Norma menolak keras ketika mertua memintanya menggadaikan rahimnya pada pria kaya, dengan dalih untuk pengobatan sang putri.
Namun saat kejadian nahas menimpa putrinya, dan tekanan dari Mariah mertua nya, membuat Norma terpaksa mengambil keputusan nekad.
Tak sampai disitu, keputusan Norma membuatnya di hina oleh keluarga Syamsul dan masyarakat sekitar.
Sementara suaminya bekerja di luar negeri sebagai TKI. Hilang kontak.
Akankah Norma mampu menjalani kehidupan yang dilema?
.
Mohon baca teratur disetiap bab nya🙏
Kemana kah suami Norma?
Bagaimana kisahnya?
Setting: Sebuah pulau di Riau
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Juniar Yasir, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hal mengejutkan
Norma lestari, wanita yang di sapa Norma. Usia 30 tahun. Memiliki putri kecil, berkebutuhan khusus karena saraf otaknya memiliki kekurangan. Untuk mengobatinya membutuhkan biaya yang sangat besar. Sementara sang suami, Syamsul Arifin_ sudah setahun merantau ke negeri singa menjadi TKI di Singapura. Sudah lima bulan ini Syamsul tidak pernah lagi mengirim uang. Sedangkan Norma sendiri, Iya menyadap karet di kebun milik Pak Kades. Sore hari menerima cuci dan gosok di malam hari.
.
Sekitar pukul 9 pagi, Norma baru saja pulang dari menyadap karet di kebun milik Pak Kades, Wanita ini langsung membersihkan diri. Selesai bebersih Norma tidak langsung istirahat. Dirinya langsung memandikan putrinya. Setelah putrinya rapi, Norma keluar dari kamar berjalan menuju dapur, membuat minuman untuk Mariah, mertuanya.
Saat akan menuju ruang tamu, telinga Norma mendengar pembicaraan sang mertua, Mardiah_Kakak dari Mariah, sepupu dari suaminya, dan adik iparnya. Mereka menyebut namanya.
Pyarrrrrrrr
Gelas berisi minuman yang di bawa oleh Norma jatuh, pecah berkeping. Dunia Norma seakan runtuh mendengar ucapan keluarga suaminya, Syamsul.
Semua keluarga yang berkumpul di ruang tamu sederhana itu menetap ke arahnya. Tidak ada sedikitpun raut terkejut atau bersalah di mata mereka.
Melihat kedatangan Norma, Mardiah langsung pamit pulang. Iya takut terseret, padahal dirinya menawarkan ide gila tersebut.
Mariah, mertua dari Norma beranjak dari kursi berjalan mendekati menantu yang tak di anggapnya itu. Dengan tatapan sinis, bibir tersenyum miring, dia bersedekap dada.
"Bagus kau datang, mendengar tepat pada waktunya Norma. Jadi aku tak perlu berbasa-basi lagi padamu." ucap Mariah tanpa hati.
"Apa maksud nya ini Ibu? Kenapa kalian tega, tak berperasaan memperlakukan Norma seperti ini?" Norma meminta penjelasan, berharap yang di dengarnya barusan hanyalah mimpi.
"Sudahlah Kak. Ini pun juga demi Nuri, putri semata wayangnya kak Norma dan bang Syamsul juga. Tak teringinkah jika putri kakak sehat walafiyat seperti anak sebaya yang lainnya?" Daria, adik ipar Norma, adik bungsu Syamsul ikut angkat bicara.
"Aku ibunya Daria, jelas aku yang paling ingin anakku sehat, ceria, normal seperti anak seusianya. Tapi mau bagaimana lagi. Mana mungkin menggadaikan rahim ini pada orang asing sementara aku sudah bersuami" Norma sungguh frustasi akan kenyataan yang di dengar dari pihak sang mertua.
"Alah, banyak kali drama kau ni Norma. Ibu yang egois, tak berperasaan! Berkorban demi anakmu pun kau tak mampu. Padahal tinggal tanda tangan, menampung rahim dari benih saja tanpa perlu hubungan badan, selanjutnya kalau berhasil membuahi kau akan terima duit 1 Milyar. SATU MILYAR! apa susahnya?" Mariah menggeram kesal.
"Bukan hanya itu. Selain bisa untuk mengobati Nuri, kau juga bisa menebus sertifikat rumah dan kebun kita. Tak perlu lagi kita bekerja banting tulang, cuci gosok, dan menyadap di kebun karet milik orang lain. Selebihnya kau bisa buka warung kecil-kecilan." ucap Mariah lagi. Sementara bapak mertua Norma tidak ada dirumah, pria itu biasanya nongkrong di pasar, beralasan jadi buruh angkut barang.
Norma meraup kasar wajahnya karena frustasi. Bagaimana mungkin keluarga suaminya menganggap sepele rencana gila tersebut.
"Woi, kak Norma?! Kenapa pula bengong" ucap Daria membuyarkan lamunan Norma.
"Bu, berikan aku waktu untuk memutuskan semua ini. Aku juga perlu berbicara pada bang Syamsul." putus Norma akhirnya. Dia tak ingin mengambil keputusan yang salah, ini bukan masalah sepele.
"Ria, Kakak pinjam ponsel mu sebentar bolehkan?" Norma ingin menghubungi Syamsul.
Daria hanya memutar malas matanya sambil berjalan menuju kamarnya.
"Tidak perlu, Syamsul sudah mengetahuinya dan Dia juga setuju. Tapi kau boleh memikirkannya dulu, malam ini kau harus memberi jawaban!" tekan Mariah yang di balas anggukan oleh Norma.
"Ya sudah, kalau gitu bersihkan dulu tumpahan minuman dan pecahan kaca tu dulu. Jangan lupa nanti sore ini antarkan pakaian Bu kades" Mariah berlalu masuk kamar.
.
*********
.
Sore harinya, Norma sibuk mem-packing pakaian yang sudah rapi disetrika kedalam tempat khusus pakaian. Lalu memasukkan kedalam kantong plastik ukuran jumbo. Semua akan di antar di rumah Bu kades. Selesai dengan pekerjaannya, Norma mengambil dompet dan mengenakan hijab instan. Lalu menghampiri sang anak yang sedang bermain boneka di kasur. Norma duduk di sisi ranjang di sebelah sang putri yang sedang asik.
"Anak mamak sholeha, Nuri! Mamak pergi dulu ya nak" Iya usap rambut ikal sang anak dengan penuh kasih sayang. Nuri hanya asik dengan dunianya sendiri.
"Nuri tetap di kamar saja ya nak, nanti mamak belikan bakso bakar dan mini pizza kesukaan Nuri." Norma mencoba mengalihkan perhatian sang anak, sambil mengelap air liur sang anak yang sering menetes.
"Ha? Aso Aso?!" pekik Nuri girang hingga melonjak senang.
"Iya sayangnya mamak, bakso. Tapi Nuri di kamar saja ya. Janji?" Norma mengulurkan jari kelingking yang langsung di balas Nuri.
"Pintar. Ya sudah mamak pergi dulu ya sayang" Norma mencium pucuk kepala sang anak.
Norma beranjak, mengambil kantong plastik, menentengnya lalu membawa keluar kamar.
********
Tiba di teras, Norma menaruh kantong plastik di atas jok motor lalu di ikat supaya tidak jatuh di jalan.
"Mana orang rumah? Pada sepi begini?" Darman baru pulang dari pasar.
"Ibu di kamar, Daria keluar dengan temannya pak" jawab Norma. Darman hanya berdehem lalu masuk rumah tanpa mengucap salam.
Norma segera menaiki motor, menghidupkan stater lalu melaju pelan keluar dari pekarangan rumah.
"Kemana Nor?" Dawiya sahabat karib Norma.
Norma memelankan laju motornya berhenti di pinggir sejenak.
"Aku mau mengantar pakaian Bu Kades. Dirimu hendak kemana?" Norma melihat temannya berpakaian bagus, memegang koper juga.
"Aku akan menginap di losmen dekat pelabuhan malam ini. Besok akan pergi ke negeri Jiran." balas Dawiya.
"Kau mau ke Malaysia?" tanya Norma.
"Iya Nor. Alhamdulillah ada lowongan kerjaan di tempat sepupu ku" Dawiya antusias.
"Alhamdulillah. Aku turut senang mendengarnya" Norma senyum tulus.
"Ayolah kerja juga kau di sana. Dari pada disini, jadi babu ibuk dan anak tak ada akhlak itu!" Dawiya sensi jika membahas keluarga suami sahabatnya ini.
"Tidak bisa Wi. Kau kan tahu sendiri, tak mungkin ku meninggalkan putri semata wayangku. Apa lagi kondisi mentalnya kurang baik." ujar lirih Norma.
Dawiya menghela nafas. Iba sekali melihat sahabat baik nya harus pontang panting mencari uang, sambil mengurus anak yang berkebutuhan khusus "Iya juga ya. Tapi suami mu kan jadi TKI, bisalah nanti kau segera mengontrak saja Nor" ucap Dawiya.
"Tidak semudah itu Wi. Mana mungkin aku meninggal rumah peninggalan orang tua ku. Lagipula rumah itu sertifikat nya di jadikan pada rentenir." jawab Norma apa adanya.
Sertifikat rumah dan kebun peninggalan orang tua Norma di gadaikan sebagai jaminan pinjaman uang. Saat itu Syamsul beralasan untuk modal menjadi TKI di luar negeri.
Dawiya hanya menggeleng kepala saja. Tidak tahu juga mau menanggapi seperti apa kehidupan yang di jalani sahabatnya ini. Namun sejujurnya Dawiya berharap suatu hari nanti Norma bisa hidup aman dan tentram bersama keluarga kecilnya tanpa ada mertua dan ipar yang seperti parasit.
.
"Bagaimana keputusanmu Norma?"
.
. Assalamualaikum
Selamat malam kakak semua.
🙏
Semoga kali ini konsisten dan kakak semua masih suka dengan karya saya🙏
Happy reading🤗