Bukan novel Plagiat! Kalau ditemukan isi(Alur, nama tokoh, seting tempat, waktu, sudut pandang) cerita sama dengan yang lain, silahkan report karya ini, namun kalau tuduhan itu tidak terbukti, saya yang akan balik mereport anda, seperti itu😊
Berdasarkan kisah seorang teman ditambah dengan bumbu-bumbu halu. Nama dan profesi disamarkan. Sebut saja namanya Lia, dia datang ke kota untuk mencari kerja, sampailah dia bertemu dengan Sera, yang menawarkannya untuk bekerja menjadi pengasuh anaknya, dan inilah kisahnya.
Awalnya kupikir rumah tangga yang aku jalani dengan Mas Haris selama tiga tahun ini baik-baik saja. Tapi ternyata aku salah, saat itu aku tidak sengaja membuka pesan mesra yang dikirimkan suamiku untuk wanita lain, aku bertanya-tanya, siapa wanita itu? Mungkinkah Mas Haris cuma bercanda dengan rekan kerjanya?
Tapi ternyata orang ketiga itu adalah orang terdekatku, orang yang tinggal satu atap denganku, orang yang aku perlakukan dengan baik, ternyata dia orang ketiga di dalam rumah tanggaku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon violla, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dika Hakim. SH
Lia naik di tiga baris besi pembatas balkon kamarku, dia masih marah dan menatapku dengan tajam, sedangkan Mas Haris maju beberapa langkah mendekatinya, sebenarnya Mas Haris memiliki hati yang lembut, jadi wajar kalau dia terlihat panik dan cemas.
"Aku mau mati saja, Mas. Kamu jahat karena sudah meragukan anakmu sendiri! Aku akan membawa janin ini bersamaku, Mas...!" Lia mengancam dengan suara tangisan yang memilukan, aku baru tahu sisi lain darinya, selama ini sifatnya lemah lembut, tapi hari ini dia terlihat sangat emosional.
"Lia, jangan lakukan itu ... kita bisa bicarakan ini baik-baik," Mas Haris mengulurkan tangan berusaha untuk menarik Lia, tapi Lia semakin nekat naik ke tempat yang lebih tinggi.
"Ceraikan dia, Mas ... akui ini sebagai anakmu! Cepat nikahi aku secara sah, Mas. Aku lelah dengan semua ini! Aku juga berhak atas dirimu, Mas!"
Lia mulai ngedrama lagi, Pak RT juga ikut turun tangan, mereka masih berusaha membujuk Lia, aku benar-benar muak melihatnya, sesekali Mas Haris menoleh memastikan keadaanku dia bisa melihat kakiku yang gemetaran, pandanganku berkunang-kunang, tapi aku berusaha untuk kuat, aku tidak boleh pingsan di sini.
"Cepat, talak dia Mas...!" Lia kembali berteriak.
"Aku tidak bisa menalaknya sekarang, Sera tidak dalam keadaan Suci, tidak boleh bagi suami mejatuhkan talak kepada istri yang sedang datang bulan!" Mas Haris membuat alasan, padahal aku tahu kalau sebenarnya dia juga tidak mau menceraikanku.
"Kalian berdua tidak punya hak untuk menentukan pilihan, aku sendiri yang akan menggugat Mas Haris kepengadilan, jadi Lia hentikan dramamu ini, jangan kotori tempat ini dengan kelakuanmu itu!" Mas Haris tampak terkejut, dia menggelengkan kepala seperti tidak setuju jika aku menggugatnya, tapi aku tidak akan mengubah keputusanku, aku tetap akan bercerai darinya.
"Kamu mau lihat aku mati, Mas...kamu mau anak ini juga ikut denganku 'kan? Baiklah aku akan lompat dari tempat ini!" Lia kembali mengancam.
"Jangan Lia! Kasihan anak itu! Dia berhak hidup!"
Mas Haris berhasil menarik tangan Lia, dia memeluk Lia dengan erat, dari balik punggung Mas Haris, Lia tersenyum mengejekku.
"Cepat nikahi aku, Mas. Kalau tidak aku bisa lebih nekat dari ini."
"Baiklah, tunggu sampai aku bertemu dengan ayahmu."
Melihat dan mendengar ucapan Mas Haris, membuat hatiku semakin sakit, aku menangis dan keluar dari kamar, aku masuk ke kamar lain dimana aku biasa menyimpan barang berharga, semua perhiasan, dokumen penting, buku tabungan atas namaku, semua aku simpan ke dalam koper dan kubawa keluar dari rumah ini, Lia mau aku keluar dari rumah ini, Lia mau menguasai rumah ini sendirian, maka dengan senang hati aku akan mengabulkan keinginanya ini.
Lia akan terkejut saat mengetahu kalau rumah ini bukan milik Mas Haris, rumah ini masih milik perusahaan dengan kata lain Mas Haris hanya menumpang di sini. Jika aku melaporkan kelakuan Mas Haris kepada atasannya di kantor, sudah pasti Mas Haris akan kehilangan pekerjaannya, dan otomatis dia akan diusir dari rumah ini.
Aku menjemput Bima di rumah Pak RT, semua orang melihatku dengan iba, mereka bergantian memelukku, sudah hampir empat tahun aku tinggal di lingkungan ini, selama itu juga hubungan antar tetangga kami baik, bahkan kami terlihat seperti keluarga, dan hari ini aku harus meninggalkan mereka semua, ini sangat berat tapi mereka semua memberi dukungan untukku, lalu aku membawa Bima ke Butik, mulai hari ini kami akan tinggal untuk sementara di tempat ini.
"Apa...? Mereka mengkhianatimu?" Rosa marah saat akuenceritakan tentang kandasnya rumah tanggaku, dia tidak menyangka dengan semua ini, Rosa orang yang baik, aku menyayanginya seperti adikku sendiri.
"Aku ingin bercerai darinya, aku tidak sudi menjadi istri dan tinggal satu atap dengan wanita itu," ucapku pada Rosa, aku tidak tau harus bagaimana, bercerai tidak pernah ada dibenakku.
"Pergilah ke firma hukum, bicara dengan mereka dan tunjuk satu pengacara untuk mendampingimu," ucap Rosa memberi saran, aku pikir ada benarnya karena selama ini aku percaya dengan pengacara Mas Haris dia yang mengurus pemindahan aset atas namaku kemarin.
Seminggu kemudian, aku berkunjung ke Firma hukum yang disarankan Rosa, dia memberiku kartu nama seorang pengacara yang katanya masih memiliki hubungan keluarga dengannya.
"Ada yang bisa saya bantu?" tanya seorang yang kelihatan berwibawa dengan perawakan dan nada bicaranya dia terlihat orang yang berpendidikan.
"Saya Sera, Bu. Saya datang ke sini ingin bertemu dengan Bu Sarah, apa saya bisa bertemu dengannya, Bu?"
"Sudah buat janji?" tanyanya aku mengelengkan kepala, "pantas saja, Bu Sarah ada pekerjaan di luar kota, dia sedang menangani kasus perceraian klien yang ada di sana," jawabnya, pantas saja Rosa merekomendasikan tempat ini, ternyata Bu Sarah pengacara yang berkompeten, lalu aku harus bagaimana?
"Kalau Bu, Sera mau, saya bisa kenalkan Bu Sera dengan pengacara yang lain, mungkin Bu Sera bisa konsultasi dengan beliau."
"Boleh, Bu. Terima kasih," aku mengikutinya masuk ke dalam lift menuju lantai sepuluh lantai paling tinggi di gedung ini, tidak menyangka bisa mengijakan kaki di tempat ini, tapi siapa yang menempati ruangan di sini? Kalau hanya seorang pengacara kenapa dia bisa menduduki tempat ini? Yang aku tau kantor pengacara ada di lantai bawah.
Ting....
Bunyi lift membuyarkan lamunanku, tempat apa ini? Tempat ini begitu luas tapi hanya ada satu pintu di ujung sana, ruangan apa itu? Aku merasa takut, tapi kenapa aku di bawa ke sini? aku ingin bertanya, tapi wanita ini sudah terlanjur mengetuk dan membuka pintu.
"Silahkan, masuk," ucapnya dengan sopan seolah aku tamu penting di sini, dan aku takjub melihat ruangan yang luas ini, tatanan di dalamnya sangat rapi mungkin terdapat ruangan lain di balik pintu itu, tapi aku mendadak gugup saat melihat seorang laki-laki yang sedang menunduk seperti membaca sesuatu di meja kerjanya.
"Maaf mengganggu, Pak ... ada klien yang ingin bertemu dengan Bapak," ucapnya dengan penuh hormat, mungkinkah laki-laki ini hanya seorang pengacara biasa?
Laki-laki berkemeja biru ini mendongak dan wajahnya tanpa ekspresi, tapi aku merasa seperti pernah bertemu dengannya, kenapa wajahnya tidak asing? Tapi di mana aku pernah bertemu dengannya?
"Terima kasih, kamu bisa kembali ke ruanganmu," perintahnya dengan tegas, dan tinggal kami merdua di tempat ini, dia berdiri dan berjalan lalu berhenti di depanku.
"Apa kabar SERA ANJANA ...? senang bisa bertemu lagi denganmu."
Laki-laki ini mengulurkan tangan, dia tersenyum manis sekali, tapi dari mana dia tahu namaku?
"Jadi ... Nyonya Sera benar-benar sudah melupakan, Dika Hakim...?"
Dika Hakim? Siapa dia? Aku benar-benar lupa.
*****
Sera dapat pengacara yang ganteng, Haris lewat wkwkwkwkwk
Terima kasih Vote-nya kakak😍
Novel ini gak dikontrak, jadi author gak dapat penghasilan, jadi jangan lupa like sayang, kalau like banyak, novelnya gak akan pindah lapak😅 Tapi aku setia sama kaum anti pelakor, jadi kita tetap di sini ya
sukses
semangat
mksh