Ayu Gendhis Prameswari, terjebak dalam lingkaran pernikahan yang toksik. Memiliki suami yang pelit, suka menggoda wanita. Mertua yang selalu menyalahkan dirinya, karena di matanya Ayu bukanlah menantu idaman. Dan penderitaan Ayu pun semakin menjadi-jadi ketika Mas Bayu, suami Ayu, tertangkap basah selingkuh, namun parahnya, Ayu malah diusir dari rumah. Dia benci dan dendam pada Mas Bayu dan keluarganya dan bersumpah akan membalas semua perbuatannya dengan kesuksesannya.. Dan Tuhan mendengar doa wanita teraniaya. Dipertemukanlah Ayu dengan duda tampan, kaya raya bernama Alvin Sebastian Stelle.. Dia akhirnya mampu memikat hati duda kaya itu. Setelah menikah Ayu seakan bertransformasi menjadi wanita berkelas. Namun ternyata di pernikahannya dengan Alvin pun banyak terjadi konflik keluarga yang ternyata tidak kalah toksik. Namun kali ini Alvin selalu membela Ayu di antara gempuran masalah yang selalu menghadang mereka. Akankah Ayu akan bisa melewati ujian hidupnya kali ini? Ataukah juga akan berakhir seperti pernikahannya dulu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lisxone, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mantan Kekasih
Kami bertiga terdiam saling bertatapan tanpa bicara sama sekali..
Bram melihatku, aku melihat ayu, sedang ayu melihat bram.
"Jelaskan padaku sekarang, apa yang kalian rencanakan?? " Kataku karena sekarang stevani dan cristian sudah pergi.. Mereka pergi dalam keadaan menahan amarah karena ulah ayu tadi.
"Ini salahku.. " Ucap bram tiba tiba..
"Aku yang menyuruh ayu kesini.. " Lanjutnya
"Iya, bram yang menyuruhku kemari... " Kata ayu..
"Kenapa kamu menyuruhnya kesini?? "
"Aku tahu stevani dan cristian akan ke sini, dan aku berencana mempertemukan ayu dengan stevani, agar wanita jalang itu tahu siapa yang memilikimu saat ini.. Dan aku berhasil hahahaha... "
Dan ayu dan BRAM tos..
"Benar, kita berhasil, lihatlah wajah stevani tadi..merah padam.. Apalagi saat aku mengecup bibir Alvin tadi.. Hahahha.. Bukankah kamu senang sayang..? "
"Aku tidak suka yang kalian lakukan, khususnya kamu bram. Ayu sudah aku larang keluar rumah, namun malah kamu yang menyuruh dia kesini, bagaimana kalau terjadi apa apa lagi dengannya..? "
"Em.. Tidak mungkin, terlalu berani jika dia melakukanya lagi secepat itu.. Aku yakin sementara ini dia akan berdiam diri dulu, dengan merencanakan sesuatu.. Saranku, segera menikahlah dengan ayu agar ayu juga lebih leluasa untuk pergi denganmu kemana mana.. Beri dia bodyguard yang terpercaya agar bisa menjaga dia.. "
"Huftt.. Keluarlah, aku ingin bicara dengan ayu berdua..... "
"Baik bos... " Ucap BRAM sambil pergi dari ruanganku dan aku segera mengunci pintu..
Setelah BRAM keluar aku segera melihat ke arah ayu yang sedang menyilangkan kaki jenjangnya.. Sampai sampai aku menelan salivaku sendiri pose menantang itu..
"Kenapa?? " Tanya dia sambil melihat ke arahku..
"Kenapa kamu lebih ikut permainan BRAM daripada ikut peratuaranku..? "
"Karena aku tahu jni akan lebih seru, akupun juga masih dendam kepada stevani masalah kemarin, tamparan di wajahmu masih terasa sakit sampai saat ini, namun sekarang rasa sakitku sudah sedikit terobati karena aku melihat kemarahan di mata stevani tadi saat aku berdekatan denganmu.. "
"PUAS kamu melakukan hal itu?? "
"Em.. Aku hanya ingin menunjukkan bahwa sekarang kamu hanya milikku... "
"Ayu, sekarang kamu sudah mulai berani ya.. Apakah kamu tidak berfikir, kita hanya sebatas pasangan yang terjalin atas dasar kontrak, itupun belum aku mulai namun kamu sudah seberani ini.. "
Seketika wajah ayu berubah..
"Maaf,.. Aku lupa kalau aku hanya sebatas pasangan kontrakmu... " Kata ayu lirih..
"Kamu harus menuruti semua perintah ku, bukan menuruti permainann BRAM.. Siapa yang memberimu uang, aku bukan dia..! "
"Maaf... " Kata ayu lirih dan aku Lihat airmatanya menetes..
"Apa aku boleh bertanya satu hal padamu?? " Lanjutnya..
"Apa?? "
"Apakah walau sedetikpun kamu pernah mencintaiku..? "
"Cinta.. Apa itu cinta.. Terakhir aku mencintai aku ditinggal pergi olenhya dan pergi ke pelukan adikku sendiri.. Bulshit dengan cinta... "
Ayu terdiam, menunduk, dan menangis..
"Apa aku salah melakukan hal ini? "
"Aku paling tidak suka kamu melakukan hal yang tidak seharusnya kamu lakukan, aku tidak suka kamu melakukan hal yang tidak aku suruh, MENGERTI! "
"Baiklah aku akan pulang sekarang.. " Ucap ayu langsung mengambil tas dan ingin pergi..
Aku menarik tanganya..
"Aku akan mengantarmu pulang, tunggu aku sebentar karena ada hal yang harus aku kerjakan dulu.. "
"Tidak aku mau pulang sendiri.. "
"AYU..! " Bentakku
aku rasakan tangisanya semakin menjadi jadi karena bentakanku ini..
Aku lalu memeluknya..
"Aku tidak suka di bantah, aku tidak suka hal hal yang kamu lakukan sekarang.. Turuti semua perkataanku, turuti semua aturan ku.... "
Aku membelai rambutnya..
CUP.. aku mengecup puncak kepalanya..
"maafkan aku.. Sudah berhentilah menangis.. Aku tidak ingin semua karyawan disini melihatmu menangis saat keluar dari ruangan ku.. Tunggu aku di ruangan sebelah, atau di manapun di kantor ini, aku ingin sendiri menenangkan diri, aku ingin mengerjakan pekerjaanku dengan tenang.." Kataku sambil terus membelai rambut panjang indah milik wanita cantik bernama ayu ini hingga aku rasakan dia sudah agak tenang..
"Kenapa kau diam saja dari tadi?? Apa kamu menyesal telah meninggalkan Alvin ?? " Tanyaku pada stevani yang diam saja semenjak keluar dari ruangan Alvin tadi.
Jujur, dengan raut wajahnya seperti membuatku sangat marah..
"Aku sedang lelah.. " Jawabnya singkat tanpa melihat ke arahku..
Aku lalu menggenggam tanganya..
"Lepaskan, pengelangan tanganku sakit karena ulahmu kemarin.. " Ujar stevani sambil perlahan melepasakna genggan tanganku..
CIT...
aku mengerem mendadak mobilku di tepi jalan..
"Apa kamu menyesal setelah mendengar pengakuan dari ayu tadi? Kamu menyesal setelah mendengar Alvin sekarang sudah bisa bercinta lagi?? Apa kamu menyesal??! " Bentakkuu..
"Iya.. Lalu kenapa? Dia dulu selalu meperlakukanku dengan sangat halus, dia selalu memperlakukanku dengan sangat romantis, tidak sepertimu yang selalu kasar padaku, menyakitiku.. "
"Aku mencintaimu, kamu tahu itu.. "
"Cinta itu harus bisa membuat nyaman pasanganya bukan malah menyakitinya.. "
"Cih.. Wanita seprtimu masih bisa mengatakan hal seprti itu.. Lihatlah dirimu, kamu meninggalkan dia karena dia sudah tidak bisa bercinta, dan ketika dia sudah sembuh kamu menyesal.. Sungguh keterlaluan.. "
"Jika bukan karena malam itu, aku juga tidak akan sudi menerimamu..! "
PLAKKK.. Aku menampar stevani..
Dia terlihat memegang wajahnya..
"Berani kamu mengatakan hal itu padaku, dengar.. (Aku memegang wajahnya dengan ibu jari dan jari telunjuk ku) yang kamu inginkan adalah kepuasan bercinta, dan aku bisa memberikannya itu, aku juga akan membuatmu menjadi nyonya sebastian, maka menurutlah padaku.. Jika kamu sekali lagi mengatakan bahwa kamu menyesal pergi darinya, akan aku bunuh Alvin.. "
"Cristian.. Awww.. " Aku menjambak rambutnya..
"Kamu hanya boleh bercinta denganku, bahkan membayangkan dengan orang lain pun aku tidak akan mengijinkanya apalagi dengan Alvin.. Kamu tahu sendiri aku bagaimana, jika berani macam macam aku habisi alvin.. " Geram ku..
"Baik.. Tapi lepaskan sakit... " Rintih stevani sambil memegang tanganku agar melepaskan tanganku darinya..
Akupun lalu melepaskannya.. Aku belai wajahnya, aku basuh airmata yang menetes di wajahnya...
"Maaf sayang.. Maafkan aku.. Aku hanya takut kehilanganmu.. " Sesal ku..
Namun dia menunduk sambil menangis..
Aku dongakkan dagunya ke atas..
Aku menciumnya..
Namun beberapa saat tak ada respon darinya..
"Awwww... " Jeritnya ketika aku menggigit ujung bibirnya..
"Balas ciuman ku..! " Bentakkuu..
Akupun menciumnya kembali dan aku tahu dia melakukanya dengan terpaksa namun terserah yang terpenting aku suka..
Entah kenapa setiap kali aku berada di dekatnya, libido ku selalu meningkat, ingin selalu bercinta denganya, ingin selalu mendengar desahanya, ingin selalu melihat tubuh indahnya, wajah cantiknya tak bisa aku lupakan walau sedetikpun di dalam hidupku.. Membuat aku over protektif padanya..
"Kamu selalu pintar memuaskanku dengan ciumanmu sayang.. " Ucapku setelah aku puas bermain dengan bibirnya yang begitu sangat manis..
"Mari kita pulang, akan aku belikan apapun yang kamu mau.. "
Namun dia tidak menjawabnya, malah memalingkan wajahnya ke arah keluar..
"Sayang... " Panggil ku lembut..
"Sayang... Kamu tahu kan akibatnya jika aku marah..!" Kataku dengan nada agak menekan..
Dia membalikkan wajahnya mengahadap ke arahku,
Beberpaa detik dia hanya memandangiku dengan tatapan aneh..
CUP..
dia mengecup pipiku..
"Ayo kita pulang.." Ketusnya namun terserah yang terpenting aku sudah puas dan aku yakin dia tidak akan berani pergi dari hidupku, Selamanya...
Suara langkah kakiku terdengar cukup nyaring karena aku melewati koridor di salah satu ruangan kantor Alvin yang cukup sepi.
Aku pun telah membenarkan riasakanku karena tangisanku tadi, aku tidak ingin seluruh karyawan menggunjing Alvin cuma gara gara aku yang terlihat menangis saat keluar dari ruanganya...
Jujur hatiku sangat sakit karena sikapnya, aku berusaha menyenangkanya namun teryata hal yang sebaliknya yang aku dapat..
Aku tahu aku salah karena melakukan hal itu tanpa sepengetahuan, namun jika dia tahu yangkan aku lakukan bukan kejutan namanya, tapi ternyata aku malah yang terkejut akan sikapnya..
Memang mungkin aku yang masih kurang mengerti akan sikapnya, mungkin aku belum benar benar tahu sifat aslinya, dan dengan penuh percaya diri aku melakukan hal yang ternyata dia tidak suka..
Tapi ya sudahlah, mungkin ini bisa menjadi pelajaran bagiku..
Aku teruskan langkahku menyusuri ruangan di kantor Alvin, anggap saja aku sedang jalan jalan karena aku juga belum boleh pulang, jika aku pulang tanpa dia, aku yakin aku akan mendapatkan kemarahanya lagi..
BRUGGGG..
ada seseorang yang menabrak ku
"Maaaf.. Maaf... " Ucapnya sambil mengambilkan tas ku yang terjatuh..
"Tidak apa apa?? " Namun ketika aku dan dia saling melihat.
"Ayu..! "
"Arief..! "
Terkejutnya kami berdua..
Kami saling memandang dengan tatapan penuh tanya..
**
"Kenapa kamu bisa di sini?? " Tanya arief padaku, kami berdua sekarang sedang di kantin kantor sambil minum kopi di kantin yang cukup sepi karena ini juga belum jam istirahat kerja..
"Emm.. Ada urusanku disini.. " Jawabku singkat..
"Kamu kenapa kesini?? "
"Perusahaan ku akan bekerja sama dengan perusahaan di sini, aku sebagai wakil perusahaan yang bernegosiasi dengan pimpinan perusahaan ini.. "
"Em.. " Jawabku singkat..
"Kamu semakin cantik.. Apa kamu masih bersama bayu..? "
"Tidak, aku sudah bercerai, aku di tinggal selingkuh olehnya dan aku di usir.. Mungkin ini karma untukku karena dulu aku berselingkuh darimu.. "
"Pantes sekarang kamu berubah, semuapama kamu masih denganya aku yakin kamu tidak secantik ini.. Andai juga kamu tidak menyelingkuhi ku, mungkin kita sudah menjadi pasangan yang harmonis, jujur sampai sekarang aku masih mencintaimu.. "
Aku menatap wajah tampan arief yang tak lekang oleh waktu, dia masih saja berwajah manis, serius, cool dan namun romantis berkacamata membuat kesan pintar melekat di wajahnya..
"Atau mari kita ulang kisah kita lagi, aku akan menerimamu apapun keadaanmu.. " Kata arief sambil memegang telapak tanganku yang berada di atas meja..
Sesaat kami saling memandang,...
"LEPAS! " tiba tiba Alvin datang melepaskan tangan arief dari tanganku..
Aku yang terkejut langsung berdiri dari kursiku begitupun arief..
"Tuan alvin sebastian.... " Terkejutnya arief melihat
Alvin..
"Siapa kamu berani menyentuh calon istriku?? "
Mata arief langsung terbelalak mendengar pengakuan alvin..
"Ayu.. Benar kamu calon istrinya?? " Tanya arief sambil menatap erat ke arahku..
"... " Aku terdiam aku menjawab dengan anggukan..
"Ya Tuhan.. Apa yang terjadi padamu selama ini hingga kamu bisa bertemu dengannya?? " Tanya arief yang masih tidak percaya dengan apa yang dia dengar dia menunggu jawabanku sambil menatap erat..
Aku tertunduk.. Aku terdiam.. Aku bingung apa yang harus aku katakan padanya...
"Aku... (Kataku terhenti).. Aku.. Ada hal yang tidak bisa aku jelaskan padamu sekarang.... "
"Lalu bagaimana dengan angel?? "
"Tolong jangan bahas hal itu disini.. Please.. "
"Siapa dia?" Tanya Alvin..
"Aku mantan kekasihnya.. " Ucap arief tegas sambil menatap erat Alvin,.. Begitupun juga Alvin yang menatap erat arief dengan tangannya menggenggam erat tanganku...