NovelToon NovelToon
CINTA BEDA 12 TAHUN: Kapten Vs Gadis Bunga

CINTA BEDA 12 TAHUN: Kapten Vs Gadis Bunga

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Action / Komedi
Popularitas:10.9k
Nilai: 5
Nama Author: Ramanda

Aksi heroik Kapten Fikri Rafisqy ditengah perampokan swalayan berujung duka. Berusaha menyelamatkan seorang anak kecil, Fikri tak sadar peluru maut mengincar nyawanya. Naas, seorang kakek justru mengorbankan diri demi menyelamatkannya. Dalam kondisi kritis dirumah sakit, sang kakek menyampaikan wasiat terakhir: Fikri harus menikahi cucu tunggalnya, Seruni Shafira, gadis penjual bunga kini sebatang kara.

Seruni menolak tegas. Bagaimana mungkin ia harus menikah disaat impian sekolahnya masih membumbung tinggi? Namun demi melunasi utang nyawa dan amanah terakhir, Fikri menerimanya. Didepan ruang ICU, ijab kabul terucap sebelum sang kakek mengembuskan napas terakhirnya.

Kini, kehidupan mereka berubah total. Bisakah Seruni menerima takdir pernikahannya bersama pria yang terpaut jarak usia 12 tahun darinya? Apalagi, Seruni masih bersikeras memanggil suami dengan sebutan "Paman"!

Saksikan kisah cinta penuh liku, aksi menegangkan dan kepolosan Seruni yang meluluhkan hati dingin Kapten Fikri

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ujian di Balik Seragam

Di dalam ruang kerjanya yang dingin, Briptu Dimas berdiri tegap menyodorkan sebuah lembar laporan singkat. Jemari Fikri yang memegang cangkir kopi menegang seketika.

"Bagas, Kapten. Anak kelas XII IPA 2 yang juga putra salah satu pengusaha lokal," ujar Dimas melapor cepat. "Dialah yang mengirimkan surat puisi beraroma lavender itu ke sekolah Mbak Seruni."

Fikri menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi, matanya memicing tajam menembus kaca jendela. Aura keberangannya begitu kental hingga udara di ruangan itu terasa menghimpit.

"Beri dia peringatan keras secara terukur," instruksi Fikri dengan nada rendah dan bernada dingin. "Buat anak itu paham bahwa ada batas yang tak boleh dilompati."

"Siap, Kapten!" tegas Dimas.

Fikri bangkit berdiri, meraih jaket dinasnya dari kapstok. Ia bermaksud melangkah keluar bersama Dimas untuk menjemput Seruni langsung di SMA Tunas Bangsa. Namun, baru saja melangkah dua ayunan ke arah pintu, seorang perwira pertama tiba-tiba menghadap di ambang ruangan seraya memberi hormat militer secara presisi.

"Lapor, Kapten! Kombes Pol. Supriyadi memanggil Anda untuk segera menghadap di ruang kerja lantai tiga sekarang juga," ujar perwira tersebut.

Fikri menghentikan langkahnya, menghembuskan napas panjang. Panggilan dari atasan langsung di markas besar tentu tak bisa ditunda. Ia merogoh ponsel di sakunya, menekan tombol panggilan cepat ke Briptu Mayang Sari.

"Mayang, jemput Seruni di sekolah sekarang. Antar dia langsung ke toko bunganya dan pastikan dia tidak sendirian," perintah Fikri tegas begitu sambungan terhubung.

"Siap, Kapten. Perintah dilaksanakan!" sahut Mayang di seberang telepon.

Setelah memastikan Mayang bergerak, Fikri merapikan garis kemeja dinasnya dan melangkah cepat menaiki anak tangga menuju ruang lantai tiga.

Ketok! Tok! Tok!

"Masuk!" suara berat bergema dari dalam ruangan bernuansa kayu jati itu.

Fikri melangkah masuk dengan tegap, merapatkan tumit sepatunya dan memberi hormat sempurna. "Lapor, Kapten Fikri Rafisqy menghadap!"

Di balik meja kerja besar, Kombes Pol. Supriyadi menatap anak buah terbaiknya itu dengan raut wajah berwibawa. "Duduk, Fikri."

"Siap, Komandan," sahut Fikri seraya menduduki kursi kayu berlapis kulit di hadapan sang atasan.

Kombes Supriyadi menyatukan kedua jemarinya di atas meja. "Pertama, saya ingin menyampaikan bahwa warga Desa Tamiang yang kemarin kamu selamatkan bersama tim mengirimkan apresiasi besar. Kepala desa beserta tokoh masyarakat mengundang kamu dan seluruh tim untuk hadir besok dalam acara penyerahan penghargaan atas penumpasan gembong perampok Hasan Srigala."

"Sebuah kehormatan, Komandan. Besok pagi saya dan tim akan berangkat ke lokasi," jawab Fikri lugas.

Kombes Supriyadi mengangguk pelan, namun raut wajahnya mendadak berubah agak kaku dan serius. Ia menarik sebuah dokumen stofmap merah dari laci mejanya.

"Namun... ada hal lain yang perlu saya bahas," ujar Kombes Supriyadi pelan. "Laporan pengajuan pernikahanmu saat ini ditangguhkan oleh bagian SDM Mabes."

Kening Fikri berkerut dalam. Matanya menatap stofmap merah itu. "Penangguhan, Komandan?"

"Fikri, kamu ini perwira berprestasi dengan masa depan yang sangat cerah," tutur Kombes Supriyadi dengan nada prihatin. "Aturan institusi kita sangat ketat. Seorang perwira polisi tidak diperbolehkan menikahi gadis yang masih di bawah umur dan berstatus pelajar. Ini bisa menjadi sorotan publik dan preseden buruk bagi kesatuan."

Fikri mengepalkan kedua tangannya di atas paha, menahan getaran di dadanya. Dengan pandangan lurus menatap matanya sang atasan, Fikri mulai angkat suara, nadanya tenang namun penuh penekanan yang bergetar emosional.

"Izin menjelaskan, Komandan," potong Fikri membela diri. "Pernikahan ini bukan didasari oleh impuls atau nafsu semata. Pernikahan ini adalah amanah terakhir dari almarhum Kakek Rahmat, pria tua yang mengorbankan dadanya menahan peluru demi menyelamatkan nyawa saya saat penyergapan swalayan."

Ruangan mendadak hening. Kombes Supriyadi menyimak tanpa menyela.

"Jika seandainya Kakek Rahmat tidak memasang badannya hari itu, mungkin hari ini nama saya hanya tinggal ukiran di batu nisan," lanjut Fikri, suaranya makin berat dan emosional. "Beliau gugur meninggalkan Seruni sendirian di dunia ini tanpa sebatang kara pun. Saya memberikan ikrar nikah atas wujud tanggung jawab moral dan utang nyawa yang tak akan pernah sanggup saya bayar sampai kapan pun."

Kombes Supriyadi menghembuskan napas panjang, menatap Fikri dengan tatapan yang melunak. Rasa hormat terpancar dari raut wajah sang komandan atas loyalitas dan integritas anak buahnya itu.

"Saya paham sekarang, Fikri..." desah Kombes Supriyadi seraya menutup stofmap merah tersebut. "Tapi situasi di atas tidak sesederhana itu. Jenderal Komjen Pol. Bambang, ayah dari Dokter Farida, beberapa kali menghubungi saya secara pribadi. Beliau merayu dan menekan agar saya menjodohkanmu dengan putrinya."

Fikri tersentak pelan. Nama keluarga Farida selalu menjadi bayang-bayang yang rumit di sekelilingnya.

"Sebab itulah," lanjut Kombes Supriyadi menatap Fikri lekat-lekat, "Besok dalam acara syukuran dan pertemuan internal kesatuan, bawalah istrimu. Kenalkan dia secara resmi di depan seluruh anggota dan perwira lainnya. Biar semua orang tahu secara terbuka bahwa seorang Kapten Fikri Rafisqy sudah memiliki istri yang sah, sehingga tidak ada lagi spekulasi atau tekanan dari pihak mana pun."

Dada Fikri berdesir hangat. Sebuah celah pertahanan berhasil ia amankan.

"Siap! Terima kasih banyak atas kebijaksanaannya, Komandan! Besok saya akan membawa istri saya," jawab Fikri lantang seraya berdiri dan memberi hormat setinggi dahi.

"Bagus. Kamu boleh kembali ke ruangan," balas Kombes Supriyadi tersenyum tipis.

Begitu keluar dari ruangan sang atasan, Fikri melangkah cepat menyusuri lorong markas. Langkah kakinya terasa agak berat bukan hanya karena luka jahitan di perutnya yang masih sedikit nyeri, melainkan juga beban emosional yang mendadak menumpuk di pundaknya.

Tekanan dari Jenderal Bambang, ayah Farida, bukanlah perkara main-main. Pria berpangkat tinggi itu memiliki pengaruh luas yang bisa saja menggoyahkan karier Fikri. Namun, bagi Fikri, janji pada almarhum Kakek Rahmat dan keselamatan Seruni berada di atas segala pangkat dan jabatan di dunianya.

Fikri menghampiri Dimas yang sudah menunggunya di dekat mobil jip dinas.

"Dimas," panggil Fikri tegas. "Antar saya ke toko bunga Seruni sekarang. Saya yakin dia sudah ada di sana."

"Siap, Kapten!"

Jip hitam melaju cepat menembus kepadatan lalu lintas sore menuju toko bunga. Di dalam mobil, Fikri menatap keluar jendela, memikirkan bagaimana caranya membujuk 'istri kecilnya' yang polos dan ceplas-ceplos itu agar mau berdampingan bersamanya besok di hadapan para perwira tinggi kepolisian.

Sebuah pertarungan baru di luar medan perang baru saja dimulai untuk sang Kapten.

1
English Lesson
lucu dan bagus❤️❤️
Ariany Sudjana
semangat belajar yah Runi
Pujiastuti
serasa melayang ke awan ya Seruni dicium sama Aa kapten 🤭🤭
Dini Anggraini
Cyndi kan masih ada briptu dimas yang single pokoknya jangan kapten fikri karena dia sudah punya seruni gak boleh kamu gaet lagi. Seruni buktikan bila prestasimu tetap bagus meskipun sudah menikah.
Nur Asiatun
Alhamdulillah...tenang ya seruni,ada mas Fikri yg akan selalu melindungimu
Ariany Sudjana
bagus Fikri, kamu suami yang bijak. harusnya kepala sekolah juga seperti itu, cari dulu kebenarannya seperti apa, jangan mudah terpancing gosip murahan
Nur Asiatun
Alhamdulillah...lanjut Author
Ayu Padi
up yg bnyk Thor...lucu seru sekali
Ariany Sudjana
betul seruni, kamu jangan bodoh, kalian itu suami istri, jadi jangan panggil suami kamu itu paman
Erizani
lanjut habis ceritanya seru banget
Ariany Sudjana
hahaha benar seruni, hantu ganteng namanya Fikri 😂😂🤣🤣
Irni Yusnita
seruni kocak sungguh senang dengan kepolosan dan apa ada tanpa ada yg dibuat"😍
Ariany Sudjana
wah semangat yah seruni 🤣🤣
Nur Asiatun: ceplas ceplos yg bikin sayang
total 1 replies
Ariany Sudjana
bagus Fikri, seruni harus belajar kalau Fikri itu suami sah, jadi jangan panggil paman, kan akhirnya Bagas nekat, dasar bodoh seruni
Ariany Sudjana
tapi benar sih kata seruni, bagaimana pun seruni itu perempuan mandiri, jadi lebih nyaman cari uang sendiri, walaupun Fikri memperhatikan semua kebutuhannya
Ariany Sudjana
bagus seruni, kamu tunjukkan kamu itu perempuan baik-baik, cerdas dan mandiri, bukan pelacur murahan seperti Farida itu 🤣🤣😂😂
tiara
Karya ini bagus dan menghibur,semangat upnya thor sehat selalu
Nur Asiatun
Alhamdulillah...di tunggu updete nya thor
Nur Asiatun
wa'alaikumussalam Author...
𝐈𝐬𝐭𝐲
Alur ceritanya bagus, lucu dan sangat menarik dan selalu ditunggu² up nya ..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!