novel dengan universe berbeda dari novel
"hazel lyra raven", dimana pharma dan Lyra bisa bersama tanpa ada ledakan
Dokter Lyra (27), spesialis anak, dipindahtugaskan ke Rumah Sakit Delphi di London. Di sana, ia harus berhadapan dengan Pharma Andrien, kepala rumah sakit sekaligus spesialis saraf yang dijuluki "Ice King" karena sifatnya yang sangat cuek, dingin, dan perfeksionis di depan staf medis.
Namun, segalanya berubah saat mereka sedang berduaan. Di balik pintu tertutup, Pharma berubah drastis menjadi sosok yang sangat clingy dan manja hanya kepada Lyra. Kini, Lyra harus berjuang menjaga profesionalitas di rumah sakit sambil menghadapi tingkah "muka dua" atasannya yang tidak bisa jauh darinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AEERA-ALEA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
1
Matahari baru saja naik, tapi lorong Rumah Sakit Medika sudah mulai ramai. Lyra (27), dengan jas putihnya yang rapi dan stetoskop bergambar jerapah melingkar di leher, baru saja selesai memeriksa pasien balita yang sempat demam tinggi semalam. Sebagai dokter spesialis anak, kesabaran adalah napas utamanya.
"Ingat ya, Bu, obat penurun panasnya diminum sesuai dosis yang saya tulis.kalau si kecil tidurnya sudah nyenyak, jangan dibangunkan paksa," ucap Lyra lembut sambil mengusap kepala pasien kecilnya.
Baru saja keluar dari bangsal anak, sebuah tepukan mendarat di bahunya.
Reuni Singkat di Kantin
"Oi, Spesialis! Sibuk amat," sapa Layla, dokter umum yang baru saja selesai jaga malam. Wajahnya terlihat lelah tapi matanya masih bersinar jenaka.
Di meja kantin, sudah duduk Mira, dokter gigi yang sedang asyik memeriksa jadwal praktiknya di tablet. Mereka bertiga sudah bersahabat sejak masa koas, meski sekarang punya spesialisasi yang berbeda-beda.
Layla: "Ly, denger-denger tadi ada pasien yang nangis jerit-jerit di poli kamu? Kedengeran loh sampai lobi."
Lyra: (Tertawa kecil) "Biasa, La. Ada yang takut disuntik. Padahal cuma mau dicek tenggorokannya. Tapi untung ada stok stiker lucu di saku, langsung diam deh."
Mira: "Enak ya pasien kamu bisa disogok pakai stiker. Pasien gigi aku? Biar dikasih stiker se-album juga kalau lihat bor gigi langsung mau lari dari kursi."
Profesionalitas dan Persahabatan
Meski usia mereka masih tergolong muda untuk ukuran dokter (27 tahun), dedikasi mereka tidak perlu diragukan. Lyra dikenal sebagai dokter yang paling tenang, Layla paling sigap di IGD, dan Mira adalah dokter gigi yang paling teliti.
"Nanti malam makan bareng yuk? Aku yang traktir, mumpung bonus cair," ajak Mira sambil mengedipkan sebelah mata.
"Setuju!" jawab Lyra dan Layla kompak.
Tiba-tiba, pager Lyra berbunyi. Ada panggilan darurat dari ruang perinatologi. Wajah santai Lyra langsung berubah serius dan profesional.
"Duluan ya, guys! Tugas memanggil!" seru Lyra sambil berlari kecil menuju lift, jas putihnya berkibar, menunjukkan sisi tegas seorang Hazel Lyra Raven yang sangat mencintai pekerjaannya.Suasana santai di kantin tadi seketika menguap begitu Lyra melihat pesan di ponselnya. Dokter Aris, Kepala Rumah Sakit Medika yang dikenal sangat disiplin, memanggilnya ke ruang utama.
Lyra merapikan jas putihnya, memastikan tanda pengenalnya terpasang tegak, lalu mengetuk pintu kayu jati yang berat itu.
Di Ruang Atasan
"Masuk, Dokter Lyra," suara berat Dokter Aris terdengar dari dalam.
Lyra melangkah masuk. Di sana, Dokter Aris sedang menatap beberapa dokumen di layar monitornya sebelum akhirnya melepas kacamata dan menatap Lyra dengan serius.
"Saya baru saja meninjau laporan bulanan dari departemen anak," buka Dokter Aris. Lyra sempat menahan napas sejenak, bertanya-tanya apakah ada prosedur yang terlewat atau komplain dari orang tua pasien.
"Saya perhatikan dedikasi Anda pada pasien-pasien kritis di ruang NICU sangat tinggi. Bahkan di luar jam jaga, Anda seringkali tetap di sana untuk memantau perkembangan bayi-bayi itu," lanjut beliau.
Penawaran Mengejutkan
Dokter Aris menyandarkan punggungnya ke kursi. "Begini, Lyra. Rumah sakit berencana mengirim satu perwakilan spesialis anak untuk mengikuti simposium internasional dan pelatihan teknologi medis terbaru di inggris bulan depan. Ini adalah program fellowship singkat."
Lyra tertegun. Di usianya yang masih 27 tahun, mendapatkan tawaran seperti ini adalah lonjakan karier yang luar biasa.
"Saya ingin Anda yang pergi. Tapi, ini artinya Anda harus meninggalkan praktik di sini selama tiga minggu. Bagaimana? Apakah Anda siap mengatur jadwal dengan Dokter Layla dan tim lainnya?"
Reaksi Teman-Teman
Keluar dari ruangan, Lyra masih merasa seperti melayang. Ia segera mencari Layla dan Mira yang ternyata masih asyik mengobrol di koridor dekat apotek.
"Muka kamu kenapa, Ly? Pucat banget. Dimarahin atasan?" tanya Layla panik, sambil memegang pundak Lyra.
"Enggak, La... malah sebaliknya," bisik Lyra pelan.
"Maksudnya?" Mira ikut mendekat, penasaran.
"Aku... aku ditunjuk buat mewakili rumah sakit ke inggris untuk pelatihan spesialis," jawab Lyra akhirnya dengan senyum lebar yang mulai merekah.
Layla dan Mira sontak bersorak kecil hampir membuat suster yang lewat menegur mereka karena berisik di koridor rumah sakit.
"Gila! Dokter muda kita memang paling top!" seru Layla bangga. "Tenang aja, urusan pasien di IGD atau koordinasi bangsal biar aku yang bantu pantau semampuku."
"Tapi ingat ya," potong Mira sambil tertawa, "oleh-olehnya jangan cuma ilmu medis, kita butuh oleh-oleh yang beneran!"
...****************...
Dokter Aris mengetuk jemarinya di atas meja kayu yang mengkilap, memberikan jeda dramatis sebelum melanjutkan kalimatnya. Mata tuanya menatap Lyra dengan binar apresiasi yang jarang ia tunjukkan pada dokter muda lainnya.
"tapi saya rasa potensi Anda jauh melampaui itu, Lyra. Saya sudah mengatur agar Anda berangkat ke Inggris. Anda akan ditempatkan di Rumah Sakit Delphi, London. Itu adalah pusat rujukan pediatrik terbaik di Eropa saat ini."
Lyra merasa jantungnya seakan berhenti berdetak sesaat. Delphi bukan sekadar rumah sakit biasa. Itu adalah institusi yang menjadi kiblat bagi para dokter spesialis anak di seluruh dunia karena teknologi regeneratif dan metode penanganan pasien kritis mereka yang nyaris mustahil dilakukan di tempat lain.
Begitu keluar dari ruangan, kaki Lyra terasa lemas. Ia segera menemukan Layla dan Mira yang sedang duduk di kursi tunggu taman rumah sakit, menikmati sisa jam istirahat mereka. Begitu Lyra menceritakan tujuan keberangkatannya, reaksi kedua sahabatnya jauh lebih heboh dari yang ia duga.
"Delphi? Di London?" Layla hampir saja menjatuhkan gelas kopi plastiknya. Ia menggeser duduknya agar lebih dekat dengan Lyra, matanya membelalak lebar. "Ly, kamu tahu kan siapa yang memimpin rumah sakit itu? Itu bukan cuma soal medis lagi, itu soal keberuntungan seumur hidup!"
Mira yang biasanya lebih tenang kini ikut meletakkan tabletnya dan tersenyum penuh arti. "Maksud Layla adalah kepala rumah sakitnya, Ly. Gosip tentang dia itu lebih kencang daripada berita jurnal medis mana pun. Katanya dia itu perpaduan antara otak jenius dan wajah yang seolah dipahat oleh seniman terbaik. Dia dokter bedah syaraf terbaik tapi juga memimpin seluruh manajemen Delphi di usia yang masih sangat muda."
Layla menjentikkan jarinya, mencoba mengingat-ingat detail yang pernah ia baca di forum kedokteran internasional. "Dia itu legenda hidup. Banyak dokter muda dari berbagai negara rela mendaftar program magang di sana cuma buat melihat dia lewat di koridor saat visite besar. Katanya, kalau dia sudah masuk ke ruang operasi, suasananya langsung berubah jadi sangat intens karena dia sangat teliti dan tidak menoleransi kesalahan sekecil apa pun. Tapi ya itu, ketegasannya justru bikin dia makin terlihat karismatik."
"Bayangkan saja, Ly," Mira menimpali dengan nada menggoda, "kamu akan bekerja di bawah arahan langsung orang sehebat itu. Di sana, dia bukan cuma pemimpin, dia itu standar emas. Pintar, berwibawa, dan kabarnya dia punya sorot mata yang bisa bikin dokter residen lupa cara bernapas kalau diajak bicara empat mata."
Lyra hanya bisa menggelengkan kepalanya sambil tertawa kecil, meski dalam hati ia mulai merasa gugup. Fokusnya adalah belajar dan membawa ilmu baru untuk pasien-pasien kecilnya di sini, tapi mendengar cerita Layla dan Mira tentang sosok pemimpin di Rumah Sakit Delphi, ia tidak bisa memungkiri rasa penasaran yang mulai tumbuh di benaknya. Siapa sebenarnya pria yang disebut-sebut sebagai 'The Best' di London itu?
"Sudahlah, fokus kalian malah ke orangnya, bukan rumah sakitnya," protes Lyra pelan, meski pipinya mulai bersemu merah karena godaan kedua temannya.
"Percayalah, Ly," Layla mengedipkan sebelah mata, "begitu kamu sampai di London dan melihat dia sendiri, kamu bakal paham kenapa kami seheboh ini. Jangan lupa kirim foto sembunyi-sembunyi kalau kamu berpapasan dengannya di lorong!"