NovelToon NovelToon
Rival Tapi Nempel

Rival Tapi Nempel

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Basket / Persahabatan / Slice of Life / Keluarga / Teen School/College
Popularitas:261
Nilai: 5
Nama Author: Kairylee

Rakha dan Keenan sudah bertahun-tahun saling benci. Satu keras kepala, satu lagi dingin dan gampang naik darah. Dua-duanya sama-sama ahli bikin masalah.

Sampai pelatih baru datang dan memaksa mereka jadi duo inti. Lebih parahnya lagi... ada aturan tambahan. Mereka harus selalu bersama, mulai dari latihan bareng, ngerjain tugas bareng, bahkan pulang pergi bareng. Pokoknya 24/7.

Awalnya terjadi keributan yang cukup besar. Tapi lama-lama, mereka mulai terbiasa. Bahkan tanpa sadar… mereka selalu menempel.

Dan masalahnya cuma satu, bagaimana kalau "benci" itu pelan-pelan berubah jadi sesuatu yang jauh lebih rumit?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kairylee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 1 — Rival Sejak Lama

Suara sepatu berdecit memenuhi aula olahraga. Terdengar pantulan bola menggema ke setiap sudut ruangan, seolah memantul di dinding dan kembali menghantam telinga semua orang yang sedang latihan sore itu.

Lalu semuanya berhenti.

Bola yang meluncur cepat kini terkunci di satu tangan.

Rakha Nugraha.

Berdiri tegap dengan napas yang stabil dan ekspresinya datar seperti biasa.

"Ulangi!" Suaranya turun pelan, tapi jatuhnya berat. "Operan kayak tadi cuma bikin kita jadi tim lucu-lucuan di turnamen nanti."

Keenan mendengus keras dari seberang lapangan. Keringatnya menetes, tapi senyumannya begitu sinis dan arogan.

"Tenanglah, Kapten," katanya sambil memutar bola di jarinya. "Nggak semua orang dilahirkan dengan teknik yang sempurna."

Anak-anak tim lain langsung berhenti bergerak.

Mereka saling pandang tanpa suara. Bahkan bola yang menggelinding pelan di sudut ruangan terdengar jelas, betapa heningnya suasana.

Rakha berniat mengabaikannya. Tapi Keenan, ya… Keenan.

Tanpa peringatan, dia melempar bola ke arah kaki Rakha dengan kuat. Jelas sengaja.

BLAK!

Bola itu memantul dengan keras di lantai.

"Ups," Keenan pura-pura kaget. "Refleks lu kurang tuh Kapten."

Beberapa anak tim yang lain menunduk, pura-pura memeriksa tali sepatu.

Rakha menatapnya tajam, bola di samping kakinya seolah menghilang dari pandangan. Ia melangkah mendekat.

"Lu ngajak ribut?"

Keenan terkekeh, ringan, seolah memang menunggu momen itu. "Ribut? Dari tadi gue kira lu cuma nahan diri biar nggak kepancing."

Hampir—hampir—mereka saling dorong, kalau saja pintu aula tidak terbuka dengan keras.

BRAK!!

Bunyinya cukup kuat sampai semua orang menghentikan apa pun yang mereka pikir mau dilakukan.

Pelatih baru mereka masuk. Langkahnya tenang dengan sebuah bola basket terselip santai di bawah lengannya. Aura yang dibawa membuat satu tim otomatis merapikan posisi.

"Cukup."

Hanya satu kata, tapi beratnya seperti menekan seluruh ruangan.

Rakha menahan napas.

Keenan mendadak kehilangan senyum sinisnya. Ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, pandangannya berusaha menghindari tatapan Pelatih.

"Saya sudah banyak mendengar soal dua orang yang suka menciptakan drama sendiri di setiap latihan."

Tatapan pelatih bergeser dari Rakha ke Keenan, lambat, teliti, seolah sedang menilai dua masalah sekaligus dua aset besar.

"Mulai hari ini," ucapnya datar namun tegas, "Kalian berdua jadi duo inti di tim. Mau atau tidak, kalian harus main bersama."

"Hah?!" Keenan langsung ternganga. Bahkan kata-kata sombongnya seolah tersangkut di tenggorokan.

"Saya keberatan." Rakha berusaha terdengar tenang, tapi ketusnya tetap bocor.

Pelatih menaikkan alis. "Keberatan dicatat… dan diabaikan."

Ia melempar bola ke arah Rakha dengan keras, tapi tepat sasaran. Bola itu menghantam telapak tangan Rakha, ditangkapnya dengan sempurna.

"Sebentar lagi kita ini akan ikut turnamen. Kalau kalian tidak bisa diajak kerja sama, lebih baik dua-duanya saya keluarkan."

Ruangan langsung sunyi. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang entah sejak kapan, Rakha dan Keenan sama-sama kehilangan omongan, Keenan bahkan lupa menutup mulutnya yang sedikit terbuka.

Pelatih melanjutkan, santai seperti sedang mengumumkan jadwal piket.

"Karena kalian doyan banget bikin drama, kita mulai dari hukuman kecil." Ia menyilangkan tangan.

"Latihan passing. Berdua saja. Sepuluh operan, bola nggak boleh jatuh. Kalau jatuh…"

Senyum tipis muncul di sudut bibirnya.

"Ulangi dari nol."

Keenan mendesis kesal, menghentakkan kaki frustrasi. "Kenapa harus sama dia, sih?"

"Karena kalian cocok menderita bareng," jawab pelatih tanpa ekspresi.

Rakha, masih memegang bola yang dilempar Pelatih, berbalik dengan dingin. Ia tidak suka membuang waktu.

"Ayo," kata Rakha, suaranya tajam. "Biar cepat selesai."

Keenan memutar bola matanya malas, tapi mengikuti langkah Rakha. "Ih, pede banget. Ini cuma passing. Gue sambil merem juga bisa."

Mereka mengambil jarak beberapa langkah.

Operan pertama.

Rakha mengoper lurus ke dada Keenan. Keenan menangkapnya hanya dengan satu telapak tangan terbuka, bola itu diam tanpa getaran.

"Gampang," kata Keenan. Ia lalu mengoper balik, sebuah lemparan melengkung yang sengaja dibuat sedikit melenceng dari kepala Rakha.

Rakha menangkapnya. Bola itu mengharuskannya bergerak sepersekian detik ke samping. Ia terdiam sebentar.

"Sengaja, ya?"

"Masa? Tangan lu kan panjang," Keenan memasang ekspresi polos yang sama sekali tidak meyakinkan.

Di pinggir lapangan, beberapa pemain mulai berkomentar pelan.

"Udah mulai nih."

"Gue taruhan bola jatuh sebelum 15 detik."

"Gue lima detik aja deh.''

Operan kedua.

Ketiga.

Keempat.

Setiap lemparan rasanya seperti duel.

Operan kelima.

Keenan memutar bola dulu sebelum melempar, bergaya banget.

"Cepetan," Rakha mendengus.

"Ini namanya seni," jawab Keenan santai.

Operan keenam.

Ketujuh.

Kedelapan.

Di operan kesembilan, bola sempat goyang di tangan Rakha. Seketika seluruh aula sepi, bahkan suara napas yang ditarik pun terdengar.

Tapi ia berhasil mengamankannya, bola itu berhenti total di telapak tangannya seolah tak pernah goyah.

Keenan bersiul pelan. "Wuih. Hampir copot. Ngulang dari nol itu capek loh."

"Lu yang ngoper nyeleneh," Rakha membalas ketus.

"Gaya dikit masa marah." Akhirnya, operan kesepuluh sukses. Keenan menangkap bola lalu mengangkat dagu seperti baru memenangkan perlombaan.

"Kelar, Coach."

Pelatih berjalan mendekat sambil mengangguk. "Setidaknya, ini adalah sepuluh operan terpanjang yang pernah saya lihat. Dan kalian belum saling lempar bola ke muka."

"Belum," sahut Keenan cepat, menatap Rakha sambil mengangkat alis.

"Jangan dicoba," balas Rakha lebih cepat.

Aula langsung pecah dengan tawa kecil dari anggota tim yang lain.

Pelatih menepuk tangan.

"Untuk sekarang, latihan selesai. Besok kita kembali pagi. Kalian berdua…" Ia menunjuk Rakha dan Keenan bergantian.

"Adaptasi. Mulai sekarang kalian partner. Duo inti. Tidak ada alasan."

Rakha menunduk sedikit, menahan sisa emosinya.

Keenan memutar bola pelan, jelas mencoba menyembunyikan canggungnya.

...----------------...

Saat mereka berjalan keluar aula, pundak mereka nyaris bersentuhan, refleks mereka langsung menjauh.

"Jaga jarak," gumam Keenan tanpa menoleh.

"Lu duluan yang nyerempet," Raka membalas dingin.

"Ngeles mulu."

"Provokasi mulu."

Keenan mendengus, tapi ada sedikit senyum yang ia sembunyikan.

"Gue yakin, Coach bikin kita duo inti cuma biar dia punya tontonan gratis."

Rakha menjawab datar, "Kalau lu makin rese, tontonan itu bakal berubah jadi keributan."

Keenan terkekeh. "Kalau gitu fix. Gue bakal bikin hari lu ribut terus."

Rakha menoleh sebentar, tajam. "Silakan coba."

Rasa kesal itu masih hangat, membara di antara mereka. Tapi saat pandangan mereka beradu sesaat, ada sebuah realita yang muncul di benak Rakha.

Keenan adalah cowok sombong yang dia benci. Tapi anehnya, hanya dengan Keenan, Rakha merasa permainannya tertekan hingga batas maksimal. Dan hanya Keenan yang bisa memancing emosi paling liar dalam dirinya.

Pelatih benar. Mereka memang ditakdirkan untuk berpasangan.

Duo inti.

Duo yang akan saling menghancurkan, atau justru memenangkan segalanya.

1
Panda
jejak yaa kak

kayanya bakal keren, aku tunggu sampai chapter 20 baru kebut baca 🤭
Kairylee: okee kak, selamat menunggu... semoga memuaskan, soalnya baru nyelam juga disini/Smile//Smile/
total 1 replies
Anna
ih lucu/Chuckle/
r
😚🤍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!