"Sepuluh tahun lalu, ayahku menjualku. Dan malam ini, sang pembeli datang menjemputku."
Alana mengira hidupnya sempurna, sampai ia diseret ke Rusia oleh Alexei Dragunov seorang Tsar mafia yang dingin dan berbahaya. Alana bukan datang sebagai pengantin, melainkan sebagai aset yang telah dibayar lunas oleh Alexei untuk menutupi hutang ayahnya.
Di tengah badai salju Saint Petersburg, Alana terjebak di antara dua pria paling berkuasa, Ayah kandung yang menjadikannya barang dagangan, dan suami mafia yang menjadikannya tawanan obsesi.
Saat rahasia darahnya mulai terungkap, Alana menyadari, Di dunia Alexei, tidak ada jalan keluar. Ia harus memilih, hancur sebagai korban, atau bangkit menjadi Ratu di samping sang iblis.
"Kau adalah milikku, Alana. Hidup atau mati, kau tetap dalam genggamanku."
-Alexei Dragunov-
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EILI sasmaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
15. BELANTARA PUTIH
Dunia adalah sebuah kekacauan berwarna putih dan abu-abu. Kesadaran Alana kembali dalam gelombang rasa sakit yang berdenyut di pelipisnya. Hal pertama yang ia rasakan adalah dingin yang membekukan tulang, seolah-olah darahnya telah berubah menjadi kristal es. Ia mencoba menggerakkan jarinya, namun tangannya terasa kaku. Bau bahan bakar helikopter yang menyengat dan aroma pohon pinus yang hancur menusuk indra penciumannya.
Alana membuka matanya dengan susah payah. Di depannya, rongsokan helikopter Eurocopter tergeletak seperti bangkai burung besi yang patah di tengah hamparan salju yang dalam. Asap hitam membumbung dari mesin yang masih panas, menciptakan kontras yang mengerikan dengan kemurnian salju di sekelilingnya.
"Alexei..." bisik Alana. Suaranya hilang ditelan angin badai yang menderu.
Ia tersadar bahwa ia tidak lagi berada di dalam kabin. Ia tergeletak beberapa meter dari rongsokan, tampaknya Alexei telah menariknya keluar sebelum api merambat lebih jauh. Alana mencoba duduk, dan saat itulah ia melihatnya.
Alexei sedang berlutut tidak jauh darinya, mencoba membalut bahunya yang bersimbah darah dengan potongan kain kemejanya. Wajah pria itu pucat, namun matanya tetap setajam silet, mengawasi kegelapan hutan di sekeliling mereka. Senapan serbunya tergeletak di sampingnya, siap untuk menyalak kapan saja.
"Kau bangun," ucap Alexei tanpa menoleh. Napasnya terlihat berat, membentuk kabut tebal di udara yang suhunya jauh di bawah nol derajat. "Jangan banyak bergerak. Kau mungkin mengalami gegar otak ringan."
"Ivan? Di mana Ivan?" Alana bertanya dengan suara bergetar, berusaha bangkit meski kepalanya berputar hebat.
Alexei terdiam sejenak. Ia menatap ke arah kokpit yang hancur total dan terbakar. "Ivan melakukan tugasnya hingga akhir. Dia memastikan kita jatuh di area yang sulit dijangkau oleh radar darat. Kita berutang nyawa padanya."
Hati Alana mencelos. Ivan, pria pendiam yang selalu berdiri di belakang Alexei, kini telah menjadi bagian dari tumpukan logam yang membara itu. Kematian terasa begitu dekat, begitu nyata. Ia meraba balik rompi anti-pelurunya, buku harian Elena dan kunci perak itu masih ada di sana. Rahasia itu adalah satu-satunya alasan ia masih bernapas sekarang.
"Kita harus bergerak," Alexei bangkit dengan susah payah, menahan rasa sakit di bahunya. Ia mendekati Alana dan mengulurkan tangannya yang bersarung tangan hitam. "Jet tempur itu akan mengirim tim pencari darat. Wira tidak akan membiarkan kita mati di sini sebelum dia mendapatkan apa yang dia inginkan."
Alana menyambut tangan Alexei. Saat ditarik berdiri, ia hampir terjatuh kembali jika Alexei tidak segera menangkap pinggangnya. Di tengah hutan yang sunyi dan mematikan ini, mereka hanya memiliki satu sama lain. Alexei adalah satu-satunya sumber panas dan perlindungan bagi Alana, namun di saat yang sama, ia adalah penjara yang paling berbahaya.
"Ke mana kita akan pergi?" tanya Alana sambil merapatkan mantelnya.
"Ada sebuah pondok perburuan tua milik keluarga Dragunov sekitar lima kilometer dari sini. Jika kita bisa mencapainya sebelum badai salju semakin parah, kita punya kesempatan untuk bertahan malam ini," jawab Alexei sambil memanggul tas perlengkapan darurat yang sempat ia selamatkan.
Mereka mulai berjalan menembus salju yang tingginya mencapai lutut. Setiap langkah adalah perjuangan. Angin badai menghantam wajah mereka, membawa butiran es yang terasa seperti ribuan jarum yang menusuk kulit. Alana terus memikirkan pesan Bibi Marta. Gereja tua. Ia harus mencari tahu di mana gereja itu berada, namun ia tidak bisa bertanya pada Alexei. Ia harus mencari celah di pondok nanti.
Setelah dua jam perjalanan yang melelahkan, di mana Alana hampir menyerah berkali-kali karena kelelahan, bayangan sebuah bangunan kayu kecil muncul di antara pepohonan pinus yang rapat. Pondok itu tampak tua dan tersembunyi, tertutup oleh lapisan salju yang tebal sehingga hampir menyatu dengan alam.
Begitu masuk ke dalam, Alexei segera mengunci pintu dan menyalakan perapian kecil dengan kayu kering yang tersisa di sana. Cahaya api yang temaram mulai menerangi ruangan sempit itu, memberikan sedikit kehangatan yang sangat dibutuhkan.
Alexei duduk di lantai dekat perapian, mulai membuka rompi taktisnya dengan gerakan yang kaku. Luka di bahunya terlihat lebih buruk dari yang Alana duga, peluru jet tempur tadi tampaknya mengirimkan serpihan logam yang bersarang di dagingnya.
"Alana, kemari," panggil Alexei. Suaranya terdengar lebih lemah sekarang. "Aku butuh bantuanmu untuk mengeluarkan serpihan ini. Tanganku tidak bisa menjangkaunya dengan benar."
Alana mendekat dengan tangan gemetar. Ia melihat kotak P3K darurat yang terbuka di samping Alexei. Ia belum pernah melakukan hal seperti ini sebelumnya, namun melihat Alexei yang berdarah demi melindunginya, sesuatu di dalam diri Alana bangkit, insting untuk bertahan hidup yang lebih kuat.
Saat Alana membersihkan luka Alexei dengan alkohol, pria itu tidak mengerang sedikit pun. Ia hanya menatap Alana dengan tatapan yang dalam, tatapan yang seolah-olah sedang menelanjangi semua rahasia yang Alana sembunyikan di balik jubah sutranya.
"Kau menyimpan sesuatu dariku, bukan?" tanya Alexei tiba-tiba, suaranya sangat rendah, hampir menyerupai desisan api di perapian.
Tangan Alana membeku di atas luka Alexei. "Apa maksudmu?"
"Di ruang kendali tadi... kau melihat wanita itu. Kau mengenalinya. Dan kau seolah mengerti apa yang dia katakan meski suaranya tidak terdengar," Alexei meraih pergelangan tangan Alana, menariknya hingga wajah mereka hanya berjarak beberapa inci. "Katakan padaku, Alana. Apa yang 'hantu' itu katakan padamu?"
Alana menelan ludah. Jantungnya berpacu cepat. "Dia hanya bilang... dia bilang Sergei berbohong. Dia tidak mengatakan hal lain."
Alexei menatap mata Alana selama beberapa detik yang terasa sangat lama. Ia mencari kebohongan di sana. Alana berusaha keras untuk tetap tenang, meskipun di dalam hatinya ia merasa seperti sedang berdiri di atas jembatan yang hampir runtuh.
"Jangan pernah mencoba bermain di belakangku, Alana," Alexei melepaskan tangan Alana dengan perlahan, namun tatapannya tetap mengunci. "Aku sudah menghabiskan seluruh hidupku untuk menjagamu tetap berada di papan caturku. Jika kau mencoba melompat keluar, kau hanya akan jatuh ke tangan singa yang lebih lapar di luar sana."
Alana kembali melanjutkan kegiatannya membalut luka Alexei tanpa suara. Ia merasa seperti sedang merawat seekor harimau yang terluka, meski tampak lemah, satu gerakan salah darinya bisa membuat harimau itu menerkamnya.
Setelah luka terbalut, Alexei tertidur karena kelelahan dan pengaruh obat pereda nyeri. Inilah kesempatannya. Alana bergerak dengan sangat hati-hati, memastikan lantai kayu tidak berderit. Ia mendekati meja kayu tua di sudut ruangan, mencari apa pun, peta, telepon satelit tua, atau catatan apa pun yang bisa memberinya petunjuk tentang gereja tua itu.
Di bawah laci meja yang macet, Alana menemukan sebuah peta topografi wilayah tersebut. Jemarinya menelusuri garis-garis peta itu dengan cepat. Di sana, di koordinat yang agak jauh ke arah utara, terdapat sebuah tanda silang kecil dengan tulisan dalam bahasa Rusia kuno, Svyatoy Nikolay.
Saint Nicholas.
Itulah tempatnya. Gereja itu tidak jauh dari sini, namun letaknya berlawanan arah dengan jalur evakuasi yang direncanakan Alexei. Jika ia ingin ke sana, ia harus pergi sendirian di tengah badai salju.
Alana memasukkan kembali peta itu saat mendengar erangan kecil dari Alexei. Ia segera kembali duduk di samping perapian, berpura-pura sedang memanaskan tangannya. Namun, saat ia melirik ke arah tas perlengkapan Alexei, ia melihat sesuatu yang membuatnya membeku.
Di dalam saku samping tas itu, menyembul sebuah paspor dengan foto dirinya. Namun, saat ia menariknya sedikit, ia melihat nama yang tertera di sana bukan "Alana Naratama" atau "Alana Dragunov".
Nama yang tertera adalah Elena Volskaya Junior.
Dan di bawah paspor itu, terdapat sebuah surat kontrak yang sudah ditandatangani oleh ayahnya, Wira Naratama, sepuluh tahun yang lalu. Surat itu adalah kontrak penjualan, Wira setuju untuk menyerahkan Alana kepada keluarga Dragunov begitu Alana mencapai usia dua puluh lima tahun, sebagai imbalan atas penghapusan hutang Naratama Corp di pasar gelap Rusia.
Alana merasa seluruh dunianya meledak. Alexei tidak menjemputnya karena janji pada ibunya. Wira tidak mengejarnya karena cinta.
Semuanya adalah transaksi bisnis yang sudah direncanakan sejak ia masih kecil. Ia bukan kunci, ia adalah barang dagangan.
Tiba-tiba, suara langkah kaki berat terdengar di atas salju di luar pondok. Bukan satu orang, tapi banyak. Cahaya lampu senter mulai menyapu jendela-jendela pondok.
"Mereka di sini," desis Alexei yang tiba-tiba sudah terbangun dan memegang senjatanya, matanya tertuju pada pintu.
Alana menatap Alexei, lalu menatap paspor di tangannya. Ia harus memilih sekarang. Tetap bersama pria yang membelinya, atau lari ke arah musuh yang menjualnya, atau mencoba peruntungan terakhir menuju gereja yang mungkin adalah satu-satunya tempat kebenaran berada.