Melia-Dimas yang bermula dari Hubungan Tanpa Status berakhir di jenjang pernikahan yang masih terlalu muda.
Takdir seolah tak membiarkan keduanya asing, setelah berpisah karena orang tua yang harus berpindah negara, mereka kembali di pertemukan dengan satu sama lain dengan perasaan yang masih sama tanpa berkurang sedikitpun.
Bagaimana kelanjutannya? Simak selengkapnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hanisanisa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1
"Kak Dim.. Kakak serius mau ninggalin aku sendiri?" tanya Melia dengan lirih, ia mengantar Dimas ke bandara dengan hati berat. Kepala nya bahkan sejak tadi menunduk.
"Maaf Mel, Kakak harus ikut Mama Papa ke Belanda. Kakak janji akan tetap komunikasi sama Melia lewat hp" jawab Dimas sembari menyentuh pundak Melia agar Melia mau menatap nya.
"Kapan Kak Dim pulang ke Indonesia?" tanya Melia mencoba untuk mendongak menatap wajah yang selalu mengisi hati dan pikiran nya.
Dimas tersenyum tipis. "Secepatnya" jawab Dimas ambigu, ia saja tak yakin akan kembali, tapi setidaknya jawaban nya itu tanda ia juga berusaha.
Melia mengangguk pelan. Dan segera masuk ke dalam dekapan hangat Dimas yang selalu ia rindukan dan ingin ia cium aroma tubuh nya.
"Ku tunggu kepulangan Kak Dim" bisik Melia di angguki Dimas yang juga membalas pelukan erat dari Melia.
"Pesawat nya udah mau take off, Mel" ujar Dimas mengurai pelukan nya dan menatap mata Melia yang nampak sayu dan tak rela.
"Kak Dim janji setelah kembali nanti, Kak Dim langsung melamar Melia, jadi jangan khawatir lagi ya?" ucap Dimas membuat Melia berkedip beberapa kali.
"Tunggu Melia besar ya Kak" Dimas mengangguk sembari merapikan anak rambut yang menghalangi mata indah Melia.
"Iya Sayang, cepat besar" ucap Dimas mengusap pelupuk mata Melia yang mengeluarkan air mata.
"Jangan panggil Sayang dulu ih, pacar aja bukan manggil Sayang-Sayang" cibir Melia sembari mengusap hidung nya yang mengeluarkan cairan.
Dimas tersenyum tipis. "See you Melia Anjani". Dimas pun segera melangkah pergi meninggalkan Melia yang terus menatap nya tanpa berkedip hingga hilang dari pandangan.
"Ku ingat janji mu Kak"
...****************...
Kriiiiiiing
"Mel bangun matikan alarm mu itu nak" seru seorang wanita yang suara nya dekat dengan pintu kamar milik Melia.
Ceklek
Wanita yang berseru tadi nampak menghela napas dan bersedikap dada menatap jengah ke arah anak gadis nya yang masih berada di dalam selimut.
"Melia Anjani! Bangun, sudah siang ini kamu bisa telat ke sekolah nya" ucap Mama nya dengan berkacak pinggang melangkah mendekati kasur Melia.
"Lima menit lagi Ma" bujuk Melia dengan bergumam, ia bahkan semakin mengeratkan selimut tebal nya yang bergambar Iron Man.
"Nggak ada lima menit, SE-KA-RANG!" teriak Mama nya dengan galak menarik selimut itu dari atas tubuh Melia.
Melia membuka mata malas dan menghela napas jengah, ia pun meregangkan otot-otot tubuh seperti orang yang kejang-kejang.
"Masih ngantuk Ma" gumam Melia lagi hendak memejamkan mata lagi tanpa menyadari di hadapan nya sudah ada singa kelaparan.
"Habis ngapain kamu tadi malam sampai masih ngantuk? Kerja nggak, sekolah nggak sampai malam" cibir Mama Gina terus mencoba membangunkan Melia.
Melia berdecak sebal. "Ma, Melia tadi malam bantu-bantu teman sekolah buat dekorasi panggung buat acara pentas seni" jawab Melia agar Mama nya itu tak lagi mencibir nya.
"Kalau nggak percaya, tanya Papa sana. Papa aja nemenin aku ke sekolah" sahut Melia lagi sebelum Gina menjawab.
Gina menghela napas pelan. "Kalau gitu cepat bangun, mandi, siap-siap. Kamu itu anak cewek masa malas-malasan, gimana nanti suami kamu kalau punya istri pemalas" oceh Gina membuat Melia langsung menutupi kedua telinga nya dengan bantal.
"Please Ma, lima menit lagi ya.. Melia masih ngantuk banget" melas Melia terus mencoba untuk bernegosiasi dengan Mama nya yang terus mengoceh.
Gina menghela napas. "Nanti siang temani Papa jemput teman lama nya ya, Mama harus masak banyak karena kedatangan tamu spesial" ujar Gina memilih untuk mengalihkan pembicaraan.
Melia yang awalnya masih ingin tidur segera membuka mata nya dan menatap Mama nya dengan alis menukik tanda bingung.
"Tamu spesial? Teman lama Papa yang mana?" tanya Melia yang sudah tak mengingat berapa banyak teman Papa nya yang selalu datang ke rumah.
Gina berdecak. "Nggak usah kepo deh, nanti kamu juga tau kalau udah ketemu. Makanya mandi sana, terus ke sekolah, nanti di jemput Papa dari sekolah" jawab nya segera berbalik keluar dari kamar yang bernuansa superhero.
Melia duduk sembari mencoba mengingat-ingat siapa teman lama Papa nya. Mungkin karena sudah terlalu banyak kekacauan yang ia buat selama 4 tahun ini membuat nya banyak melupakan kejadian dulu.
Melia sudah berusia 18 tahun dan sebentar lagi akan lulus sekolah menengah atas.
Yang ia ingat saat ia berumur 14 tahun pernah mengantarkan seorang laki-laki ke bandara yang selalu ia rindukan hingga sekarang.
"Kak Dim.." lirih Melia sembari mengecek hp nya yang tak pernah ada dering notifikasi dari orang yang ia rindukan itu.
"Apa dia lupa ya sama aku" gumam Melia lalu menghela napas berat, ia pun segera bangkit dari kasur nya dengan langkah berat.
"Untung hari ini sekolah cuma buat nonton mereka yang pentas, jadi nanti bisa ajak Papa jalan-jalan dulu sebelum jemput teman nya" Melia memilih untuk mengalihkan pikiran nya yang terkadang memikirkan laki-laki yang berjanji akan kembali dan menikahi nya.
...****************...
Melia duduk di kursi panjang samping pagar sekolah yang terbuka dan ada beberapa kendaraan yang keluar dengan seragam sekolah yang sama dengan Melia.
"Duluan Mel" seru teman laki-laki nya yang lumayan dekat dengan Melia.
Melia banyak di kenal di sekolah nya, tak hanya dari para murid, tapi para guru juga. Dan tak satupun yang tak mengetahui kelakuan Melia di sekolah.
"Lama nya Papa ni" keluh Melia mulai merasa bosan menunggu.
Tak lama, mobil chery berhenti di depan Melia yang sibuk mendumel tak jelas karena bosan menunggu.
"Melia.. Sini nak" cetus sang Papa yang keluar dari bagian kemudi. Melia pun mendongak saat nama nya di panggil.
"Tumben Papa lama? Darimana dulu tadi? Aku kepanasan tau nungguin nya" omel Melia yang menampilkan sifat manja nya pada Papa nya.
Josep terkekeh. "Plek ketiplek Mama kamu banget ya ternyata, tadi Papa antri beli ini habis dari kantor" ujar Josep sembari mengangkat sebuah paperbag dengan satu merek restoran yang terkenal di Indonesia.
"Salaria? OMG! Papa beli apa disana?" Melia langsung antusias saat melihat paperbag makanan yang begitu ia favoritkan.
"Your Favorite food di tambah Matcha yang rasa nya kayak rumput ini" jawab Josep membuat Melia melirik nya hendak protes.
"Papa aja nggak bisa suka sama Matcha, mana ada rasa rumput" cibir Melia membuat Josep terkekeh kemudian mengelus kepala Melia dengan lembut.
"Papa tau kamu pengen ngajak Papa jalan-jalan dulu, tapi seperti nya nggak bisa Sayang, teman Papa bentar lagi landing" Josep terlalu peka untuk putri tunggal nya.
Melia mengerucutkan bibir nya. "Jadi Papa beliin aku ini sebagai tanda maaf karena gagal jalan-jalan ya" tebak Melia yang langsung di angguki Josep.
"Mulut kamu emang suka ngoceh kayak Mama, tapi kepintaran kamu pasti dari Papa" ucap Josep dengan bangga.
Melia seketika memutar bola mata jengah dan segera masuk ke dalam mobil untuk makan makanan yang begitu ia sukai.
buat yg vote, like, komen, dan meraih peringkat 1 akan aku kasih hadiah kecil-kecilan buat nambah semangat kalian supaya rajin ngegift hehe🤭