NovelToon NovelToon
My Partner'S Diary

My Partner'S Diary

Status: tamat
Genre:Romantis / Teen / Cintamanis / Contest / Tamat
Popularitas:232.3k
Nilai: 5
Nama Author: Decy.27126

TAHAP REVISI🙏


***

Berawal dari kata 'tidak suka' hubungan mereka kian dekat karena sebuah pertengkaran. Batu yang keras, akhirnya luluh oleh air yang tenang.

Seperti itulah Gia dan Riza, dua remaja yang menaiki tangga bersama dari tidak suka, menjadi suka, lalu ke nyaman, dan berakhir dengan saling menyayangi.

***

Sedikit kisah, dari jutaan kisah lain yang mungkin akan membuat kalian tak bisa melupakannya.

@dwisuci.mn

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Decy.27126, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9

HALAMAN 6

'Hujan, aku benci kamu. Kenapa kau selalu turun tidak tepat pada waktunya dan tidak pada musimmu? Sngguh, aku membencimu, kau menyiksaku.'

Tertanda

Calvin Arriza Adhitama

***

“Permisi, Mbak. Ini pesanannya.” Seorang waiters membawa pesanan Gia dan Nela, lalu menanyakan pesanan Adit dan Rendi. Bergegas, ia kembali ke dalam lagi setelah mencatat pesanan dua orang itu.

“Gimana?” tanya Nela setelah Gia memasukkan potongan pertama Red Velvet miliknya.

“Kemanisan,” jawab Gia singkat.

Nela tertawa kecil. “Udahlah, hbisin aja, tuh!”

“Kalian nilai makanan ini?” tanya Adit heran.

“Iya, anggep aja ini penilaian tempat nongkrong terbaik,” canda Nela dengan tawanya.

“Ada-ada aja kalian ini,” kekeh Adit.

“Iya, baru pernah, nemu orang hobi kasih nilai makanan di cafe,” timpal Rendi bercanda.

“Mau gimana lagi, udah terlanjur jadi kebiasaan juga,” ucap Nela disertai kekehan di akhir kalimatnya.

Dering nada pesan terdengar dari HP Gia dan membuat mereka semua menoleh ke arah Gia, gadis itu langsung membuka ponselnya.

+628**********📩

[Ntr mlm, gw jmput.]

^^^GiAnna📤^^^

^^^[Ngapain?]^^^

+628**********📩

[Warnet.]

Gia langsung paham dengan siapa orang di seberang sana, karena dia hanya memiliki satu urusan bersama satu orang di warnet. Langsung saja dia menamai kontak itu dengan nama, CalvIza, yang merupakan singkatan dari Calvin Arriza

^^^GiAnna📤^^^

^^^[Oke, jl.******* No. 54]^^^

CalvIza📩

[Jam stngh 7 gw ksna]

^^^GiAnna📤^^^

^^^[Ok, ditunggu.]^^^

***

“Dari siapa, Gi?” tanya Nela penasaran.

“Supir, udah jemput katanya,” jawab Gia. “pulang, yuk!”

“Loh, mau langsung pulang?” tanya Adit.

“Iya, udah dari tadi juga di sini,” balas Gia.

“Mau kita antar, nggak?” tawar Adit ramah.

“Nggak usah! Makasih, aku sama Nela udah dijemput di luar. Duluan, ya,” pamit Gia yang segera menarik tangan Nela untuk pergi.

***

Malam hari, Gia bersiap untuk pergi ke warnet bersama Riza, tentu setelah sebelumnya meminta izin pada mamanya di rumah.

Jihan, mama Gia yang sedang di ruang keluarga itu bergegas membuka pintu saat suara bel terdengar beberapa kali.

“Assalamualaikum, Tante,” salam seseorang saat pintu terbuka.

“Waalaikumsalam, kamu siapa ya?” tanya Jihan.

“Saya Riza, Tante, temennya Gia.”

“Oh, temen sekelasnya Gia, ya?”

“Iya, Mah. Dia temenku!” ucap Gia dari belakang Jihan.

“Ya udah, kalian mau ke warnet doang, kan?”

Riza mengangguk. “Iya, Tan.”

“Tante nitip, Gia, ya? Jangan mampir ke mana-mana, jangan pulang larut juga, ya, Riza.”

Sekali lagi, Riza mengangguk. “Iya, Tan. Kalo gitu, kami pamit dulu.”

“Hati hati dijalan,” pesan Jihan diangguki Gia dan Riza.

“Kita pergi pake motor,” ucap Riza saat sudah sampai di depan motornya.

“Ya udah, ayo.”

“Lo pake rok, Gia.”

“Udah biasa, kok, ayolah!”

“Ya udah, ayo.”

Hanya membutuhkan waktu lima belas menit, mereka sampai di warnet terdekat, bertepatan dengan gerimis kecil yang mulai turun menyapa bumi malam itu.

Keduanya memilih acuh dan langsung masuk ke dalam warnet untuk menyelesaikan tugas mereka.

“Mau warna apa?” tanya Riza yang masih memperhatikan layar di depannya.

“Biru,” jawab Gia.

“Lo suka biru?”

“Nggak juga.”

“Terus, kenapa pilih biru?”

“Kebanyakan orang lebih milih biru daripada abu-abu,” jelas Gia.

Riza berdecak, “Gue nggak suka biru.

“Kamu suka warna hitam, kan?” tebak Gia tepat.

“Iya.”

“Cocok sama hidup kamu, gelap,” canda Gia santai.

Riza melirik sinis pada Gia yang meledeknya tadi, hanya di balas sedikit kekehan dari gadis itu.

“Vin, hujannya deras,” ucap Gia saat mendengar suara air hujan yang beradu dengan atap.

“Tau!” balas Riza singkat.

“Masih lama, nggak, sih?” tanya Gia mulai bosan.

“Bentar!”

“Tau gini, tadi kerjain pake laptop aja di rumah,” gumam Gia.

“Di rumah juga ntar susah ke sininya lagi,” balas Riza kesal.

“Seenggaknya, kita nggak bakal pulang kehujanan,” balas Gia.

“Udah, nih. Tinggal di-print di depan!” Riza memperlihatkan pekerjaannya.

“Waw ... bagus, hebat juga kamu,” puji Gia.

“Udah, ayo!”

Pekerjaan pertama mereka sebagai ketua dan wakil ketua kelas selesai malam ini. Namun, keduanya justru belum bisa pergi dari sana karena hujan masih mengguyur dengan lebat.

“Vin, udah mendingan, nih. Jalan, yuk!” ajak Gia, karena hari juga sudah mulai larut.

“Tapi motornya basah, nggak apa-apa?”

“Basah air doang bukan darah,” canda Gia.

“Nggak apa-apa, kok. Ayo!” lanjut Gia.

Lima menit mereka berjalan, hujan kembali turun dengan deras dan mereka pun memutuskan untuk menepi sebentar ke pelataran warung yang sudah tutup.

Keduanya berdiri berdampingan, mencoba menghindari air yang terasa semakin dingin karena bercampur dengan angin malam.

“Lo nggak kedinginan?” tanya Riza, menatap Gia yang hanya terdiam memandangi air hujan.

“Nggak, ada yang lebih dingin dari hujan,”

jawab Gia.

“Apa?”

“Kamu.”

“Hah?” Riza menatapnya dengan bingung.

“Kamu kedinginan?” tanya Gia yang melihat wajah Riza memucat.

“Nggak, biasa aja!” jawab Riza singkat.

“Muka kamu pucat.”

“Jalan, yuk!” ajak Riza mengalihkan pembicaraan.

“Hujannya masih deras ini. Yakin, mau jalan?” tanya Gia memastikan.

“Iya, udah larut. Takut nanti hujannya malah nggak berhenti sampe pagi,” jelas Riza.

“Ya udah, ayo!”

“Udah!”

***

“Ayo, masuk dulu,” ajak Gia setelah sampai di rumahnya dengan kondisi basah kuyup, juga disertai hujan yang belum juga reda.

“Nggak usah.”

“Ayo, masuk!” Gia menarik lengan baju Riza.

“Akhirnya, kalian pulang,” sambut Jihan yang ternyata menunggu mereka di teras rumah.

Gia mengangguk. “Iya, mama ngapain di luar? Dingin, loh, Mah.”

“Mama nunggu kalian, duduk dulu. Mama bikinin teh anget buat kalian dulu, ya?” Jihan meninggalkan Gia dan Riza yang sudah duduk di kursi teras rumah mereka.

Tidak berselang lama, Jihan kembali keluar dengan dua cangkir teh jahe dan handuk bersih.

“Ini minumnya, Riza, dan ini handuk buat keringin tubuh kamu.”

“Nggak usah, Tan. Riza langsung pulang aja, ya?” pamit Riza.

“Minum dulu tehnya, nggak baik bertamu tapi nggak minum apa-apa,” ucap Gia menimpali.

Riza mengangguk, dia menggenggam cangkir teh yang turut terasa hangat karena isinya. Dia lalu meminum teh itu beberapa kali hingga habis setengahnya.

“Kalo gitu, Riza pamit dulu, Tan, Gi,” pamit Riza.

“Ya udah, makasih, yah, udah anterin Gia.”

“Iya, Tan, saya permisi.”

“Hati-hati di jalan, Za,” pesan Gia.

“Kasihan temen kamu, Gi,” ucap Jihan setelah Riza pergi dari rumahnya.

“Kenapa nggak digendong aja kalo kasihan, Mah?” celetuk Gia asal.

“Kamu ini! Untung papa kamu lembur. Kalo nggak, bisa dimarahin kamu, Gi. Ayo, masuk.”

“Iya, iya, Gia masuk.” Gia masuk ke rumahnya dengan membawa dua cangkir bekas teh untuknya dan Riza.

***

Bersambung.

See u next chpt.🖤

Mohon maaf masih banyak kesalahan kata. 🙏

1
Niken NiRiYu
bintang 5 buat penulis buat alur crita juga okelah tp plot twist masa lalu gia blm ngena
spnjang crita karakter gia msh konsisten msh terbaik dan kalau bs gia seharusnya dpt lbh baik lg dr karakter riza😁 dan riza sprti tdk ada lawannya buat dapetin gia kyk gmpang ajha buat riza
tp utk smwnya udh bagus karakternya kuat2👌
Lina 002
keren,suka sama kata" nya
Decy Mlyni: terima kasih sudah membaca, Kak. semoga berkenan dengan ceritanya 🙏☺️
total 1 replies
abdan syakura
Assalamu'alaikum..
salken, kak....
Decy Mlyni: waalaikumsalam, Salam kenal juga, Kakakk. selamat membaca
total 1 replies
Purianti Santi
lanjut mantab👍
Decy Mlyni: udah tamat, Kak. silakan baca sampai selesai, terima kasih atas like & komennya. 🙏❤️
total 1 replies
Nur hikmah
calvin arriza psyiy
Nur Inayah
lama Bngt sandiwara ny
Arias Binerkah: permisi kakak ijin promo silahkan mampir di novelku ini bukan love bombing dikemas dengan bahasa segar dan komedi namun tetap romantis manis, terimakasih 🙏
total 1 replies
Nur Inayah
ah lama bngt,sandiwara ny
Jilioni MD: KEPEMILIKAN adalah cerita dalam novelku, jika berkenan mampir ya, bisa diklik profilku, terimakasih😊
total 1 replies
Nur Inayah
AQ MLS bertele2 thour
Nur hikmah
pnsaran....ko jd ribet
Nur hikmah
gia jtuh cnta tpi binggung sndri....n calvin kyy main umpet2 tan
Nur hikmah
waw ap riza mnta restu pa ayahy gia...hihihjhi
Nur hikmah
hntu kah
Nur hikmah
i love you gia n riza
Nur hikmah
syuka2
Nur hikmah
smpe dsini q phm....crtsy maju mundur....seru c....tpi ckup membinggungkn.....
Zia
semangat kak, jangan lupa mampir
Fie F.s (Mama Adara) 💕
Jadi inget pas sekolah dulu lomba rias kelas 😂

Jd terkenang masa SMA ku😁😁
Prayogi
terharu gaisy😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭
Chui Lhan Sheng
kangen lah😂😂 tapi boong😜😜
Chui Lhan Sheng
😍😍😍😘😘😘
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!