Huang Xuan dengan kekuatannya mengguncang dunia memimpin pemberontakan kepada Dewa. Disaat menuju kemenangannya, hal aneh terjadi hingga membuatnya kalah yang kemudian terjatuh kembali ke alam manusia. Disaat kejatuhannya, alam manusia telah memiliki peradaban maju yang ditandai dengan berdirinya dinasti Xia yang merupakan mandat dari alam Dewa untuk manusia. Setiap pemimpinnya memiliki garis darah Dewa membuatnya menjadi penguasa sejati alam manusia. Huang Xuan yang membenci para Dewa memulai perjalanannya dengan menggulingkan Dinasti Xia sebelum dirinya kembali memberontak ke alam Dewa.
"Dengan pedang sebagai pena dan darah sebagai tinta, aku Huang Xuan menulis sejarah dengan cara berdarah-darah. Tidak takut kepada Dewa, Setan dan Iblis karena aku lah penguasa sesungguhnya"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yogasurendra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pahlawan Yang Jatuh
Gemuruh di langit bagaikan genderang perang disertai kilatan cahaya bagaikan bintang bersinar dikegelapan menembus awan gelap. Dengan sebilah pedang mendongak ke langit sembari tersenyum meremehkan tanpa memerdulikan percikan petir yang ada di sekitarnya.
"Mengapa? Apakah kalian takut akan kedatanganku? "ucapnya lantang menggema di udara.
"Huang Xuan... Kau berani menentang kekuasaan para Dewa yang telah lama hidup bahkan sebelum kau dilahirkan ke dunia," ucap suara misterius yang kemudian menunjukkan wujudnya ketika energi langit dan bumi berkumpul menjadi satu membentuk wajah seseorang yang memancarkan kemuliaan kuno yang tiada tanding.
"Benar! Aku Huang Xuan menentang kalian semua menolak perintah para Dewa,"
"Lancang!!" teriakan menggema disertai hempasan energi destruktif ke segala arah.
Seketika udara menjadi berat membuat sesak siapapun yang merasakannya ketika tekanan terasa kian memberatkan. Huang Xuan dengan tenang melambaikan tangannya menghilangkan tekanan tersebut yang ada disekitarnya. Pedangnya terayun pelan mengumpulkan energi langit dan bumi yang mengalir pada bilah pedangnya kemudian diayunkannya dengan sekuat tenaga seketika membelah langit hingga ke alam Dewa. Huang Xuan mendengus dingin kemudian melesat dengan kecepatan tinggi memasuki alam Dewa yang seketika aura penekanan dan primordial terasa.
"Aku menantang penguasa alam Dewa untuk bertarung!" ucapnya lantang mengayunkan pedangnya.
Suasana yang sebelumnya tenang seketika berubah ketika angin lembut membawa awan putih yang kemudian energi primordial berkumpul membentuk siluet seseorang yang tengah duduk disinggasana megah bertakhtakan berlian dan emas. Mengenakan jubah kebesaran bersulamkan emas dengan mahkota Kaisar yang memancarkan aura keagungan. Dia dalah Kaisar Dewa Surgawi Xuan Tianhao
"Huang Xuan... Kau telah datang kemari," ucap Xuan Tianhao.
"Benar! Kedatanganku berniat buruk untuk menantangmu bertarung. Jika aku menang maka para Dewa tak berhak untuk ikut campur urusan alam manusia dan jika aku kalah maka jiwaku akan lenyap dari dunia ini," balas Huang Xuan dengan nada penuh semangat.
"Kembalilah, kau tak memiliki kekuatan yang cukup untuk bertarung denganku," balas Xuan Tianhao dengan nada acuh tak acuh.
Huang Xuan seketika terpantik emosinya hingga membuat energi disekitarnya membara oleh amarah ketika merasakan dirinya tengah diremehkan.
"Tunjukkan tubuh aslimu dan aku akan meruntuhkan kekuasaanmu!"teriaknya murka.
"Makhluk fana tidak pantas untuk melihat kebenaran dari wujud sejatiku"
Huang Xuan yang telah diliputi amarah melayang di udara dengan aura mengerikan terpancar dari dalam tubuhnya meluap-luap bagaikan sungai. Pedang ditangannya bergetar hebat seakan bersiap untuk bertempur habis-habisan. Jutaan pedang muncul dibelakang tubuhnya berputar membentuk formasi pedang raksasa memenuhi langit begitu mengerikan bilamana terlihat.
"Aku mengendarai pedang melintasi dunia menebas langit menginjak-injak alam surga membunuh menantang Kaisar Dewa Surgawi untuk bertarung!" ucapnya dengan lantang mengayunkan pedangnya diikuti jutaan pedang melesat bagaikan aliran sungai di langit meliuk-liuk saling menyatu membentuk pedang raksasa.
Xuan Tianhao tak tinggal diam mengulurkan telapak tangannya seketika tekanan penuh energi terasa begitu sesak begitu telapak tangan raksasa muncul dari langit. Begitu agung dan penuh akan kekuatan penghancur disekitarnya. Ledakan dahsyat tak terelakkan hingga semuanya menjadi hampa yang dimana Huang Xuan memuntahkan seteguk darah segarnya. Ia mendongak menatap Xuan Tianhao dengan tajam menggertakkan giginya yang dipenuhi oleh darah membuatnya terlihat mengenaskan. Seluruh pedangnya hancur berkeping-keping tak ada yang bersisa bahkan pedang yang ada ditangannya.
Hmphh!!
"Bersatu!"ucapnya dengan raut wajah senang.
Serpihan pedang yang berjatuhan kembali menyatu menjadi pedang utuh yang sempurna diliputi oleh kekuatan primordial seakan-akan energi alam berada didalamnya.
"Aku meminjam energi Yin-Yang untuk membentuk pedang demi membelah Alam Dewa. Pedang datang!"ucapnya berteriak dengan sekuat tenaga.
Pedang raksasa melesat muncul di belakang Huang Xuan. Bilahnya berkilauan putih dengan ganggang hitam diselimuti aura Yin-Yang. Dengan gerakan lembut tangannya,pedang tersebut melesat kembali untuk menyerang. Xuan Tianhao yang melihatnya hanya diam tak melakukan apapun membuat Huang Xuan mengrenyitkan heran akan tetapi seutas senyuman disudut bibirnya membuatnya menyadari sesuatu ada yang salah.
Brukk!!
Tubuhnya tiba-tiba lemas disertai suara berdenging yang menghantuinya membuat kepalanya terasa pusing dan perlahan-lahan kesadarannya menghilang. Sesaat sebelum matanya terpejam, ia melihat cahaya bersinar begitu terang ada di sekitar Xuan Tianhao sebelum matanya terpejam.
"Kalian datang tepat pada waktunya,"ucap Xuan Tianhao.
"Hahahaha. Aku hanya ingin melihat kau meregangkan otot setelah sekian ribu tahun hanya terduduk di atas singgasana," ucap seseorang begitu menggema di seluruh alam Dewa.
Cahaya hitam terpendar menutupi cahaya alam Dewa digantikan oleh kegelapan abadi yang mengerikan dan penuh akan tekanan. Sesosok agung muncul hingga siluetnya begitu besar hampir menutupi seluruh alam Dewa ketika takhta miliknya muncul berornamenkan dominasi hitam. Dia adalah Kaisar Iblis Kuno He Yuanmo penguasa Alam Kegelapan Abadi.
"Makhluk fana yang melampaui segalanya," ucap seseorang yang dengan lambaian tangannya menghilangkan dominasi kegelapan menjadi hawa kematian yang begitu mengerikan ketika takhta nya muncul dari ruang hampa berhiaskan tengkorak. Siluetnya sama seperti keagungan disekitarnya berwarna merah menyala dan memancarkan hawa kematian. Dia adalah Kaisar Mayat penguasa Alam Kematian Yin Shou.
Ketika tawa menggema, langit bergetar yang disertai kemunculan cahaya keemasan berupa cincin dengan pola kuno. Ditengahnya muncul lingkaran spiral yang kemudian mengeluarkan ribuan aksara kuno berasal dari mantra kuno memenuhi langit alam Dewa. Kelopak bunga teratai suci muncul yang tercipta dari cahaya emas terbuka sepenuhnya menunjukkan wujud seorang Buddha yang tengah dalam posisi meditasi memejamkan matanya.
"Amitabha...."
"Hahahaha. Bahkan Penguasa Dharma Agung Rulai penguasa dari Alam Samsara datang mengunjungiku," ucap Xuan Tianhao.
Mereka semua berkumpul di alam dewa merupakan eksistensi purba dari semesta raya penguasa sesungguhnya dari setiap alam yang telah diciptakan. Entah tujuannya apa demi menghalau Huang Xuan mereka bergabung bahkan muncul ditempat yang sama. Huang Xuan yang tak sadarkan diri terjun bebas dari langit bagaikan meteor ketika tubuhnya diselimuti api akibat kecepatannya turun menghantam lautan. Tubuhnya tenggelam semakin jauh ke dalam. Bayangan seseorang berenang mendekatinya membawanya naik ke permukaan hingga ke tepian pantai.
"Putri!"ucap beberapa prajurit datang berbondong-bondong terkejut ketika melihat junjungannya tengah membuka pakaian seorang laki-laki memberinya nafas buatan dan dengan lembut tangannya memberikan energi kehangatan kepada Huang Xuan yang beberapa saat kemudian dirinya terbatuk-batuk disertai muntahan air. Pandangannya yang kabur semakin jelas melihat wanita cantik yang telah menyelamatkannya.
"Siapa kau?" ucap Huang Xuan bingung.
Wanita itu tersenyum lembut membantu Huang Xuan untuk duduk. Prajurit mendekat berniat memanggil wanita itu dengan sebutan putri namun segera dihentikan. Menyadari ada sekelompok orang membawa senjata lengkap ada disekitarnya membuat Huang Xuan bersikap waspada.
"Tenanglah, ikutlah dengan ku untuk menyembuhkan lukamu," ucap wanita itu membopong Huang Xuan mengindahkan bantuan para prajuritnya.