah, Thalia masih menemani Liam. Anak itu tertawa lepas, lalu berlari ke meja untuk mengambil tablet. "Mama... mama...liat ini," ucapnya sambil memutar ulang video penampilan Thalia di acara pemilihan duta kampus
Thalia tersenyum, meraih kepala putranya, lalu mengecup lembut ubun-ubunnya. Namun, jauh di dalam hati, ia mulai menyusun strategi. Dia tak mau hanya menjadi "istri seseorang" di mata dunia. Dia ingin berdiri di panggungnya sendiri-meski panggung itu, ironisnya, dimiliki oleh keluarga suaminya.
**
Lift berhenti di lantai tujuh belas dengan bunyi lembut. Pintu terbuka pada koridor berkarpet tebal dan lampu-lampu putih yang terasa seperti sinar dari atap panggung. Dinding dihiasi poster rilis album terbaru, daftar tangga lagu internal, dan foto-foto para penyanyi yang tersenyum memegang piala. Di ujung koridor, kaca besar memperlihatkan ruang kota yang berkilau, seolah seluruh distrik hiburan itu tunduk menyaksikan tiap langkah orang yang masuk ke gedung ini.
Thalia melangkah lebih dulu, Rina setengah berlari kecil di belakangnya sambil membawa map bening berisi dokumen. Di meja resepsionis lantai itu, dua staf menyapa dengan ramah dan mengantarkan mereka ke ruang rapat kecil yang tembus pandang. Di dalam, tiga orang sudah menunggu: seorang wanita berambut bob rapi dengan kartu nama bertuliskan A&R Director -Helena Park, seorang pria berkemeja denim yang memperkenalkan diri sebagai Head of Artist Development - Miguel Laurent, dan seorang legal officer yang, dari wajah seriusnya saja, sudah jelas hafal isi tiap pasal kontrak.
"Selamat pagi, Nona Thalia," sapa Helena, suaranya tenang namun berenergi. "Terima kasih sudah datang. Kami senang sekali setelah melihat penampilan Anda di kampus kemarin."
Thalia menjabat tangan mereka satu per satu.
"Terima kasih sudah mengundang."
Rapat berlangsung dengan lancar. Helena menjelaskan peta jalan umum artis baru di Gotta Labels: asesmen vokal dan musikal untuk memetakan warna suara, pertemuan kurasi lagu dengan beberapa produser in-house, rencana debut stage di salah satu program milik Gotta Media, dan -jika semua berjalan sesuai harapan-rilis single digital dalam tiga bulan pertama. Miguel menambahkan tentang workshop koreografi ringan untuk panggung live, pelatihan mic technique, serta pendampingan branding agar citra publik selaras dengan musiknya.
"Gotta Labels menghargai artis yang tahu apa yang diinginkan," ujar Miguel. "Jadi, kami akan banyak berdiskusi dua arah. Anda punya referensi lagu, daftar produser yang Anda suka?"
Thalia menyebut beberapa nama-produser yang musiknya ia kagumi sejak lama. Miguel mengangkat alis, terkejut dan puas sekaligus.
"Selera yang matang," komentarnya, singkat.
Legal officer kemudian memaparkan term sheet: kontrak awal selama dua tahun dengan evaluasi per enam bulan, bagi hasil yang kompetitif untuk rilisan digital dan penampilan panggung, serta klausul perlindungan kreatif yang memberi ruang bagi Thalia terlibat dalam pemilihan materi. Tidak ada jebakan kata; bahasanya lugas. Rina menyimak sambil mencatat, sesekali melirik Thalia, menunggu isyarat.
"Tidak perlu hari ini," kata Helena, memahami. "Bawa pulang term sheet ini, diskusikan. Kalau setuju, kita jadwalkan signing minggu depan. Sementara itu, kami ingin lihat vocal assessment singkat. Studio C kosong-sekitar dua puluh menit saja."
Thalia mengangguk. "Boleh."
Rina berdiri lebih tegap, seolah ikut dipanggil audisi. "Saya dampingi, Nona."
Studio C terletak dua pintu dari ruang rapat.
Begitu masuk, aroma kayu dan sedikit wangi kertas partitur menyergap hangat. Panel akustik tersusun rapi di dinding; mikrofon condenser berdiri di balik kaca ruang booth; piano upright mengkilap menunggu disentuh. Lampu-lampu kecil di langit-langit temaram, menciptakan suasana intim yang membuat detak jantung terdengar lebih jelas.
Thalia melepaskan mantel tipisnya, menyingkap blus satin krem yang membingkai bahu rampingnya. Ia duduk di bangku piano, mengatur napas, lalu menguji beberapa tangga nada pelan. Suaranya tanpa pengeras-sudah memenuhi ruang dengan warna hangat.
"Silakan pilih satu lagu yang nyaman," ucap Miguel dari balik meja kontrol, suaranya terdengar di monitor kecil.
Thalia mengangguk. Ia memainkan intro pendek, lalu bernyanyi. Nada-nada pertama jatuh lembut, bening seperti gelas kristal disentuh cahaya. Pada bagian reff, suaranya naik, menampakkan kekuatan dan kendali yang membuat bulu kuduk berdiri. Beberapa riffia jalankan seperlunya, tidak lebih; teknik hanya tampak sebagai pijakan, bukan tontonan.
Rina berdiri kaku di sisi pintu, kedua tangannya menyatu di depan dada. Ia pernah mendengar Thalia bernyanyi di panggung sebelumnya; namun di ruangan kecil ini, tanpa sorak penonton, kemampuan itu terasa lebih tel@njang, lebih memikat, seperti menatap nyala api dari jarak satu jengkal.
"Cukup," Miguel akhirnya berkata, pelan. Bukan karena ingin menghentikan; lebih karena ia takut semakin lama mendengar, ia akan lupa berbicara. "Terima kasih, Nona Thalia. Materi vokal Anda kuat. Kami sudah dapat ukurannya."
Thalia mengangguk, berdiri dari bangku, merapikan rambut. Saat itulah pintu studio berderit terbuka tanpa ketukan yang sungguh-sungguh, hanya sentuhan iseng seolah pemiliknya terbiasa masuk ke ruangan mana pun di lantai ini.
Seorang pria tinggi dengan jaket kulit gelap bersandar singkat di kusen, senyum menyala seperti lampu kamera yang tiba-tiba flash. Rahangnya tegas, mata cokelatnya jenaka dan tajam. Tidak perlu pengenalan. Wajahnya ada di poster bioskop mana pun: Vano.
"Maaf," katanya, nada suaranya santai, menyeberang antara meminta izin dan tidak peduli pada perizinan. "Kupikir Studio C kosong. Ternyata tidak kosong-dan jelas tidak membosankan."
Rina berkedip cepat, lalu menunduk kaku. Miguel hanya mendengus kecil, setengah geli, setengah pasrah. "Tuan Vano, Anda selalu datang di momen yang... dramatis."
Vano melangkah masuk dua tapak. Tatapannya jatuh ke Thalia, dengan cara seorang kolektor menilai lukisan yang baru pertama kali dilihat namun terasa lama dikenal. "Tadi itu suara Anda?"
Thalia tidak bergeser mundur. "Kebetulan."
"Tidak terdengar seperti kebetulan," balasnya. Senyum itu bertahan, tapi matanya berubah menjadi lebih fokus. "Vano." Ia mengulurkan tangan. "Selamat datang di hutan kecil kami, Nona...?"
"Thalia," jawabnya, menyalami sekilas. "Terima kasih."
"Thalia," ia mengulang, seolah mencicipi namanya. "Nama yang enak diucapkan di panggung."
Helena datang menyusul, menutup pintu di belakangnya. "Tuan Vano, Anda seharusnya di lantai dua puluh, screen test iklan." Suaranya setengah menegur, setengah pasrah pada kebiasaan bintang besar.
"Aku lima menit lagi ke atas," jawab Vano tanpa menoleh, matanya masih pada Thalia. "Tadi aku lewat dan mendengar seseorang bernyanyi. Tidak sopan kalau tidak memperkenalkan diri, bukan?"
"Tentu," potong Helena diplomatis. "Maka izinkan saya memperkenalkan. Nona Thalia, ini Tuan Vano-Anda pasti sudah tahu. Tuan Vano, ini calon artis kami."
"Calon?" Vano mengangkat satu alis, menatap Helena sejenak, lalu kembali ke Thalia. "Aku harap 'calon' itu segera jadi 'resmi', atau akan jadi salah satu kesalahan bisnis paling memalukan tahun ini."
Thalia mengerjap ringan, bukan karena tersanjung, melainkan karena cara pria ini berbicara seolah apa pun bisa diputuskan hanya dengan permainan bibirnya. Rina di sisinya menahan napas, takut salah berdiri.
"Jika Tuan Vano punya waktu," Miguel menyisip sopan, "kami bisa jadwalkan listening session saat materi Thalia siap. Masukan dari senior selalu berharga."
"Masukan? Dengan senang hati," ujar Vano.
"Tapi sekarang aku hanya ingin bilang: ada sesuatu di warna suaramu-semacam cahaya yang tidak bisa dibeli. Kebanyakan orang mencoba bersinar dengan cara yang salah. Kau... kau sudah menyala bahkan sebelum lampu dinyalakan."
"Puitis sekali," Thalia menanggapi datar.
Bibirnya tersenyum, matanya tidak.
Vano terkekeh. "Puitis itu pekerjaan sambilan.
Pekerjaan utama: tahu kapan harus mengincar sesuatu yang langka."
"Lantai dua puluh," ulang Helena, menepuk naskah di tangannya tanda batas-batas tak kasatmata kembali ditegakkan.
Vano mengangkat kedua telapak tangan, menyerah pura-pura. Namun sebelum melangkah pergi, ia menoleh lagi. "Ishhh Baiklah!"
lanjuttttt/Kiss/