NovelToon NovelToon
Cinta Di Tapal Batas

Cinta Di Tapal Batas

Status: tamat
Genre:Idola sekolah / Romansa pedesaan / Diam-Diam Cinta / Cintamanis / Tamat
Popularitas:32.4k
Nilai: 5
Nama Author: Buna Seta

Dini Kirana yang masih kelas dua SMA dijual oleh ayah tirinya kepada pria kaya yang sudah banyak istri untuk melunasi hutang. Dini memilih kabur dari rumah dan akhirnya kesasar ke salah satu Desa. Di tempat itu, Dini bertemu Aksa yang sudah berusia 28 tahun.

"Mas, boleh ya saya tidur di rumah kamu? Tolong Mas, saya butuh tempat tinggal."

"Kamu bukan siapa-siapa saya Dini, saya tidak mau digerebek warga Desa."

Bagaimana kisah selanjutnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Buna Seta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1

Siang itu dengan wajah lelah seorang gadis baru pulang sekolah. Ia parkir motornya di halaman rumah lalu melepas helm. Langkah kakinya yang beralas sepatu sengaja ia pelankan agar tidak berisik. Karena telinganya menangkap tawa ayah tirinya yang terdengar kencang entah sedang berbicara dengan siapa.

Dini terpaksa menguping di luar pintu ingin tahu apa yang dibicarakan pria itu. Ia sebenarnya sudah terlalu muak dengan Ringgo yang selalu kejam kepadanya dan tidak tahu diri. Ibunya mati-matian berjualan ke pasar mencari duit, tapi ayah tirinya itu kerjaannya hanya bersenang-senang, mabuk-mabukan dan main judi.

"Dia sudah pulang sekolah Tuan, Anda pasti langsung jatuh cinta kepada anak saya itu. Hahaha..."

Deg.

Hati Dini gelisah, karena ayah tirinya dan tamu itu sedang membicarakan dirinya. Dini mencium gelagat yang tidak baik, pasti ayah tirinya saat ini sedang merencanakan seseuatu yang akan merugikan dirinya.

Dini melepas sepatu kemudian masuk perlahan-lahan, tampak di ruang tamu ayah tirinya sedang ngobrol bersama pria paruh baya.

"Oh, ini anak kamu Ringgo, cantik sekali" pria itu menatap Dini lekat.

"Wani piro Bos?" Ringgo tertawa dibalas pria tua itu.

"Saya berani lima ratus juta."

Mata Dini melotot tajam menatap Ringgo, rupanya ia ingin dijual. Dini meremas seragam sekolah dengan hati dongkol. Tanganya gatal hendak ambil asbak untuk melempar kepala Ringgo.

Tetapi Dini merasa jijik ketika pria itu tersenyum genit kepadanya, bahkan menjilati bibirnya sendiri. Dini tidak menghiraukan dua pria itu lalu melanjutkan langkahnya.

"Tunggu!" Ketus Ringgo meninggalkan tamunya, mengejar Dini.

Dini pun terpaksa berhenti, ingin tahu apa yang akan dilakukan suami dari ibu kandungnya itu. "Ada apa Yah? Saya lapar" jujur Dini masih berbicara sopan, walau selama ini selalu disakiti.

"Sopan sekali kamu, tidak hormat kepada calon suamimu!" Sentak Ringgo yang dimaksud calon suami adalah tamu yang sudah bau tanah itu.

Dini mengangkat ujung bibir, rasanya mual melihat pria yang pantas disebut kakek, tapi dikatakan calon suaminya.

"Jangan cari masalah Yah, saya lelah" Dini melenggang pergi, tapi ayah tirinya mengejarnya.

"Jangan macam-macam Dini, mulai besok kamu tidak boleh sekolah. Jam 8 pagi harus sudah rapi karena saya akan mengantarmu ke KUA."

"Untuk apa?" Dini menatap Ringgo curiga.

"Menikahlah dengan Tuan Burhan."

"Huek" Dini rasanya ingin muntah, tapi bukan karena dibuat-buat.

"Kurang ngajar!" Ringgo mencengkeram pergelangan tangan Dini penuh pemaksaan. Tetapi gadis itu menghempas tangan Ringgo hingga terlepas.

"Saya tidak sudi!" Dini mendelik gusar.

"Kamu harus mau, kalau tidak, rumah ini akan disita oleh Bank!" Paksa Ringgo.

"Tidak ada yang bisa mengusir saya dan Ibu dari rumah ini!" Dini geram, rumah ini milik ibu peninggalan almarhum ayahnya. Ringgo tinggal di rumah ini tidak lebih dari benalu. Jika sampai dililit hutang itu karena Ringgo selalu kalah judi.

"Kamu!" Ringgo menjambak rambut Dini, perlakuan seperti itu sudah seringkali Dini terima.

"Lepas!" Dini menendang kaki ayah tirinya hingga kesakitan lalu berlari ke kamar.

"Sial!" Ringgo berteriak.

Dini menutup pintu kencang menguncinya dari dalam, lalu melempar tas ke lantai. Dini duduk memeluk lutut. Jika sudah begini tidak ada yang bisa ia lakukan selain menangis.

Dini ingat masa SMP ketika ayah kandungnya masih hidup, ia selalu dimanja. "Ayah... kenapa Ayah pergi dengan cepat" sesal Dini, tangisnya semakin kencang. Seandainya sang ayah belum meninggal tentu tidak akan mendapat penyiksaan seperti ini.

Dok dok dok.

Pintu digedor dari luar disertai teriakan Ringgo, Dini pun berdiri ambil sapu lidi. Dia angkat ke atas posisi siaga di pinggir pintu tanpa berniat membukanya. Jika Ringgo sampai mendobrak pintu, Dini akan memukul Ringgo dengan sapu tersebut.

"Cukup Mas! Ada apa ini?" Terdengar suara sang ibu dari luar, Dini sedikit lega kemudian menurunkan Lidi. Jika ada sang ibu, biasanya Ringgo sedikit takut karena ibunya pohon uang baginya.

"Anak kamu itu Bu, mau dinikahi pria kaya tapi menolak!" Ringgo terdengar mengadu.

"Menikah sama Burhan maksud kamu, Mas?! Ibu tidak setuju!" Ratna pun akhirnya berteriak.

Kali ini Dini justru bersedih karena Ringgo dan ibunya akhirnya bertengkar hebat. Tentu saja Ratna membelanya.

Namun begitu, biasanya Ringgo tidak berani memukul Ratna. Sebab, tanpa Ratna Ringgo pasti akan menjadi gelandangan di pinggir jalan. Semakin lama pertengkaran pun hanya terdengar sayup-sayup karena Ringgo dan Ratna masuk ke kamar mereka.

Dini akhirnya merebahkan tubuhnya di lantai beralaskan karpet, perut yang awalnya minta diisi pun akhirnya kenyang dengan sendirinya.

Sore harinya.

Tok tok tok.

"Dini... ini ibu sayang..." panggil Ratna dari luar dengan suara lembut.

"Iya, Bu..." Dini sedikit lega lalu membuka pintu.

Ratna masuk ke kamar Dini lalu mengunci pintu.

"Dini, maafkan ibu Nak..." Ratna pun menangis.

"Ibu jangan sedih, tolong ceraikan Ayah Bu, demi kita" Dini memeluk ibunya.

"Kamu jangan khawatirkan ibu sayang... sebaiknya kamu pergi ke rumah Nenek" Ratna sudah tidak bisa mencegah Ringgo lagi untuk menjual Dini dengan Burhan dan akan dijadikan istri ke lima.

"Kalau aku pergi, bagaimana dengan Ibu?" Dini mengkhawatirkan sang ibu.

"Sudah ibu bilang, jangan pikirkan ibu. Ini alamat Nenek kamu" Ratna memberikan alamat, dan sejumlah uang.

"Mumpung ayah kamu lagi pergi bersama Burhan, sebaiknya kamu bersiap-siap" Ratna membantu Dini berkemas-kemas. Ratna terpaksa memindahkan sekolah putrinya ke desa daripada tetap di tempat ini akan mempengaruhi mental Dini.

"Ayo cepat" Ratna mendorong tubuh putrinya agar berjalan lebih dulu membawa surat-surat. Sementara Ratna membawa tas besar.

Mereka menunggu angkutan di pinggir jalan, tetapi angkutan belum tiba, Ringgo sudah pulang lebih dulu.

"Hai! Mau kemana kamu?!" Ringgo berteriak mengejar Dini.

Dini berlari kencang hanya menggendong ransel tidak sempat ambil tas pakaian dari Ratna. Dengan napas tersengal-sengal, ia bertekat harus bisa lolos dari pria yang selama ini memenjarakan kebebasanya.

Jantung Dini hampir copot ketika Ringgo sudah semakin mendekat terdengar suaranya yang menggelegar di belakangnya. "Kamu pikir kamu bisa lari dari saya, hah?!" Teriaknya dengan mata menyala.

Dini belok ke arah gang sempit mencoba menghilangkan jejak, tapi ayah tirinya terus mengejar. Dini tengok kanan kiri hendak berlindung mencari tempat yang aman lalu naik ke dalam mobil pick up yang di parkir di depan rumah warga.

Dini pun bersembunyi di dalam mobil tersebut, meringkuk di antara tumpukkan karung-karung entah apa isinya tentu tidak tahu. Dadanya berdebar-debar karena sepatu Ringgo masih terdengar mondar mandir di sekitar mobil.

*******

Waktu berganti malam, Dini membuka terpal menatap sekeliling. Namun, daerah ini jelas bukan tempat di mana ia pertama masuk ke dalam pick up. Dia rupanya ketiduran sampai tidak terasa jika mobil tersebut berjalan.

"Ya Allah... terus sekarang di mana ini?" Dini pun turun dari mobil, tempat itu sangat sepi, hanya terdengar suara jangkrik dan belalang. Jalanan pun lebih kecil dari gang sebelumnya. Lampu-lampu untuk penerangan jalan menyala redup. Dini ambil handphone di dalam tas, lalu menyalakan senter yang dia arahkan ke kanan kiri jalan. Tampak sawah-sawah yang ditanami bibit padi tapi belum lama. Damai memang, jauh dari kebisingan kota tempat tinggalnya, tapi Dini takut jika tiba-tiba ada ular atau binatang lain yang menggigit kakinya.

"Ya Allah... terus bagaimana ini?" Dini mencari nama ibunya hendak telepon, tapi baterai hanya tinggal 5. Jika ia pencet pasti mati. Dalam kebingungan, Dini mengarahkan senter ke jalanan, wajah pria yang berjalan kaki ke arahnya tertangkap olehnya.

"Tolong Mas, saya tersesat" Dini menghentikan pria itu.

...~Bersambung~...

1
Bu Kus
udah mampir thro bagus kisah nya
Buna Seta: terima kasih
total 1 replies
Dahyun Mood Vlogger
tetap semangat thorr🙏👍😭
Eka ELissa
Ahir nya brahir bhgia Mak...
otw mak...
neng ade
Kamu harus secepatnya kasih tau Lusi kalau kalian itu kakak beradik..
neng ade
waduh.. bakalan rumit ini .. pantas aja dari awal udah ada kecocokan darah nya ternyata mereka adik kakak ..
neng ade
siapa pria itu yang ternyata ayah kandung nya Lusi 🤔
neng ade
mungkin memang benar Aksa udah menikah dengan Lusi karena penyakitnya udah parah
neng ade
Alhamdulillah.. akhirnya Dini udah lulus sekolah..
selamat ya Din .. semoga sukses 😍
neng ade
pak Agus itu baik, perhatian dan juga mencintai kamu Dini ..
ada. pepatah yang bilang lebih baik dicintai dari pada mencintai tapi selalu tersakiti ..
neng ade
yahh.. bakalan ketahuan deh .. gara-gara Dini nyenggol pot hingga pecah. 😲
Ariany Sudjana
kapan karya barunya keluar kak?
Buna Seta: Tunggu dulu ya, mau revisi dulu.
total 1 replies
evi solina
siap pasti ku baca buku barunya
vj'z tri
🎉🎉🎉🎉🎉🎉 di tunggu karya wokeh selanjut nya Thor
Ita rahmawati
tamat juga nih akhirnya,,suka ceritanya gk mbulet aja sat set udh tamat deh 😅
Bu Kus
terimakasih thro semoga lancar dan sehat selalu tak tunggu thro karya barunya tetap semangat
Bu Kus
lanjut
Bu Kus
🤦🤦
Eka ELissa
pak Agus pasti' ksian....cri yg lain yaaa pak ....msih byk koo..
cewek yg lain...😄🤭
Eka ELissa
berdoa pak moga dini jodoh mu....🤲🤲
Eka ELissa
Risi apa dini Mak...😄🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!