NovelToon NovelToon
Kehidupan Kedua Sang Nyonya

Kehidupan Kedua Sang Nyonya

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Pelakor / Kelahiran kembali menjadi kuat / Rumah Tangga
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Arjunasatria

Karin mengabdikan seluruh hidupnya untuk mendukung suaminya Dimas menuju kesusksesan. Setelah berada di puncak kesuksesan, Suaminya justru mengkhianatinya dengan membawa pulang wanita muda dengan berniat untuk di jadikannya istri kedua. Lebih menyakitkan nya lagi keluarga suaminya ikut mendukung dan bahkan merendahkanya. Seolah pengorbanannya selama bertahun-tahun tidaklah berarti.

Saat nyawanya berakhir karena ulah sang pelakor. Karin terbangun kembali di masa lalu tepat saat Suaminya membawa wanita itu kerumahnya. Di beri kesempatan kedua Karin berubah menjadi wanita kuat dan bersumpah akan membalas rasa sakitnya di kehidupan sebelumnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arjunasatria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30

Sepanjang perjalanan pulang, suasana di dalam mobil terasa begitu mencekam.

Tak seorang pun membuka suara. Hanya suara mesin mobil yang terdengar memenuhi kabin.

Bu Ratna duduk dengan wajah tegang. Tangannya mengepal di atas pangkuan, sementara bibirnya terus bergerak-gerak menahan amarah.

Vina bahkan tidak berani mengangkat kepala. Ia tahu, malam ini bukan hanya dirinya yang dipermalukan, tetapi juga keluarga Pratama.

Begitu mobil berhenti di halaman rumah, Dimas langsung turun tanpa menunggu sopir membukakan pintu. Langkahnya panjang menuju ruang tamu.

Brak!

Pintu rumah ditutup dengan keras. Dimas melepaskan jasnya lalu melemparkannya ke atas sofa.

"Sial!"

Bu Ratna ikut masuk dengan wajah merah padam.

"Semua gara-gara Karin! Kalau saja dia tidak datang, acara malam ini pasti berjalan lancar."

Vina mengangguk pelan.

"Karin memang sengaja mempermalukan kita di depan semua orang."

Dimas berbalik menatap mereka.

"Sengaja?"

"Iya, Mas. Dia pasti sudah merencanakan semuanya."

Bu Ratna mengepalkan tangannya.

"Perempuan itu benar-benar sudah berubah. Dulu dia tidak pernah membantah. Tapi sekarang dia berani mempermalukan keluarga suaminya di depan para pengusaha."

Dimas mengembuskan napas kasar.

"Bukan hanya mempermalukan. Dia menghancurkan reputasiku."

Bu Ratna menghampiri putranya.

"Kita tidak boleh diam saja. Kalau Karin terus seperti ini, cepat atau lambat semua yang kita bangun akan hancur."

Tatapan Dimas berubah dingin.

"Lalu menurut Ibu?"

Bu Ratna menyipitkan mata.

"Kita harus membuat Karin kembali tidak punya pilihan selain bergantung pada keluarga ini. Kalau perlu... buat dia menyesal karena berani melawan kita."

Vina yang sejak tadi diam perlahan mengangkat wajah.

"Bu... Bagaimana kalau kita membuat semua orang percaya kalau Karin sebenarnya sedang mengalami tekanan mental?"

Bu Ratna menoleh.

"Maksudmu?"

Vina tersenyum tipis.

"Semua orang tahu dulu dia sangat mencintai Mas Dimas. Kalau tiba-tiba sekarang dia berubah drastis, bukankah orang akan lebih mudah percaya kalau emosinya sedang tidak stabil?"

Bu Ratna mulai memahami maksud Vina. Sedikit demi sedikit senyum dingin terukir di bibirnya.

"Itu ide yang bagus."

Dimas yang sejak tadi diam akhirnya berbicara.

"Tidak."

Bu Ratna dan Vina menoleh bersamaan.

Dimas menatap lurus ke depan dengan sorot mata tajam.

"Aku tidak mau hanya mempermalukannya. Aku ingin membuat Karin memohon padaku seperti dulu." Ia mengepalkan tangannya kuat-kuat. "Kalau dia pikir bisa menghancurkan harga diriku malam ini... aku akan membuatnya kehilangan semua yang menjadi sandarannya."

Ucapan Dimas membuat ruang tamu kembali diselimuti keheningan.

Bu Ratna menatap putranya beberapa saat. Perlahan, senyum tipis muncul di sudut bibirnya.

"Itu baru anak Ibu. Ibu juga tidak rela harga diri keluarga kita diinjak begitu saja."

Dimas menarik napas panjang. Kemarahannya belum juga mereda.

"Selama ini aku terlalu memanjakan Karin. Apa pun yang dia inginkan selalu aku berikan. Aku pikir dia akan terus menurut. Ternyata aku salah."

Bu Ratna mengangguk pelan.

"Karena itu, jangan beri dia kesempatan untuk merasa menang. Kita harus membuatnya sadar, tanpa keluarga kita dia bukan siapa-siapa."

Vina yang sejak tadi mendengarkan perlahan berkata, "Tapi... Nyonya Karin sekarang didukung penuh oleh keluarga Wijaya. Bukankah itu akan menyulitkan kita?"

Bu Ratna mendengus pelan.

"Keluarga Wijaya tidak mungkin bisa terus berada di sisinya. Mereka juga punya perusahaan untuk diurus. Yang tinggal serumah dengan Karin adalah kita." Tatapan Bu Ratna berubah licik. "Selama dia masih berada di rumah ini, kita punya banyak cara untuk membuat hidupnya tidak tenang."

Dimas terdiam. Beberapa detik kemudian, sebuah ide terlintas di benaknya.

"Tidak. Ibu tidak perlu melakukan apa pun."

Bu Ratna mengernyit.

"Maksudmu?"

Dimas menatap ibunya bergantian dengan Vina.

"Mulai besok, aku akan membuat Karin sadar bahwa yang berkuasa di rumah ini adalah aku."

Vina tampak bingung.

"Mas, apa rencanamu?"

Dimas terdiam cukup lama. Tatapannya kosong menembus lantai marmer ruang tamu. Tiba-tiba, ia teringat beberapa kejadian beberapa hari terakhir.

Pria itu selalu muncul di dekat Karin.

Mengantar belanja.

Membawakan barang. Bisiknya dalam hati.

Bahkan malam sebelum acara amal, ia sempat melihat Arga berdiri cukup lama berbicara dengan Karin di halaman rumah.

Saat itu ia tidak terlalu memikirkannya. Namun sekarang...

Sudut bibir Dimas perlahan terangkat.

"Aku punya cara."

Bu Ratna dan Vina langsung menoleh bersamaan.

"Cara apa?" tanya Bu Ratna.

Dimas menatap keduanya bergantian.

"Kalian sadar tidak? Akhir-akhir ini Karin terlalu dekat dengan sopir baru itu."

Vina mengangguk pelan.

"Iya, Mas. Aku juga beberapa kali melihat mereka berbicara berdua."

Bu Ratna mengernyit.

"Memangnya kenapa?"

Dimas tersenyum dingin.

"Kalau orang lain yang melihatnya... apa yang akan mereka pikirkan?"

Bu Ratna terdiam beberapa detik. Perlahan matanya membesar.

"Mereka akan mengira... Karin ada main dengan sopirnya sendiri."

Dimas mengangguk puas.

"Benar. Tidak ada yang lebih cepat menghancurkan nama seorang wanita selain tuduhan perselingkuhan."

Vina tampak sedikit ragu.

"Tapi... mereka tidak melakukan apa-apa."

Dimas tersenyum sinis.

"Siapa bilang kita harus menunggu mereka melakukan sesuatu? Cukup buat orang lain percaya kalau mereka memiliki hubungan istimewa."

Bu Ratna mulai memahami maksud putranya.

"Kita jebak mereka?"

"Ibu benar."

Dimas tersenyum smirk.

"Kita ciptakan situasi yang membuat semua orang menarik kesimpulan sendiri. Itu jauh lebih meyakinkan."

Vina menelan ludah.

"Lalu... bagaimana caranya?"

Tatapan Dimas berubah tajam.

"Mulai besok... perhatikan setiap gerak-gerik Karin dan sopir itu. Kalau ada kesempatan mereka berada di tempat yang sama... ambil gambar mereka diam-diam. "

Bu Ratna tersenyum puas.

"Kalau kabar itu sampai ke telinga keluarga Wijaya... mereka pasti akan kecewa pada Karin."

Dimas menggeleng pelan.

"Bukan hanya keluarga Wijaya. Aku ingin seluruh kalangan sosial percaya bahwa istriku telah mengkhianatiku."

Ia menyandarkan tubuhnya ke sofa, lalu berkata dengan nada penuh keyakinan.

"Begitu nama baik Karin hancur... tak akan ada lagi yang peduli siapa yang benar dan siapa yang salah."

1
Thewie
sikarin kayak jadi bodoh. keluar dr rmh itu kenapa. bawa smua berkas2 penting. ini pake acara belanja belanja . bodoh bodoh
Irma
puas banget 🤣🤣🤣 lanjut Thor semangat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!