Empat belas hari.
Hanya selama itu Ghazi Farhan dan Adzra Hanum saling mengenal sebelum akhirnya menikah melalui proses ta'aruf.
Siapa sangka, pernikahan yang awalnya dipenuhi ketenangan justru berakhir dengan satu talak setelah sepuluh bulan bersama.
Sejak hari itu, Adzra meyakini bahwa dirinya hanyalah perempuan yang pernah gagal menjadi istri.
Sementara Ghazi memilih memikul penyesalan yang bahkan tidak pernah berani ia jelaskan.
Sepuluh tahun berlalu.
Mereka sama-sama belum menikah.
Bukan karena belum ada yang datang, tetapi karena ada luka yang belum benar-benar selesai.
Ketika sakit sang ibu mempertemukan mereka kembali, Ghazi tidak meminta Adzra kembali menjadi istrinya.
Ia hanya meminta satu kesempatan.
"Bolehkah... kita mengulang empat belas hari itu?"
Namun, apakah ta'aruf kedua mampu menyembuhkan luka yang ditinggalkan oleh satu talak?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Duyung Indahyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertemuan yang Menjaga Jarak
Tiga hari berlalu sejak Klinik Arafah Medika menyatakan kesediaannya menjalin kerja sama dengan Safa Amanah Tour.
Selama itu pula, seluruh komunikasi berlangsung melalui surat elektronik dan sambungan telepon antara bagian administrasi kedua belah pihak. Jadwal rapat telah disepakati, daftar kebutuhan pemeriksaan kesehatan mulai disusun, dan rancangan alur pelayanan untuk calon jemaah perlahan terbentuk.
Semuanya berjalan sebagaimana mestinya.
Profesional.
Tanpa melibatkan urusan pribadi.
Pukul delapan lewat tiga puluh menit, Klinik Arafah Medika sudah kembali dipenuhi aktivitas.
Rina sibuk memeriksa ruang rapat yang berada di lantai dua. Proyektor telah menyala dengan tampilan logo klinik di layar, beberapa map berisi proposal kerja sama tersusun rapi di atas meja oval, sementara teko berisi teh hangat dan kopi ditempatkan di sudut ruangan bersama sepiring kudapan sederhana.
"LCD sudah dicek?"
Suara Adzra terdengar dari ambang pintu.
"Sudah, Dok."
"Jaringan internet?"
"Aman."
"Proposal?"
"Sudah saya siapkan lima rangkap."
Adzra mengangguk puas.
"Kursinya jangan terlalu berjauhan."
Rina sempat terlihat bingung.
"Lho, kenapa begitu, Dok?"
"Supaya diskusinya lebih nyaman."
"Oh, iya juga."
Rina tersenyum sambil menggeser beberapa kursi agar membentuk setengah lingkaran, bukan saling berhadapan seperti ruang negosiasi.
Bagi Adzra, kerja sama seperti ini bukan tentang siapa yang menawarkan dan siapa yang menerima.
Melainkan dua pihak yang sama-sama ingin memberikan pelayanan terbaik.
Sesaat kemudian Nabila muncul sambil membawa tablet.
"Kalau aku tidak kenal kamu..."
"...aku pasti mengira hari ini ada inspeksi dari dinas kesehatan."
Adzra terkekeh pelan.
"Aku cuma memastikan semuanya siap."
Nabila menatap sahabatnya beberapa saat.
"Benarkah hanya itu?"
Adzra memahami arah pertanyaan tersebut.
Ia menarik napas pelan, lalu menjawab dengan jujur.
"Aku juga sedang memastikan diriku siap."
Nabila tersenyum kecil.
Jawaban itu jauh lebih ia sukai daripada kepura-puraan.
"Tidak apa-apa merasa gugup."
"Yang penting jangan sampai rasa gugup itu mengambil alih keputusanmu."
"Aku tahu."
Adzra memandang keluar jendela.
Matahari pagi mulai menyinari halaman klinik.
Beberapa pasien tampak duduk di ruang tunggu, sementara seorang perawat membantu lansia yang kesulitan menaiki tangga menuju ruang fisioterapi.
Pemandangan itu membuat hatinya sedikit lebih tenang.
Klinik ini dibangun bukan untuk dirinya sendiri.
Melainkan untuk semua orang yang membutuhkan pertolongan.
Dan hari ini...
Ia hanya sedang menjalankan amanah itu.
***
Di sisi lain kota, sebuah mobil berwarna hitam melaju dengan kecepatan sedang menuju Klinik Arafah Medika.
Ja'far duduk di kursi penumpang depan sambil memeriksa kembali proposal yang telah disusun semalaman.
"Daftar peserta ada delapan puluh dua orang."
"Empat belas di antaranya memiliki riwayat hipertensi."
"Tiga pasien diabetes."
"Dua menggunakan kursi roda."
Ghazi yang berada di balik kemudi mengangguk pelan.
"Semua data rekam kesehatan awal sudah dilampirkan?"
"Sudah."
"Surat persetujuan peserta?"
"Sudah."
"Kalau nanti pihak klinik meminta tambahan pemeriksaan laboratorium bagaimana?"
Ja'far membuka kembali map di pangkuannya.
"Kita sudah siapkan anggaran cadangan."
Ghazi tersenyum tipis.
"Bagus."
Beberapa detik berikutnya, mobil kembali dipenuhi keheningan.
Ja'far melirik ke arah Ghazi.
Sejak berangkat tadi, laki-laki itu terlihat jauh lebih pendiam daripada biasanya.
"Boleh saya bertanya sesuatu, Mas?"
"Tanya saja."
"Mas gugup?"
Ghazi tidak langsung menjawab.
Matanya tetap fokus pada jalan di depan.
Setelah beberapa saat, ia mengembuskan napas perlahan.
"Kalau aku bilang tidak..."
"...berarti aku sedang berbohong."
Ja'far tersenyum kecil.
"Menurut saya itu wajar."
Ghazi menggeleng pelan.
"Bukan pertemuannya yang membuatku gugup."
"Lalu?"
"Aku hanya tidak ingin kehadiranku membuat orang lain merasa tidak nyaman."
Kalimat itu membuat Ja'far terdiam.
Untuk pertama kalinya, ia menyadari bahwa selama ini ia hanya memikirkan keberhasilan kerja sama.
Ia lupa bahwa di balik semua ini...
Ada dua orang yang sedang diuji oleh masa lalu mereka.
Mobil mulai memperlambat laju.
Di kejauhan, papan bertuliskan Klinik Arafah Medika terlihat jelas.
Ghazi mengencangkan kembali genggaman pada kemudi.
Dalam hati, ia membaca doa yang sejak tadi tak putus ia ulang.
"Ya Allah, jika pertemuan ini adalah bagian dari amanah, maka jagalah lisanku, tundukkan hatiku, dan jangan biarkan aku menyakiti siapa pun lagi."
Mobil akhirnya berhenti tepat di halaman klinik.
Mesin dimatikan.
Namun tak satu pun dari mereka langsung turun.
Ja'far lebih dulu membuka pintu.
Sebelum melangkah, ia menoleh ke arah Ghazi.
"Mas."
"Hm?"
"Bismillah?"
Ghazi tersenyum tipis.
"Bismillah."
Mereka turun dari mobil.
Pintu kaca klinik terbuka perlahan.
Di balik meja resepsionis, Rina berdiri menyambut dengan senyum ramah.
"Assalamu'alaikum. Selamat datang di Klinik Arafah Medika."
"Wa'alaikumussalam warahmatullah."
"Selamat pagi. Kami dari Safa Amanah Tour. Saya Ja'far, dan ini Pak Ghazi Farhan."
Rina membalas dengan sopan.
"Selamat datang, Pak Ja'far, Pak Ghazi. Dokter Adzra sudah menunggu di ruang rapat."
Nama itu menggantung sesaat di udara.
Ghazi mengangguk pelan.
"Terima kasih."
Ia melangkah mengikuti Rina menuju tangga lantai dua.
Setiap anak tangga yang dipijaknya terasa seperti membawa dirinya semakin dekat pada sebuah pertemuan yang selama sepuluh tahun hanya hidup sebagai kenangan.
Dan pagi ini...
Takdir memutuskan bahwa mereka harus saling berhadapan lagi.
***
Rina mempersilakan kedua tamunya masuk ke dalam klinik.
"Silakan, Pak. Ruang rapat ada di lantai dua."
"Terima kasih."
Ja'far mengangguk sopan sebelum mengikuti langkah Rina.
Ghazi berjalan beberapa langkah di belakangnya.
Matanya menyapu setiap sudut klinik.
Bangunan itu tidak terlalu besar, tetapi tertata dengan sangat rapi. Dinding berwarna putih dipadukan dengan tanaman hijau di beberapa sudut ruangan, membuat suasana terasa hangat, jauh dari kesan kaku seperti kebanyakan fasilitas kesehatan.
Beberapa pasien lansia duduk menunggu antrean sambil berbincang pelan.
Seorang perawat tampak membantu seorang nenek berjalan menuju ruang pemeriksaan.
Ghazi memperhatikan semua itu tanpa berkata apa-apa.
Dalam hati, ia mengakui satu hal.
Adzra benar-benar berhasil membangun tempat yang selama dulu hanya menjadi impiannya.
"Aku ingin punya klinik kecil..."
"Tempat orang datang bukan hanya untuk berobat, tetapi juga merasa diperlakukan sebagai manusia."
Kalimat itu tiba-tiba muncul begitu saja di dalam ingatannya.
Dulu...
Adzra pernah mengucapkannya sambil tersenyum di bangku taman kampus.
Tanpa sadar, sudut bibir Ghazi ikut terangkat tipis.
Ternyata...
Perempuan itu berhasil mewujudkan mimpinya.
"Pak Ghazi?"
Suara Rina membuyarkan lamunannya.
"Silakan lewat sini."
Mereka mulai menaiki tangga menuju lantai dua.
Di saat yang bersamaan, dari arah ujung koridor, pintu ruang administrasi terbuka.
Adzra keluar sambil membawa sebuah map biru.
"Rin, proposal yang—"
Kalimatnya terhenti.
Langkahnya ikut berhenti.
Begitu pula Ghazi.
Jarak di antara mereka hanya sekitar lima meter.
Tidak terlalu dekat.
Namun cukup untuk membuat waktu seolah melambat.
Sepuluh tahun.
Begitu banyak hal telah berubah.
Ghazi kini tampak lebih dewasa. Garis wajahnya lebih tegas dibanding yang terakhir kali Adzra lihat. Kemeja putih lengan panjang yang dikenakannya sederhana, dipadukan dengan celana bahan berwarna gelap. Tidak ada lagi kesan pemuda yang dulu tergesa-gesa mengambil keputusan.
Sementara di mata Ghazi...
Adzra masih memiliki sorot mata yang sama.
Tenang.
Teduh.
Hanya saja kini ada kematangan yang tidak pernah ia lihat dahulu.
Tak satu pun dari mereka berbicara.
Bukan karena tidak tahu harus berkata apa.
Melainkan karena sama-sama memahami bahwa ini bukan tempat untuk membuka kembali cerita lama.
Rina yang tidak mengetahui sejarah mereka tersenyum ramah.
"Dok, ini Pak Ja'far dan Pak Ghazi dari Safa Amanah Tour."
Adzra mengalihkan pandangan lebih dulu.
Lalu mengembangkan senyum profesional.
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh."
Jawaban Ghazi terdengar tenang.
Tidak terlalu pelan.
Tidak pula berlebihan.
"Selamat datang di Klinik Arafah Medika."
"Terima kasih, Dokter."
Hanya itu.
Tidak ada sapaan lain.
Tidak ada pertanyaan tentang kabar.
Tidak ada kalimat yang menyinggung masa lalu.
Ja'far justru menjadi orang pertama yang memecah suasana.
"Terima kasih sudah bersedia menerima kerja sama ini."
Adzra mengangguk sopan.
"Kami yang berterima kasih karena dipercaya."
"Silakan kita ke ruang rapat."
"Baik."
Mereka berjalan berdampingan menuju ruang rapat.
Namun tetap menjaga jarak yang wajar.
Bagi orang lain, pertemuan itu tampak biasa.
Dua pihak yang akan membahas sebuah kerja sama.
Tidak lebih.
Tetapi bagi Adzra dan Ghazi...
Setiap langkah terasa seperti mengajarkan satu hal.
Bahwa menjadi dewasa bukan berarti tidak lagi memiliki luka.
Melainkan mampu menempatkan luka itu agar tidak melukai orang lain.
***
Ruang rapat di lantai dua telah tertata rapi.
Adzra mempersilakan para tamunya duduk.
Ia sendiri memilih duduk di sisi berseberangan meja, didampingi Nabila.
Ja'far membuka map proposal.
"Dokter Adzra, sebelum masuk ke pembahasan teknis, izinkan saya menjelaskan tujuan program ini."
"Silakan."
Ghazi tetap diam.
Bukan karena tidak ingin berbicara.
Tetapi ia sengaja memberi ruang kepada Ja'far sebagai koordinator program.
Ia tahu, semakin profesional sikap mereka hari ini, semakin mudah pula kerja sama ini berjalan.
Sementara Adzra sesekali mencatat poin-poin penting yang disampaikan Ja'far.
Setiap kali pembicaraan mengarah pada kebutuhan medis, ia menjawab dengan jelas dan lugas.
Tidak terlalu dingin.
Namun juga tidak memberi kesan akrab.
Semuanya berada pada batas yang tepat.
Dan entah mengapa...
Justru sikap saling menjaga itulah yang perlahan menumbuhkan rasa hormat baru di antara mereka.
Belum sebagai dua insan yang kembali saling mencintai.
Melainkan sebagai dua orang yang sama-sama sedang belajar menunaikan amanah.
---Bersambung—
Selamat membaca!!
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian dan kasih othor reward ya, terima kasih sudah setia dengan karya-karya othor.
Jangan lupa follow akun Instagram Othor dan tiktok ya: @Duyung_Indahyani123