Di usia 27 tahun, Vivian Wheeler mengira hidupnya sempurna—hingga ia mendapati dirinya menjadi "pelakor" tanpa sengaja dalam satu hari yang sama.
Setelah memergoki pengkhianatan George, Kekasihnya, yang ternyata telah beristri, Vivian kembali dihantam badai saat dituduh sebagai selingkuhan oleh seorang remaja histeris yang mengamuk hingga merusak mobil Porsche-nya.
Penyebabnya? Logan Enver-Valerio, pemuda 20 tahun yang angkuh, menggunakan foto Acak Vivian sebagai alasan palsu untuk memutuskan Moana.
Tak terima dihina "wanita tua" dan dijadikan tameng, Vivian mendatangi kampus Logan dengan penampilan yang menipu usia, siap memberi pelajaran pada bocah ingusan tersebut.
Pertarungan ego antara sang pewaris tegas dan brondong ini pun dimulai. Siapakah yang akan menyerah saat mulai mencampuradukkan dendam dan obsesi?
🦋
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#8
Malam itu, Los Angeles diselimuti kabut tipis yang membuat cahaya lampu kota tampak temaram dan misterius. Restoran L’Ermitage berdiri angkuh di puncak perbukitan Beverly Hills, sebuah tempat di mana hanya nama-nama besar dan saldo bank dua digit yang bisa mendapatkan meja di dekat jendela besar yang menghadap langsung ke cakrawala.
Vivian Wheeler turun dari mobilnya, mengenakan gaun silk slip berwarna merah marun yang memeluk tubuhnya dengan sempurna. Rambutnya yang biasanya dikuncir kuda kini dibiarkan tergerai dalam gelombang lembut, memberikan kesan dewasa namun sangat provokatif. Dia butuh pengalihan. Dia butuh perlindungan dari rasa malu yang terus menggerogoti dadanya.
Hinaan George di restoran tempo hari masih terngiang seperti kaset rusak yang berputar di kepalanya.
"Apa kau menolak tidur denganku selama ini karena kau masih perawan? Kuno sekali."
Kata-kata itu bukan hanya menghina kesetiaannya, tapi juga mempertanyakan harga dirinya sebagai wanita modern. George menganggapnya barang antik yang tak berharga karena ia menjaga dirinya. Dan sekarang, di depan matanya, sudah duduk seorang pemuda yang menjadi alasan kekacauan sekaligus pelarian terbarunya.
Logan Enver-Valerio sudah menunggu. Dia tidak memakai setelan jas kaku. Dia hanya mengenakan kemeja hitam yang dua kancing teratasnya dibiarkan terbuka, memamerkan garis rahang yang tajam dan leher yang jenjang. Di bawah cahaya lampu kristal yang redup, Logan tampak seperti pangeran kegelapan yang siap menyesatkan siapa pun.
"Kau datang tepat waktu, Kak. Aku hampir mengira kau kabur karena takut terpesona lagi," goda Logan saat Vivian duduk di hadapannya.
Vivian meletakkan tas tangannya dengan tenang. "Simpan bualanmu, Logan. Kita di sini untuk bicara bisnis."
Logan terkekeh, menuangkan Cabernet Sauvignon ke gelas Vivian. "Bisnis? Aku pikir ini kencan. Tapi baiklah, aku suka wanita yang pragmatis."
Suasana restoran itu sangat tenang, hanya diiringi denting harpa di sudut ruangan. Namun, di meja mereka, udara terasa statis dan penuh muatan listrik.
Vivian menyesap anggurnya, matanya menatap Logan dengan intensitas yang tidak biasa. Di mata Vivian, Logan hanyalah seorang pemuda kaya yang sedang menikmati masa mudanya dengan uang orang tua. Dia membayangkan uang lima puluh dua ribu dolar yang dikirim Logan kemarin mungkin adalah jatah pesta pemuda itu selama sebulan yang ia minta secara khusus pada ayahnya.
"Aku punya tawaran untukmu," ucap Vivian memulai. "Jadilah kekasih kontrakku selama satu bulan."
Logan yang baru saja hendak menyuapkan escargot terhenti. Matanya berkilat penuh minat. "Kekasih kontrak? Itu terdengar seperti plot film romansa picisan, Vivian. Apa motif mu?"
"Aku butuh seseorang untuk membungkam mulut besar George. Aku butuh dunia tahu bahwa aku tidak 'membusuk' sendirian seperti yang dia katakan. Sebagai imbalannya," Vivian mencondongkan tubuh, "aku akan mengembalikan uang lima puluh dua ribu dolar milikmu. Aku tahu uang itu pasti sangat berarti bagimu untuk bertahan hidup sampai jatah bulanan dari ayahmu turun bulan depan."
Logan hampir tersedak tawanya sendiri. Dia menatap Vivian dengan tatapan yang sulit diartikan. Vivian tidak tahu bahwa Logan memiliki akun investasi pribadi hasil dari dividen perusahaan ayahnya yang ia kelola sendiri sejak usia delapan belas tahun. Saldo di akun itu cukup untuk membeli sepuluh mobil sport tanpa perlu melirik dompet ayahnya. Uang ganti rugi kemarin? Itu hanya recehan baginya.
Namun, Logan memilih untuk tidak mengoreksinya. Ini jauh lebih menarik.
"Jadi, kau ingin membeliku selama sebulan?" Logan menyandarkan punggungnya, menatap Vivian dengan tatapan predator. "Dan kau pikir aku semurah itu? Lima puluh ribu dolar untuk berakting mencintaimu di depan mantanmu yang brengsek itu?"
"Itu penawaran yang adil untuk mahasiswa sepertimu," sahut Vivian percaya diri.
Logan tidak segera menjawab. Dia sedang menganalisis wanita di depannya. Di mata Logan, Vivian adalah tipe wanita karier yang haus akan validasi. Dia mengira Vivian putus dengan George mungkin karena masalah ego atau karena Vivian sudah bosan dengan pria "matang" dan mencari sensasi baru yang lebih liar. Logan yakin, wanita sedewasa Vivian pasti sudah sangat berpengalaman dalam urusan ranjang, apalagi mengingat satu tahunnya dengan George.
"Satu bulan," ulang Logan. Atau dengan... keuntungan tambahan?"
Wajah Vivian memanas, namun dia tetap mempertahankan topeng kedinginannya. "Hanya di depan publik. Di balik pintu, kita tidak punya hubungan apa pun. Aku tidak tidur dengan sembarang orang, apalagi bocah."
Logan tersenyum smirk. "Bocah ini yang membuatmu mendesah di parkiran kemarin, ingat?"
"Itu kesalahan!" potong Vivian cepat.
Logan tertawa rendah, sebuah suara yang terdengar sangat maskulin dan menggetarkan. "Baiklah. Aku terima kontraknya. Tapi bukan karena uangmu, Vivian. Aku menerimanya karena aku ingin melihat seberapa lama kau bisa bertahan untuk tidak memohon padaku agar aku benar-benar menjadi milikmu."
Pertarungan pikiran itu berlanjut sepanjang makan malam. Vivian mencoba mendominasi dengan membicarakan aturan-aturan kontrak, sementara Logan terus memberikan serangan-serangan verbal yang membuat Vivian goyah.
"Kenapa kau putus dengan George?" tanya Logan tiba-tiba, memotong pembicaraan Vivian soal jadwal acara sosial yang harus mereka hadiri.
Vivian terdiam. Dia tidak mungkin bilang bahwa dia adalah "pelakor tak sengaja" yang dibohongi selama setahun. "Dia tidak cukup baik untukku."
"Atau mungkin kau yang terlalu sulit untuknya?" Logan menatap tajam ke mata Vivian. "Apa kau membosankan di ranjang, atau kau memang menjaga sesuatu yang menurutnya tidak penting lagi di zaman sekarang?"
Pertanyaan sensitif itu menghantam Vivian tepat di ulu hati. Bayangan George yang mengejeknya "kuno" kembali muncul. Vivian mengepalkan tangannya di bawah meja.
"Itu bukan urusanmu, Logan. Tugasmu hanya menjadi kekasih yang memuja di depan umum. Jangan melewati batas."
Logan mengangguk pelan, namun tatapannya tetap tidak lepas dari bibir Vivian. "Kau tahu, Vivian... George mungkin benar soal satu hal. Kau memang terlihat... Tapi bagiku, itu bukan hinaan. Itu adalah tantangan. Pria seperti George tidak punya kesabaran untuk mengupas lapisan wanita sepertimu. Mereka ingin hasil instan. Tapi aku?"
Logan mencondongkan tubuhnya hingga aroma maskulinnya menyelimuti indra penciuman Vivian.
"Aku punya seluruh waktu di dunia untuk membuktikan bahwa apa yang kau anggap 'kuno' adalah harta karun yang tidak pantas didapatkan oleh pria pecundang seperti dia."
Malam itu berakhir dengan penandatanganan kesepakatan yang tidak tertulis namun sangat mengikat di antara mereka. Vivian merasa dia telah mendapatkan senjata untuk melawan George, tanpa menyadari bahwa senjata itu adalah bom waktu yang siap meledak di tangannya sendiri.
Saat mereka berjalan keluar restoran, Logan dengan sengaja melingkarkan tangannya di pinggang Vivian, menariknya mendekat hingga tubuh mereka bersentuhan.
"Satu bulan dimulai dari sekarang, Kekasihku," bisik Logan tepat di telinga Vivian, sebelum membantunya masuk ke dalam mobil.
Vivian memejamkan mata saat mobilnya melaju pergi. Dia telah membuat keputusan. Dia akan menggunakan Logan untuk menyembuhkan luka egonya. Dia tidak tahu bahwa Logan, sang "bocah" yang ia remehkan, sedang tersenyum di balik kemudi motornya, merencanakan bagaimana cara meruntuhkan benteng terakhir yang dijaga Vivian dengan begitu rapat.
Pertarungan sebenarnya baru saja dimulai. Antara wanita yang berpura-pura berpengalaman dan pria yang berpura-pura hanya menginginkan uang, padahal keduanya sedang tenggelam dalam labirin obsesi yang tak berujung.