Bacaan Dewasa‼️
Bayangan gelap menyelimuti wanita bernama Sarah. Suaminya, Bagas Aryanaka, mengalami kecelakaan tunggal dan berakhir hilang ingatan. Parahnya lagi, yang lelaki itu ingat hanyalah seberkas memori indah bersama mantan kekasihnya-adik kandung Sarah yang bernama Farah.
Hal tersebut menjadi kesempatan bagi sang ibu mertua untuk turut mengusirnya karena dianggap sebagai wanita pembawa sial.
Demi membalaskan dendam dan menuntut hak anaknya. Ia pun memutuskan untuk menyamar sebagai pembantu di rumah keluarga Aryanaka. Sarah berjuang untuk menyembuhkan amnesia Bagas dengan terus berada disisi pria itu, sekaligus, melancarkan aksi liar dengan menggoda sang mantan suami.
Apakah Bagas akan kembali?
atau malah keduanya akan semakin lepas kendali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lady Matcha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1 Hancur Lebur
Sinar mentari tampak malu-malu menyibak tirai putih sebuah kamar bernuansa monokrom dan mengintip dua manusia yang sedang memadu kasih. Mereka---lelaki dan seorang perempuan sedang sibuk berbagi keringat, terjebak dalam pusaran gairah yang tidak ada hentinya.
"Mas, udah dong. Udah siang ini loh, nanti kamu ketinggalan pesawat," ujar sang wanita yang sedang berbaring terlentang dengan mata terpejam sembari terus menerima serangan dari seorang pria yang berada diatasnya.
Mengangkat sedikit kepalanya yang berada di ceruk leher sang pujaan hati, pria tampan nan kekar itu kemudian menanggapi dengan malas. "Ck, bentar mine! nanggung dong. Aku bakalan pergi lama, tiga hari loh, jadi harus puas-puasin dulu."
Sang wanita mendesah lirih, kedua tangan yang bertengger apik di pundak si pria, ia gunakan untuk mendorong lelaki diatasnya yang kini malah semakin gencar membelainya penuh kasih.
"Oh, c'mon eughh. Just three days mas. Gak lama itu!"
Si pria menatap tajam, akhirnya ia pun memutuskan untuk mengangkat kepalanya kembali, dan memandang penuh wajah perempuan cantik yang kini berada dibawahnya.
"Just, kamu bilang? It's not just, mine! Aku gak nyentuh kamu sehari aja udah belingsatan, gimana kalo tiga hari? I can't," sanggahnya dengan nada cukup memelas.
Memutar kedua bola matanya, si wanita yang sudah tidak heran lagi dengan tingkah dari pria itu pun hanya menghela napas kasar dan bersikap pasrah. "Oke, fine! tapi sekali ini aja lagi ya! Aku dah capek banget mas."
Dan si pria hanya mengangguk, rautnya tampak semakin bersemangat. Sayangnya, keputusan yang wanita ambil ternyata salah besar. Memberikan kesempatan kepada si pria, malah hanya akan merugikan dirinya sendiri. Karena bukannya melakukan sekali lagi seperti yang ia minta sebelumnya, malah kini berakhir menjadi berkali-kali lipat hingga ia terkapar pingsan tanpa sadar.
...****************...
Adegan saling mencumbu itu kini telah selesai, sang pria mulai bersiap-siap, diikuti dengan si perempuan yang turut membantunya. Kemeja rapi telah tersemat pas pada tubuh kekar si pria yang saat ini tengah menatap penuh puja kepada perempuan yang sangat ia sayangi.
"Mine, kamu dirumah baik-baik ya! kalo ada apa-apa, langsung kabari aku, oke?" ucap si pria sembari mengecup hangat kening wanita dihadapannya.
"Siapp komandan!"
Mereka berdua pun tertawa bersama, walaupun akan berpisah, namun raut bahagia tetap menghiasi wajah keduanya. Kebahagiaan disana juga semakin lengkap dengan teriakan yang datang dari arah tangga.
"Papa, Mama!!"
Pasangan itu pun menoleh ke asal suara, tampak putri kecil mereka yang berlari dengan raut kesalnya.
"Ihh, Mama kok gak bangunin aku sih? Papa mau perginya sekarang ya? jangan lupa oleh-oleh ya Pa!"
Mendengar gerutuan dari buah hatinya, membuat si pria terkekeh geli. Kemudian ia berlutut, membuat tingginya sejajar dengan sang anak. "Siap tuan puteri! Papa gak akan lupa dong."
Setelah obrolan hangat dan salam perpisahan yang mereka lakukan. Sang Ibu pun mengajak anaknya masuk untuk bersiap-siap berangkat sekolah. Sekitar 45 menit telah mereka habiskan untuk mandi, bersiap, dan sarapan bersama. Saat ini keduanya pun bergegas menuju ke mobil untuk segera berangkat.
Namun belum sempat menyalakan mobil, dering telfon yang cukup keras terdengar. Si wanita perlahan mengangkatnya. Ia kira nomor asing yang tertera hanyalah operator atau orang iseng seperti biasa. Namun kali ini berbeda, kabar buruklah yang ternyata menghantam ketenangannya.
"Halo! dengan Ibu Sarah? Kami dari kepolisian menemukan nomor ibu menjadi nomor darurat dari Bapak Bagas Aryanaka. Kami ingin menginformasikan bahwa bapak Bagas baru saja mengalami kecelakaan dan saat ini sedang dibawa kerumah sakit Bu."
Disana, perempuan bernama Sarah itu tampak shock dan tidak bisa berkata apa-apa. Telinganya terasa berdengung dan dadanya terasa sesak.
"Ma! Mama! kenapa ma?" tanya sang putri dengan raut cemas.
...****************...
Seorang wanita dengan penampilannya yang sudah terlihat berantakan dan menggandeng anak perempuan berseragam TK, kini tampak berlari disekitar lorong rumah sakit. Dengan raut panik, Sarah mencoba mencari keberadaan sang suami. Ia hanya bisa berdoa semoga suaminya itu baik-baik saja.
Ketika ia ingin masuk ke sebuah ruangan yang ia ketahui sebagai tempat dimana suaminya sedang dirawat, seorang suster tiba-tiba saja menghadang dirinya. "Maaf ibu, pasien saat ini sedang dalam kondisi kritis dan tengah ditangani oleh dokter. Mohon untuk menunggu diluar."
Disana Sarah hanya bisa menangis tersedu-sedu. Ia tidak menyangka akan terjadi seperti ini. Padahal baru saja sang suami berpamitan dengan raut bahagia. Sungguh, Sarah tidak mau itu menjadi perpisahan terakhir mereka. Ia tidak sanggup membayangkan bahwa ia harus ditinggalkan oleh pria yang ia cintai sekaligus ayah dari putrinya ini.
"Ma, Thalia takut ma. Papa gak kenapa-kenapa kan?"
"Yes, dear. Papa bakal baik-baik aja. Berdoa ya buat Papa," ujar Sarah sembari memeluk putrinya yang sedari tadi juga terlihat menangis.
Setelah satu jam lamanya Sarah menunggu, akhirnya para perawat dan seorang dokter pun keluar. Sayangnya kabar buruk lagi yang harus ia dapatkan. "Maaf Bu, Pak Bagas mengalami benturan kepala yang cukup keras dan patah tulang pada bagian rahang. Saat ini pasien dalam kondisi kritis dan mengalami koma. Kita hanya bisa menunggu sampai Pak Bagas siuman untuk pemeriksaan lebih lanjut."
Tidak! Tidak!
Suaminya koma? Oh tuhan, Sarah merasa turut sakit. Kali ini Sarah benar-benar hanya bisa mengandalkan doa dan kesabaran. Semoga suaminya itu dapat segera sadar dan kembali kedalam pelukan hangat keluarga kecil mereka.
Dua minggu telah terlewati. Sarah berusaha untuk selalu berpikir positif dan dengan telaten mengurus suaminya dirumah sakit. Walaupun harus mendapatkan caci dan makian dari sang Ibu mertua. Ia harus tetap bertahan.
"Dasar, kamu memang pembawa sial ya! dulu kamu jebak anak saya sampai pernikahan impiannya gagal, dan sekarang gara-gara kamu, Bagas jadi terluka seperti ini!"
Sarah hanya diam, tentu ia tidak berani melawan. Sang mertua memang sangat benci kepada dirinya sejak dulu. Tentu, ia telah terbiasa.
"Sudah Tante, Mbak Sarah gak salah Tan, ini kan murni kecelakaan," ucap seorang gadis berhijab ungu, yang mencoba menenangkan.
"Haduh Farah, kamu memang beda banget ya sama Mbak-mu yang lon*e itu. Kamu harusnya jangan terlalu baik sama dia Far. Dia loh yang sudah merusak pernikahan kamu sama Bagas. Coba saja gak ada dia yang dateng ngaku-ngaku hamil anak Bagas. Pasti kamu yang jadi menantu Tante saat ini. Tentu saja Bagas pasti masih baik-baik saja, bukan malah koma kayak gini."
Lagi-lagi hatinya tersayat. Sarah akui memang dirinya dulu salah karena telah merusak hubungan antara adiknya dengan Bagas yang kini menjadi suaminya. Karena kesalahan satu malam, semuanya berubah. Ia dinyatakan hamil dan Bagas dengan terpaksa beralih untuk menikahnya. Padahal, saat itu Farah dan Bagas telah menjalin kasih cukup lama dan telah bertunangan, serta merencanakan pernikahan pula.
Sejujurnya ia pun merasa jahat, dulu setelah Thalia lahir ia juga meminta cerai kepada Bagas dan membujuknya untuk kembali kepada Farah. Namun tanpa diduga, cinta tumbuh diantara mereka. Hingga keduanya pun memutuskan untuk tetap bersama dan melupakan masa lalu kelam mereka.
Sayangnya sang mertua, ibu dari Bagas yang bernama Suratih itu, tidak pernah ikhlas dan terus saja membenci Sarah. Ia tetap kekeh bahwa Sarah hanyalah jalang yang bisanya membawa kesialan dalam hidup putranya. Ia terus-menerus mengatakan bahwa hanya Farah lah yang berhak dan pantas untuk mendampingi Bagas.
Larut dalam ingatan, Sarah tak menyadari bahwa Ibu mertuanya telah heboh melihat jari-jemari anaknya yang tengah koma itu bergerak. Tak lama datanglah dokter dan para perawat yang bergegas datang memeriksa.
Mereka pun terpaksa harus menunggu diluar. Perasaan tegang menyelimuti orang-orang disana. Suratih duduk dengan cemas dan bergenggam tangan dengan Farah. Sedangkan Sarah kini tetap berdiri sambil menangkupkan kedua tangan, terus berdoa untuk suaminya.
Setelah menunggu kurang lebih 15 menit, dokter menghampiri mereka. Kali ini rautnya nampak lega. Semoga semua memang baik-baik saja.
"Keluarga Bapak Bagas?"
"Ya, ya saya ibunya dok," jawab Suratih dengan cepat, sengaja mendahului si menantu.
"Oh iya baik ibu, saya ingin memberitahu bahwasanya pasien sudah berhasil sadar dari koma-nya."
Seketika semua yang disana bernapas lega. Sarah menangis haru. Kini ia semakin tidak sabar untuk bertemu dengan sang suami.
"Namun, ada satu hal yang harus kami sampaikan, yang mana mungkin ini cukup berat bagi pasien dan keluarga," lanjut sang dokter.
"Ada apa dok? Anak saya baik-baik saja kan? dia gak lumpuh kan dok?" tanya Suratih dengan panik.
"Syukurnya tidak, namun pasien saat ini sepertinya mengalami amnesia jangka pendek yang disebabkan oleh benturan keras saat kecelakaan, karena tadi pak Bagas ternyata melupakan ingatan yang terjadi baru-baru ini, termasuk kecelakaan yang menimpanya. Untuk saat ini kami hanya bisa menunggu keadaan pasien hingga stabil, kemudian kami akan melakukan pemeriksaan lebih lanjut."
Mendengarnya, Sarah pun merasa kaget. Ia hanya bisa berharap semoga Suaminya itu tidak melupakan dirinya. Sayangnya harapannya kali ini tidaklah terkabul, karena ketika keesokan harinya saat dokter telah memperbolehkan para anggota keluarga untuk menjenguk dan melihat kondisi Bagas, suaminya itu hanya menatapnya dengan datar, sorot matanya kian asing. Dan yang lebih membuatnya sedih, adalah ketika bukan nama Sarah yang pertama kali terlontar dari bibir pucat suaminya itu, melainkan nama perempuan lain yang tentu saja sangat Sarah kenal.
"Bun, Farah mana? Ini aku dirumah sakit, terus acara pertunangan aku sama Farah gimana?"
Runtuh sudah, hidup Sarah hancur lebur tak bersisa. Ia memandang lekat suaminya dengan raut tak percaya. Terisak dalam diam, wanita dengan surai gelap itu pun perlahan mundur dan berbalik pergi keluar dari ruangan yang seakan menghimpitnya dalam sesak.
"Bagaimana ini mas? kamu lupa sama aku. Kamu pasti juga lupa sama Thalia. Kenapa semua jadi begini? aku gak bisa mas, aku sendirian mas! Mas Bagas! Hikss."