Sisi lain dari Pesantren.
Cinta itu ada di Pesantren, cinta yang tak melulu soal manusia.
Terinspirasi dari kisah seorang santri, saya coba angkat ke dalam novel ini.
Semoga banyak hikmah yang bisa dipetik.
17+
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rifa Rivianti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
maaf aku tak tahu
Dua bulan berlalu, kini saatnya Siti pulang mondok bahasa kami yang artinya pulang ke rumah dan selesai belajar di pesantren.
Hari ini orang tua Siti menjemput kami pun mengadakan perpisahan yang pilu.
Ini pun terjadi lebih cepat sebab Ustadz Ahmad jadi mempersunting Siti, aaah Siti duluan ternyata yang memiliki imam keharuan menyelimuti acara perpisahan.
Bagi ku Siti lebih dari teman dan sahabat dia seperti saudaraku sendiri, hingga aku tak sanggup membendung tangis ini.
Begitu pun dengan Rista, Hulliyah, dan Sofia kami berpelukan melepas Siti.
Kata sambutan dari Mama Haji menambah pilunya hati.Tanpa sadar aku sesenggukan dibuatnya, sementara Siti menunduk di depanku.
Acara hari ini berakhir juga, Siti sudah pulang sekarang.Dan undanganpun sudah ada yakni dua minggu lagi tepatnya kami rombongan santri akan menjadi saksi pernikahan Siti dan Ustadz Ahmad.
Sepi tak ada si kocak Siti, siang ini setelah mengajar aku di panggil ke aula entah ada apa.Namun ku dapati di sana, ada Ustadz Zamzam juga.Ah ada apa ini? Hatiku bertanya tanya.
"Nimas, kamu siap menyusul Siti?"pertanyaan ambigu yang membuatku bingung lepas dari mulut bi Haji.
"Menyusul ke rumahnya?"kataku.
"loh..kenapa mereka tertawa, hei apa ada yang salah?"aku bergumam dalam hati.
"Maksud Bi Haji nyusul menikah"Mama Haji nampak meluruskan.
Deg
Aku terhenyak lalu tersenyum kaku.
"Gimana Nimas?"tanya Bi Haji lagi.
Membuatku gugup menjawab "ahh kalo ada jodohnya tentu saya ingin."kataku.
"Orangnya ada di depanmu,"kata Mama lagi.
"Eh.."aku bingung lalu menangkap seseorang di depanku.
"Ustadz Zamzam"kataku pelan bahkan sangat pelan mungkin tak ada yang mendengarnya selain aku.
Sang Ustadz tersenyum sebelum akhirnya memalingkan wajahnya ke arah Mama Haji.
"Hei..Nimas istighfar, itu mata ga ngedip gitu liatin Ustadz" kata Bi Haji yang menangkap basah aku sedang menatap sang Ustadz.
"astaghfirulloh ini membuat wajahku merah sekaligus..maluuuuu"batinku.
Setelah di kobong aku termenung sendiri, sebelum akhirnya Sofia datang menghampiriku.
"kamu dipanggil ke aula ya tadi?"katanya.
"eh iya.."jawabku singkat.
"Ngomongin apa?"tanya Sofia.
"emmh itu..Ustadz Zamzam"kataku ragu.
Sofia menatapku lekat, entah mengapa sorot matanya berbeda.
"ooo kamu orang yang dipilih Ustadz, selamat ya"kata Sofia sambil tersenyum.
Kemudian Sofia pamit keluar sebelum ku bicara lagi.
"Apa maksudnya Ustadz Zamzam milih aku?"
Seminggu sudah setelah pembicaraan di Aula itu.Ada rasa canggung tiap bertemu Ustadz Zamzam.
Seperti hari, ketika kami membereskan barisan anak anak, tanpa ku tahu beliau berdiri di belakangku.
Ah rasanya itu seperti jantungku akan jatuh saja.Aku menghindar mungkin lebih baik.
Namun ada sesuatu yang terjadi sore ini, yang membuatku merasa bersalah sangat bersalah.
Saat tak sengaja aku mendengar percakapan Rista dan Sofia.
"aku ikhlas Ta, Ustadz Zamzam bukan jodohku."terdengar Sofia bicara.
"Harusnya kamu ngomong sama Nimas supaya dia nolak.."timpal Rista.
"Oh ada apa ini?"batinku..Kemudian dengan terburu buru aku meninggalkan mereka, sebab waktu itu aku sedang di tunggu Bi Haji.
"maaf Sofia, aku ga tahu ada apa ini.?"kataku pelan.
Namun aku bertekad akan menanyakannya langsung pada Sofia nanti.
#jadi Sofia itu? (author)
#entahlah aku belum tau (Nimas)
#cerita dong (author)
#besok (Nimas)
#hadeuuuh ini semua kalimat ini ko rada gak nyambung gini sii , otakku oleng (author)