"Aku lihat kamu mirip seseorang."
"Mirip siapa?"
"Mirip menantu idaman Papaku."
---
Diego dan Alita, mereka terlihat seperti remaja biasa. Ke sekolah dan belajar seperti siswa pada umumnya.
Perfect partner yang usil dan jahil, tidak sesederhana yang terlihat. Layaknya tumbuhan hijau pemangsa, keduanya menunggu dan memangsa, dan akan menyerang balik jika ada yang mengganggu.
Siang dan malam adalah waktu yang berbeda, begitu pula dengan identitas Mistletoe, Shaun dan Lele.
Status : Tamat.
Lagu rekomendasi :
Johnny Orldano - What if - ft Mackenzie Ziegler
Johnny Orlando - Everybody Wants You
Johnny Orlando - Last Summer
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Xiie Lu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Shaun & Lele 9
Happy reading!
.
***
Rasa bahagia terpancar dari wajah gadis cantik blonde. Bagaimana tidak, jalan-jalan kali ini sangat bermakna, shopping yang membawa keberuntungan bagi Alita.
Kaki kecilnya berlari kecil memungut semua benda yang dia inginkan, sementara Dylan, sang pacar selingan yang ke-3, tersenyum lucu melihat tingkah Alita.
Inilah alasan Alita mempertahankan pemuda itu dibandingkan pacar yang sudah dia putuskan. Selain sopan dan murah senyum, seberapapun Alita menguras isi dompetnya, tetap saja mengikuti semua kemauannya.
"Dylan, aku ingin tas kecil ini," ujar Alita sambil memegang sebuah tas branded yang sangat cantik. Senyumannya sangat memesona, menggoda pemuda yang katanya tampan agar memperbolehkannya mengambil tas itu.
Alita tahu cara menguras isi dompet para pacar. Semua barang ber-merek dan keluaran edisi terbatas menjadi incarannya. Sue mengajarinya agar menghabiskan semua kekayaan Silver yang tidak terbatas. Dan sekarang Alita mempraktekkannya disaat ter-melarat di hidupnya.
"Kamu bisa mendapatkannya, Baby."
Tanpa banyak tanya dan protes, Dylan segera memberikan aset berharganya dan membayar barang yang diinginkan Alita.
Alita tersenyum lebar dan mengambil tas itu, memasukkannya ke paper bag kemudian berjalan lagi menyusuri setiap sudut mall, mencari barang yang diinginkannya.
Mata duitan, cocoklah untuk julukan gadis semacam Alita. Tidak peduli apapun yang dikatakan orang, Alita terus saja mengambil keuntungan dari para pria tampan, pacar selangkah yang sangat banyak.
Dosa tanggung sendiri, begitu prinsipnya. Dengan tangan yang tidak takut dosa dan mata yang merajalela ke mana-mana, Alita kembali menyentuh satu buah jam tangan yang ber-merek. Sangat cocok untuk seorang pria tampan dan di pikirannya langsung muncul wajah Summer yang tersenyum manis.
"Kenapa bukan wajah si jelek itu?" gumamnya pelan.
"Kenapa, Baby?" Dylan tiba-tiba mengejutkannya dan hampir saja jam di tangannya jatuh.
"Astaga, kamu hampir saja membuatku bayar ganti rugi, Dylan," ucap Alita dengan bibir yang dibuat mengerucut.
Sedikit rasa bersalah akan membuat pria tidak bisa apa-apa, pikirnya. Dan benar saja, Dylan mengelus puncak kepalanya dan mengatakan baik-baik saja.
"Aku bisa membelikan yang baru dan membayar ganti rugi untukmu," ucap pemuda itu.
Alita terkekeh pelan dan bergelayut manja di lengan Dylan, versi romantis yang paling romantis dalam kamus berpacaran Alita.
"Kamu memang pacar satu-satunya yang paling baik dan romantis," ucap Alita. "Aku sudah membayangkan bagaimana aku akan dimanjakan setelah kita bersama nanti. Meskipun sudah tua, kamu pasti akan tetap tampan dan baik hati."
"Astaga, gadis kecil ini." Dylan terkekeh. Dia kembali membayar untuk jam tangan yang dipegang Alita tadi. "Apa kakakmu tidak melarang kita berkencan hari ini? Aku sudah lama tidak melihatnya," tanya Dylan.
Alita tergagap sebentar namun langsung bisa mengendalikan diri. Dia tersenyum. "Kakak? Oh, dia mengizinkan aku hanya bersamamu."
Kakak. Alita mengenalkan Diego sebagai kakak pada semua pacarnya. Alasannya sederhana, sesederhana yang semua orang pikirkan. Tidak ingin ditolak oleh pria tampan. Dan memang hubungan mereka rumit, dibilang pacar tidak juga, tapi sudah tinggal serumah. Ya kali mau jujur kalau mereka calon pengantin di masa depan. Habislah riwayat Alita.
"Itu lebih baik dari perkiraanku. Aku pikir Diego akan memarahimu," ucap Dylan tersenyum. Dalam senyumannya ada perasaan khawatir, Alita menyadari itu.
"Dia kakak yang baik, selalu menjaga dan memerhatikan kebahagiaanku. Dan kebahagiaanku adalah kamu, dia tidak punya alasan untuk menolak memberikanku kebahagiaan."
Alita santai, dia menarik Dylan dari counter penjual jam tangan. Kemampuan aktingnya semakin hari semakin melejit, hanya saat ada maunya, dan sekarang dengan semua keahlian tangannya dalam memilih barang, dia menghabiskan isi dompet Dylan lagi.
***
"Ah, sungguh puas. Kamu benar-benar surga untukku, Dylan."
Alita terus melingkari tangannya di lengan Dylan setelah keluar dari pusat perbelanjaan sementara di belakang beberapa orang mengikuti dengan berbagai belanjaan milik Alita. Entah berapa pun Alita menghabiskan uang Dylan, pemuda itu selalu kaya setiap hari.
"Dan hanya kamu bidadari yang bisa menjangkau kayangan itu, Baby," ucap Dylan tersenyum.
Alita tertawa. Kalimat seperti itu tidak bisa menggoyahkan hatinya. Tapi kalimat sederhana dari Diego mampu menjungkirbalikkan jiwa dan raga Alita. Mungkin itu kekuatan ikatan cinta.
"Dan hanya aku yang bisa menjamah seluruh isi kayangan itu," tukas Alita menirukan gaya bicara Dylan.
Pemuda itu terkekeh. Dan tawa itu hanya bertahan sebentar, seseorang memukul Dylan dari belakang membuat Dylan terjatuh. Alita terkejut, dia menoleh.
Semua orang yang mengikuti mereka dengan belanjaan tadi sudah tidak ada di belakang, orang-orang itu sudah di mobil. Memasukkan barang belanjaan Alita.
"Siapa kamu?" tanya Alita pada seorang pemuda yang berdiri dengan wajah ganas, menatapnya tajam.
"Aku? Hanya orang tidak beruntung yang pernah dipukuli oleh kamu dan pacarmu ini," ujar pemuda itu ketus dan menunjuk Dylan yang sudah tergeletak di tanah.
Alita mengingat. Dia berulang kali pernah memukul pria tapi bersama Dylan, dia tidak pernah melakukannya. Atau mungkin pernah tapi Alita sudah melupakannya dan juga tidak mengingat wajah pemuda di hadapannya.
"Berarti kamu pria brengsekk yang pantas dihajar," ucap Alita tajam dan mulai mengepalkan tangannya, siap meluncurkan serangan. Hanya saja otaknya masih waras, ini tempat umum.
"Jalaang rendahan," desis pemuda itu membuat darah Alita sudah hampir tumpah karena sangat mendidih. "Kamu melupakan temanku yang kau pukul hingga geger otak?! Aku datang untuk membalaskan dendamnya, Sialan!"
Pemuda itu hendak menampar Alita, tapi Dylan segera bangkit dan menangkis pukulan.
Sesaat Alita tersadar, seminggu yang lalu dia memukul dua orang pria di belakang kepalanya. Mengambil ponselnya secara diam-diam, Alita menekan panggilan cepat dan menunjukkan layarnya pada pemuda itu.
"Kamu bisa dipenjara atas tuduhan pencemaran nama baik kalau kamu tidak punya bukti atas tuduhan yang kamu berikan untukku. Dan sekarang, polisi sudah di perjalanan."
Namun, pemuda itu tertawa keras. "Kamu pikir aku datang tanpa persiapan? Papaku seorang polisi, apa yang akan dilakukannya pada seorang wanita yang mengancam keselamatan anaknya?"
Hancur sudah rencana pertama milik Alita. Liz pernah mengatakan itu. Sambil melirik Dylan yang berada dalam posisi kuda-kuda, Alita menggerakkan bibirnya. "Dylan, kamu bisa menungguku di mobil. Ini urusan pribadi antara aku dan dia."
"Tidak, ini urusan antara kita," sanggah pemuda asing yang tidak Alita ketahui namanya, menahan Dylan agar tidak pergi.
"Dia tidak ada urusannya dengan ini, Brengsekk! Aku yang memukul temanmu, jadi aku yang harus bertanggung jawab!"
Seringai di bibir pemuda itu terbit. "Ternyata jauh lebih mudah dari yang aku bayangkan. Aku bisa membunuhmu dengan sekali pukulan," ujarnya sombong.
"Belum tentu. Aku tidak terkalahkan," balas Alita tidak kalah sombongnya
"Alita ...," lirih Dylan. Pemuda itu dilema, antara pergi dan tinggal. Alita berubah dari kucing manis menjadi singa betina yang buas.
"Pergi, Dylan! Kamu tidak masuk dalam daftar pemberontakanku! Aku bisa mengatasi si bajiingan ini" hardik Alita.
Kepergian Dylan membuka celah untuk kedua orang itu.
"Kamu menyerahkan nyawamu ke tanganku, Jalaang kecil. Kamu beruntung bisa mati di tanganku," ucap pemuda itu dengan remeh.
"Kepalan tangan besiku bisa merontokkan gigimu dalam sekali pukulan dan aku tidak yakin kamu bisa bernapas setelah satu detik," tukas Alita.
Namun, belum sempat keduanya melancarkan aksi berantam, seorang polisi datang dan menghentikan.
Pemuda itu hendak lari membuat Alita mencibir. "Bukankah ayahmu seorang polisi, kenapa kamu takut polisi? Ke mana kesombongan tadi?"
"Diam kau, Jalaang!!"
"Berhenti! Angkat tangan ke atas!" teriak polisi yang mendapati pelaku yang hendak melakukan kekerasan.
Pemuda itu sudah hilang entah ke mana, tinggal Alita sendiri yang harus berhadapan dengan polisi gendut dan berparas jelek.
"Apa pak polisi akan membawaku ke altar dan mengucapkan janji suci?" Alita bertanya sebelum mengangkat tangannya. "Kalau hanya main-main, jangan, Pak. Aku masih di bawah umur," ujarnya yang membuat polisi itu mengerjap.
"Kenapa bicaranya sangat asal-asalan?"
"Begini, Pak, aku 'kan seorang gadis cantik dan manis, apa Anda berniat menjadikan aku seorang simpanan? Kalau iya, jangan, kalau tidak, silahkan."
Alita memberikan tangannya dan melambai di depan wajah polisi tersebut. "Anda bisa mengikatku jika ingin impoten," bisik Alita setelah sadar polisi itu sedikit melamun.
Setelah mengatakan itu, Alita segera menepuk perut sang polisi yang gendut dan berlari menjauh dari sana. "Anak Anda mau lahir, Pak!"
Dan seseorang yang menaiki skate board membawa Alita pergi.
.
---
Jan lupa komen "Lanjut"😘.
***