Sheerin dan Nindi bak pinang dibelah dua, mereka adalah dua perempuan dengan wajah yang sama. Di awal pertemuan, mereka tak percaya kalau didunia ini ada orang yang mirip dengan diri mereka. Namun setelah pertemuan antara keduanya, akhirnya mereka percaya jika didunia ini ada 7 orang yang mirip dengan mereka.
Tanpa mereka ketahui jika sebenarnya mereka adalah saudara kembar yang terpisah oleh jarak dan waktu.
Dengan penuh ancaman, karena kesalahan yang Nindi lakukan, Sheerin meminta Nindi untuk menggantikan posisinya untuk menikah dengan laki-laki asing yang akan dijodohkan dengannya.
Kebenaran demi kebenaran mulai terkuak saat mereka bertukar peran, rahasia, masa lalu dan penyebab kedua saudara kembar itu terpisah akhirnya perlahan mulai terbongkar.
Lalu bagaimana kehidupan keduanya setelah bertukar peran dengan karakter keduanya yang bertolak belakang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratih mirna sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertemuan
Levin tidak ingin keadaan seperti ini terus berlanjut, dia melihat Nindi bukan seperti Nindi yang dia kenal sebelumnya, dia tidak suka saat melihat air yang keluar dari mata Nindi. Nindi tidak boleh menjadi lemah seperti ini, Levin berusaha untuk mengembalikan Nindi yang urakan kembali seperti dulu.
Setelah mengumpulkan banyak sekali keberanian, mimik wajah Levin yang tegang kini dia ubah menjadi menantang.
"Apa? Loe bilang loe sial deket-deket sama gue? Terus loe pikir gue hoki gitu deket-deket sama loe. Nggak! Lagian salah siapa loe diem disitu tadi, udah tau bola mau lewat juga bukannya minggir atau apa kek." Levin bicara dengan nada bicaranya yang dibuat se galak mungkin.
Nindi menganga tidak percaya, seharusnya Levin meminta maaf, kan? Tapi kenapa dia lagi-lagi malah menyalahkan Nindi. Nindi berpikir kalau bicara dengan cowo tengil yang tidak punya perasaan ini hanya membuang-buang energi saja. Yang waras harus mengalah, bukan? Ya sudah, Nindi sudah sangat lelah, dia sudah tidak memiliki lagi tenaga untuk meladeni orang tidak waras seperti Levin ini.
Setelah menghembuskan nafas berat, Nindi berusaha mengontrol nada bicaranya menjadi sedikit lebih rendah.
"Loe itu bener-bener keterlaluan ya, udah salah juga masih aja berdalih nyalahin gue. Gue benci loe Lev." Tanpa sadar, perkataan Nindi yang pelan tapi penuh penekanan itu justru jauh lebih menusuk dari pada dia bicara sambil teriak-teriak.
Setelah mengucapkan kata-kata itu, Nindi berpikir untuk cepat-cepat pergi meninggalkan Levin, tidak ingin laki-laki itu kembali menabur garam di atas lukanya.
"Nindi tunggu!" Baru saja Nindi membalikkan badan, Levin kembali menahan tangannya, hal itu sontak membuat Nindi berbalik lagi menatap kearah Levin.
"Apa lagi? Pergi loe dari sini! Jangan ikutin gue! GUE BENCI SAMA LOE!" Bentak Nindi kasar, lagi-lagi dia menepis tangan Levin.
Nindi kemudian berlari meninggalkan Levin yang berdiri mematung di posisinya, dia memasuki ruang kelasnya lalu membanting pintu dengan keras, membuat Levin yang pikirannya sedang kosong tersentak kaget.
"Astaga!" Levin memijat pelipisnya yang terasa berdenyut. Menghadapi perempuan yang sedang rapuh hatinya ternyata sangat sulit ketimbang menghadapi kemarahan seorang perempuan itu sendiri.
Levin juga tidak tau kenapa sangat sulit sekali mengucapkan kata maaf kepada perempuan itu, padahal kata itu sudah berada diujung lidahnya, tapi tidak kunjung bisa terucap.
Levin mengakui jika hatinya telah berhasil diobrak-abrik oleh seorang Nindi, perempuan yang dia kenal sebagai perempuan bodoh dan urakan.
Dengan perasaan yang campur aduk, dia mengintip dari balik salah satu jendela kelas. Terlihat perempuan itu sedang membenamkan wajahnya di atas bangkunya yang berada di pojok ruangan itu beralaskan lipatan tangannya.
'Maafin gue Nin, gue terlalu egois untuk mengakui kalau gue memang salah. Loe pantas benci sama gue, gue akui kalau gue adalah seorang pengecut yang selalu menyembunyikan perasaan gue yang sebenernya sama loe. Maafin gue Nin.' Levin menatap dengan sendu kearah Nindi.
Tidak ingin berlarut dalam situasi yang menyedihkan dan perasaan bersalahnya, Levin kemudian pergi meninggalkan Nindi didalam ruang kelas sana yang bertemakan sepi, berpikir untuk kembali bergabung bersama teman-temannya di lapangan.
Mungkin dengan cara seperti itu bisa membuat rasa bersalahnya sedikit menguap. Nindi sedang butuh waktu untuk dirinya sendiri.
Sementara itu, Nindi merasa kepalanya berdenyut setelah berhadapan dengan Levin, laki-laki itu memang sudah sangat keterlaluan, Nindi sudah tidak bisa mentoleransi lagi apa yang sudah Levin lakukan terhadap dirinya.
Apa laki-laku itu pikir kalau Nindi yang bodoh ini tidak miliki perasaan sama seperti perempuan pada umumnya? Ya, karena Levin hanya melihat Nindi dari sisi tangguhnya saja, tanpa berpikir kalau Nindi hanyalah seorang perempuan biasa yang jika disakiti ingin menuntut kata maaf.
Entahlah, Nindi sudah tidak ingin memikirkan hal apapun lagi yang berhubungan dengan laki-laki tengil itu..
Tapi tiba-tiba, dia kembali teringat dengan rencananya tadi pagi untuk membegal motor Levin. Nindi menarik kepalanya untuk bangkit, seringai licik tiba-tiba saja muncul di bibir perempuan itu, entah dari mana dia mendapatkan kembali semangat untuk membalas mengerjai Levin.
Nindi berjalan kearah jendela, mengintip situasi diluar sana apa keadaan memungkinkan untuk dirinya menjalankan rencananya?
Sepi, Nindi lagi-lagi menyeringai, dia yakin jika kali ini rencananya pasti akan berhasil 100 %.
***
Nindi melewatkan mata pelajaran terakhir dengan harap-harap cemas, takut jika Levin menyadari sesuatu benda hilang dari dalam tasnya. Tapi sepertinya hal itu tidak terjadi, sepanjang pelajaran berlangsung, Levin terlihat tenang dan fokus.
Padahal yang sebenarnya terjadi adalah, dia masih terhanyut dalam perasaan bersalahnya kepada Nindi, boro-boro dia bisa konsen mengikuti pelajaran, yang ada bayangan wajah Nindi yang berderai air mata terus menghantui fikirannya.
Akhirnya semua mata pelajaran hari ini berakhir juga, waktu pulangpun tiba. Semua murid berbondong-bondong keluar dari kelas masing-masing. Ada yang terlihat saling dorong mendorong ingin keluar terlebih dahulu, ada juga yang terlihat bersantai untuk menghindari kemacetan dadakan itu.
Nindi menarik tangan Vena agar cepat-cepat meninggalkan kelas, yang ditarik tangannya malah bergumam-gumam kesal.
Levin yang masih berkutat di bangkunya melihat Nindi melewatinya begitu saja, tidak biasanya perempuan itu pulang tergesa-gesa, mungkin efek sakit ditangannya, begitu Levin berpikir. Akhirnya Levin hanya membiarkan Nindi, dia belum ada niatan untuk berdamai dengan Nindi, dia masih memerlukan teman bertengkar untuk menghidupkan hari-harinya yang terasa membosankan.
Nindi menyeret Vena hingga halaman sekolah, menerobos gerombolan murid lain yang berjalan lambat menghalangi langkah mereka.
"Ngapain sih Nin buru-buru banget, biasanya santai juga." Gumam Vena, setelah merasa berada di zona aman, Nindi menghentikan langkahnya, dia celingukan kekanan lalu kekiri memprediksi sesuatu, kondisinya masih memungkinkan, si Levin itu sangat lambat, dia selalu pulang paling belakangan.
"Ya udah, loe pulang sana. Nanti dicariin mak loe lagi." Ucap Nindi.
Vena menganga tidak percaya, tadi sahabatnya itu menyeret dirinya dengan langkah cepat, tapi kenapa sekarang dia malah diusir.
"Loe beneran sakit Nin, gue saranin loe pergi ke dokter deh pulang dari sini." Balas Vena.
"Iya, nanti gue pikirin lagi. Udah sana loe pulang!" Nindi kembali mengusir.
"Loe aneh tau nggak hari ini. Gue harap besok loe udah sembuh, biar nggak bersikap aneh seperti ini terus." Ucap Vena.
"Amin, makasih do'anya ya, dah, sampai ketemu besok, bye!" Sambil bicara, Nindi mendorong tubuh Vena agar cepat pergi dan menjauh.
"Aww, loe ini bener-bener ya, tanpa loe usir pun gue bakalan pergi." Vena akhirnya meninggalkan Nindi dengan sejuta tanda tanya di hatinya.
"Mau kemana sih itu bocah, gelagatnya mencurigakan banget. Liat aja, besok gue introgasi loe habis-habisan. Untung sekarang loe lagi sakit, jadi masih bisa gue maklumi." Vena terus berceloteh sendiri sampai akhirnya dia menaiki sebuah angkot di depan gerbang.
Sementara itu, Levin berjalan sendiri dengan gontai menyusuri koridor yang mulai sepi, pastilah murid-murid yang kelaparan ingin cepat-cepat pulang dan menyantap masakan ibu mereka.
Memasuki area parkiran, dia celingukan mencari keberadaan motornya, tapi tidak kunjung menemukannya. Dia merogoh tas punggungnya, mencari-cari kunci motor yang selalu dia simpan disana. Tapi tidak kunjung menemukan benda itu, wajahnya berubah menjadi merah menyala, seperti orang kebakaran jenggot dia mengeluarkan semua isi tasnya diatas tanah, berharap benda kecil itu terselip diantara buku-buku.
Tin... Tin...
Saat Levin sibuk membongkar isi tasnya, Nindi membunyikan klakson motor yang dikendarainya, motor siapa lagi kalau bukan motor Levin yang dia begal dengan cara licik.
Levin menoleh terlihat Nindi sedang duduk manis diatas motornya, lalu Levin kembali melanjutkan aktivitas mencari kunci. Beberapa saat kemudian, Levin baru sadar jika benda yang dia cari-cari ada di hadapannya saat ini. Levin kembali menoleh kearah Nindi, terlihat perempuan itu sedang tersenyum penuh kemenangan.
"Ngapain loe?" Tanya Nindi dengan nada santainya, tanpa mematikan mesin motor itu.
"Motor gue woy, kenapa bisa ada sama loe?" Ucap Levin, dia berdiri menyamai posisi Nindi.
"Gue pinjem bentar ya. Dadah tengil, selamat jalan kaki panas-panasan disiang bolong seperti ini. Haha." Nindi kembali melajukan motor Levin, Levin tidak bisa menahan Nindi karena motornya terlanjur melesat, dia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, menatap punggung Nindi yang semakin menjauh melewati gerbang, kemudian kembali memasukkan alat tempur belajarnya kedalam tas.
Situasi saat ini berbanding terbalik dengan tadi pagi, dimana Levin dengan gaya kerennya meninggalkan Nindi di jalanan.
Tapi tiba-tiba, seulas senyum terukir di bibir Levin, Nindi sudah kembali, semangatnya, sikap urakannya, Levin bisa sedikit bernafas dengan lega, karena baperannya Nindi itu tidak berkelanjutan.
Dia memakai kembali tas punggungnya.
'Jangankan loe minta motor itu, loe minta separuh hidup gue aja bakalan gue kasih buat loe Nin.' Levin membatin. Senyuman terus terukir sepanjang jalanan yang dia tempuh.
***
Sheerin dan Lea masih belum beranjak pergi setelah mata kuliah berakhir, Lea masih dengan setia menunggu Sheerin yang masih galau itu. Tapi Sheerin dengan teganya masih enggan untuk bicara tentang masalah yang ingin dia ceritakan.
"Mau sampai kapan kita disini Rin? Yang lain udah pada pulang juga." Ucap Lea.
"Ya udah kalau loe mau pulang duluan juga nggak apa-apa." Balas Sheerin bersungguh-sungguh. Tapi Lea yang mendengar itu seperti sebuah kalimat sindiran, berpikir kalau Sheerin tersinggung dengan ucapannya.
"Nggak kok, maksud gue bukan gitu. Gue penasaran sama apa yang mau loe bicarakan, waktu jam istirahat juga loe malah nggak jadi cerita sama gue." Ucap Lea.
Sheerin menghembuskan nafas berat, jika Lea tau apa yang sedang ada di pikirkan nya, maka otomatis ibu tirinya akan dengan mudah mengorek informasi dari Lea, Sheerin tau kalau sahabatnya itu juga takut terhadap ibu tirinya.
Lebih baik Lea sekalipun tidak perlu tau tentang apa yang akan Sheerin lakukan setelah ini, itu akan memudahkan jalan Sheerin untuk kedepannya.
"Nanti gue kerumah loe, kalau loe mau pulang sekarang beneran nggak apa-apa kok, kasian juga sopir loe nunggu kelamaan." Ucap Sheerin berbohong sambil tersenyum. Dia tidak akan datang kerumah Lea, karena ibu tirinya pasti akan dengan mudah menemukannya.
"Terus loe mau kemana? Loe nggak jadi kabur dari rumah, kan?" Tanya Lea penuh kekhawatiran.
"Nggak kok, loe tenang aja. Gue mau ke toko buku yang disebrang, pengen cari buku novel buat bahan bacaan." Jawab Sheerin.
"Loe kok nggak bilang dari awal sih, gue kan bisa temenin loe dan nyuruh supir gue jangan jemput." Protes Lea.
"Iya, baru kepikiran gue. Tiba-tiba aja pengen baca novel." Sheerin beralasan.
Merekapun berjalan beriringan meninggalkan kelas, sepanjang perjalanan, Lea terus bertanya apa Sheerin baik-baik saja? Yang ditanya malah senyum-senyum sendiri menanggapi ke-protektifan sahabatnya itu.
"Loe nggak usah khawatir Le, gue udah gede bisa jaga diri sendiri, mendingan sekarang loe balik gih, kasian supir loe." Ucap.Sheerin, keduanya kini sudah tiba di gerbang utama kampus.
"Ya udah, loe hati-hati ya, jaga diri baik-baik, gue tunggu loe main kerumah gue." Entah kenapa Lea berat sekali untuk meninggalkan Sheerin, seperti memiliki firasat kalau mereka akan berpisah untuk waktu yang cukup lama.
"Iya iya. Loe itu lebih cocok jadi nyokap gue ketimbang jadi temen gue tau nggak." Ucap Sheerin sambil terkekeh.
"Sialan, loe ngatain gue mak-emak secara nggak langsung." Balas Lea. Dia membuka pintu mobil yang sedari tadi menunggunya.
"Gue nggak bilang gitu ya, itu pendapat loe sendiri." Ucap Sheerin.
"Ya udah, gue pulang ya, loe hati-hati. Habis dari toko buku langsung kerumah gue, gue juga pengen baca novel yang loe beli." Ucap Lea dari balik kaca mobil yang diturunkan.
"Iya, bye, hati-hati bawa mobilnya pak, jangan sampai calon istrinya Donal Trump ini lecet sedikitpun." Ucap Sheerin.
"Ahh, sialan loe bawa-bawa Donal Trump segala, bye!" Mobil yang dikendarai Lea Pun melaju, Lea masih sempat-sempatnya melambaikan tangan kearah Sheerin, Sheerin membalas lambaian tangan Lea sambil senyum-senyum sendiri.
Setelah mobil Lea hilang ditelan tikungan, dia mengambil posisi untuk menyebrang jalan, menuju toko buku yang dimaksud. Keadaan jalan raya terlihat ramai lancar, hanya saja Sheerin belum menemukan celah yang tepat untuk menyebrang.
Sambil menatap kendaraan yang melintas, Sheerin jadi galau lagi, apa iya dia harus pergi meninggalkan semua yang dia miliki demi menghindari satu orang yang menghalangi langkahnya.
Lea, ayahnya, rasanya Sheerin tidak sanggup kehilangan mereka, dua manusia berharga yang dia miliki didunia ini. Tapi apalah daya Sheerin, dia tidak ingin selamanya diperbudak oleh mama Anya.
Apa keputusan yang akan dia ambil ini benar-benar sudah tepat? Apa Sheerin akan sanggup memulai hidup baru jauh dari ayahnya juga Lea?
Sedikit banyak Sheerin paham kalau mama Anya hanya mengincar harta yang dimiliki ayahnya saja, diapun pernah mendengar kalau ayahnya akan menjadikan seluruh aset kekayaannya atas nama Sheerin kalau Sheerin sudah menikah.
Sheerin pribadi tidak mempersoalkan tentang harta, biar saja mama Anya mengambil apa yang dia inginkan, asalkan dia tidak mengusik lagi hidup Sheerin. Tapi lain lagi halnya dengan ayah, apa jantung ayah akan kuat menerima penghianatan dan kejahatan yang mama Anya lakukan?
Akan jauh lebih baik jika pernikahan ini tidak pernah terjadi sama sekali. Sheerin sudah bisa menebak jika laki-laki yang akan di nikahkan dengannya adalah komplotan mama Anya sendiri.
***
"Pasti tadi gue keliatan keren banget waktu ninggalin dia. Haha, rasain loe, memangnya enak pulang jalan kaki, ehh tapi kok gue nggak yakin dia pulang jalan kaki yaa. Duitnya banyak kan tuh, pasti dia naik taksi atau ojol. Kenapa tadi gue nggak sekalian rampok duitnya juga yaa?" Nindi bergeming sendiri sambil mengendarai motor Levin.
Dia kembali menambah laju kecepatan motornya saat merasa kesal kepada Levin, seperti melampiaskan kekesalannya pada jalanan.
Nindi mengendarai motor itu dengan ugal-ugalan, tanpa memakai helm pula, juga melawan arus. Author harap jangan ada yang mencontoh kelakuan si Nindi ini.
Tidiiid...
Nindi membunyikan klakson saat motornya sulit di kendalikan, apalagi saat melihat seorang perempuan berdiri dipinggir jalan hendak menyeberang sambil menatap kearah yang berlawanan, Nindi semakin panik. Perempuan itu tidak menyadari adanya motor yang melawan arus dengan kecepatan tinggi, Nindi berusaha mengurangi kecepatan motor itu supaya tidak sampai mengenai perempuan itu.
Ya, perempuan itu adalah Sheerin yang hendak menyebrang. Dia menoleh kearah kanan setelah mendengar klakson panjang dibunyikan.
"Aaaaaa." Sheerin berteriak saat melihat motor yang tidak bisa dikendalikan oleh si pengendaranya tepat berada didepan matanya.
Nindi tidak bisa menghindari perempuan itu, perempuan itupun terserempet oleh motor Levin hingga jatuh ter sengkur diatas aspal. Begitupun dengan motor Levin dan Nindi yang terjatuh setelah menyerempet Sheerin. Beruntung saat menyentuh Sheerin, Nindi ingat menekan rem sehingga motor tidak terlalu kencang saat menabrak Sheerin.
Sheerin dan Nindi jatuh berhadap-hadapan, Nindi menoleh kearah orang yang baru saja dia tabrak untuk memastikan kalau dia baik-baik saja. Begitupun dengan Sheerin, menoleh kearah Nindi mencari tau pengendara motor mana yang ugal-ugalan saat berada dijalan raya, sudah ugal-ugalan, melawan arus pula.
Deg !
Seperti mendapatkan kekuatan mereka kembali, mereka beranjak dari posisi jatuhnya, menunjuk satu sama lain dengan jari telunjuk mereka.
"Loe." Ucap keduanya spontan saat menyadari jika wajah mereka sama.
Waktu terasa berhenti berputar saat itu juga, Sheerin dan Nindi tidak percaya kalau didunia ini ada orang mirip dengan mereka. Masih berkutat dengan pemikiran masing-masing, Sheerin merasa dirinya sedang bercermin, melihat dirinya sendiri berada di hadapan matanya.
Nindi menatap Sheerin tanpa berkedip, bagaimana mungkin dirinya ada dua di muka bumi ini, tapi dalam versi yang berbeda. Nindi yang ada di hadapannya saat ini terlihat sangat glowing dan bercahaya, tidak seperti dirinya yang kusam dan tidak terawat.
"Gue nggak lagi mimpi, kan?" Gumam-gumam pelan terdengar dari mulut Sheerin, sedangkan Nindi masih diam tak berkutik masih mencoba mencerna apa yang sedang terjadi dengan otaknya yang hanya kurang dari seperempat.
____________
Jangan lupa tinggalkan jejaknya setelah membaca...