Update kalo ingat.
NOTE : CERITA INI BIKIN NGAKAK SALTO-SALTO
Sekuel Mendadak Menikah (Sean & Mauren)
"Roseline, ku perintahkan kau untuk menjadi pacarku!" ucap Navier Alister.
Roseline yang baru saja menjadi sekertaris Tuan Muda Navier hanya terheran. Orang aneh dan idiot seperti Navier menyuruh untuk menjadi pacarnya.
"Tuan muda Navier yang tampan tapi somplak mengajakku berpacaran?" gumam Roseline.
Roseline mundur perlahan ketika Tuan Muda Navier mendekatinya, perlahan lahan semakin dekat, semakin dekat. "Ku tunggu jawabanmu malam ini," ucap Navier.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ria Mariana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10 : Sop daging
“Dale, adikmu hanya bercanda. Jangan didengarkan!” ucap Sean sambil melerai mereka.
Daleon menepis tangan Sean, ia ingin memukul Navier tetapi ntiba-tiba Sean terjatuh sambil memegangi dadanya. Dia meringis kesakitan lalu sesak nafas, Daleon dan Navier terkejut setengah mati.
“Papa kenapa?” tanya Daleon panik.
“Pak’e jangan mati! Navi minta maaf,” ucap Navier.
“Lebih baik aku mati saja daripada melihat anak-anakku tidak akur,” ucap Sean sambil memegangi dadanya.
“Pak’e... Jangan mati pak! Navi akan akur dengan Kak Dale.”
Mauren terkejut melihat sang suami sudah tergeletak dilantai, ia mendekatinya. Mata Sean berkedip-kedip menandakan dia hanya akting supaya anak-anaknya tidak bertengkar lagi. Mauren menghela nafas.
“Huh... Lihatkan papa kalian sampai sakit karena ulah kalian. Jangan bertengkar lagi! Malu dengan Darsen yang masih kecil. Kau juga Navi, jangan begitu dengan kakakmu!” ucap Mauren.
Navier menundukkan kepala, ia lalu mengulurkan tangan kepada Daleon dan meminta maaf. Daleon sempat menolak tetapi ia melihat papanya menjadi tidak tega. Mereka berjabat tangan dan berpelukan menandakan jika
mereka sudah akur. Setelah itu Navier berdiri dan kembali ke kamarnya.
**
Keesokan harinya,
Navier memasuki gedung Young Group bersama Ali. Dia begitu berwibawa dan selalu melempar senyuman kepada pegawai yang melintas di depannya. Hari ini dia menggunakan setelan jas berwarna coklat tua dengan dasi
bercorak coklat dan putih. Lesung pipinya selalu terlihat tatkala dia tersenyum membuat para gadis meleleh dibuatnya.
“Jadwalmu hari ini ada meeting bersama grup C untuk membahas produk parfum baru,” ucap Ali sambil berjalan dibelakang Navier.
“Setelah itu?”
“Setelah itu menghadiri perjamuan makan siang dengan direktur eksekutif brand D.”
Navier menganggukkan kepala, ia membuka pintu dan melihat Seline sudah duduk didepan komputer. Dia berdiri dan menundukkan kepala tetapi Navier melewatinya sambil lalu. Seline hanya kecewa sepertinya sang tuan masih
marah kepadanya. Seline duduk kembali dan mengerjakan pekerjaannya, dia sesekali melirik Navier yang sudah fokus dengan laptopnya.
“Nona Seline, tolong persiapkan dokumen untuk dibahas saat meeting bersama Grup C!” ucap Ali yang
berada di meja seberang.
“Baik.”
Seline segera mempersiapkan apa yang diminta oleh asisten presdir. Sampai ia tidak sengaja menumpahkan gelas minumannya ke dokumen itu. Gelas itu menggelinding sampai menimbulkan bunyi membuat Navier langsung
memandang ke ruangannya. Navier berdiri lalu menghampirinya.
“Apa yang kau perbuat?” Navier melihat berkas pentingnya yang sudah basah terkena air.
“Ma—maaf tuan.”
“Sebentar lagi aku akan meeting, kau malah membuatnya basah.”
Ali menengahi mereka, dia akan mencetak dokumen itu lagi tetapi Navier tidak mau tahu. Dia menyuruh Seline untuk datang ke ruangannya. Seline mengusap wajahnya kasar, pagi-pagi dia sudah terkena amukan sang tuan. Navier
kini sudah duduk di kursi importnya memandang Seline dengan tajam, Seline beringsut mundur seolah ketakutan.
“Berhitung 1-10!” perintah Navier.
Seline menaikkan alisnya, ia masih belum paham dengan ucapan Navier. Navier menggebrak meja membuat
Seline semakin ketakutan.
“10 dikali 10 ditambah 100 diakar 2 sama dengan berapa?” tanya Navier dengan pengucapan cepat.
Tik tok tik tok tik tok...
Seline hanya terdiam membuat suasana diruang itu sunyi dan hanya terdengar dentingan jam dinding import milik Navier.
“Hoi! Jawab!” bentak Navier.
“Saya tidak pandai dalam matematika, tuan.”
“Apa kau bilang? Kau kuliah akutansi selama 4 tahun tidak pandai berhitung bagaimana kau bisa menjadi sekertarisku?” tanya Navier.
Mau bagaimana lagi? Aku kuliah akutansi juga paksaan dari papah dan aku bisa menjadi sekertaris disini
juga masih menjadi sebuah misteri.
Navier berdiri mendekat kearah Seline, Navier memegangi dagunya sendiri dan memperhatikan penampilan dari atas sampai bawah wanita itu. Seline semakin risih dengan tatapan Navier yang seolah mesum.
“Kau sudah punya pacar?” tanya Navier.
Seline menggelengkan kepalanya.
“Oh.”
Hanya oh saja jawabannya?
“Diperusahaan ini mempunyai aturan jika tidak boleh memiliki hubungan khusus dengan sesama pegawai tetapi aturan itu tidak berlaku bagiku. Jadi, jika kau mempunyai pacar dengan pegawai disini maka siap-siap saja aku
akan mengeksekusimu,” ancam Navier.
Navier menjentikkan jarinya, cetik.... Dia bermaksud
memanggil Ali yang berada diruangan sebelah tetapi Ali tidak kunjung datang.
Cetik... Cetik...
Cetik... Cetik.... Cetik...
Seline heran kenapa pria aneh didepannya terus menjentikkan jarinya, Navier mengambil nafas dalam-dalam dan berteriak memanggil Ali.
“Ali bin Sukiman, kau budek atau bagaimana?” teriak Navier.
Ali yang sedang mencetak dokumen di mesin printer langsung masuk ke ruangan Navier. Navier menatap tajam kearahnya.
“Aku sudah bilang kepadamu jika aku menjentikkan jari maka kau harus datang.”
“Bagaimana jika kita bertengkar saja? Kau sinting, kau pikir suara jentikkanmu terdengar sampai ruanganku?” tanya Ali marah.
“Kau harusnya belajar telepati, bodoh! Aku tuanmu dan kau adalah asistenku. Cih... bahkan kau tidak pantas disebut seorang asisten. Masih ingat kau saat kita pulang sekolah dihadang oleh preman, kau lari
terbirit-birit dan mengadu ayahmu sedangkan aku harus menghadapi preman itu sendirian,” ucap Navier mengingatkan kejadian.
Ali langsung mengingat kejadian itu be like :
“Ayah, ada preman yang mau menghajarku. Di gang sana! Cepat ayah, Navier masih disana,” ucap Ali.
“Kenapa kau tinggalkan tuan muda Navier? Kau sudah SMA malah meninggalkan bocah SD,” jawab Kim.
Sesampainya di gang itu, Navier berhasil meluluhkan ketiga preman tersebut. Dia dengan angkuhnya berjalan sok kuat didepan Ali. Kim mendekati Navier dan memeriksa tubuh Navier terluka atau tidak.
“Anda tidak apa-apa, tuan muda?” tanya Kim sambil memegangi bahu Navier.
“Gakpapa dong, Navi gitu loh. Aku menyemprotkan ke mata mereka dengan ramuan ajaibku, air cabe dengan air balsam lalu tidak lupa sedikit air pipisku ku semprot kearah wajah mereka seperti ini....”
Navier tidak sadar jika lubang semprotan itu mengarah ke wajahnya dan mengenai matanya.
“Uaaaaaa... My eyes... My eyes terbakar.... Mataku.... Arrhhhhhhggg....,” teriak Navier sambil mengucek matanya.
Flashback selesai.
Ali tertawa terbahak-bahak mengingat kejadian itu, ia tertawa sampai sakit perut. Navier lalu mengingat kejadian lain bersama Ali yang sungguh menggelikan.
“Kau masih ingat saat kita di kejar anjing?” tanya Navier.
Ali menganggukkan kepala. Mereka mengingat kejadian itu. Saat itu mereka sedang berlari pagi tetapi tiba-tiba dikejar anjing tanpa sebab.
“Uanjeng.. Uanjeng...,” teriak Ali lari terbirit-birit.
Untungnya mereka berhasil masuk ke gedung apartemen dan Ali langsung melapor kepada ayahnya. Kim langsung bergerak cepat seolah tidak terima jika Ali dikejar anjing tanpa sebab.
Keesokan harinya, Ali mengajak Navier untuk makan diapartemennya. Hari ini Kim memasak makanan khas negaranya. Navier yang masih bocah belum mengerti, ia menikmati sop daging itu dengan lahap.
“Uncle, enak sekali dagingnya. Lebih enak dari daging sapi,” ucap Navier sambil menjilati tulang daging itu. “Ini daging apa ya, uncle?” sambung Navier.
“Ini daging anjing, tuan muda,” jawab Kim.
Ini daging anjing, tuan
,muda. Ini daging anjing, tuan muda. Ini daging anjing, tuan muda.
Kata-kata itu terngiang-ngiang dikepala Navier, seketika perutnya menjadi mual.
Hueeeeek... Hueeeek... Hueeek...
10 menit kemudian.
“Sialan kau, Kim! Anakku kau beri makan sop anjing,” ucap Sean murka.
“Maaf, tuan. Saya tidak tahu. Biasanya juga tuan muda Daleon memakan ini juga.”
“Apa kau bilang?” ucap Sean semakin murka.
Flashback selesai.
Ali tertawa terbahak-bahak mengingat kejadian itu, Navier hanya berdecih dan kapok untuk makan dengan mereka. Ternyata daging yang dia makan waktu itu adalah anjing yang mengejar mereka dan diberi pelajaran langsung oleh Kim. Seline yang mendengar masa lalu mereka tertawa terbahak-bahak, Navier langsung menatapnya seolah tidak suka.
“Hei kau! Kenapa tertawa?”
Seline langsung terdiam tetapi masih menahan tawanya.
****
Otor disini tidak ada maksud menghina atau hal lainnya. Ini sebatas hiburan saja. Maaf jika ada yang tersinggung.
navier panggil darsen = darman
navi dan darsen sama2 lucu...