Aryo Pradana adalah seorang pengusaha sukses, namun sayang berada di puncak pencapaian dengan bergelimang harta tak lantas membuatnya jadi suami bersyukur. Ia memilih mengkhianati Sekar—istri setianya yang berasal dari garis keturunan dukun terkuat di sebuah desa terpencil asal Banyuwangi.
Demi ambisi dan gairah, Aryo menikah siri dengan Maya, gadis kota, muda, namun ambisius. Alih-alih meratap dan menangisi nasibnya, Sekar yang mengetahui pengkhianatan ini justru memilih mundur dengan keheningan yang mematikan.
Ketika Maya mulai mengandung anak Aryo dan menuntut posisi sebagai istri sah satu-satunya, teror gaib yang legendaris, Santet Pring Sedapur, mulai dikirimkan.
Di balik keputusasaan Aryo untuk menyelamatkan istri mudanya, ia harus berhadapan dengan kenyataan bahwa satu-satunya cara menghentikan teror ini adalah menyerahkan kembali jiwanya pada Sekar—atau mati bersama seluruh keturunannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnnaYoung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 02 - Keheningan di Babyuwangi
Kabut tipis beraroma belerang selalu turun lebih cepat di lereng luar kaki Gunung Ijen, menyelimuti Desa Kemiren dalam keheningan yang dingin dan magis.
Di sanalah berdiri sebuah rumah joglo tua berbahan kayu jati kuno yang menghitam dimakan usia.
Rumah itu milik keluarga Sekar, sebuah bangunan yang tak pernah berubah bentuk sejak satu abad lalu.
Berbeda dengan rumah-rumah modern di sekitarnya yang mulai menggunakan dinding semen dan lampu neon cerah, rumah ini tetap setia pada temaramnya lampu teplok dan pelataran tanah yang bersih disapu setiap sore.
Di dalam kamar utama yang luas namun minim perabotan, Sekar Anjani berusia 38 tahun sedang duduk bersila di atas amben kayu. Rambut hitamnya yang panjang dan tebal disanggul rapi tanpa menyisakan satu helai pun yang berantakan.
Ia mengenakan kain kemben batik motif Gajah Oling—motif tertua khas Banyuwangi yang melambangkan kekuatan mistis dan penyerahan diri pada Sang Pencipta.
Di hadapannya, sebuah lemari kayu jati tiga pintu berdiri kokoh. Lemari itu adalah peninggalan almarhum ayahnya, Ki Demang, seorang sesepuh adat yang dihormati sekaligus sosok yang dikenal memiliki "kedekatan" dengan para penjaga tak kasat mata di Alas Purwo. Di dalam lemari itulah, seluruh rahasia garis darah mereka tersimpan rapat.
Suasana begitu sunyi, hanya diinterupsi oleh suara jangkrik sawah dan petikan samar senar gitar dari kejauhan.
Namun, ketenangan di wajah Sekar sama sekali tidak mencerminkan apa yang ada di dalam dadanya.
Seminggu yang lalu, Aryo datang ke rumah ini. Pria yang telah ia dampingi sejak masih merangkak dari titik nol sebagai kontraktor kecil itu datang bukan untuk membawa rindu, melainkan selembar kertas pernikahan siri dan sebuah pengakuan yang menikam jantung.
"Aku sudah menikah lagi, Sekar. Namanya Maya. Dia sedang mengandung anakku. Tolong mengertilah, pernikahan kita selama lima belas tahun ini hambar, bukan? Aku butuh penerus," ucapan Aryo malam itu kembali terngiang, bergema di dinding-dinding kayu joglo.
Saat itu, Sekar tidak menangis. Ia tidak menjerit, tidak melemparkan barang, bahkan tidak mencaci-maki suaminya.
Ia hanya menatap Aryo dengan sepasang mata bulatnya yang hitam pekat, sedalam telaga purba.
Ketenangan Sekar malam itu justru membuat Aryo ketakutan dan bergegas pergi kembali ke Jakarta malam itu juga, melarikan diri dari keheningan yang seakan mencekik.
Sekar menarik napas dalam-dalam melalui hidung, lalu mengembuskannya perlahan. Tangan kanannya bergerak membuka pintu lemari jati di hadapannya. Bunyi derit pintu kayu yang kering memecah kesunyian malam.
Di dalam lemari itu tidak ada pakaian mewah atau perhiasan emas. Hanya ada beberapa gulung kain kafan yang sengaja belum dipotong, botol-botol kaca berisi minyak wangi beraroma mistis, sebungkus besar kembang setaman yang mulai mengering, dan sebuah kotak kayu berukir naga.
Sekar meraih kotak kayu tersebut. Begitu tutupnya dibuka, aroma anyir samar yang tajam langsung menyeruak, mengalahkan bau kayu tua di ruangan itu.
Di dalam kotak terletak sebuah benda yang dibungkus kain hitam, sebuah boneka rajutan dari serat pohon pisang kering yang dililit oleh helaian rambut panjang—rambut milik Maya yang berhasil didapatkan oleh abdi dalem setia Sekar dari salon langganan wanita itu di Jakarta beberapa bulan lalu.
Di samping boneka itu, terdapat sebilah keris kecil tanpa hulu dan tiga buah paku bumi yang berkarat.
"Mas Aryo ...," bisik Sekar, suaranya begitu lembut, namun getarannya terasa dingin hingga menusuk tulang. "Kamu lupa siapa yang membantumu mendirikan fondasi bisnismu di kota besar itu, Mas? Kamu lupa darah siapa yang menetes di atas tanah proyek pertamamu agar bangunanmu tidak tumbang?"
Sekar mengingat kembali masa-masa awal pernikahan mereka. Aryo yang datang sebagai pemuda kota yang ambisius namun tak punya modal, bersujud di kaki Ki Demang untuk meminta restu dan bantuan.
Melalui ritual kuno dan pagar gaib yang ditiupkan sang ayah, jalur rezeki Aryo terbuka lebar. Setiap tender yang diikutinya selalu menang, setiap tanah yang dibelinya selalu menghasilkan untung berlipat gawang. Aryo menjadi raksasa properti karena dipercaya ia telah meminum air dari sumur spiritual keluarga Sekar.
Namun, begitu berada di puncak menara gading, Aryo silau. Ia menganggap semua kesuksesannya adalah murni hasil kerja keras otaknya. Ia mulai merasa malu memiliki istri seperti Sekar yang dianggapnya "teringgal zaman" karena menolak tinggal di Jakarta dan lebih memilih menjaga rumah leluhurnya di Banyuwangi.
Dan puncaknya, Aryo membawa perempuan lain ke dalam lingkaran hidupnya, menanam benih di rahim wanita yang tidak tahu diuntung.
Sekar mengambil boneka serat pisang itu, lalu mengelusnya dengan sayang, seolah-olah sedang menimang seorang bayi.
"Perempuan itu ... dia mengincar mahkotaku," gumam Sekar lagi. "Dia ingin anak yang dikandungnya mengambil alih seluruh hasil keringatku. Dia pikir, dinding beton di Jakarta bisa melindunginya dari angin timur?"
Mata Sekara mulai berkilat. Kemudian meletakkan boneka itu di atas lantai tanah di bawah amben. Ia lalu mengambil sebuah mangkuk kuningan kecil, mengisinya dengan air sumur tujuh mata air, serta menaburkan kembang kantil ke dalamnya.
Sekar memejamkan mata, merentangkan kedua tangannya di atas mangkuk tersebut sambil mulai merapalkan mantra dalam bahasa Jawa kuno yang bernada rendah dan berirama ritmis—sebuah tembang magis yang dikenal oleh para praktisi ilmu hitam tingkat tinggi sebagai Tembang Pring Sedapur.
“Niat ingsun amatek ajiku, Pring Sedapur dadi siji ... badar rupa, badar nyawa ... raga kang melu, raga kang lebur ....”
Saat mantra itu mengalir dari bibir Sekar, udara di dalam kamar tidur utama itu mendadak turun drastis hingga mendekati titik beku.
Lampu teplok yang menerangi ruangan mulai berkedip-kedip tidak stabil, apinya memanjang dan berubah warna menjadi kebiruan.
Dari sudut-sudut ruangan yang gelap, bayangan-bayangan hitam yang panjang mulai merayap di dinding, seolah-olah menghidupkan relief kayu joglo yang mati.
Di luar rumah, angin mendadak mengamuk. Rumpun bambu (pring) yang tumbuh lebat di belakang rumah joglo Sekar saling bergesekan dengan keras.
Suara derit bambu-bambu itu menghasilkan bunyi yang mengerikan, berpadu dengan suara angin malam, menciptakan ilusi suara gamelan pengiring kematian yang sedang ditabuh di tengah hutan.
Srekk ... Srekk ... Wuuusss ....
Bambu-bambu itu tidak hanya bergesekan; mereka seolah-olah sedang membungkuk, memberi hormat pada kekuatan kuno yang sedang bangkit dari tidurnya di dalam kamar Sekar.
Ini bukan sekadar sihir kiriman biasa yang bisa ditangkal oleh segelas air doa dari dukun amatir. Ini adalah Santet Pring Sedapur, jenis ilmu hitam legendaris yang mengikat satu rumpun keluarga target.
Sekali dilepaskan, ia tidak akan berhenti sebelum seluruh anggota rumpun target tersebut rata dengan tanah—punah tanpa sisa.
Sekar membuka mata. Manik matanya kini berubah menjadi hitam pekat secara keseluruhan, menghilangkan bagian putihnya selama beberapa detik.
Ia mengambil salah satu paku berkarat dari dalam kotak kayu, lalu dengan gerakan perlahan namun pasti, ia menusukkan paku itu tepat ke bagian perut boneka serat pisang di hadapannya.
Jleb.
Saat paku itu menembus rajutan serat pohon pisang, terdengar suara desisan halus seperti daging yang terbakar dari dalam mangkuk air kuningan, disusul dengan munculnya gumpalan darah kental yang merembes naik, mencemari kesucian air bunga kantil tersebut.
Sekar tersenyum tipis. Sebuah senyuman yang sangat anggun, namun penuh dengan racun yang mematikan.
Di dalam bayangannya, ia bisa melihat dengan jelas wajah cantik madunya yang berada di Jakarta—wajah yang sebentar lagi akan berubah menjadi kanvas penderitaan.
"Nikmatilah malam-malam pertamamu di atas ranjang jarahanmu, Cah Ayu," bisik Sekar lembut sambil mengusap sisa darah yang menempel di jarinya ke kain kembennya sendiri. "Gendonglah bayi itu baik-baik. Karena setiap jengkal daging yang tumbuh di dalam rahimmu, adalah tumbal yang sedang kupersiapkan untuk menyuburkan tanah pekaranganku."
Sekar kembali merapikan letak kotak kayunya, menutup pintu lemari jati dengan perlahan, dan meniup lampu teplok hingga padam.
Kamar itu kini tenggelam dalam kegelapan total, menyisakan keheningan Banyuwangi yang mencekam, sementara di tempat yang sangat jauh, teror gaib itu baru saja mengetuk pintu korbannya.
Seseorang yang bisa memutus santett Pring sedapur Ki demangkah ??
Dia tidak mau "menjatuhkan" dirinya di hadapan Sekar.
tapi ....
pada akhirnya azab yang akan memaksa dia untuk "jatuh" ..... sejatuh jatuhnya
dasar laki laki tidak tau diri
Rumah Sekar? atau
alas Purwo?
Aryo yang berbuat
tapi Maya yang menanggung siksa jiwa dan raga atas ulah Aryo.
Aryo menderita dan hampir gila dengan menyaksikan semua penderitaan Maya yang terkena santett Pring Sedapurr
Maya sudah hampir menjadi Pring/bambu yang kering dan mati .