Cerita ini berlatar belakang seribu tujuh ratus tahun setelah pertarungan dewa, batu-batu sakral kini tersebar ke berbagai penjuru dunia, setiap kaum yang memilikinya memanfaatkan batu tersebut untuk kepentingan kaum mereka, Zeel Greenlight seorang pemuda dari kota benteng Clever kehilangan kedua orang tuanya saat peristiwa malam darah, inilah awal dari perjalanannya untuk mencari siapa dan kenapa pembunuhan itu terjadi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jefrie Pratama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 3 : Penyelamatan Clare
12 september tahun 1700 kota benteng Clever.
Sudah satu minggu berlalu sejak tragedi penyerangan di kota benteng Clever.
Namun belum terpecahkan siapa dalang di balik tragedi tersebut.
Tragedi itu di kenal dengan peristiwa malam darah.
Peristiwa malam darah menewaskan kurang
lebih setengah dari jumlah penduduk kota benteng Clever.
Korban di antaranya orang remaja, dewasa dan anak-anak.
Sebagian penduduk yang selamat bersembunyi
di hutan selama peristiwa itu terjadi.
Kabar tentang kematian Garmond Greenlight
menyebar dengan cepat ke seluruh penjuru kota.
Kabar itu menyebabkan penduduk kota benteng Clever panik.
Dengan cepat pemimpin kuil Greenstone membuat pernyataan, bahwa batu greenstone ada di tangan mereka.
Sebuah kebohongan.
Bangunan di kota benteng Clever banyak mengalami kerusakan terutama bangunan yang berada di wilayah penduduk.
Prajurit kota benteng Clever kehilangan separuh kekuatannya setelah peristiwa malam darah.
Anehnya, monster-monster misterius yang
menyerang kota benteng Clever dalam peristiwa malam darah menghilang tanpa jejak.
Tidak ada bukti apapun dalam penyerangan tersebut selain bukti korban jiwa.
Hari itu aktivitas kota Clever perlahan-lahan mulai pulih.
Mayoritas penduduk kembali beraktivitas, namun tidak semua penduduk beraktivitas seperti semula.
Sebagian mengalami trauma mendalam.
Sebagian masih berduka karena kehilangan keluarganya.
Pada hari itu prajurit Clever sudah kembali
beraktivitas seperti biasa, mulai dari latihan, patroli hingga penjagaan gerbang.
Satu minggu ke belakang prajurit Clever di sibukkan dengan pencarian serta pemakaman korban dari peristiwa malam darah.
Peristiwa malam darah membuat prajurit Clever kehilangan kesatria mereka.
Delmon di angkat sebagai kesatria sementara untuk guna meredam potensi konflik perebutan kekuasaan di antara prajurit Clever.
Dengan kemampuan memanah serta kepintarannya tidak ada yang menentang Delmon.
Pagi hari itu prajurit Clever mulai kembali
melakukan latihan tanding seperti biasa.
Terlihat dua pemuda lengkap dengan zirah besi serta pedang besi saling berhadapan.
Salah satu dari kedua pemuda tersebut adalah Zeel Greenlight.
Wasit sebagai pengadil latihan tanding
memulai pertandingan.
Slash, slash, slash ....
Zeel dan prajurit itu saling mengadu pedang.
Delmon yang berada di pinggir arena tanding melihat keanehan dari gaya berpedang Zeel, tidak seperti biasanya.
Setelah beberapa menit sejak latihan tanding berlalu.
Latihan tanding dinyatakan selesai dengan kekalahan Zeel.
Tanpa berkata apa-apa Zeel meninggalkan arena latihan.
Sang lawan serta prajurit lain yang menyaksikan jalannya latihan tanding merasa ada yang aneh
dengan Zeel.
Setelah prajurit Clever melalui berbagai rutinitas sepanjang hari, malam hari akhirnya tiba.
Mayoritas prajurit Clever sudah berada di kamarnya masing-masing.
Sebagian tertidur lelap sebagian masih terjaga.
13 september tahun 1700 wilayah militer, kota benteng Clever.
Hari itu Zeel mendapatkan tugas patroli di wilayah penduduk dari pagi hingga sore hari.
Umumnya tugas patroli di laksanakan dengan berpasang pasangan.
Hari itu Zeel berpasangan dengan teman dekatnya sekaligus kesatria sementara, Delmon.
Sebelum berangkat melaksanakan tugas patroli, pagi hari itu Zeel dan Delmon menikmati sarapan bersama prajurit lainnya di kantin militer.
Dengan zirah besi dan senjata beriringan mereka
berjalan dari wilayah militer menuju wilayah penduduk.
"Zeel ... bagaimana kala--," kalimat Delmon berhenti.
Zeel menoleh ke arah Delmon dengan tatapan kosong.
Delmon berkata, "lupakanlah."
Delmon berniat mengajak Zeel untuk melalui markas Defender sebagai rute tercepat.
Delmon ingin menggunakan Izin khusus mereka sebagai prajurit Clever.
Namun Delmon membatalkan niatannya, ia tidak ingin memperparah luka di hati Zeel.
Akhirnya Zeel dan Delmon berjalan menuju wilayah penduduk melewati wilayah industri.
Setibanya di wilayah industri terlihat suasana yang berbeda.
Suasana wilayah industri terlihat lebih sibuk di
bandingkan dengan suasana wilayah militer.
Baik pabrik kayu maupun pabrik kain
kedua-duanya terlihat sangat sibuk bahkan sejak pagi hari.
Kesibukan para pekerja di sebabkan oleh berkurangnya para pekerja semenjak peristiwa malam darah.
Serta permintaan produk yang tidak sebanding dengan jumlah pekerja membuat mereka harus bekerja lebih keras.
Suasana sibuk yang mereka rasakan pada saat
berada di wilayah industri berubah menjadi suasana ramai sesaat mereka tiba di wilayah penduduk.
Rumah-rumah penduduk serta perkebunan berjejer mereka lalui sepanjang jalan.
Pagi itu suasana permukiman penduduk cukup
ramai.
Sebagian penduduk beraktivitas di kebun mereka.
Sebagian anak-anak bermain di kebun, sebagian anak-anak berlari lari di jalanan.
Di tengah-tengah suasana itu Delmon ingin menyampaikan sesuatu pada Zeel.
“Zeel,” ucap Delmon.
“Aku turut berduka atas kematian kedua orang tuamu," tutur Delmon.
Namun Zeel tidak menjawab apa-apa.
Delmon menoleh ke arah Zeel, terlihat oleh Delmon tatapan Zeel yang kosong.
Delmon sadar temannya sedang sangat terpukul.
Namun Delmon tidak tau harus berbuat apa
selain menunjukan rasa empatinya.
Setelah terus berjalan Delmon dan Zeel tiba
di pasar Clever yang berada tepat di tengah wilayah penduduk.
Suasana pasar cukup ramai, para pedagang sudah menjajalkan produk dagangannya, para pembeli memenuhi jalan pasar.
Zeel dan Delmon berjalan di antara para
pembeli di sepanjang pasar.
Di tengah kerumunan para pembeli membukakan jalan bagi mereka.
Tanpa di minta mereka melakukan itu, para pembeli menunjukan rasa hormat pada prajurit.
Dari tengah pasar terdengar oleh Delmon suara cukup nyaring.
Namun suaranya tidak begitu jelas, Delmon yang mendengar itu mengajak Zeel untuk pergi ke tengah pasar sekaligus untuk tugas patroli.
Lalu Delmon berjalan menuju tengah pasar
dengan Zeel yang mengikuti dari belakang.
Sesampainya di tengah pasar terlihat sejumlah orang berjubah putih dengan seorang gadis di tengah-tengah mereka.
Nampak tangan gadis tersebut di borgol.
Semua pandangan tertuju ke sana, Delmon
terkejut dengan sosok gadis yang berada di tengah-tengah sekumpulan orang berjubah putih.
Sosok gadis tersebut adalah kekasih teman dekatnya Zeel.
Meskipun Delmon tidak begitu dekat dengan Clare tapi setidaknya Delmon mengenali wajah Clare
Sesaat setelah itu, satu dari sekumpulan
orang berjubah putih itu mengucapkan sesuatu dengan alat pengeras suara.
Suaranya cukup nyaring hingga menarik perhatian seluruh orang yang berada di pasar.
“Kami ... prajurit khusus Clever ingin menyampaikan sebuah pengumuman penting,” ucap salah satu pria berjubah putih.
Suasana pasar yang tadinya ramai menjadi
hening seketika.
Para penjual dan pembeli yang tadinya sedang bertransaksi seketika berhenti.
Lalu salah satu dari sekumpulan orang berjubah putih itu menyampaikan sesuatu dengan bantuan alat pengeras suara.
“Kami telah mengamankan pelaku peristiwa malam darah, gadis ini adalah pelakunya,” kata salah satu pria berjubah putih.
Para pembeli yang tadinya memasang wajah
penasaran berubah menjadi wajah kebencian setelah mendengar pengumuman tersebut.
Seluruh tatapan kebencian tertuju pada Clare.
Gedebug, gedebug ....
Para penduduk melempari Clare dengan berbagai benda, di antaranya sayur-sayuran, buah-buahan bahkan hingga batu.
“Dasar monster!”
“Sudah kuduga hari seperti ini akan datang, harusnya dulu kita membunuhnya!”
“Bunuh saja dia!”
..."Zeel, berdirilah."...
...-Delmon-...
kak jangan lupa mampir do novel ku NEGRI JIRAN.
mohon dukungannya