Chen Khu adalah anak ke dua dari tiga bersaudara, hidup bahagia di sebuah desa terpencil dikaki gunung Wutan. Keluarga Chen merupakan keluarga petani yang terkenal ramah bagi penduduk desa. Chen Khu bocah berusia 7 tahun, yang suka membantu. Meskipun usianya terbilang masih muda, tetapi dia cukup ringan tangan untuk membantu sesamanya. Dia bercita-cita, suatu saat jika sudah besar nanti, dia ingin menjadi seorang tabib agar bisa membantu orang - orang miskin yang sakit. Akan tetapi semua tidak berjalan seperti apa yang diimpikannya, sampai suatu malam ketikan sekelompok pendekar aliran hitam datang menghancurkan desanya. kedua suadarax dibunuh dengan kejam, ayahnya di tangkap untul di jadikan budak, sedangkan ibunya tewas ketika berusaha menyelamatkan dia dan adiknya. Satu hal yang tetap ada dalam pikirannya yaitu, tato KALAJENGKING MERAH yang ada di lengan pendekar yang membunuh ibu dan saudaranya. Dengan berlinang air mata dan sekuat tenaga dia berlari kedalam hutan gunung Wutan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khalid, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#10. Kisah Lee Han. I
Malam itu, setelah menikmati makan.. Lee Han mengajak duduk di depan mulut goa.
"Anak Bodoh.. kesinilah" ucap Lee Han pelan.
Setelah Chen Khu menghampirinya Lee Han melanjutkan.
"Aku tau banyak yang ingin kamu tanyakan padaku anak bodoh.. malam ini masih akan sangat panjang, dan aku akan menjawab semua pertanyaanmu ".
"Baiklah senior, siapa senior sebenarnya.? ".Chen Khu mengawali pertanyaannya.
"Dulunya aku hanya anak kecil sepertimu tapi setelah Negara Api menyerang dan membunuh semua anggota keluargaku dan arang - orang yang kusayangi, aku menjadi seperti ini" Lee Han memulai kisahnya.
" Aku seorang anak nelayan. kami tinggal di Negara Air.. kedua orang tuaku bukanlah pendekar. meskipun di desaku ada sebuah perguruan beladiri, tapi mereka tidak tertarik untuk belajar, karena menurut mereka, kekerasan bukanlah jalan terbaik untuk menyelesaikan masalah. Untuk itu mereka juga melarang anak - anaknya untuk berlatih beladiri. Aku anak terakhir, kami 4 Orang bersaudara.. kakakku Lee Fang adalah yang tertua sudah berumur 18 tahun, yang kedua Lee Ning berusia 16 tahun dan Lee Kwan saat itu berusia 12 tahun. Aku baru berumur 10 tahun ketika hari itu tiba. Tiba - tiba kami melihat ada ribuan kapal menghampiri desa kami, kami mulanya tidak mengira kalau mereka akan menyerang kami"..tampak mata Lee Han berkaca - kaca mengingat masa lalunya.
"Kami dulu yang masih anak - anak berlarian di tepi pantai hendak menyambut mereka. bagi kami, datangnya ribuan kapal adalah sebuah pemandangan yang sungguh menakjubkan. Tapi Tiba - tiba kapal - kapal itu melepaskan anak panah yang sangat banyak sampai - sampai ketika panah - panah itu jatuh seperti hujan. Kamipun berlarian menyelamatkan diri, kakakku Lee Ning dan Lee Kwan anak panah dan jatuh tersungkur. Aku terkena pada bagian betis" Lee Han sejenak menghentikan ceritanya sambil menunjukan bekas luka pada Chen Khu.
Chen Khu hanya terdiam mendengarkan Kisah Lee Han.
"Lalu selanjutnya bagaimana.? "..Chen Khu mulai tidak sabat menunggu Lee Han melanjutkan ceritanya, sebab setelah memperlihatkan bekas luka pada betisnya Lee Han terdiam cukup lama seolah dia kembali pada masa lalunya.
"Kakakku Lee Fang lah yang menyelamatkanku.. melihat kami bertiga terbaring di pantai.. Lee Fang berlari kearah kami, dia memeriksa kedua saudaraku dan ternyata mereka sudah tidak bernyawa"..Lee Han terdiam sejenak, suaranya terasa berat untuk melanjutkan.. sementara Chen Khu hanya menunggu sambil terus makan menikmati seekor ayam hutan yang baru saja matang. Meskipun cerita Lee Han terdengar sangat menyedihkan tapi Chen Khu tidak mau dua ekor ayam hutan yang masih dipanggang hangus karena keasyikan mendengar cerita.
"Lee Fang segera menggendongku di punggungya.. dia berlari secepat yang dia bisa, tapi sebuah anak panah tiba-tiba tiba menembus dadanya.. kamipun terjatuh, dengan sisa - sia tenaganya dia masih mencoba untuk menutupiku dengan perahu yang belum selesai dibuat. "jangan keluar kalau kamu belum merasa cukup aman".."itulah kata - kata terakhir dari Lee Fang yang kudengar..akupun menurutinya meskipun kakiku masih terasa perih karena panah yang menancap. dari balik perahu aku hanya bisa mendengarkan teriakan orang - orang yang mengalami pembantaian, akupun pingsan karena terlalu banyak darah yang keluar."..sejenak Lee Han menghentikan ceritanya sambil melirik Chen Khu yang mendengarkan tapi juga asyik makan.
"Lalu bagaimana Senior bisa sampai mendapatkan hukuman di tempat ini..?" tiba - tiba Chen Khu bertanya karena menyadari kalau Lee Han memperhatikannya dengan ujung mata.
harta rampasan perang dibahas tiap kali mwnang, mosok gak pwenah ambil harta rampasan tapi reeus menwrus keluarkan koin dlm jml besar buat ganti rugi... padahal murid sekte kere...