NovelToon NovelToon
KEBANGKITAN JIWA TERLARANG

KEBANGKITAN JIWA TERLARANG

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Epik Petualangan / Mengubah Takdir
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Fery Oktavian

Terlahir kembali dengan ingatan masa lalu yang utuh, Shen Jue dipandang sebelah mata di Akademi Canglan hanya karena membangkitkan belati kecil berkarat yang dianggap rongsokan tak berharga. Tanpa menyadari bahwa belati tersebut menyimpan rahasia kelam pemutus aliran energi alami, para murid bangsawan terus berusaha menindasnya hingga Shen Jue membongkar kelemahan mereka satu per satu dengan ketenangan yang mematikan. Bersama Ruan Xi'er dan Gongsun Zhi, ia menapak jalur petarung yang dingin di tengah himpitan intrik klan-klan besar yang haus kekuasaan. Mampukah Shen Jue membuka segel rahasia di balik belati rongsoknya dan menghentakkan takdirnya sebagai penguasa abadi di Benua Tianwu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fery Oktavian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KJT 1

Panas yang melelehkan sumsum tulang. Itu adalah sensasi terakhir yang merobek kesadaran Shen Jue. Tungku pemurnian semesta yang ia jaga selama seratus hari seratus malam hancur, menelan tubuh fisiknya dalam lautan api suci yang tak bisa dipadamkan oleh pusaka air mana pun di alam dewata. Tidak ada rasa takut saat itu, hanya rasa penasaran yang pekat tentang ke mana jiwanya akan berlabuh setelah raga fananya terbakar menjadi abu.

Kini, alih-alih panas neraka, hawa dingin yang menusuk tulang perlahan merayap naik dari punggungnya. Bau apak jerami basah, lumpur kering, dan kayu lapuk menggantikan aroma obat-obatan tingkat dewa yang selalu mengelilinginya.

Kelopak matanya terasa seberat timah saat ia memaksa untuk membukanya. Hal pertama yang menyambut pandangannya bukanlah langit-langit paviliun emas sektenya yang megah, melainkan atap jerami berlubang yang memperlihatkan langit kelabu subuh. Setetes air sisa hujan semalam jatuh melewati celah atap, mendarat tepat di pipinya, membawa rasa dingin yang nyata dan menyengat.

"Di mana aku?" gumamnya serak. Suara yang keluar dari tenggorokannya terdengar terlalu kecil, terlalu melengking, dan sangat rapuh untuk seorang tetua agung yang pernah membuat langit bergetar hanya dengan satu tarikan napas.

Dia mencoba bangkit, tetapi rasa sakit yang menusuk langsung menghantam pelipisnya. Ingatan-ingatan asing membanjiri kepalanya seperti air bah yang menjebol bendungan tua. Rentetan visual berputar cepat di benaknya: memori tentang seorang anak laki-laki kurus yang dipukuli karena memungut sepotong roti sisa, tentang malam-malam panjang menggigil sendirian di sudut gubuk reyot tanpa selimut, dan tentang demam tinggi yang menelan sisa-sisa napas kecil itu tadi malam.

Namanya sama, Shen Jue. Usianya baru sepuluh tahun. Tempat ini adalah Desa Ping-an, sebuah permukiman kecil yang miskin di sudut terpencil benua asing bernama Benua Tianwu.

Shen Jue memijat pangkal hidungnya, membiarkan dua kehidupan yang sangat berbeda itu melebur dalam satu wadah kesadaran. Ketenangannya sebagai seorang kultivator senior yang telah hidup ratusan tahun perlahan mengambil alih kepanikan sesaat dari emosi anak berusia sepuluh tahun tersebut. Dia mengatur napasnya yang putus-putus, menekan rasa sakit di kepala dengan pijatan memutar di titik akupunktur pada belakang telinga.

Ia mencoba memancing aliran energinya. Kosong. Aliran meridian di tubuh ini terasa mati. Tidak ada setitik pun jejak energi spiritual murni yang secara alami mengalir di alam semesta lamanya.

"Jadi aku benar-benar melewati reinkarnasi dan terjebak di tubuh fana ini," ucapnya lirih menghembuskan napas panjang.

Ia menurunkan kakinya yang telanjang ke lantai tanah yang lembap. Tubuh ini berada dalam kondisi yang sangat memprihatinkan. Kurang gizi bertahun-tahun, kelelahan kronis akibat kerja paksa di ladang, dan sisa demam hebat semalam membuat otot kakinya gemetar hanya untuk menopang berat badannya sendiri. Shen Jue berjalan tertatih dengan langkah diseret menuju sudut ruangan tempat sebuah kendi tanah liat retak berada. Ia meraup air dingin dari dalam kendi dan membasuh wajahnya kuat-kuat.

Di sebelah kendi tersebut, tertempel sekeping cermin perunggu berkarat di tiang kayu utama gubuk. Shen Jue menatap pantulan dirinya lamat-lamat. Seorang anak laki-laki dengan wajah pucat pasi, tulang pipi menonjol, dan rambut hitam panjang yang kotor acak-acakan. Namun, sepasang mata gelap di cermin itu memancarkan kedalaman jurang tak berdasar. Ketenangan di mata itu sama sekali tidak cocok dengan fisiknya yang menyedihkan; itu adalah mata seseorang yang telah menatap ujung kematian dan kembali dengan kepala tegak.

Dari ingatan yang baru saja ia cerna, Benua Tianwu ini memiliki hukum alam yang unik. Tidak ada sihir elemen yang mengendalikan cuaca, tidak ada alkimia kuno pembakar langit, atau kitab kultivasi yang membuat manusia bisa membelah gunung dengan tangan kosong. Kekuatan mutlak dunia ini hanya bertumpu pada satu sistem spesifik yang disebut Roh Manifestasi.

Setiap manusia yang mencapai usia sepuluh tahun akan menjalani ritual sakral kebangkitan untuk memanggil roh bawaan dari dalam jiwa mereka. Roh tersebut terbagi menjadi dua garis besar: Roh Senjata dan Roh Binatang. Status sosial, kekayaan, dan kehormatan sebuah klan ditentukan mutlak oleh seberapa mematikan roh yang bisa mereka bangkitkan.

Pemilik asli tubuh ini adalah yatim piatu yang selalu menjadi sasaran penindasan. Kedua orang tuanya menghilang di Hutan Perbatasan saat usianya baru lima tahun. Selama lima tahun masa kelam itu, ia bertahan hidup layaknya anjing liar, memakan sisa-sisa hasil panen tetangga yang dibuang atau melakukan pekerjaan kasar yang merusak pertumbuhan fisiknya. Demam semalam adalah titik batasnya. Tubuh kecil itu menyerah pada kejamnya dunia, dan jiwa Shen Jue yang melanglang buana ditarik masuk oleh hukum karma untuk menggantikannya.

"Kau sudah berjuang sangat keras untuk tetap bernapas selama ini. Pergilah dengan tenang. Karena aku sudah meminjam wadahmu, semua hutang darah dan penghinaan yang kau terima, aku yang akan membalasnya berkali-lipat," bisiknya pelan menatap pantulan matanya di cermin.

Entah karena ikatan batin atau sisa kehendak, dada kecilnya yang tadinya terasa sesak seketika menjadi jauh lebih lapang. Rasa sakit dan keputusasaan dari jiwa sebelumnya menguap sepenuhnya, menyatu dengan keteguhan hati baja milik sang master tempa.

Suara derit pelan terdengar saat Shen Jue berjalan mendekati jendela kayu tua yang engselnya sudah setengah hancur. Cahaya matahari pagi mulai menyibak kabut tebal di luar gubuk. Desa Ping-an mulai hidup. Suara kokok ayam, derak roda gerobak, dan percakapan antartetangga mulai memecah keheningan pagi buta.

"Cepat bangunkan putramu! Hari ini adalah Ritual Panggilan Jiwa! Jangan sampai kita berada di barisan paling belakang di alun-alun desa!" seru melengking seorang wanita gemuk dari pekarangan sebelah.

"Aku tahu, istriku! Kalau anak kita berhasil membangkitkan Roh Binatang tipe penyerang, kita tidak perlu lagi mencangkul lumpur di desa miskin ini! Kita akan pindah ke kota!" sahut seorang pria paruh baya dengan nada bergetar penuh ambisi.

Shen Jue menyipitkan matanya menatap siluet tetangganya melalui celah jendela. Ingatan anak itu langsung mencocokkan waktu. Hari ini adalah hari penentuan. Ritual Panggilan Jiwa yang diadakan sekali setahun oleh tetua desa. Hari di mana garis batas antara sampah dan kaisar ditarik secara permanen bagi anak-anak berusia sepuluh tahun.

"Roh Senjata dan Roh Binatang," gumamnya menilai situasi dengan otak analitisnya. "Menarik. Tidak ada kerumitan membangun fondasi energi, kekuatan langsung mewujudkan dirinya secara fisik dari dalam jiwa. Sebuah sistem evolusi yang primitif namun sangat lugas. Aku penasaran, bentuk apa yang akan terpanggil dari jiwa seorang pandai besi sepertiku?"

Tiba-tiba, rasa perih yang melilit menyerang perutnya. Lapar yang luar biasa kejam menamparnya kembali ke realitas fana. Shen Jue tersenyum kecut. Sebelum ia bisa memikirkan strategi untuk berdiri di puncak benua ini, ia harus memastikan tubuh ini tidak mati konyol karena kelaparan di hari pertamanya.

Ia berbalik dan menggeledah dapur kecil yang nyaris rata dengan tanah. Hanya ada setengah potong ubi kering sisa kemarin di keranjang bambu. Ia mengambil ubi itu, mengelap debunya perlahan, lalu memakannya gigitan demi gigitan. Ia mengunyahnya dengan sangat lumat agar lambungnya yang lemah bisa memproses serat kasar itu menjadi tenaga. Sebagai seseorang yang dulunya membuang pil gizi tingkat surga karena rasanya kurang pas, ini adalah kejatuhan yang tragis. Namun, ekspresinya tidak berubah sedikit pun. Baginya, bertahan hidup selalu dimulai dari menelan penderitaan yang paling tidak berasa.

Setelah rasa lapar itu sedikit teredam dan tenaga perlahan mengalir ke otot kakinya, Shen Jue melangkah menuju peti kayu reyot di sudut ranjang. Ia menemukan satu-satunya setelan pakaian bersih yang dimiliki anak itu: pakaian linen abu-abu kusam yang ujung lengannya sudah berserabut. Ia melepas pakaian basah bekas keringat demam semalam, menggantinya dengan linen abu-abu tersebut. Ia menyisir rambut hitamnya yang kusut dengan jari-jari tangan, lalu mengikatnya tinggi di belakang kepala menggunakan secarik kain perca hitam.

Penampilannya dari luar memang tidak lebih dari anak miskin gelandangan, tetapi postur berdirinya kini tegak lurus seolah ditopang oleh tulang besi. Punggungnya tidak lagi melengkung oleh beban rasa rendah diri, dan bahunya ditarik tegap ke belakang.

Teng! Teng! Teng!

Suara lonceng perunggu besar dari arah alun-alun desa mulai berdentang keras, bergema rendah menyapu deretan rumah jerami dan ladang gandum. Itu adalah panggilan resmi dari kepala desa untuk memulai ritual.

Shen Jue mendorong pintu gubuknya hingga terbuka lebar. Angin pagi yang dingin menerpa wajah pucatnya, membawa aroma embun dan getah pinus dari Hutan Perbatasan. Ia melangkah keluar dari gubuk gelap itu tanpa sedikit pun menoleh ke belakang, meninggalkan semua jejak keputusasaan yang tertinggal di dalam sana.

Ia berjalan santai menyusuri jalan tanah kuning yang berdebu. Di sekelilingnya, aliran penduduk desa bergerak tergesa-gesa menuju satu titik yang sama. Orang-orang dewasa yang berpapasan dengannya memberikan tatapan merendahkan, sementara beberapa ibu menarik anak-anak mereka menjauh, seolah Shen Jue adalah kutukan penyakit menular yang menumpang hidup di desa mereka.

Shen Jue tidak peduli dengan kerikil-kerikil sosial di sekitarnya. Matanya menatap lurus ke depan, tertuju pada pilar batu raksasa di tengah alun-alun yang mulai memancarkan cahaya energi berwarna biru pucat. Sudut bibirnya sedikit terangkat, membentuk garis senyum yang tenang namun menyembunyikan arogansi absolut.

"Mari kita lihat, takdir lelucon macam apa yang disiapkan oleh langit dunia ini untukku," batinnya menyambut lembaran baru hidupnya. Langkah kaki mungilnya mantap menyusuri tanah, menuju pusat keramaian yang akan mengubah nasibnya.

1
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ..........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ...........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ............
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ...........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ............
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ...........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ..........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor .........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ..........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ............
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor.........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ..........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ............
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ...........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ..........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ....,......
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor .............
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ............
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor .........
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!