harap bijak memilih bacaan.
Di jadikan babu oleh sang bibik, di bully oleh warga desa sebab bau badannya.
Ia begitu patuh, namun berkahir di jual oleh Bibiknya pada Tuan Mafia kejam yang menjadikannya budak nafsu menggunakan status istri yang di sembunyikan dari dunia.
ikuti ceritanya disini!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon liyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1.Gadis bau
di sebuah pasar, terdengar suara manusia yang saling bersahut dan ada yang saling tawar menawar.
namun suara itu lenyap saat sebuah bau jeruk nipis yang kuat bercampur keringat seorang gadis yang rambut bergelombang terurai sampai pinggang.
semua mata memusatkan perhatian pada gadis yang berjalan membelah sekumpulan manusia yang memandangnya dengan jijik.
"dia datang lagi, seharusnya si Dela yang datang belanja di pasar, kenapa si bau itu. "
"ibu kan tahu... dia itu sangat patuh pada keluarga itu, pasti di paksa kemari oleh bibiknya. "
suara bisikan, bukan, bukan suara bisikan lagi. tapi lebih tepatnya mereka mengatakan semuanya dengan jelas, mulai dari cara memandang yang terlihat jijik.
Kata-kata yang selalu ia dengar dari kecil, hingga makian yang di sebabkan bau tubuhnya. Ia sudah terbiasa, meski rasa sakit hati tetap ada.
di remasnya kain baju yang sampai mata kakinya, berwarna hijau lumut. Ia berjalan ke arah tukang penjual ikan yang dengan terang-terangan membicarakannya seraya menutup hidung.
"Buk aku... mau beli ikan, " ucapnya pelan seraya menunduk, tak mau melihat tatapan sinis wanita tua itu.
"Berapa! "
Gadis itu terperanjat kaget, di usapnya pelan dadanya dengan tangan bergetar. "du—dua ekor."
Wanita tua itu mendengus mengambil asal ikannya tanpa menanyakan mau ikan apa.
"ini! " ketusnya, "sana pergi! " lanjutnya mengibaskan tangannya.
Gadis itu hanya menunduk dan berjalan ke arah penjual bawang, "haaah, dia kemari, Sumi! ambilkan sapu tangan ku! "
istrinya lantas memberikan sapu tangan pada sang suami, melihat itu Ia hanya tetap menunduk seraya meremas kain baju kuat-kuat.
"beli apa! "
Gadis itu memejamkan matanya sesaat, semua perhatian di pasar terpusat padanya, telapak tangannya basah dengan tubuh yang mulai sedikit bergetar.
"Iba! kamu beli apa!" ucapnya lagi lebih keras.
"ba—wang 1 ikat. "
"sumi! berikan padanya, nanti bau nya menular padaku! "bentak Pria itu.
dia kenapa bau sekali?
apa dia tidak pernah mandi?
Ah atau dia memang takut dengan air dan sabun?
anak siapa itu bau sekali?
Dia tidak pernah mau mandi bila di suruh, sebab itu dia bau.
dari kecil dia memang jorok.
Kata-kata itu mulai terulang lagi, Ia hanya membutuhkan ini semua. dan akhirnya Ia pulang meninggalkan sekumpulan manusia yang mulai bernafas lega.
setelah jauh dari pasar, langkahnya mulai pelan dan lesu, "aku sebenarnya ingin wangi juga, tapi–"
"Anggiba! lama banget sih kamu! cuman beli dua pesenan aja lama sekali! "bentak Bibik Nur dari ambang pintu.
sedangkan Anggiba baru saja sampai di depan rumah, " ini Bik, "ucapnya pelan.
" sini! "di ambilnya dengan kasar.
Tatapan tajam dan kata-kata pedas menjadi makanan sehari-hari Anggiba, ia baru saja akan menginjakkan kaki pada lantai semen yang mengkilap.
" Heh! ngapain kamu! ngak nyadar kamu bau! lewat belakang! "bentak Dela yang duduk di kursi kayu sambil memakan apel di tangannya.
Anggiba pergi ke pintu belakang, disana cucian yang menggunung menunggunya untuk di bersihkan. Ia menghela nafas pelan, " kapan aku bisa pergi dari desa ini, "gumamnya pelan, dan mulai mengambil cucian dan segera membawanya ke sumur di belakang rumah.
Di tengah-tengah lelahnya menggayung air, sebuah bau sedap membuat perutnya berbunyi. " nyucinya bisa nanti nggak ya, "gumamnya pelan sambil meraba perutnya yang ingin di isi.
Ia melirik ke arah Baskom besar yang terisi setengah, dan mendongak melihat teriknya matahari di langit yang cerah.
Keringat di dahinya jatuh ke leher, di usapnya pelan menggunakan punggung tangannya, "sepertinya kalau sarapan sebentar, tak apa. "
"wah! Ibu masak apa? sepertinya enak! " seru Dela yang berlari ke dapur.
Nur menoleh ke arah putrinya tersenyum."ibu masak ikan goreng di kasih sambel terasi nanti, "katanya fokus membalik ikan.
Dari ujung pintu yang terbuka setengah, keluar kepala Anggiba, " bik, Anggiba sarapan dulu yah, "seloroh Anggiba.
" iya... nanti setelah kami selesai makan. "
Senyum Anggiba terbit di bibirnya yang pucat, Anggiba terus menatap ikan goreng yang menggungah selera itu. Hingga air liurnya hampir jatuh, Dela yang melihatnya sejak tadi menatap sinis ke arahnya, namun tak di hiraukan oleh Anggiba.
dan kebetulan Pamannya baru bangun tidur, langsung duduk di lantai yang berlapis tikar. Dari jauh Anggiba melihat mereka makan sambil menelan ludahnya.
Anggiba sabar menunggu seraya berjongkok di depan pintu, tangannya memainkan bebatuan kecil yang ada di tanah basah yang ia siram pagi tadi.
Suara dentingan piring membuat tubuhnya menegak dan menoleh, Ia berjalan ke arah Bibik Nur yang menyimpan cucian piring di meja kayu.
Namun senyum Anggiba hilang seketika saat ikan tak tersisa sama sekali untuknya, Anggiba memberanikan diri bertanya, " Bik, ikan buat Iba mana? "
Bibik Nur melirik sinis keponakan yang Ia rawat sejak kecil. "Iba tumis saja daun bawang dan sambal buatan Bibik, itu saja pasti rasanya enak—jadi sana masak. "
Setelah mengatakan itu Bibik Nur berbalik tanpa merasa bersalah, Anggiba ingin menangis namun jika suara isakannya terdengar. Maka Bibik Nur akan melarang Ia untuk makan pagi ini.
Dengan langkah pelan dan perasaan yang mulai datang mengasihani diri sendiri, ia mulai menyalakan kompor beberapa kali, Tapi tak bisa.
Ia menghela nafas pelan, di liriknya tungku di bawah sana. Tak butuh waktu lama masakannya matang.
Untungnya meski Ikan habis, Bibik Nur menyisakan cukup Nasi untuk Anggiba.
Anggiba berjalan ke luar rumah dan makan dekat Sumur, lama diam sambil makan matanya melirik sebuah kastil yang menjulang tinggi dari kejauhan di tengah hutan, hingga hanya memperlihatkan atapnya yang tajam dan bebatuan yang membentuk dinding kokoh.
"ada apa ya...disana sampai warga melarang semua orang ke sana? " tanya Anggiba pada dirinya sendiri.
Alisnya mengernyit kala menemukan sesuatu yang keras dan terbelah sebab ia pencat di piringnya, Ia beralih menatap ke piring, senyuman terbit kala ada potongan ikan yang kecil-kecil. "ada ikannya! " seru Anggiba makan dengan lahap.
setelah selesai makan, di cucinya piring dan gelas yang menumpuk di meja. Barulah Ia mencuci baju, di tengah-tengah asik mencuci baju ada seseorang yang mengintipnya di balik pohon.
Pekerjaan yang paling Anggiba senangi adalah mencuci baju, sebab wangi sabunnya juga melekat pada tubuhnya. Dan samar-samar bau di tubuhnya hilang.
sosok bertubuh tegap berdiri di belakangnya, membuat bayangan besar itu melindungi Anggiba dari teriknya matahari di siang hari.
Anggiba mendongak."paman, "panggilnya pelan.
Namun hal mengejutkan membuat Anggiba berteriak keras, " BIBIK! BIBIK! "
Paman Agus terus memegang erat kedua bahu Anggiba dan mulai mencium lehernya, Anggiba terus memberontak namun tak bisa sebab pegangan Paman yang begitu kuat.
Bagaimana menurut kalian di Bab 1 ini?
Apakah kalian bisa merasakan apa yang Anggiba rasakan?
Apa kalian juga memiliki pertanyaan tentang Anggiba?
tulis semuanya di kolom komentar, jangan lupa like kalau memang suka, masa suka tapi diam aja, confess dong!
kalau mau tahu lebih lanjut kisah Anggiba, jangan lupa follow akun Author yah,biar karya author ini bisa berkembang dan makin banyak yang suka amiiin😄
spam 🩵 di komentar, supaya Anggiba semakin kuat 💪.